Merhaba Aisyah

Ada Hikmah Dibalik Musibah

Dengan tak kuasa Aqila memeluk Aisyah, dia merasa beruntung mempunyai saudara sebaik Aisyah dia yang selama ini perhatian kepada dirinya. 

Selama ini Aisyah sudah menjaga dirinya saat terjerumus ke dunia malam, Aisyah selalu menegur dan memperhatikannya. Aqila tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya jika tidak ditolong Aisyah. 

 

"Sabar ya dek insya Allah pasti ada hikmah dibalik semua masalah yang terjadi terhadap keluarga kamu ini," seru Katya sembari mengelus-elus punggung Aqila dengan lembut.

 

Ketika tangisan Aqila mulai reda, Aisyah pun mencoba menghibur Aqila dengan cerita pengalamannya yang lucu saat di sekolah bersama anak-anak OSIS, tidak hanya itu Katya pun menceritakan pengalamanan lucunya saat di Turky ketika pertama kali dia datang ke negara itu dan masuk kuliah.

 

Wajah sedih Aqila mulai menghilang diganti dengan raut wajah penuh bahagia, ya Aisyah rasa tidak perlu lagi dijelaskan semuanya sudah cukup dan dia menyimpulkan bahwa terjadinya perceraian ini hanya karena salah paham di antara dua pihak.

 

"Hahahaha." Gelak tawa Aqila pecah saat kak Katya memperagakan orang yang sedang dia ceritakan itu.

 

"Kok bisa gitu ka?" tanya Aisyah dengan heran dia tidak menyangka bahwa ada orang yang menyamar seperti itu.

 

"Yah kakak juga tidak tahu lucu aja gitu dia sedang menyamar menjadi pengemis di depan pacarnya sendiri nah pas ditanya ya si ceweknya itu tidak mengakui bahwa dia punya pacar yang akhirnya dia kaget saat laki-laki itu melepaskan alat penyamarannya." Katya terkekeh menceritakan itu karena dia melihat dengan mata kepalanya sendiri saat itu membuatnya tertawa geli.

 

"Lalu mereka putus dong?" sahut Aqila.

 

"Iyalah, orang si cowoknya kesal karena gak dianggap." Katya masih ingat akan pengalamannya itu yang membuatnya terkesan dan ingin menceritakannya.

 

"Kak, Aisyah kan pandai menulis cerita," kata Aqila selama ini keahlian menulis Aisyah tidak ada yang tahu selain ketiga sahabatnya dan Aqila yang selalu iseng membaca cerita Aisyah.

 

"Wah seriusan kamu bisa menulis dek?" tanya Katya kepada Aisyah dia ingin adiknya sendiri yang mengatakannya.

 

Mendengar itu, Aisyah mengenggol Aqila dengan lengannya dia malu sendiri bagaimana jika kakaknya akan mengejek tulisannya karena kan, kak Katya adalah seorang jurnalis juga pasti tulisannya jauh lebih baik dari dirinya.

 

"Kemarin Ilham sahabatnya Aisyah mendapat pujian karena menulis puisi padahal kan itu karyanya Aisyah," ujar Aqila dengan tersenyum kerap kali Ilham mengikuti lomba cipta puisi di sekolah dengan karya Aisyah sendiri.

 

"Wah berarti si penulis bersembunyi di belakang layar saja dong," kata Katya dengan menarik senyumnya ke bawah.

 

Aisyah masih sama seperti dulu yaitu pemalu, padahal jika dia berani tampil di depan orang pasti karyanya akan dikenal.

 

"Bukan gitu ka, saat itu aku hanya ingin Ilham tampil pada acara besar sekolah kan aku ketua OSIS dan menjabat sebagai sekretaris terus aku nunjuk Ilham buat tampil baca puisi dia menolak dan mau ikut lomba jika aku membuatkannya puisi, ya aku akhirnya membuatkannya dan gak nyangka kalau bakal jadi juara ke 2 pembawaan dari Ilham berhasil mencuri perhatian juri," jelas Aisyah dia tidak ingin kakaknya berpikir macam-macam terhadap dirinya.

 

Mendengar cerita sang adik, Katya jadi kagum karena sebelumnya dia mengira bahwa adiknya ini menjadi pemalu, ternyata dibalik sifatnya dia mempunyai bakat yang luar biasa keren.

