Liburan di Dunia Fantasi
Penyelamatan 2
“Bukan waktunya untuk bersenang-senang. Masih ada yanhg harus diselamatkan. Beri jalan buat Daisy.” Centarian melompat ke punggung kalamekar. Sulur hewan ditarik, dia pun mengarahkan hewan itu ke Sukma. Sulur tumbuhan yang mengarah kepadanya dibabat, sebagian yang lain digunakan untuk melompat . Namun dia tak bisa sampai ke tempat Sukma kaarena terhalang oleh monster yang terbuat dari tumbuhan.
“Om ikut ya, akyu kangen ama Om,” Daisy masih memandang walaupun berada dipunggung wiwera yang selalu menghindari serangan baik sulur tumbuhan ataupun kalamekar.
“Sayang, amu punya misi penting. Nanti Om akan nyusul.” Centarian berbalik arah menuju ke Baret. Tangan kanannya memegang tangan Baret dan mengayunkannya ke atas.
“Gak, Om kudu ikut,” pandangan Daisy masih ke lelaki dewasa walaupun tertutup oleh pohon. Air mata kembali keluar.
Walaupun sudah menjauh dari Sukma dan pasukan narasima, Daisy masih juga belum berbebas dari serangan mereka. Kalamekar dan narasima masih juga mengejar mereka. Bahkan api pun disemburkan dari salah satu pengguna aura unsur.
Saciwa, wiwera yang membawa Daisy terus berlarian dengan menggerakkan ekor ke kiri dan kanan. Meskipun gerakannya cepat tetapi bisa tersusul narasima berkekuatan api. Cakar kalamekar dihindari, tetapi bola api terlalu dekat. Sudah tak ada waktu untuk menghindar.
Sebuah bola api memadamkan api yang hampir saja menyentuh kulit bersisik itu. Saciwa melirik ke belakang, ternyata Daisy sedang membuat sebuah bola air.
“Tante lupa kalau akyu bisa gunain aura unsur.” Daisy menembakkan bola air.
“Iya, aku lupa siapa kamu.” Saciwa membanating tubuh ke kiri menhindari terkaman dari kalamekar. Wanita itu bergerak dengaan merebahkan tubuh ke depan agar bisa lebih cepat. Pedang dikeluarkan, segala yang menggangu pergerakannya ditebas.
Garis datang membantu dengan menebaskan segala cakar yang dimiliki. Dia melompat ke sana dan kesini menghalau segala yang menyerang Daisy dari arah belakang. Cakarnya yang sejatam belati mampuu menyingkirkan tumbuhan di sana. “Lariku lebih cepat darimu, berikan anak itu kepadaku,” tawarnya.
“Aku titipkan anak ini.” Saciwa meliuk dari sebuah pohon. Gadis yang digendongnya dilemparkan ke udara.
Arah lemparan Saciwa tak sesuai dengan kemauan Garis. Gadis itu menghantam kalamekar. Beruntung ia masih bisa diambil Garis dan ditaruh pada punggung narasega.
“Sayang, pegangan yang kuat.” Garis mendaki sebuah pohon dengan keempat anggota gerak bercakar tajam.
“Buat apa, Om?” tanya gadis kecil itu.
“Ini.” Garis berlari ke ujung ranting pohon. Tubuhnya melayang sebentar sebelum tangan kanan memegang ranting pohon lain.
Daisy tak siap dengan apa yang dilakukan Garis. Ia sempat kehilangan pegangan. Beruntung Garis sigap menangkap tangan kirinya dan kembali dikembalikan ke dalam gendongan narasega. “Napa Om gak ngiket pakai tali?”
“Idemu bagus juga.” Garis melompat ke sebuah tanaman benalu yang merambat sampai ke puncak tumbuhan inang. Dia berayun dan mendarat ke pohon yang lain. Ujung tanaman benalu ditebas dan digunakan untuk mengikat tubuhnya dengan Daisy.
Gadis manusia dirasakan sudah aman, Garis melompat ke pohon yang lain. Dia melihat melihat Saciwa yang bergerak bagaikan ular. “Kau cepat juga,” pujinya sambil terus mendekat.
“Wiwera memang cepat kalau tak membawa beban.” Saciwa melingkari sebuah pohon sebagai cara untuk mendali. Dia merambat ke ujung ranting dan segera melompat ke pohon lain.
“Wow, kau cepat juga. Kukira wiwera hanya bisa di darat saja.” Garis segera menyusul Saciwa.
