Merhaba Aisyah
Pesan Dari Nomor Asing
Hujan turun pelan sore itu, membasahi kaca jendela kamar Aisyah dengan garis-garis bening yang memantulkan cahaya lampu ia duduk bersandar di ranjang, laptop terbuka tapi pikirannya melayang entah ke mana. Tugas kuliah di depannya belum juga disentuh, bukan karena malas tapi karena pikirannya sedang penuh.
Getaran ponsel di atas meja kecil membuatnya menoleh, satu pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
Aisyah sempat mengernyit, biasanya ia tak langsung membuka pesan dari nomor asing tapi entah kenapa, kali ini ada dorongan kecil yang membuatnya meraih ponsel dan membaca isinya.
“Assalamu’alaikum, Aisyah. Ini Raka. Ilham memberikan nomormu. Maaf mengganggu malam-malam.”
Dunia seolah berhenti berputar selama beberapa detik.
Aisyah menatap layar itu tanpa berkedip, dadanya menghangat lalu menciut dalam waktu yang hampir bersamaan, nama itu seperti mengetuk pintu yang sudah lama ia tutup rapat bukan dengan keras tapi cukup untuk membuat hatinya bergetar.
Ia meletakkan ponsel, berdiri lalu berjalan ke jendela hujan masih turun, lampu-lampu kota Istanbul berpendar samar, memantul di kaca. Aisyah menempelkan keningnya ke jendela yang dingin, mencoba menenangkan detak jantungnya.
“Balas atau tidak?” Pertanyaan itu berputar di kepalanya.
Beberapa menit berlalu. Ponsel itu kembali bergetar, satu pesan masuk.
“Aku hanya ingin menyapa, kalau kamu tidak berkenan membalas, tidak apa-apa.”
Aisyah menutup mata sejenak. Ia tahu, menghindar tidak akan menghapus apa pun dengan menarik napas panjang, ia menatap layar cukup lama sebelum akhirnya mengetik balasan.
“Wa’alaikumussalam, tidak apa-apa.”
Pesan terkirim, beberapa detik kemudian balasan langsung muncul seperti dugaannya Raka memang selalu cepat balas chat.
“Bagaimana kabarmu, Syah? Sedang sibuk ya?”
Aisyah tersenyum tipis, senyum yang lebih banyak berisi rasa gugup daripada bahagia, ia membalas setelah berpikir sebentar.
“Alhamdulillah baik, sedang sibuk kuliah.”
Percakapan itu mengalir pelan, seperti dua orang yang berjalan hati-hati di jembatan sempit, tidak ada langkah yang ingin terlalu cepat, tidak ada kata yang ingin terlalu jauh.
“Kuliahnya di Turki masih padat?” tulis Raka.
“Akhir-akhir ini cukup, banyak agenda kampus,” jawab Aisyah jujur.
“Kamu terlihat bahagia di sana,” balas Raka. “Waktu di museum, aku melihatmu seperti itu.”
Aisyah terdiam sejenak. Ia tidak menyangka Raka memperhatikannya sedetail itu. Ia membalas dengan sederhana.
“Aku masih belajar menyesuaikan diri.”
Hening kembali hadir, hanya diisi suara hujan dan bunyi detak jam dinding. Aisyah mengira percakapan itu akan berhenti sampai di sana. Namun beberapa saat kemudian, Raka kembali mengirim pesan.
“Kuliah di Turki pasti banyak tantangan, bahasa, budaya, semuanya.”
“Iya,” jawab Aisyah. “Tapi aku bersyukur bisa belajar banyak hal.”
“Di Mesir juga begitu,” balas Raka. “Lingkungannya berbeda tapi ilmunya luas.”
Aisyah membaca pesan itu berulang kali. Ia membayangkan Raka di sana di negeri yang dulu hanya mereka bicarakan sekilas dalam obrolan lama. Ia ingin bertanya lebih banyak tapi menahan diri.
Percakapan mereka bergerak ke hal-hal ringan. Tentang cuaca yang berbeda, tentang perjalanan kuliahnya, tentang makanan yang dirindukan dari rumah. Semua dibicarakan dengan nada netral, sopan, seolah mereka hanya dua teman lama yang kebetulan kembali saling menyapa.
Tidak ada satupun yang menyinggung masa lalu secara langsung namun justru di sanalah rasa itu menyelinap di sela-sela kalimat biasa, di jeda sebelum pesan dikirim, di detik-detik ketika Aisyah menatap layar lebih lama dari yang ia sadari.
Rindu itu ada. Jelas, tapi jarak juga nyata.
Aisyah menyadari, mereka bukan lagi dua orang yang sama seperti dulu, waktu telah mengubah banyak hal cara bicara, cara berpikir bahkan cara menahan perasaan. Ia tidak lagi berharap Raka akan mengisi kekosongan. Ia juga tidak ingin membuka luka lama yang telah ia jahit perlahan.
