Merhaba Aisyah

Bertukar Cerita

Tidak lama kemudian Katya datang bergabung di meja makan, dia kaget begitu melihat banyak hidangan di sana.

 

"Wellcome back my sister!" seru Aisyah dengan tersenyum menunjukan gigi putihnya.

 

"Makasih banyak Ayah, Bunda dan Adek sudah menyiapkan semua ini untuk aku," ujar Katya terharu selama ini dia selalu merasa bersyukur karena hadir di dalam keluarga yang begitu menyayanginya.

 

"Kita hanya mengadakan acara syukuran dengan makan bersama keluarga kecil kita." Haris memberikan penjelasan mengenai apa yang dilakukannya.

 

"Masakan bunda selalu aku rindukan, akhirnya sekarang bisa merasakan masakan bunda lagi setelah sekian lama, jujur saja makanan di Turki enak-enak cuma lidah Katya belum bersahabat jadi masih asing gitu," ungkap Katya menceritakan pengalamannya di Turki.

 

"Kalau pagi kamu biasanya makan apa nak?" sahut Adiba ingin tahu kebiasaan anaknya.

 

"Roti sama susu Bun," jawab Katya sambil tersenyum manis.

 

Ya Adiba dan Haris sangat senang dengan kedatangan anak sulungnya dari negara Turky, karena sedang libur Katya memutuskan untuk pulang ke rumah apalagi dia sangat merindukan ke dua orangtuanya serta adiknya ini.

 

Acara makan malam berlangsung hingga menghabiskan waktu 30 menit, meja makan terasa berbeda hari ini dengan kedatangan Katya terasa lebih hidup, Haris yang biasanya bersikap cuek kini terlihat berbeda dengan ke dua putri kesayangannya.

 

"Sayang, kamu tahu tadi sore adekmu itu minta beli lemari baru katanya baju-bajunya tidak muat jika disatukan dengan lemari kamu makanya dia minta Ayahnya untuk membelikan yang baru." Tanpa diduga Adiba menceritakannya lebih dulu dibanding Aisyah.

 

Seketika Katya pun menoleh memandang Aisyah sambil tersenyum, "Benarkah Ayah apa yang dikatakan oleh Bunda?" tanyanya sambil kembali menatap Ayahnya mencaritahu akan kebenarannya.

 

Haris menganggukan kepalanya, "Iya tadi Ayah membelikannya lemari baju sesuai keinginannya karena Ayah rasa kalian emang harus mempunyai lemari sendiri-sendiri."

 

"Ayah yang begitu pengertian," timpal Aisyah sambil tersenyum senang mendengar apa yang dikatakan oleh Ayahnya, dia memang sangat bangga memiliki Ayah yang selalu mementingkan urusan anak dan menyayangi keluarganya.

 

"Katya bajunya sudah ada di kamar Aisyah ya tadi Pak Ujang yang membawakannya ke kamar," kata Adiba memberitahu bahwa koper yang dibawa oleh Katya sudah berada di kamarnya.

 

Mendengar koper dia jadi teringat sesuatu, "Bun aku ada oleh-oleh dari Turky untuk keluarga dan para tetangga rumah kita tapi besok aja ya soalnya aku udah capek banget tadi diperjalanan kejebak macet pula," lirihnya

 

Adiba dan Haris menganggukan kepalanya mengerti.

 

"Maafkan Ayah ya Nak, tidak bisa menjemput kamu di bandara karena tadi pagi Ayah punya banyak kerjaan yang tidak bisa ditinggalkan," tutur Haris merasa bersalah.

 

"Tidak apa-apa Ayah aku baik-baik saja kok lagi pula kan ada Pak Ujang yang menjemputku." Katya tidak pernah meminta Ayahnya untuk menjemputnya namun rasa ingin seperti itu memang ada.

 

"Ayah, katakan pada kakak bahwa aku akan lulus sekolah!" pinta Aisyah kepada Haris dengan manja.

 

Adiba tersenyum anak ke duanya itu memang sering bercerita bahwa dirinya tidak sabar untuk segera lulus dari sekolah dan menyusul kakaknya di Turky.

 

"Iya Nak, kakakmu sudah tahu itu kok tapi bukannya ujian kenaikan akhir belum dilaksanakan ya?" Haris mendapat kabar dari pihak sekolah soal tagihan pembayaran ujian kelulusan Aisyah.

