Merhaba Aisyah
Takdir Yang Mempertemukan
Museum itu berdiri anggun di tengah kota, seolah menyimpan waktu dalam diam. Bangunannya megah dengan pilar-pilar tinggi dan dinding batu berwarna pucat yang memantulkan cahaya matahari siang, langkah kaki pengunjung menggema lembut di lantai marmer, bercampur dengan bisik-bisik kagum dan bunyi kamera yang sesekali terdengar.
Aisyah berjalan pelan menyusuri lorong utama, tangannya menggenggam buku catatan kecil dan ponsel, siap mencatat hal-hal penting untuk dokumentasi pameran seni lintas budaya. Ia mengenakan kerudung berwarna krem lembut, sederhana, menyatu dengan suasana tenang museum.
Sejak masuk tadi, pikirannya cukup fokus. Ia membaca keterangan lukisan, mengamati detail artefak dan mencatat narasi singkat yang bisa dikembangkan nanti hingga akhirnya, senior yang mendampinginya yang sedari tadi berdiskusi soal teknis pengambilan gambar berhenti melangkah.
“Aisyah, aku beli air minum dulu, ya,” ujarnya sambil menunjuk arah kafetaria museum. “Panas juga di luar.”
“Iya, Kak. Aku tunggu di sini,” jawab Aisyah sambil tersenyum.
Senior itu berlalu, meninggalkan Aisyah berdiri sendiri di depan sebuah lukisan besar bergaya klasik. Aisyah menghela napas pelan. Kesempatan itu ia gunakan untuk benar-benar menikmati pameran tanpa harus berpikir soal tugas.
Ia melangkah lebih dekat ke lukisan tersebut sebuah potret perjalanan manusia, penuh simbol dan warna-warna tenang. Aisyah menatapnya lama, seakan lukisan itu sedang berbicara dalam bahasa yang hanya bisa dipahami oleh hati. Di saat itulah, sesuatu terasa berubah.
Entah mengapa, dadanya mendadak terasa sesak. Seperti ada dorongan halus yang membuatnya menoleh ke arah lain. Aisyah mengalihkan pandangan ke lorong seberang, tempat sekelompok pengunjung baru saja masuk.
Dan disanalah ia melihatnya, sosok itu berdiri tak jauh, mengenakan kemeja sederhana dan ransel di punggung. Wajahnya sedikit lebih dewasa dari ingatan Aisyah, rahangnya lebih tegas, sorot matanya tenang namun tetap sama.
Waktu seakan berhenti tanpa diduga, ia melihat sosok yang sangat dikenalnya Raka!!
Waktu seolah berhenti sesaat.
Raka berdiri beberapa meter darinya, membelakangi Aisyah. Ia sedang memperhatikan sebuah artefak Mesir kuno, tangannya menyilang di depan dada, posturnya masih sama seperti yang selalu Aisyah ingat, lebih berisi sedikit, mungkin. Rambutnya lebih rapi tapi garis bahunya cara ia berdiri tak berubah.
Jantung Aisyah berdetak begitu keras hingga ia yakin siapapun bisa mendengarnya.
“Ini nggak mungkin,” bisiknya nyaris tanpa suara.
Namun kenyataan tidak memudar, ekspresi terkejut jelas terlihat di wajahnya, matanya melebar sesaat, seolah memastikan apa yang dilihatnya nyata, lalu tanpa sadar, ia melangkah mendekat.
Raka terlihat sama terkejutnya, matanya melebar sedikit, alisnya terangkat seolah sedang memastikan bahwa yang berdiri di depannya bukan sekadar ilusi yang lahir dari rindu panjang.
“Aisyah?” suaranya rendah, ragu.
Aisyah menelan ludah tenggorokannya terasa kering. “Iya,” jawabnya pelan. “Raka.”
Nama itu meluncur begitu saja, membawa serta ribuan kenangan yang tak pernah benar-benar pergi.
Percakapan singkat, canggung, penuh jeda.
“Kamu… di sini?” Raka bertanya, suaranya terdengar hati-hati, seperti berjalan di atas kaca tipis.
Aisyah mengangguk kecil. “Ada agenda kampus.”
“Oh.” Raka tersenyum tipis. “Aku… lagi libur sebentar dari Mesir. Ada kunjungan akademik ke sini.”
“Oh," sahut Aisyah sambil menganggukkan kepalanya.
