Mimpiku Tergadai Kemiskinan Bapak
Kembali ke Lintasan
Lantai rumah sakit yang biasanya terasa dingin dan angkuh, hari itu seolah berpijar. Bunyi langkah sepatu pantofel yang tegas beradu dengan derit roda kursi roda, menciptakan simfoni harapan yang ganjil. Di atas kursi roda itu, Tegar duduk dengan punggung tegak, meski satu pipa celananya terlipat rapi dan dijepit peniti. Ia tidak menunduk. Ia menatap lurus ke depan, ke arah pintu keluar di mana ribuan pasang mata mungkin sedang menunggunya, atau mungkin, sebuah takdir baru yang lebih besar dari sekadar lintasan lari.
"Siap, Gar?" suara berat Coach Hendra memecah keheningan di koridor menuju lobi utama.
Tegar menoleh, tersenyum tipis. "Siap, Coach. Rasanya aneh, biasanya saya keluar dari stadion dengan medali, sekarang keluar dari rumah sakit dengan... satu kaki."
"Kamu keluar dengan sesuatu yang lebih berharga dari emas, Nak," sahut Bapak yang mendorong kursi rodanya dengan tangan gemetar karena haru. "Kamu keluar dengan nyawa adikmu."
Tulus, yang berjalan di sampingnya sambil memegang pinggiran kursi roda, mendongak. "Mas Tegar, nanti kalau kaki barunya datang, Mas jangan lari terlalu cepat ya? Tungguin Tulus."
Tegar terkekeh, mengacak rambut adiknya. "Kalau Mas pakai kaki bionik, mungkin Mas bakal secepat Iron Man, Lus. Kamu harus latihan napas yang rajin kalau mau ngejar Mas."
"Janji ya?"
"Janji."
Saat pintu otomatis lobi terbuka, kilatan lampu kamera menyambar seperti petir di siang bolong. Puluhan wartawan dan orang-orang asing yang membawa poster bertuliskan #LangkahTegar telah berkumpul. Ibu refleks menggenggam bahu Tegar, merasa cemas.
"Jangan takut, Bu," bisik Tegar menenangkan.
Seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi namun berwajah ramah melangkah maju. Di belakangnya, dua asisten membawa sebuah koper perak berlogo teknologi medis tingkat tinggi.
"Selamat siang, Tegar. Saya Bramantyo," pria itu mengulurkan tangan. "Saya yang menghubungi doktermu kemarin."
Tegar menyambut tangan itu dengan mantap. "Terima kasih, Pak. Saya tidak tahu harus bicara apa."
"Jangan bicara padaku. Bicaralah pada dunia nanti, lewat larimu," Pak Bramantyo tersenyum penuh arti. "Tim saya sudah menyiapkan laboratorium di Jakarta. Kaki ini bukan protesa biasa. Ini adalah integrasi saraf sensorik. Kamu akan merasakannya seperti kakimu sendiri."
"Apa benar saya bisa lari lagi, Pak? Maksud saya... benar-benar lari di lintasan?" tanya Tegar, ada nada keraguan yang terselip di balik ketegarannya.
"Tegar," Coach Hendra menyela, matanya berapi-api. "Teknologi hanya alat. Yang membuat orang berlari itu bukan kaki, tapi mental. Dan mentalmu sudah teruji di ruang ICU kemarin."
"Tapi Coach, peraturan kompetisi..."
"Persetan dengan peraturan lama," potong Coach Hendra cepat. "Kita akan masuk ke kategori para-atletik. Kamu akan menjadi ikon baru. Kamu bukan lagi sekadar pelari daerah, kamu adalah pahlawan nasional."
Tiba-tiba, seorang wartawan merangsek maju, menyodorkan mikrofon. "Tegar! Bagaimana perasaan Anda saat tahu kaki Anda diamputasi? Apa Anda sempat menyalahkan orang tua Anda?"
Suasana mendadak hening. Bapak dan Ibu menahan napas. Pertanyaan itu pedas, menghujam langsung ke luka yang baru saja mengering.
Tegar terdiam sejenak. Ia melihat ke arah kakinya yang hilang, lalu ke arah Tulus yang kini berdiri tegak tanpa alat bantu pernapasan.
"Menyalahkan?" Tegar mengulang kata itu dengan nada tenang. "Kenapa saya harus menyalahkan orang yang memberi saya hidup? Kaki saya hilang satu, tapi saya punya dua jantung yang berdetak sekarang. Satu di dada saya, satu di dada adik saya. Secara matematis, saya justru merasa lebih utuh sekarang."
Jawaban itu memicu tepuk tangan riuh. Ibu menyeka air mata dengan ujung jilbabnya.
