Mimpiku Tergadai Kemiskinan Bapak
Pembuktian
Hening seketika menyapu lintasan atletik itu. Angin sore yang tadinya terasa sejuk, mendadak berubah menjadi panas dan menyesakkan. Tegar berdiri mematung di tengah lintasan. Kaki bioniknya yang berwarna hitam karbon berkilap di bawah cahaya matahari yang mulai jingga, seolah sedang memamerkan kemajuan teknologi yang sia-sia di hadapan keserakahan manusia.
Kepala Desa—ayah Budi—tertawa hambar. Suara tawanya kering, seperti gesekan kertas amplas. Ia tidak tampak gentar sedikit pun dengan ancaman Coach Hendra.
"Ingatkan saja, Hendra. Silakan," ujar Kepala Desa sambil melangkah maju, mendekati garis pembatas lintasan. "Tapi siapa yang akan percaya? Kamu punya bukti? Rekaman CCTV? Sakit infeksi itu karena lukanya yang kotor, bukan karena anak saya. Jangan mencampuradukkan nasib sial atlet cacat dengan fitnah terhadap calon bintang masa depan."
Budi berdiri di belakang ayahnya, mengenakan jaket olahraga bermerek mahal. Ia menunduk, tidak berani menatap langsung ke arah Tegar, namun senyum sinis tetap tersungging di sudut bibirnya.
Tegar menarik napas panjang. Rasa panas menjalar dari dadanya hingga ke ujung kepala. Ia mulai melangkah—bukan lari—tapi berjalan pelan menuju pinggir lintasan. Dap-ting. Dap-ting. Bunyi mekanis dari kakinya terdengar seperti detak jam pencabut nyawa di tengah kesunyian itu.
"Satu kaki, Pak?" suara Tegar rendah, namun tajam.
Langkah Tegar berhenti tepat tiga meter di depan Kepala Desa. Ia berdiri tegak, lebih tegak dari saat ia masih memiliki dua kaki asli.
"Bapak bilang saya tidak kompeten karena hanya punya satu kaki?" Tegar bertanya lagi, matanya mengunci tatapan pria paruh baya itu.
"Itu fakta, Tegar. Olahraga ini tentang kesempurnaan fisik. Kamu itu sekarang... maaf ya, sudah jadi barang rusak yang dipaksa diperbaiki," jawab Kepala Desa dengan nada merendahkan yang sangat kental.
Coach Hendra sudah hampir melayangkan tinjunya jika saja Pak Bramantyo tidak menahan pundaknya. Pak Bramantyo, sang penyandang dana teknologi bionik itu, melangkah maju dengan tenang.
"Barang rusak, Anda bilang?" Pak Bramantyo bertanya sambil tersenyum tenang. "Kepala Desa yang terhormat, koper perak yang saya bawa waktu itu nilainya lebih besar daripada seluruh anggaran olahraga di desa Anda selama sepuluh tahun. Tapi bukan itu intinya."
Pak Bramantyo menatap Budi yang mulai gelisah. "Budi, kamu bilang kamu lebih kompeten? Bagaimana kalau kita buktikan sekarang? Di sini. Di depan ayahmu, di depan Coach Hendra, dan di depan semua saksi ini."
Suasana semakin tegang. Budi mendongak, wajahnya pucat. "Maksudnya... lomba?"
"Satu putaran. Empat ratus meter," tantang Tegar tiba-tiba. "Kalau Budi menang, saya akan mengundurkan diri dari seleksi provinsi dan menyerahkan tempat saya secara resmi. Saya juga tidak akan menuntut apa pun atas kejadian sabotase itu."
"Tegar, jangan gila!" Coach Hendra berbisik panik. "Kamu baru belajar jalan, Gar! Luka di pangkal pahamu bahkan belum kering benar!"
Tegar tidak bergeming. Ia menatap Budi. "Tapi kalau saya yang menang, Bapak harus mengakui semuanya di depan publik. Dan Budi... kamu harus berhenti lari. Karena seorang atlet tanpa sportivitas hanyalah pelari yang mengejar bayangan dosanya sendiri."
Kepala Desa menatap anaknya. Ia yakin, sekuat apa pun teknologi kaki palsu itu, tidak mungkin bisa mengalahkan kaki manusia asli yang sehat, apalagi Tegar baru saja pulih.
"Setuju! Ambil posisi!" teriak Kepala Desa sombong.
Ibu dan Bapak Tegar yang baru saja tiba di pinggir lintasan tampak sangat cemas. Ibu memeluk Tulus dengan erat, air matanya mulai mengalir. "Tegar, Nak... jangan dipaksakan," gumamnya lirih.
Tulus, dengan mata bulatnya yang penuh keyakinan, justru berteriak kencang, "Mas Tegar pasti menang! Kaki Mas Tegar kan kaki Iron Man!"
Tegar dan Budi masuk ke blok start. Budi tampak gemetar saat menaruh kakinya. Sedangkan Tegar, ia melakukan ritual yang sama seperti dulu. Ia mencium tanah lintasan, lalu menempelkan keningnya sejenak.
"Siap..." Coach Hendra mengangkat pistol start dengan tangan bergetar.
DOOR!