Raka menatapnya lebih lama dari yang seharusnya. “Aku nggak nyangka bisa ketemu kamu di sini.”
“Aku juga,” jawab Aisyah cepat, lalu tersenyum kecil senyum yang lebih berfungsi sebagai pelindung daripada ungkapan bahagia.
Ada jeda lagi, terasa panjang dan berat.
“Apa kabar?” Raka bertanya, pertanyaan paling sederhana yang justru terasa paling sulit.
Aisyah menarik napas. “Baik.”
“Kuliahnya?” tanya Raka penasaran dengan bagaimana kabar perkuliahan Aisyah selama di Turki.
“Lancar.” Aisyah menjawabnya dengan singkat.
Raka mengangguk, meski jelas ia ingin mengatakan lebih. “Syukurlah.”
Mereka berdiri di sana, dikelilingi sejarah ribuan tahun namun terjebak dalam masa lalu mereka sendiri.
Saat Arman kembali, tatapan Raka tertuju padanya penuh tanya dan kebingungan.
“Maaf lama,” ujar Arman berkata ramah sambil menyerahkan botol air. “Tadi antre.”
“Iya, nggak apa-apa,” jawab Aisyah, suaranya kembali ke nada yang lebih stabil.
Arman menoleh pada Raka. “Temanmu?” tanyanya memandang Aisyah.
Raka menjawab lebih dulu, “Kami… kenal lama.”
Cara Raka mengucapkannya membuat dada Aisyah bergetar. Kenal lama? Iya tidak salah tapi juga tidak sepenuhnya benar.
Arman tersenyum sopan. “Oh, begitu, saya Arman.”
Raka menjabat tangannya. “Raka.”
Tatapan Raka kembali ke Aisyah, seolah ingin bertanya banyak hal tanpa suara, tentang siapa Arman baginya, tentang apa yang terjadi selama mereka terpisah, tentang apakah masih ada ruang yang tersisa.
Namun Aisyah hanya membalasnya dengan senyum kecil tenang, tertutup dan penuh jarak.
“Kayaknya aku harus lanjut,” kata Raka akhirnya, suaranya mengandung sesuatu yang tidak ia ucapkan. “Senang… ketemu kamu, Aisyah.”
“Senang ketemu kamu juga,” kata Aisyah, tidak bisa berkata bohong jika bertemu dengan Raka membuat jantungnya berdetak kencang dan cukup bahagia bisa melihatnya dalam keadaan baik-baik saja.
Raka melangkah pergi tapi langkahnya terhenti sesaat, ia menoleh sekali lagi, menatap Aisyah seolah ingin memastikan wajah itu benar-benar nyata, lalu menghilang di antara pengunjung lain. Sedangkan Aisyah menatap punggung itu hingga tak terlihat lagi, Aisyah ingin bertanya banyak hal tapi semua pertanyaan itu tertahan di ujung lidah.
Arman memperhatikan sekilas tatapan Aisyah yang tidak biasa, dia curiga jika cowok itu dekat dengan Aisyah namun dia tidak ingin berpikir lebih jauh. “Kalau sudah, kita lanjut ke ruang pameran berikutnya.”
Aisyah mengangguk namun sebelum melangkah, ia menoleh sekali lagi ke arah lorong tempat Raka menghilang, dadanya terasa hangat dan perih sekaligus.
Langkahnya kemudian bergerak mengikuti seniornya, museum kembali menjadi ruang sunyi penuh seni namun bagi Aisyah, hari ini akan selalu dikenang sebagai hari ketika takdir mengetuk tanpa aba-aba, lalu pergi meninggalkan gema yang lama.
Dan Aisyah tahu, pertemuan itu bukan kebetulan. Raka adalah pengingat bahwa hati yang pernah terikat, tak pernah benar-benar lupa.
Arman berjalan di samping Aisyah, sesekali berhenti untuk membaca keterangan karya, lalu melanjutkan langkahnya. Ia berbicara seperlunya tentang konsep pameran, tentang kemungkinan kolaborasi lintas kampus sementara Aisyah mengangguk dan mencatat singkat.
Namun sejak pertemuan tak terduga itu, Aisyah berubah.
Ia tetap berjalan di sisi Arman, tetap mendengarkan, tetap menjalankan perannya tapi pikirannya tidak sepenuhnya hadir. Matanya menatap lukisan, tetapi yang terbayang justru lorong tadi, suara museum berubah menjadi dengung samar di telinganya.
