Merhaba Aisyah

Kejadian Itu Masih Membekas

"Alhamdulillah, aku senang dengarnya," sahut Aisyah seraya tersenyum lebar, sungguh dia sangat senang mendengarnya. "Terus hubungan sama Ilham masih?"

 

Aqila menampilkan wajah cemberut, "Masih, cuma ...."

 

Seperti ada masalah di antara keduanya, Aisyah begitu penasaran pasalnya setelah libur sekolah Ilham jarang sekali bercerita tentang Aqila.

 

"Kenapa? Kok berhenti, kalian lagi ada masalah ya?" tebak Aisyah.

 

Aqila menganggukkan kepalanya, "Ilham tuh orangnya cemburuan banget loh, kemarin aku keluar sama teman-teman ke caffe eh dia langsung marah katanya aku selingkuh dan gak sayang sama dia, sedikit capek aku dicurigai terus Syah," ungkapnya.

 

"Yaudah kamu yang sabar ngadepin Ilham, jelaskan aja kalau misal dia tidak percaya dia bisa bertanya kepadaku aja gitu," kata Aisyah memberikan solusi.

 

Selain dia ingin hubungan Aqila dan Ilham baik-baik saja, sebagai seorang sahabat Aisyah juga ingin hubungannya dengan Ilham terus berjalan hingga akhir nanti.

 

Katya pun datang menghampiri mereka berdua, "Yuk berangkat nanti keburu sore," ajaknya..

 

"Iya yuk, aku juga nanti mau ngerjain tugas nih," sahut Aisyah seraya bangkit dari duduknya.

 

Mereka bertiga pun pergi ke toko buku dengan mobil Ayahnya Aisyah namun yang membawa mobilnya adalah ka Katya.

 

Sebenarnya Aqila tidak suka membaca buku namun dia ingin pergi bersama Katya dan Aisyah ke luar, dia sangat bosan sekali di rumah terus.

 

"Kalian kapan berangkat ke Turky laginya?" tanya Aqila.

 

"Minggu depan dek," jawab Katya tegas.

 

"Kamu juga Syah?" Aqila menatap Aisyah, matanya sungguh berlinang seperti ada kesedihan yang dia rasakan mendengar waktu yang begitu cepat.

 

"Iya, aku akan ikut berangkat bareng ka Katya." Aisyah memeluk Aqila yang hendak menangis.

 

"Sudah jangan bersedih, nanti juga kita akan kembali lagi kan?" Katya mencoba menenangkan hati Aqila. "Kamu kalau ada apa-apa bisa telpon aja kami," katanya.

 

Aisyah pun melepaskan pelukannya dia begitu menyayangi saudarinya ini, apalagi setelah mendengar kisah Pilu keluarganya yang ternyata orang tuanya sudah cerai, pantas saja kelakuan Aqila begitu nakal dengan pergaulan bebas yang pernah dia jalani dan untungnya Ilham yang tulus mencintainya.

 

“Aku sedih nanti gak bisa main bareng lagi, aku pasti bakal kangen sama kamu Aisyah.” Aqila mengusap air matanya, dia tahu ini adalah impian Aisyah jadi dia tidak boleh sedih.

 

Aisyah tersenyum kecil, dalam hatinya dia juga masih belum rela untuk pergi, begitu banyak kenangan yang dialami disini, “Tenang aja nanti kita telponan setiap hari ya," katanya. Sama seperti yang dia katakan kepada sahabatnya Fatimah dan lainnya.

 

"Awas ya, kalau ingkar janji, pokoknya kalau aku telepon harus diangkat!” 

 

“Iya insyaallah," 

 

Tidak terasa perjalanan menuju ke toko buku begitu cepat, mobil pun sudah memasuki halaman toko buku yang lumayan luas, Katya memarkirkan mobilnya terlebih dahulu.

 

"Aku mau beli buku buat belajar aja, kan minggu besok ujian," seru Aqila dia berlalu ke rak buku yang berbau pelajaran matematika, kimia, fisika serta bahasa inggris.

 

"Dek, kakak mau pergi ke sebelah sana ya, kayaknya kakak tertarik deh buat beli buku ilmiah," kata kak Katya sambil menunjukan ke mana dia akan pergi.

 

"Baiklah," sahut Aisyah dia sendiri lebih senang membaca buku fiksi saat ini, mereka pun terpisah untuk mencari buku yang hendak mereka beli.

 

"Kulepas dengan ikhlas" Judul buku di rak paling atas itu menarik perhatiannya dia ingin mengambilnya namun tidak sampai yang pada akhirnya dia berjinjit untuk bisa mengambilnya.