Pohon demi pohon dilalui narasega dan wiwera guna menjauhkan diri dari serangan yan tertuju pada Daisy. Namun mereka berhenti mendadak karena mereka dihadang oleh beberapa nara yang pernah menjadi saudara seperguruan Daisy.
“Kami tak ingin melawan kalian. Mohon berikan jalan agar kami bisa menolong orang yang seminggu terjebak di dalam tanah.” Garis menempelakn kedua telapak tangan di depan dadanya. Tubuh sedikit merunduk sebagai permintaan agar bisa lewat dengan mudah.
“Kami tak ingin melawan anak-anak. Silahkan berlari kesuka kalian. Urusan di sini biar menjadi urusan kami,” kata sang tetua minagiri.
“Terima kasih.” Garis segera melewati para pengguna aura unsur air tanpa masalah.
Lelaki yang menggendong Daisy sempat melihat ke belakang. Sebuah tembok air dilihatnya, rasa aman pun dirasakan. Garis menambah kecepatan agar bisa segera sampai di tempat tujuan.
Setelah sekian lama berlari, Garis sampai di tepi sebuah sungai. Dia melepaskan ikatnya dan menurunkan Daisy di sebuah pohon. Tubuhnya pun bersandar sambil memakai buah yanang berhasil didapatkan dari sebuah pohon. Ototnya yang mulai tegang diistirahatkan.
“Om, perasaan kita masih jauh ama sungai. Ngapain turun di mari?” Daisy berjalan di depan sang narasega.
“Berlari tanpa henti membuat kita kecapekan. Kamu masih kecil, belum mengerti akan hal ini. Walaupun terlihat menyenangkan tapi ini sangat melelahkan.” Garis mengusap keningnya yang basah. Bau tak sedap pun dikeluarkan.
Daisy menempelkan tangan kanannya pada kulit berbulu basah sang narasega. Tenaga yang ada di dalam tubuh berubah menjadi aura yang menyerap air di sela bulu panjang. Namun, tangan kecil mulus itu dipegang Garis.
“Nak, aku tahu maksudmu baik. Biarkan saja keringat ini mengering dengan alami,” kata sang narasega.
“Ngapain? Kan cepet kalau akyu yang keluarin,” gadis kecil itu menatap ke wajah narasega. Wajahnya yang polos menjadi bertambah cantiik dengan mata berwarna merah menyala.
“Tubuh jika bergerak cepat akan menimbulkan panas. Untuk mengatasinya, keringat keluar dari tubuh. Jika kau hilangkan secara paksa maka tubuhmu akan kepanasan.” Garis melepaskan genggaman tangannya. Kepala gadis yanag berada di depannya dielus.
“Trus, tuh paan?” Daisy menuding pada sebuah angin puting beliung.
Garis menarik tubuh Daisy dan bersembunyi di balik sebuah pohon. Dia mempersiapkan segala cakar yang dimiliki. Pandangannya mencari dari mana sumber angn berasal. “Kau geli juga,” katanya sambil berjalan merunduk di balik sebuah semak.
Angin berhembus menuju ke tempat persembunyian Garis dan Daisy. Dedaunan yang menutupi tubuh mereka rontok diterpanya. Cakar kaki Garis mencengkeram dengan erat akar pohon yang diinjaknya, sedangkan tangan kiri memegang Daisy yang ikut terbawa arus angin. Si gadis kecil ditarik dan dipeluknya.
“Saciwa, ayo bergerak!” teriak Garis.
“Aku di sini!” sahut Saciwa yang sudah berada di atas sebuah pohon.
“Bilang dari tadi.” Garis memanjat sebuah pohon sambil membawa Daisy.
Kedua orang itu berlari menghindari serangan angin yang tak tahu dari mana berasal. Garis dan Saciwa melompat dari satu pohon ke pohon yanag lain seperti berlari atas sebuah jalan. Ranting yang kecil seperti bukan sebuah alasan untuk mudah terjatuh.
Ranting yang diinjak Saciwa patah, wanita itu pun terjatuh. Namun tubuhnya tak sampai ke tanah. Ujung ekor berwarna merah masih dipegang Garis. Tubuhnya diayunkan sehingga dia terlempar ke sebuah pohon bersamaan dengan garis yang melompat tinggi. “Terima kasih banyak,” ucapnya.
“Om, Tante, ngapain gak ke sungai aja?” tanya anak yang di gendong Garis.