Merhaba Aisyah

Kisah Cinta Katya

"Iya, memangnya kenapa?" Kedua alis Katya mengkerut dia bingung mendengar sang adik bertanya seperti itu.

 

"Berapa jam ka? apakah puasa di sana lebih cepat dari waktu di sini, aku pernah dengar soalnya ka kalau beda negara itu waktunya juga beda," jelas Aisyah dia selalu penasaran.

 

"Ya tidak jauh banget Syah paling dua atau lima jam gitu sekarang aja di sana malam dek bukan pagi," terang Katya dia melihat jam di ponselnya yang berlokasi di negera Turky.

 

Aisyah langsung menganggukan kepalanya setelah mengerti, "Kakak, aku rindu banget tahu dulu kakak sering sekali menceritakanku akan banyak hal."

 

Aisyah memeluk tubuh ramping sang kakak dengan hangat, Katya pun membalasnya umur mereka memang beda 4 tahun tapi Aisyah selalu memperlakukannya sebagai seorang kakak yang menjadi panutannya juga.

 

"Kak, sebenarnya kakak punya cowok enggak sih?" tanya Aisyah, dia merasa tidak mungkin kakaknya tidak pernah menyukai cowok selama ini.

 

Tiba-tiba Katya kaget mendengar pertanyaan itu dia memandang sang adik dengan tatapan yang sulit diartikan oleh Aisyah.

 

"Heem ... kamu penasaran banget ya?" Katya terkekeh. "Kalau kamu sendiri gimana? Pasti sudah punya ya?" sindir Aisyah sambil tersenyum.

 

"Ishh kakak, aku ingin tahu apakah kakak mempunyai seseorang yang special di hati kakak, kan selama ini kakak sibuk dengan pendidikan dan pendidikan seperti tidak ada niat untuk menikah gitu."

 

"Astagfirullah Aisyah, semua wanita pasti mau menikahlah mana mungkin kakak juga tidak memikirkannya hanya saja kita masih punya tanggung jawab untuk menyelesaikan pendidikan kita serta membahagiakan orangtua terlebih dahulu," jelas Katya dia tidak percaya bahwa adiknya akan berkata seperti itu.

 

"Lantas bagaimana? apa kakak sekarang sudah ada laki-laki yang kakak cintai."

 

"Kakak akan bercerita tentang pengalaman kakak dalam mengenal sosok laki-laki namun kakak harap kamu bisa mengambil pelajarannya okey!" Katya menunjukan jari kelingkingnya.

 

Aisyah yang paham langsung menyambutnya dengan jari kelingkingnya pula dia akan berjanji untuk hal itu.

 

"Dulu kakak pernah kagum dengan seorang laki-laki itu saat kakak SMA yang ternyata dia juga suka sama kakak hingga pas waktu kakak pergi ke Turky dia mengirim surat untuk kakak yang isi dalam surat itu dia berjanji akan menunggu kakak namun pada bulan puasa kemarin kakak mendengar kabar bahwa dia sudah menikah dengan fatner kerjanya di kantor." Katya menjeda perkataannya untuk membiarkan Aisyah paham akan maksud dari ceritanya itu.

 

"Saat itu juga kakak merasa bahwa cowok cuma bisa berjanji setelah kejadian itu kakak menutup hati untuk semua laki-laki karena apapun yang dilakukan laki-laki hanyalah rayuan belaka yang ujung-ujungnya akan meninggalkan pula, kakak kembali beraktifitas seperti biasanya di kampus. Percayalah dek laki-laki yang memang serius dengan kita itu bukan mereka yang mengajak kita berpacaran namun mengajak kita menikah." Katya menepuk-nepuk bahu Aisyah pelan dia berharap sang adiknya ini tidak mengalami sakitnya jatuh cinta dan dikecewakan oleh orang yang dia sayangi.

 

Mendengar cerita itu Aisyah jadi ikut bersedih dia tidak menyangka bahwa kakaknya mengalami sakit hati akibat dikhianati oleh laki-laki apalagi ditinggal menikah.

 

"Kakak berharap kamu bisa pokus dengan pendidikan dan apa yang kamu impikan karena urusan laki-laki itu belakangan ketika kita sudah menggapai semuanya barulah kita memulai memilih siapa yang layak untuk kita seriusi dan tidak." Nasehat Katya yang mana kalimat itu juga menjadi pacuan untuk dirinya terus semangat.