Arman tidak langsung menyadarinya, dia mengira Aisyah hanya sedang tenggelam dalam observasi seperti kebiasaannya jika bertemu karya yang menyentuh, beberapa kali ia melontarkan pendapat dan Aisyah menjawab singkat, sopan dan seperlunya.
Mereka berhenti di depan sebuah instalasi seni yang menampilkan potongan-potongan kaca dan cahaya. Pantulan bayangan mereka terpecah di permukaan karya itu tak utuh, terdistorsi.
“Bagian ini menarik,” ujar Arman. “Konsepnya tentang memori dan identitas.”
Aisyah mengangguk kecil. “Iya, kak.”
Arman melanjutkan berjalan, lalu berhenti lagi di depan lukisan berikutnya. Ia menoleh.
“Aisyah, nanti bagian ini kita catat untuk laporan, ya. Fokus ke…” Ia berhenti bicara.
Aisyah berdiri satu langkah di belakangnya, pandangannya kosong. Tatapannya tidak tertuju pada lukisan, tidak pula pada keterangan di dinding. Ia seperti sedang melihat sesuatu yang tidak ada di ruangan itu.
“Aisyah?” panggil Arman, kali ini lebih jelas namun tidak ada jawaban.
Arman menghela napas kecil, bukan kesal lebih ke heran. Ia melangkah sedikit mendekat.
“Aisyah!!” panggil Arman, Aisyah masih diam.
Nada suaranya kemudian berubah sedikit lebih tegas, bukan tinggi tapi cukup untuk memanggil seseorang kembali ke dunia nyata.
“Aisyah!!”
Aisyah tersentak, seperti seseorang yang baru saja ditarik dari dalam air. Matanya berkedip cepat lalu menatap Arman.
“I—iya, kak?” suara Aisyah terdengar gugup, nyaris terbata.
Arman menatapnya, kali ini tidak sambil berjalan. Ia berhenti sepenuhnya. “Dari tadi aku panggil, kamu nggak dengar.”
Aisyah menunduk. Jarinya meremas tali tas kecil di bahunya. “Maaf kak… aku lagi nggak fokus,” katanya pelan.
Arman mengernyit tipis sedikit kesal tapi cukup untuk menunjukkan ia menyadari ada yang tidak beres. “Kita mau buat laporan di sini, kalau kamu hilang fokus, nanti gimana?”
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi cukup membuat dada Aisyah terasa semakin sempit. “Iya, Kak. Maaf,” ulangnya pelan.
Hening menyelinap di antara mereka, beberapa pengunjung lain berjalan melewati lorong itu tanpa memperhatikan, larut dalam dunia mereka sendiri.
Aisyah menarik napas panjang. Ia tahu dirinya tidak bisa memaksakan keadaan jika ia tetap di sana, pikirannya akan terus bercabang, emosinya akan semakin sulit dikendalikan.
“Kak,” ucap Aisyah akhirnya, suaranya rendah namun jelas. “Aku izin ke kamar mandi sebentar.”
Arman menatapnya beberapa detik. Ada banyak kemungkinan pertanyaan di matanya, tapi ia memilih menahan semuanya.
“Ya sudah,” katanya akhirnya. “Aku tunggu di sini.”
“Iya, terima kasih.”
Aisyah berbalik dan melangkah pergi dengan langkah cepat namun tertahan, begitu pintu kamar mandi tertutup, dunia seakan mengecil.
Aisyah bersandar di dinding, menutup matanya, napasnya tidak beraturan. ‘Raka?’ Nama itu terdengar sulit diucapkan tapi hadir begitu nyata, pertemuan singkat itu dengan tatapan bingung, senyum canggung, jarak yang kembali menganga semuanya datang bersamaan, tanpa ia sempat menyiapkan diri.
Aisyah menyalakan keran, membasuh wajahnya dengan air dingin. Ia menatap bayangannya di cermin. Wajah itu terlihat tenang tapi matanya menyimpan sesuatu yang bergetar. Aisyah menangis dia masih teringat akan 3 tahun yang lalu saat dirinya diam-diam mengagumi laki-laki itu.
“Aku baik-baik saja,” bisiknya pada diri sendiri. “Dia cuma masa lalu yang mengetuk sebentar.”
Aisyah mulai menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan dan mengulanginya sampai dadanya tidak lagi terasa sesak.
Di luar sana, Arman menunggu, pameran masih berlanjut agenda belum selesai dan Aisyah tahu ia harus kembali.