 

"Wah hebat banget ya, tapi kok kakak baru tahu ya kamu punya sahabat cowok sejak kapan?" Katya menatap Aisyah tajam saat mendengar bahwa Aisyah punya sahabat berjenis kelamin laki-laki.

 

Aisyah pun menggigit bibir bawahnya dia bingung bagaimana harus menjelaskannya matanya melirik ke arah Aqila.

 

"Hayoo pasti kalian menyembunyikan sesuatu dari kakak ya?" seru Katya dengan menunjuk ke dua adiknya itu bergantian. "Okey kalau memang mau main rahasia-rahasian, never mind bau bangkai pasti akan tercium jika lama-lama terus disembunyikan." Katya menyilangkan tangannya di depan dada sambil menatap ke arah lain.

 

Melihat kak Katya yang sepertinya sedikit marah karena ada rahasia akhirnya Aisyah merajuk memegangi tangan kakaknya sambil tersenyum.

 

"Ih kakak ngambek mulu deh, mana mungkin aku main rahasia-rahasian sama kakak," ujar Aisyah.

 

"Ya lantas kenapa kamu gak mau jujur sama kakak," gerutu Katya dia berharap bahwa adiknya akan berterus terang.

 

"Iya Ilham itu emang sahabat aku ka, aku berteman sudah 3 tahun sama dia sejak masuk SMA," jelas Aisyah.

 

"Nah gitu dong, yaudah katanya mau ngajak kakak ke tempat buku yuk sekarang aja biar nanti sore kita pulang," ujar Katya dia ingat bahwa tadi pagi adiknya meminta izin keluar kepada Ayah untuk mengajak dirinya membeli buku. "Tapi benar kan kalian cuma sahabatan atau jangan-jangan sahabat rasa pacar." Katya curiga dengan Aisyah.

 

Namun perkataan Katya mengundang Aisyah tertawa.

 

"Iih Aisyah hanya sahabatan dengan Ilham kak," sergah Aqila dengan melirik Aisyah wajahnya seketika panik mendengar itu karena dulu pun dia pernah cemburu terhadap Aisyah yang suka dekat dengan Ilham.

 

"Nah kan pacarnya marah," celetuk Aisyah dengan terkekeh dia tidak bisa untuk menyembunyikan jika Aqila sendiri yang memunculkan kecurigaan orang lain.

 

Seketika Katya merasa paham mulutnya terbuka membentuk huruf O " Oh ternyata kalian sedang menyembunyikan hal ini yayaya… kakak jadi mengerti pantas saja sejak tadi kalian berdua lirik-lirikan."

 

"Ya jadi gak mungkin dong ka, aku suka sama Ilham dia kan cuma sahabat aku lebih tepatnya calon adik ipar mungkin ya kan?" Aisyah melirik Aqila dengan tersenyum.

 

Tidak bisa dipungkiri bahwa Aqila sangat lucu dan menggemaskan jika sedang menahan rasa malu seperti ini. Pantas saja Ilham begitu menyukainya dan mau terima Aqila apa adanya, Aisyah sangat berterimakasih karena Ilham sudah membantunya menjaga Aqila selama ini. 

 

"Sudah sudah apaan sih ah kok jadi menggoda aku, kalian mau pergi ke toko buku kenapa tidak mengajak aku?" ujar Aqila dengan menatap satu persatu dua orang yang sedang bersamanya itu.

 

"Ya sudah yuk kalau mau ikut," ajak Aisyah dia dengan senang hati jika Aqila mau ikut bersamanya ke toko buku yang mana biasanya Aqila akan datang ke sana jika sedang ada tugas sekolah saja.

 

"Okey kita perginya habis salat dhuhur saja ya," kata kak Katya memberikan usulan karena suara adzan sudah berkumandang.

 

"Baiklah ya sudah yuk kita salat!" ajak Aqila dia bangkit dari duduknya menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.

 

Katya berlalu masuk ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, sedangkan Aqila menyiapkan mukena dan sajadah, dia kembali melihat Aisyah yang masih duduk di ruang tamu.

 

"Syah, semenjak banyaknya masalah yang keluarga aku hadapi sekarang aku jadi tambah rajin salat loh, alhamdulillah banget Allah masih mengingatkanku dan menunjukanku ke jalan yang benar," ungkap Aqila dengan penuh rasa syukur.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!