 

"Siap ka aku janji untuk itu," sahut Aisyah dengan tersenyum, "Ka Katya juga semangat ya Aisyah yakin masih banyak kok cowok di luar sana yang lebih baik dari cowok masa lalu kakak itu."

 

"Iya dek makasih banyak ya." Katya memeluk Aisyah dengan erat rasanya sudah lama dia tidak berbagi cerita dengan adiknya ini.

 

Jika dulu adalah kisah nabi dan film yang mereka tonton kini topik mereka adalah masalah cowok yang akan menjadi masa depannya kelak begitulah proses kehidupan.

 

Setiap pagi Adiba selalu masak untuk suaminya dan anaknya jika biasanya dia akan memasak nasi goreng kini dia akan menggantinya dengan menu baru yaitu rendang dan sayuran.

 

"Bun, sini biar aku bantu masakin." Katya menghampiri sang Bunda di dapur untuk ikut masak bersama.

 

"Iya Bunda biar kami aja deh yang masak," sahut Aisyah yang muncul dari belakang Katya.

 

"Tidak usah nak biar Bunda saja yang masak Bunda sedang buru-buru karena Ayah kalian akan pergi ke kantor pagi ini." Adiba menolak kebaikan ke dua putrinya ini.

 

"Yahh sudah aku bantu mengulek saja ya Bun." Katya tidak mau mengalah dia mencari ide untuk bisa membantu Bundanya.

 

"Baiklah nih ulek sampai halus ya!" Adiba akhirnya menyerahkan ulekan kepada Katya anaknya itu terus membujuk membuatnya tidak bisa menolak.

 

"Terus aku ngapain Bun?" tanya Aisyah dia bingung semuanya sudah Bunda kerjakan.

 

Adiba berpikir untuk memberikan tugas kepada Aisyah, "Kamu beres-beres rumah saja ya Nak," katanya.

 

Tidak ada penolakan dari Aisyah karena cewek itu juga suka bersih-bersih, "Okey Bunda."

 

Aisyah mulai mengambil sapu dan kemoceng berjalan ke ruang makan, ruang tengah hingga ruang tamu dia sapu dan bersihkan sampai dia bersih sebab menghirup debu yang masuk dan mengakibatkan gatal.

 

Dia pun asik membersihkan seluruh ruangan, selama ini dia selalu membantu Bundanya di kala libur kadang dia suka bertanya kenapa orangtuanya tidak menyewa pembantu untuk membantu membersihkan rumah namun Bundanya menjawab 'Selagi tenaga kita masih kuat buat apa menyewa pembantu?'

 

"Sholatullah salamullah a'la thoha ...." Aisyah bersandung dengan merdu dia senang tinggal di sini daerahnya masih banyak tumbuh pepohonan.

 

"Sayang yuk kita makan!" ajak Adiba yang sebenarnya sedari tadi sudah memperhatikan anaknya itu.

 

Aisyah menoleh mencari sumber suara, "Oh baik Bun." Dia meletakan alat sapu di pojok ruangan.

 

Rumah yang ditempatinya ini tidak lumayan besar namun pas untuk ke empat orang keluarga ini tinggal.

 

Di ruang makan sudah ada kakak dan Ayahnya membuat Aisyah senang karena hari ini dia bisa makan bareng sang kakak.

 

"Yah, aku boleh pergi tidak hari ini?" ujar Aisyah meminta izin.

 

"Mau ke mana emang?" Haris masih sibuk dengan ponselnya membalas pesan dari rekan-rekan kerjanya.

 

Aisyah melirik kakaknya dengan tersenyum, "Aku mau ngajak kakak jalan-jalan sekalian beli buku Yah," sahut Aisyah dia memang sudah punya rencana ingin beli buku tapi tidak tahu kapan. "Perginya nanti sore kok Yah bukan sekarang," lanjutnya.

 

Haris seakan-akan sedang mempertimbangkan keputusannya, "Okey Ayah izinkan asal jangan lupa untuk belajar hari ini ingat ya nak Ayah sudah urus pendaftaranmu di universitas kakakmu dan katanya minggu depan akan dilaksanakannya tes jadi kamu harus pokus belajar."

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!