Merhaba Aisyah

Menyelusuri Jalanan Turki

Kantin kampus siang itu dipenuhi suara sendok beradu dengan piring, tawa mahasiswa, dan obrolan dalam berbagai bahasa. Aisyah duduk bersama Zehra dan Mariam di sudut dekat jendela, tempat favorit mereka sejak awal semester. Cahaya matahari masuk dari samping, membuat meja kayu tampak lebih hangat.

 

Zehra menyandarkan punggung ke kursi, menatap Aisyah sambil menyedot minumannya. Tatapannya bukan tatapan iseng, melainkan penuh rasa ingin tahu yang tertahan.

 

“Syah,” ucapnya akhirnya, “aku mau tanya, tapi jawabnya jujur.”

 

Aisyah mengangkat wajahnya. “Tentang apa?”

Mariam menyandarkan dagu di tangan. “Tentang kamu dan Kak Arman.”

 

Sendok di tangan Aisyah berhenti sejenak. Ia tidak terlihat kaget, seolah pertanyaan itu memang sudah ia duga akan datang suatu hari.

 

Aisyah menghela napas pelan, tidak kaget. “Aku sudah menduga pertanyaan itu bakal datang.”

 

Zehra terkekeh kecil. “Soalnya kalian selalu ada di tempat yang sama. Rapat, diskusi, evaluasi kalau bukan orang yang sering diperhatikan, mungkin kelihatannya biasa tapi kami lihat.”

 

Aisyah menarik napas perlahan. “Dekat karena kerja, itu aja.”

 

Zehra mendekat sedikit. “Kalau aku sih jujur ya… kalau kamu benar-benar bersama Kak Arman, aku dukung karena kalian cocok secara intelektual, nyambung dan sama-sama cantik dan ganteng.”

 

“Dan?” Aisyah mengangkat alis.

 

Mariam tersenyum tipis. “Kalau soal perasaan?”

 

 

Aisyah terdiam kembali, “Aku nggak ingin membohongi diriku sendiri,” jawab Aisyah jujur. “Aku nyaman dengan Kak Arman, iya. Tapi itu berbeda. Aku belum siap untuk buka hati apalagi mengganti rasa yang belum benar-benar pergi.”

 

Zehra mengangguk pelan. “Itu sikap yang dewasa, Syah.”

 

Mariam mengangguk, lalu berkata dengan nada lebih hati-hati. “Tapi kamu juga harus tahu satu hal.”

 

“Apa?” tanya Aisyah.

 

“Kak Arman itu,” Mariam menurunkan suaranya, “Banyak yang suka, senior perempuan, junior bahkan dari fakultas lain. Dia dikenal pintar, dewasa dan cool, biasanya yang seperti itu… jadi pusat perhatian.”

 

Aisyah tersenyum kecil, tanpa ekspresi cemburu. “Aku tahu.”

 

Zehra menatapnya heran. “Kamu tahu tapi kelihatan santai, apa kamu nggak takut kehilangan kesempatan?”

 

Aisyah menggeleng. “Kesempatan yang baik nggak akan pergi hanya karena aku memilih pelan dan kalau memang bukan untukku, aku harus ikhlas.”

 

“Karena aku nggak sedang bersaing,” jawab Aisyah jujur. “Aku belum membuka hatiku, aku nggak mau melangkah setengah-setengah.”

 

Mariam menatap Aisyah dengan lembut. “Aku cuma nggak mau kamu terluka, Syah. Kalau suatu hari kamu memutuskan dekat, pastikan itu karena kamu siap bukan karena keadaan.”

 

Aisyah mengangguk pelan. “Itu juga yang aku harapkan.”

 

Ia tidak mengatakan semuanya, tapi Zehra dan Mariam tahu di hati Aisyah masih ada nama yang belum sepenuhnya pergi. Rindu yang diam-diam ia simpan, meski dari cerita yang sampai kepadanya, Raka kini semakin dekat dengan Hawa. Hubungan mereka terlihat tumbuh seiring waktu, sementara Aisyah hanya bisa menyimpan kenangan dari jauh namun Aisyah memilih tidak larut. Ia belajar berdamai.

 

Zehra tersenyum kecil. “Apapun keputusanmu nanti, kami dukung. Asal kamu bahagia dan nggak memaksa diri.”

Aisyah membalas senyum itu. “Terima kasih. Itu cukup buat aku.”

 

Beberapa meja dari mereka, dua teman Arman yang juga satu organisasi melintas, mereka sempat melirik ke arah Aisyah, seperti berbisik singkat, lalu tersenyum tipis seolah mengerti sesuatu. Aisyah menangkap itu sekilas, namun memilih tak memikirkannya.

 

****

 

Sore hari, setelah semua agenda kampus selesai, Aisyah pulang ke apartemen dengan langkah ringan. Katya sudah menunggunya di ruang tamu, mengenakan mantel cokelat tua dan membawa kamera kecil di tangan.

