Merhaba Aisyah
Raka Baru Mengetahuinya
Keesokan harinya, Raya datang ke rumah Aisyah. Mereka memilihkan baju sederhana: tunik krem, celana hitam, dan kerudung cokelat muda. Tidak berlebihan, tapi rapi.
“Kamu cantik, Ray,” kata Aisyah tulus.
“Cantik natural,” tambah Hawa sambil tersenyum.
Fatimah mengacungkan jempol. “Rafael bakal bengong.”
Raya tertawa kecil, menutupi kegugupannya, dia sedikit malu mendengar pujian dari sahabatnya, ini merupakan date pertamanya.
Mereka tiba di sebuah taman kota kecil. Tidak ramai, hanya beberapa orang duduk membaca atau berjalan santai. Rafael sudah menunggu di bangku kayu, mengenakan kemeja biru tua dan celana hitam. Ketika melihat Raya, ia berdiri.
“Hai,” sapa Rafael singkat.
“Hai,” balas Raya.
Mereka berjalan menyusuri taman dengan langkah pelan. Awalnya sunyi, tapi tidak canggung. Hanya dua orang yang sama-sama menikmati tenang.
“Aku jarang ngajak orang keluar,” ujar Rafael tiba-tiba.
Raya menoleh. “Kenapa?”
“Aku nggak pandai ngobrol,” katanya jujur. “Dan aku nggak suka basa-basi.”
Raya tersenyum. “Nggak apa-apa. Aku juga suka yang sederhana.”
Mereka duduk di bangku taman. Rafael menatap lurus ke depan. “Aku suka cara kamu bicara. Pelan, tapi jelas.”
Raya terdiam sejenak. “Makasih.”
Hening lagi.
“Ray,” panggil Rafael kemudian. “Aku mau jujur dari awal.”
Raya menoleh. “Iya?”
“Aku tahu kita beda. Dan aku nggak mau bikin kamu nggak nyaman.”
Jantung Raya berdegup. “Aku juga mikir soal itu.”
Rafael mengangguk. “Aku nggak janji apa-apa, tapi aku pengen kenal kamu lebih jauh, kalau kamu nggak keberatan.”
Raya menarik napas panjang. “Aku nggak keberatan kenal, tapi aku orang yang pelan dan aku jujur soal batas.”
“Itu yang aku suka,” jawab Rafael singkat.
Saat sore beranjak malam, mereka berpisah dengan senyum kecil dan janji sederhana untuk tetap jadi diri sendiri.
Di rumah, Raya membuka ponselnya. Grup chat mereka langsung ramai.
Fatimah: GIMANA?
Hawa: CERITA SEKARANG.
Aisyah: Kamu aman kan?
Raya mengetik panjang lebar. Tentang taman, tentang obrolan pelan, tentang kejujuran Rafael.
Fatimah: Wah, cowok kayak gitu langka loh.
Hawa: Tapi kamu harus tetap hati-hati ya, Ray.
Aisyah: Aku bangga kamu jujur dari awal.
Raya tersenyum menatap layar. Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak perlu berpura-pura atau berlari. Ia hanya perlu berjalan, pelan, bersama orang-orang yang mengerti dirinya.
Di kamar Aisyah, buku harian itu tergeletak di meja. Aisyah menatapnya sebentar, lalu menutupnya dengan hati-hati. Ia tahu, setiap orang punya cerita masing-masing dan tidak semua cerita harus dibaca semua orang.
Persahabatan mereka kembali utuh. Tidak sempurna, tapi jujur dan Raya, untuk pertama kalinya, belajar bahwa perasaan tidak harus terburu-buru. Kadang, yang paling indah justru tumbuh perlahan, dalam tenang, dan penuh kesadaran.
****
Hari ini adalah hari di mana Aisyah akan pergi ke Turky untuk kuliah setelah kemarin mendapat kabar tentang hasil tes yang ternyata Aisyah berhasil lulus dan diterima di universitas istanbul.
Sebelum pergi Aisyah mengirim tulisannya di sebuah blog untuk diterbitkan dan dia akan mendapatkan komisi darinya.
Sudah banyak sekali masa-masa yang telah dilalui Aisyah selama ini, kini waktunya dia berpisah dengan para sahabatnya, keluarga serta orang-orang yang dia sayangi.
"Sayang, apa kamu sudah siap?" tanya Adiba saat menghampiri Aisyah di kamarnya.
Aisyah masih terpaku diam membaca tulisan diarynya selama ini kepada Raka.