“Kamu masih suka membaca?” tanya Raka tiba-tiba.
Aisyah tersenyum kecil. “Masih.”
“Bagus,” balas Raka. “Aku ingat kamu selalu membawa buku ke mana-mana.”
Ingatan itu membuat dada Aisyah menghangat, ia membalas dengan hati-hati.
“Kamu masih mengingat hal-hal kecil.”
“Rupanya iya,” jawab Raka singkat. “Masih suka nulis novel?"
"Masih,” jawab Aisyah, Raka pernah mengira jika dirinya pernah menulis cerpen tentangnya, padahal waktu itu Aisyah sudah memakai nama samaran dan ya tidak itu hanya fiktif tapi semua teman kelasnya mengetahuinya.
Hening kembali datang, tapi kali ini tidak canggung. Aisyah merasa seperti sedang duduk di bangku taman yang sama, berbincang tanpa perlu saling menatap. Ia menyadari, percakapan ini tidak perlu diarahkan ke mana pun. Biarlah ia mengalir, sekadar menyapa ruang-ruang yang lama tertutup.
“Sepertinya sudah malam, lebih baik kamu istirahat saja.”
Aisyah ragu sejenak, lalu menambahkan satu kalimat.
“Iya, aku akan pergi tidur, Rak. Semoga kuliahmu lancar.”
Beberapa detik berlalu sebelum balasan terakhir itu muncul.
“Aisyah,” tulis Raka, “aku bersyukur Allah masih mempertemukan kita.”
Aisyah membaca kalimat itu pelan, seolah takut maknanya berubah jika terlalu cepat diserap. Ia tidak langsung membalas. Ia meletakkan ponsel, memejamkan mata dan membiarkan satu tetes air mata jatuh bukan karena sedih, bukan pula karena bahagia melainkan karena akhirnya ia mengerti.
Ada pertemuan yang tidak datang untuk kembali seperti dulu, ia datang untuk mengajarkan bahwa rindu bisa ada tanpa harus dimiliki.
Di luar, hujan mulai reda. Aisyah membuka mata, menatap langit yang perlahan cerah ia menutup ponsel, menyandarkan punggungnya ke kursi dan membiarkan malam menyelesaikan sisanya.
Beberapa detik kemudian, pintu kamar diketuk pelan.
“Dek, kakak masuk ya,” suara Kak Katya terdengar dari luar.
“Masuk, Kak.”
Pintu terbuka, dan Kak Katya melangkah masuk dengan senyum yang tak biasa ada gugup, ada bahagia yang berusaha disembunyikan. Ia duduk di tepi ranjang, menatap Aisyah dengan sorot mata yang penuh arti.
“Dek…” Kak Katya menarik napas. “Kakak mau cerita.”
Aisyah langsung duduk lebih tegak. “Cerita apa, Kak?”
“Deniz,” ucap Kak Katya pelan, seolah nama itu sendiri punya bobot. “Dia… menyatakan perasaannya ke kakak.”
Mata Aisyah membesar, lalu wajahnya langsung berbinar. “Serius, Kak?”
Kak Katya mengangguk, pipinya sedikit merona. “Iya. Kakak masih agak kaget, jujur aja.”
Aisyah tersenyum lebar. Ada rasa bahagia yang tulus di dadanya. “Aku senang banget dengarnya, Kak.”
Kak Katya menoleh, menatap adiknya dengan serius. “Kemarin kamu ketemu Deniz, kan? Menurut kamu dia gimana, Dek?”
Aisyah berpikir sejenak, lalu menjawab mantap, “Dia kelihatan dewasa, Kak. Tenang. Cara bicaranya juga sopan. Aku lihat dia tulus.”
Wajah Kak Katya terlihat lega mendengar itu. “Kakak juga merasa begitu. Makanya kakak pengen tahu pendapat kamu.”
Aisyah menggenggam tangan kakaknya. “Aku bahagia kalau Kak Katya bahagia. Semoga Deniz benar-benar jadi laki-laki yang tepat buat Kakak.”
Kak Katya tersenyum, matanya sedikit berkaca-kaca. “Dek… menurut kamu, kakak harus bilang ke Bunda ya?”
Aisyah mengangguk pelan. “Menurut aku, iya, Kak. Kalau niatnya baik, Bunda pasti doain.”
Kak Katya menghela napas lega, lalu memeluk Aisyah erat, di kamar sederhana itu, dua saudari berbagi harap tentang cinta, tentang masa depan dan tentang doa-doa yang diam-diam mereka titipkan pada Tuhan.
Hujan telah benar-benar berhenti dan malam pun datang dengan perasaan yang jauh lebih hangat dari sebelumnya.