Keduanya melesat. Budi memimpin di sepuluh meter pertama. Langkahnya cepat dan bertenaga. Sementara itu, Tegar masih berusaha mencari keseimbangan antara dorongan kaki kanan dan daya pegas kaki bioniknya.
"Ayo, Bud! Lari! Tunjukkan pada si cacat itu!" teriak Kepala Desa dari pinggir.
Di tikungan pertama, Budi unggul lima meter. Namun, Tegar mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Ia tidak lagi mencoba melawan rasa sakit di pangkal pahanya. Ia membiarkan saraf sensoriknya menyatu dengan aliran listrik di kaki logamnya. Ia teringat kata-kata Coach Hendra: Jangan lawan mesinnya. Jadilah satu dengannya.
Masuk ke lintasan lurus kedua, jarak mulai menipis. Tegar menambah frekuensi langkahnya. Suara dap-ting itu kini berubah menjadi raungan ritmis yang cepat. Ia bukan lagi manusia yang memakai alat bantu. Ia adalah perpaduan kehendak baja dan teknologi.
Mata Tegar fokus ke depan. Bayangan saat ia terkapar di rumah sakit, saat dokter memvonis amputasi, dan saat ia melihat adiknya hampir kehilangan nyawa, berputar seperti film. Semua rasa sakit itu ia ubah menjadi bahan bakar.
"Sekarang, Gar! Sekarang!" raung Coach Hendra.
Pada meter ke-300, posisi mereka sejajar. Budi mulai kehabisan napas. Wajahnya memerah, matanya mulai menunjukkan ketakutan. Ia melirik ke samping dan melihat wajah Tegar yang sangat tenang—ketenangan seorang pemenang.
Budi mencoba melakukan trik kotornya lagi. Ia sengaja sedikit melenceng ke jalur Tegar, mencoba menyenggol kaki bionik itu agar Tegar tersandung.
Tapi Tegar sudah waspada. Dengan refleks yang luar biasa, ia sedikit melompat, menggunakan pegas hidroliknya untuk menambah akselerasi mendadak. Ia melesat melewati Budi seperti peluru.
Garis finis tinggal sepuluh meter.
Tegar melintasinya dengan dada membusung. Ia menang telak. Budi terjatuh beberapa meter setelah garis finis, terengah-engah dan muntah karena kelelahan dan tekanan mental.
Keheningan kembali merayap. Kepala Desa berdiri mematung, wajahnya yang tadinya merah padam kini pucat pasi seputih kapas.
Tegar berbalik. Ia berjalan pelan menuju Budi yang masih tersungkur. Ia mengulurkan tangannya—tangan yang sama yang pernah dicurangi oleh Budi.
"Bangun, Bud," kata Tegar datar.
Budi menatap tangan itu, lalu menatap ayahnya, dan terakhir menatap kerumunan wartawan yang entah sejak kapan sudah berkumpul karena dihubungi oleh tim Pak Bramantyo.
"Saya... saya yang melakukannya," tangis Budi pecah. Ia tidak kuat lagi menanggung beban rahasia itu. "Maafkan aku, Gar. Aku yang menaruh paku di sepatumu. Aku yang mendorongmu saat latihan hingga kakimu terluka parah. Ayah yang menyuruhku agar aku bisa ikut seleksi..."
Kamera-kamera wartawan langsung menyorot ke arah Kepala Desa. Pria itu mencoba menutupi wajahnya dan hendak melarikan diri, namun beberapa petugas keamanan sudah menghalanginya.
Pak Bramantyo berjalan mendekati Tegar, merangkul pundak sang atlet. "Kamu dengar itu, Tegar? Dunia sudah mendengar kebenarannya."
Tegar tidak merasa jumawa. Ia justru menatap ke langit yang kini sudah gelap, digantikan oleh kerlip lampu stadion yang mulai menyala satu per satu.
"Coach," panggil Tegar pada Hendra yang matanya berkaca-kaca.
"Ya, Gar?"
"Kaki ini... ternyata benar-benar bisa merasakan tanah," bisik Tegar dengan senyum tulus. "Tapi bukan lewat sensor saraf ini. Tapi lewat hati yang sudah memaafkan."
Ibu, Bapak, dan Tulus berlari masuk ke lintasan. Tulus memeluk kaki bionik kakaknya seolah itu adalah benda paling ajaib di dunia.
"Mas Tegar, tadi keren banget! Beneran kayak Iron Man!"
Tegar tertawa, kali ini tawa yang lepas tanpa beban. Di bawah lampu stadion, sosok Tegar tidak lagi terlihat seperti seorang difabel yang patut dikasihani. Ia berdiri di sana sebagai simbol bahwa cahaya tidak akan pernah bisa dipadamkan oleh jeruji besi, sabotase, ataupun kekurangan fisik.
Malam itu, di bawah langit Jakarta, sebuah legenda baru lahir. Bukan pelari dengan dua kaki tercepat, melainkan pelari dengan satu kaki yang memiliki tekad yang tak terbatas.
"Besok kita latihan lagi, Gar?" tanya Coach Hendra sambil menyerahkan botol minum.
Tegar menoleh ke arah lintasan yang membentang luas, tempat di mana masa depannya kini kembali bersinar.
"Besok kita lari sampai ke ujung dunia, Coach."