 

“Ayo,” kata Katya ceria. “Hari ini kita jalan. Aku mau ajak kamu ke salah satu kawasan bersejarah yang sering aku ceritakan ke turis.”

 

Aisyah langsung tersenyum lebar. “Serius? Aku suka kalau Kakak lagi jadi mode tour guide.”

 

Di sebuah kafe kecil, mereka duduk berdampingan, menikmati minuman hangat. Aisyah mengabadikan beberapa foto Katya dengan latar lampu jalan yang mulai menyala.

 

“Foto kamu bagus,” kata Katya sambil melihat layar ponsel.

 

Aisyah tersenyum bangga melihat hasil fotonya, ini adalah foto pertamanya sendiri yang sedang jalan-jalan menikmati keindahan Turki.

 

Mereka kembali berjalan menyusuri jalanan kota Istanbul yang mulai dipenuhi cahaya sore, bangunan-bangunan tua berdiri anggun, dinding batunya seolah menyimpan ribuan cerita, sepanjang jalan, Katya bercerita tanpa henti.

 

“Bangunan ini,” kata Katya sambil menunjuk sebuah kompleks batu besar, “dibangun pada masa Ottoman awal. Dulu jadi pusat pertemuan pedagang dan ulama.”

 

Aisyah mendengarkan dengan saksama. “Kak, kamu kalau cerita sejarah tuh beda. Rasanya kayak lagi nonton film.”

 

Katya tertawa kecil. “Soalnya aku nggak cuma hafal tahun. Aku bayangin manusianya, konflik zamannya, dan kenapa bangunan ini penting.”

 

Tak lama, seorang laki-laki bergabung dengan mereka. Wajahnya ramah, cara bicaranya tenang.

 

“Ini Deniz,” kata Katya. “Teman diskusi aku. Sering bantu kalau aku jadi tour guide.”

Deniz mengangguk sopan ke arah Aisyah. “Adikmu?”

“Iya,” jawab Katya bangga.

 

Percakapan mereka mengalir dengan mudah. Deniz menambahkan detail sejarah yang membuat Aisyah semakin terpukau tentang perubahan fungsi bangunan, peran masyarakat di masa lalu, hingga filosofi arsitekturnya.

 

“Bangunan ini,” kata Deniz, “bukan hanya simbol kekuasaan, tapi ruang hidup. Di sinilah orang-orang dulu berdiskusi, berdebat, dan mengambil keputusan penting.”

 

Aisyah mengangguk kagum. “Aku baru benar-benar paham sekarang.”

Katya melirik Aisyah dengan senyum bangga. Ia tahu, adiknya menyerap cerita itu dengan hati, bukan sekadar kepala.

 

Aisyah langsung menghampiri kakaknya, menarik ujung mantel Katya dengan gaya khasnya. “Kak, aku laper.”

 

Katya tertawa. “Baru pulang kampus, kan?”

Aisyah mengangguk, lalu sedikit merajuk. “Tadi makan dikit, lagian aku ikut Kakak jalan jauh, masa nggak dikasih jajan.”

 

“Yaudah sana beli roti," ujar Katya mengulurkan uang kepada Aisyah.

 

“Kak, beliin." Aisyah malah merajuk manja, dia sudah kelelahan berjalan karena tidak terbiasa, dia juga bingung mau makan apa.

 

Katya menggeleng sambil tersenyum. “Manja banget sih kamu.”

“Hehe aku kan adik,” jawab Aisyah cepat, tersenyum lebar. 

 

Katya akhirnya menyerah. “Ya sudah, tapi cuma satu ya.”

Aisyah bersorak kecil. “Yeay! Makasih kak”

 

Di momen itu, Aisyah bukan mahasiswa yang sibuk, bukan anggota organisasi yang penuh tanggung jawab. Ia hanya adik kecil yang menikmati waktu bersama kakaknya menggemaskan, tulus dan bahagia.

 

Mereka berhenti sejenak untuk mengambil foto, Katya mengatur kamera, Deniz membantu mengarahkan sudut, sementara Aisyah berdiri di samping kakaknya dengan senyum cerah, tawanya lepas dan matanya berbinar.

 

Mereka berhenti untuk berfoto, Katya memberikan kamera pada Deniz. “Ambilin foto kami ya.”

 

Katya merangkul bahu Aisyah. “Kamu tetap Aisyah kecilku,” katanya pelan.

 

Aisyah tertawa. “Padahal aku sudah kuliah.”

“Iya,” jawab Katya, “Tapi di mataku, kamu tetap adik yang harus dijagain.”

 

Saat senja turun perlahan, mereka pulang dengan banyak foto dan cerita. Hati Aisyah terasa penuh bukan oleh cinta romantis, melainkan oleh rasa aman, keluarga dan kebahagiaan sederhana.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!