 

Aisyah pun terkekeh, "Hehehe iya Yah ujiannya nanti dilakukan secara online tiga hari ke depan aku libur untuk persiapan ujian."

 

"Awas aja kalau kamu gak belajar!" Haris kini mulai mengancam anaknya itu dia tahu bahwa sekarang adalah ujian akhir kelulusan yang mana sudah pasti mengharapkan nilai yang baik.

 

"Ayah tenang saja sekarang kan ada Katya jadi serahkan saja sama aku," sahut Katya dengan tersenyum sambil melirik Aisyah dia akan memantau adiknya itu.

 

Haris hanya tersenyum sekilas menanggapi perkataan putrinya dia merasa senang mengetahui bahwa Katya akan membantu Aisyah dalam belajar hal itu tidak akan membuatnya sedikit lega.

 

Setelah selesai makan mereka langsung salat berjamaah saat itu juga air mata Adiba jatuh menetes di mukenanya rasa senang melihat keluarganya bisa berkumpul Katya dan Aisyah pun memeluk Bundanya.

 

"Jangan menangis Bun," ujar Aisyah dia tidak kuat jika melihat orangtuanya menangis yang ada dia juga malah ikut menangis.

 

"Bunda gak nangis kok, Bunda hanya terharu akhirnya kita bisa melaksanakan salat berjamaah bersama." Adiba mengusap air matanya dia tidak ingin ke dua anaknya melihat dirinya menangis.

 

"Iya Bunda alhamdulillah ya." Katya pun ikut merasa senang bisa kembali kumpul bersama keluarganya.

 

"Ya sudah sana kalian ke kamar, sudah jam setengah sepuluh segera tidur agar bangunnya tidak kesiangan besok pagi Ayah harus berangkat pagi," kata Haris meminta agar ke dua putrinya segera masuk ke dalam kamarnya.

 

Akhirnya Aisyah dan Katya pergi ke kamar untuk segera tidur hari mulai larut malam namun mereka bukannya langsung tidur mereka malah bercerita, Aisyah dengan senangnya menceritakan tentang hafalannya.

 

"Hemm, bagus dek pertahankan hafalanmu karena itu akan mempermudah untuk kamu masuk ke universitas intanbul nantinya." Betapa senangnya Katya mendengar bahwa adiknya ini sudah berhasil menghafal al-quran.

 

"Tapi aku takut ka hafalanku hilang bagiku menghafal sangatlah mudah hanya saja akan sangat sulit mempertahankan hafalan kita," ungkap Aisyah kepada sang kakak selama ini dia tidak pernah cerita kepada ke dua orangtuanya melainkan ke tiga sahabatnya.

 

Katya tentu saja paham akan apa yang dirasakan oleh adiknya ini, "Dengan bermurojaah setiap hari kamu pasti bisa mempertahankannya asal jangan berbuat maksiat itu harus dihindari."

 

Mendengar hal itu tentu saja Aisyah tersenyum, "Nah itu dia ka sulitnya."

 

Ya Aisyah merasa sulit untuk menghindari maksiat apalagi semenjak Raka mulai mengisi hatinya yang ada pikirannya selalu tertuju pada cowok itu bahkan dia tidak memungkiri bahwa dirinya selalu ingin mendengar suara Raka.

 

"Pasti kamu sudah jatuh cinta ya pada laki-laki?" tebak Katya sambil menyolek dagu Aisyah.

 

Untuk pertanyaan ini Aisyah hanya bisa tersenyum dia sangat malu untuk mengatakannya kepada sang kakak yang dia ketahui bahwa kakaknya tidak pernah berpacaran sejak dulu.

 

"Mengapa Ayah dan Bunda selalu melarang kita untuk berpacaran ya karena itu mereka tidak ingin kita terjerumus ke dalam zina yang akan menimbulkan dosa dan kamu pasti tahu bahwa cinta itu bisa membutakan pandangan seseorang?" ujar Katya.

 

"Iya ka lagian juga siapa sih yang jatuh cinta aku hanya membenarkan saja bahwa menjaga hafalan itu memang sulit apalagi dia suka bermaksiat," sergah Aisyah menggiring opini bahwa dia tidak mengalaminya.

 

"Heemm ... berarti kamu tidak sedang jatuh cinta kan pada seseorang?" Katya melirik Aisyah tajam mencoba mencari kebenaran yang sedang adiknya sembunyikan.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!