"Mas Tegar hebat!" teriak Tulus bangga.
Satu minggu kemudian, di sebuah pusat rehabilitasi elit di Jakarta.
Tegar berdiri di antara dua palang sejajar (parallel bars). Di depannya, sebuah kaki logam berwarna hitam karbon mengkilap terpasang di pangkal pahanya. Rasanya dingin, berat, dan asing.
"Coba gerakkan jarinya, Tegar," instruksi seorang teknisi asal Jerman melalui penerjemah.
Tegar memejamkan mata. Ia membayangkan otot-ototnya yang sudah tidak ada. Ia mencoba mengirim perintah dari otaknya.
Gerak.
Tiba-tiba, jari-jari robotik di ujung kaki buatan itu berkedut halus.
"Luar biasa!" seru Pak Bramantyo yang memantau dari balik kaca. "Koneksi sinapsisnya sangat responsif. Dia memiliki kontrol motorik yang sangat kuat."
Tegar berkeringat dingin. "Rasanya... seperti kesemutan, Pak. Seperti ada aliran listrik yang menusuk-nusuk."
"Itu tandanya sarafmu sedang berkomunikasi dengan mesin. Teruskan," dorong Coach Hendra. "Sekarang, coba melangkah."
Tegar mencengkeram besi pegangan erat-erat. Ia memindahkan beban tubuhnya ke kaki kanan yang asli, lalu perlahan mengangkat pangkal paha kirinya. Kaki bionik itu terangkat dengan bunyi desis hidrolik yang halus.
Tak.
Langkah pertama. Kaki logam itu mendarat di lantai. Tegar limbung. Tubuhnya miring ke kiri.
"Hati-hati!" Ibu menjerit kecil dari sudut ruangan.
"Jangan dibantu!" perintah Coach Hendra tegas saat Bapak hendak maju. "Dia harus menemukan keseimbangannya sendiri. Tegar, jangan lawan mesinnya. Jadilah satu dengannya."
Tegar mengertakkan gigi. Peluh mengucur membasahi kaos latihannya. Ia mencoba lagi. Langkah kedua. Kali ini lebih stabil. Langkah ketiga. Ia mulai merasakan ritmenya.
"Mas Tegar, ayo! Kejar Tulus!" Tulus berlari-lari kecil di ujung ruangan, memancing kakaknya.
Tegar tersenyum. Semangatnya membuncah. Namun, saat ia mulai merasa percaya diri, rasa sakit yang hebat tiba-tiba menghantam pangkal pahanya. Gesekan antara kulit dan socket kaki palsu itu terasa seperti disayat sembilu.
Ia tersungkur. Bunyi dentang logam yang menghantam lantai bergema memilukan.
"Tegar!"
"Jangan mendekat!" teriak Tegar, napasnya memburu. Ia memukul lantai dengan tinjunya. "Sakit... ini jauh lebih sulit dari yang saya bayangkan."
"Tentu saja sulit," Coach Hendra berjalan mendekat, lalu berjongkok di depan Tegar. "Kalau ini mudah, semua orang akan jadi juara. Kamu tahu apa bedanya kamu dengan pelari lain sekarang?"
Tegar mendongak dengan mata kemerahan. "Apa?"
"Mereka berlari untuk menang. Kamu berlari untuk membuktikan bahwa takdir salah karena mencoba menjatuhkanmu."
Tegar terdiam. Ia menatap kaki bioniknya yang berkilat di bawah lampu ruangan. Ia teringat saat-saat ia berlari di pematang sawah tanpa sepatu, mengejar mimpi yang terasa begitu jauh. Sekarang, mimpi itu ada di depannya, terbuat dari besi dan kabel.
Dengan sisa tenaga, ia kembali mencengkeram palang besi. Otot lengannya menegang. Ia menarik tubuhnya naik. Berdiri lagi.
"Lagi," desis Tegar.
Hari-hari berikutnya adalah neraka latihan. Tegar tidak hanya belajar berjalan, ia belajar mengenal kembali tubuhnya. Ada saat-saat ia merasa putus asa ketika sensor kakinya malfungsi dan membuatnya jatuh memalukan di depan publik saat sesi latihan terbuka. Ada saat-saat ia menangis di tengah malam karena merindukan sensasi ujung jempol kakinya yang menyentuh tanah.
Hingga suatu sore, di lintasan atletik yang sesungguhnya.
Tegar berdiri di garis start. Ia mengenakan celana lari pendek yang dengan sengaja memperlihatkan kaki bioniknya. Tidak ada lagi yang perlu disembunyikan. Di sampingnya, beberapa atlet lari nasional sedang bersiap untuk sesi latihan bersama.
"Siap, Gar?" tanya salah satu atlet dengan nada hormat.