"Nak, kamu masih mencintai laki-laki itu?"
Aisyah menoleh terkejut mendengar ucapan Bundanya. "Bunda tahu semuanya?"
Adiba mengelus kerudung yang kenakan Aisyah, "Sayang, Bunda itu tahu kamu sudah tumbuh dewasa, wajar jika menyukai lawan jenisnya, kemarin Bunda bertanya kepada Fatimah katanya kamu sedang menaruh hati kepada ketua OSIS yang pernah jemput kamu ke rumah kan?"
"Ya ampun ternyata dari Fatimah," gumam Aisyah dalam hati dia mengira jika Bundanya telah membaca semua diarynya. "Iya Bun, dia pernah jemput Aisyah tapi sekarang dia kekasihnya Hawa jadi Aisyah harus bisa mengikhlaskan."
Adiba memeluk putrinya dengan penuh pengertian, "Sayang, jodoh itu gak akan kemana, Bunda yakin suatu saat kamu pasti akan bertemu dengan seorang yang lebih baik dari dia untuk sekarang kamu harus fokus belajar yah Nak, Bunda akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu dan kakak," ujarnya.
"Baik Bun, Aisyah akan sangat merindukan Bunda dan ayah, bunda jaga diri baik-baik yah di sini," tukas Aisyah merasa sedih akan berpisah dengan bundanya.
"Iya sayang," sahut Adiba lembut.
Tiba-tiba Katya masuk ke dalam kamarnya dan melihat adiknya sedang berpelukan dengan Bundanya mengingatkan dia ketika dulu hendak pergi ke Turki, semuanya penuh haru dan kesedihan apalagi sejak kecil Aisyah selalu dijaga dan disayang oleh kedua orangtuanya kalau pergi pun harus dikawal sama bunda atau yang lainnya, berbeda sekali dengan dirinya yang sejak lulus SD pun sudah dibuang di pesantren.
"Bun, dek ayo kita turun, Ayah sudah menunggu di bawah," ujar Fatimah seraya tersenyum.
Aisyah dan Adiba menoleh, lalu melepaskan pelukannya.
"Yuk turun nak," ajak Adiba dia tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan.
"Biar kakak aja Bun yang bawa tasnya," kata Katya meraih tas milik adiknya.
Aisyah tersenyum, "Makasih kak, awas tasku berat loh hehe."
"Kamu bawa apa saja emang, kan baju mah kita bisa tukeran aja jadi gak usah bawa baju banyak-banyak dek," omel Katya dengan mata yang menatap tajam adiknya.
"Iya aku tahu ka, aku hanya bawa buku-buku aku saja yang dari sekolah yang mungkin akan berguna nantinya," jelas Aisyah berjalan langsung mengabaikan kakaknya yang akan terus mengomel.
Untung saja Katya dan Aisyah memiliki tinggi badan yang tidak jauh berbeda dan sama-sama kurus, layaknya orang kembar tapi tidak lahir sama kadang pula para tetangga mengira jika Aisyah adalah Katya karena wajah mereka juga sama-sama cantik dan anggun.
"Rak, ada salam dari Aisyah katanya kalau dia punya salah mohon maaf hari ini dia akan terbang ke Turky."
Sebuah pesan masuk dari benda pipih milik Raka, yang memberikan kabar duka dihatinya.
"Ya ampun Syah, kok kamu gak langsung pamit sama aku ya? Apa kamu masih marah gara-gara denger gosip aku yang pacaran sama Hawa?" gumam Raka dengan raut wajah frustasi.
Raka galau mendengar kepergian Aisyah ke Turki, apalagi selama ini dia telah menyakiti perasaan wanita itu, sikap Hawa memang berubah 80 persen kepadanya dia benar-benar menjauh dan menghindar semenjak Hawa membagikan fotonya dan Hawa serta kedua Ibu mereka ditambah lagi Hawa membuat caption kalau orangtua mereka sudah saling merestui.
"Ya Allah apa yang harus aku lakukan?" lirih Raka sambil mengusap wajahnya dengan telapak tangannya.
Tiba-tiba Ameera masuk ke dalam kamar Raka, gadis itu melihat kesedihan yang terpancar dari mata sang kakak.
"Ka Raka, sedih ya dengar ka Aisyah pergi ke Turki? Tapi kok hanya diam saja disini kenapa gak samperin langsung ke rumahnya?" ujar Ameera yang hanya berdiri di pintu kamar saja.