 

Seketika dia teringat akan kejadian dimasa lalu, waktu Raka membantu dirinya yang hendak jatuh ketika mengambil buku, kenangan itu begitu membekas di hati Aisyah dan akan tersimpan rapi di dalam hatinya.

 

"Ah lupakan dia Syah!" Aisyah memegang kepalanya berusaha untuk melupakan nama cowok itu dari pikirannya saat ini.

 

Tiba-tiba dia teringat akan pesan terakhir Raka, yang mengirimnya sebuah kalimat indah yang belum dibaca sepenuhnya karena dia ingin membukanya saat beberapa hari berjalan.

 

"Syah, yuk pulang kita sudah dapat buku yang mau kita beli," ujar ka Katya bersama Aqila mereka terlihat akrab dari sebelumnya membuat Aisyah tiba-tiba cemburu kepada kedekatan Aqila dan kakaknya itu.

 

"Ya sudah yuk ke kasir, aku juga sudah nemu bukunya, aku dapat dua buku dong." Aisyah memamerkan buku yang akan dibelinya.

 

"Wah bagus banget nanti kita betteran ya!" Dengan enaknya Aqila berkata membuat Aisyah memalingkan wajahnya dan menyembunyikan bukunya.

 

"Enak aja aku juga belum baca tapi nanti kalau sudah aku baca aku akan kasih ke kamu ya La," kata Aisyah dia tidak suka jika buku yang baru dibelinya sudah mau dipinjam orang.

 

"Ya maksud aku juga begitu nanti kamu juga meminjam buku aku gitu kita tukeran buku." Aqila memberikan penjelasan kepada Aisyah.

 

Setelah pulang dari toko buku Aisyah langsung pergi ke kamar dia berniat untuk menulis karena seketika muncullah ide baru di pikirannya.

 

Sudah beberapa hari ini Aisyah jarang sekali menulis hingga pada akhirnya dia membuka buku lamanya dan melanjutkan tulisannya.

 

'Dia Bukan Jodohku' adalah judul ceritanya kini, yang diangkat dari kisah nyata sahabatnya yang telah dijodohkan oleh ke dua orang tuanya saat kelulusannya.

 

"Assalamualaikum Syah"

 

Tiba-tiba ponsel Aisyah bergetar dan menampilkan pesan dari Raka.

 

"Jujur, aku sangat rindu sama kamu Raka tapi kini kamu sudah menjadi milik Hawa aku tidak ingin menjadi orang ketiga diantara kalian berdua."

 

Aisyah pun memilih untuk tidak membalasnya, urusannya dengan Raka sudah selesai kemarin dia mendengar jika Adit yang telah terpilih menjadi ketua OSIS yang baru, Aisyah percaya jika Adit bisa mengemban amanah itu dengan baik.

 

Tok, tok, tok.

 

Terdengar suara ketukan pintu dari luar sana membuat Aisyah menoleh.

 

"Nak, ini Bunda!" teriak Adiba, dia membiasakan diri untuk mengetuk pintu kamar anaknya terlebih dahulu sebagai sopan santun.

 

"Masuk aja Bun," sahut Aisyah yang kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.

 

Adiba menghampiri Aisyah yang sedang sibuk di layar leptopnya, "Sayang, di bawah ada Raya dan Fatimah loh mereka mau ngajak kamu keluar katanya."

 

Aisyah langsung terkejut dia menatap bundanya, "Hah seriusan Bun?"

 

"Iya, aku izin keluar sampai malam tidak apa-apa Bun?" Aisyah langsung meminta izin kepada Adiba karena saat ini Ayahnya sedang berada di luar kota.

 

Adiba tersenyum, "Iya nak tidak apa-apa asal jangan larut malam gak baik anak perempuan pulang di atas jam 10," katanya memberi nasehat.

 

"Oke Bun." Ketika Aisyah hendak pergi dia kembali dipanggil oleh bundanya.

 

"Aisyah!" panggil Adiba lembut.

 

"Ada apa lagi Bun?" tanya Aisyah merasa bingung padahal tadi dia sudah bersalaman.

 

"Ini laptopnya masih menyala, gak dimatiin dulu nanti tugasnya hilang baru nangis," celetuk Adiba mengingatkan.

 

Baru Minggu kemarin Aisyah menangis sebab tulisannya hilang karena dia ketiduran saat menulis dan pas bangun ternyata tulisannya belum disimpan sehingga dia harus mengulanginya kembali dari awal, sungguh sedih sekali Aisyah waktu tahu tulisannya belum disimpan.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!