Mimpiku Tergadai Kemiskinan Bapak

Tukar Identitas

"Kau gemetar, Lus. Berhenti melakukannya atau Salim akan mencium bau ketakutanmu dari jarak satu kilometer."

Tegar Satria duduk di bangku kayu ruang ganti Stadion Utama Gelora Bung Karno. Ia terus memijat pangkal pahanya yang terbungkus perban tebal di balik celana training, namun matanya tak lepas dari sosok kembarannya. Tulus, yang mengenakan jersey merah putih dengan nama T. SATRIA di punggung, sedang mencoba mengikat tali sepatu. Tangannya memang bergetar hebat.

"Mas, ini bukan bengkel Pak Bram," bisik Tulus, suaranya nyaris hilang ditelan gemuruh penonton di luar sana. "Suara orang-orang itu... mereka meneriakkan namamu. Mereka tidak tahu yang akan lari ini adalah aku."

"Mereka tidak perlu tahu sekarang," potong Tegar cepat. "Ingat, kau adalah bayanganku. Kau adalah aku yang diberikan kesempatan kedua oleh Tuhan."

Pintu ruang ganti terbuka kasar. Coach Hendra masuk dengan wajah tegang, disusul Laras yang membawa botol air mineral.

"Petugas Federasi sedang menuju ke sini untuk pemeriksaan identitas terakhir," lapor Coach Hendra dengan nada rendah. "Tegar, kau yakin dengan kegilaan ini? Jika mereka memeriksa sidik jari atau retina..."

"Mereka tidak akan melakukannya untuk atlet yang sudah terdaftar," sela Tegar tenang. "Mereka hanya akan mencocokkan wajah dan nomor ID. Wajah kami identik. Gunakan masker medis sampai kau berada di blok start, Tulus. Katakan kau sedang menjaga kondisi paru-parumu dari polusi Jakarta."

Laras mendekat, membelai bahu Tulus. "Tulus, lihat aku. Kau bukan hanya lari untuk Tegar. Kau lari untuk jantung yang sekarang berdetak di dadamu. Jantung itu ingin melihat dunia, kan?"

Tulus menarik napas panjang, mencoba menstabilkan degup jantungnya. "Aku hanya takut mengecewakan Mas Tegar, Mbak Laras. Bagaimana kalau aku tidak secepat dia?"

"Kau tidak perlu secepat aku yang dulu," Tegar bangkit berdiri, tertatih menggunakan tongkatnya. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Tulus. "Kau harus lebih cepat. Karena kau tidak punya beban mesin di kakimu. Kau murni."

Tiba-tiba, sebuah ketukan keras terdengar di pintu. Bukan petugas Federasi, melainkan sosok tinggi dengan jaket hitam metalik yang sangat dikenal. Salim Wijaya. Di belakangnya berdiri dua orang bodyguard bertubuh besar.

"Wah, wah. Drama apa yang sedang dipentaskan di sini?" Salim menyeringai, matanya menyapu seisi ruangan dengan tatapan meremehkan.

"Keluar dari sini, Salim. Ini ruang privasi atlet," bentak Coach Hendra.

Salim tertawa, melangkah masuk tanpa peduli. Ia berhenti tepat di depan Tegar. "Aku dengar kau ajaib, Tegar. Dua minggu lalu kau dikabarkan lumpuh, sekarang kau sudah di sini, siap lari di final? Teknologi apa yang kau pakai? Atau kau hanya ingin mencari simpati sebelum kalah?"

Tegar tersenyum tipis, sangat tenang. "Kau akan melihatnya sendiri di lintasan, Salim. Teknologi terbaik bukan dibuat di laboratorium Jerman, tapi di sini," Tegar menunjuk dadanya sendiri.

Salim kemudian beralih menatap Tulus yang masih memakai masker dan menunduk. "Dan siapa ini? Asisten baru? Kenapa dia gemetar seperti kucing kehujanan?"

Tulus tidak menjawab. Ia mencengkeram jemarinya sendiri.

"Dia hanya sepupuku yang membantuku bersiap," sahut Tegar dingin. "Jangan buang energimu di sini, Salim. Simpan untuk seratus meter nanti. Aku tidak ingin kau punya alasan saat 'si rongsok' ini melampauimu."

"Hahaha! Sombong sekali!" Salim menepuk bahu Tegar dengan keras—sengaja mengenai titik tumpu kaki Tegar yang sakit.

Tegar meringis, namun ia menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Matanya tetap tajam.

"Sampai jumpa di garis finis, Tegar. Atau mungkin, sampai jumpa di ambulans," ejek Salim sebelum berbalik pergi dengan tawa yang menggema.

Setelah pintu tertutup, Tulus mendongak. Matanya yang tadi ketakutan kini mulai menajam. "Dia menyentuhmu dengan kasar, Mas."

"Lupakan itu," desis Tegar. "Gunakan kemarahanmu. Sekarang, pakai jaketmu. Coach, bawa dia ke area pemanasan. Jangan biarkan siapapun bicara padanya."

Di area pemanasan, atmosfer terasa mencekam. Kamera wartawan terus menyorot sosok yang mereka kira adalah Tegar Satria. Tulus melakukan gerakan drilling dengan sempurna—hasil didikan keras Tegar selama tiga minggu di bengkel.

"Coach, dia terlihat sangat mirip dengan Tegar saat lari," bisik Laras yang memantau dari kejauhan.

"DNA mereka sama, Laras. Memori otot Tulus mungkin baru, tapi instingnya adalah insting Satria," balas Coach Hendra. "Tapi lihat Salim. Dia terus menatap ke arah kita."

Salim Wijaya sedang melakukan pemanasan eksplosif. Kaki bioniknya, Titanium-X, mengeluarkan bunyi klik mekanis yang halus setiap kali ia melompat. Ia tampak seperti predator yang siap menerkam.

"Lima menit menuju panggilan start!" teriak petugas lomba.

Tulus mendekat ke arah Coach Hendra. "Coach, aku merasa seperti akan pingsan."

"Dengar, Tulus," Hendra memegang kedua pipi pemuda itu. "Jangan lihat penonton. Jangan lihat kamera. Bayangkan kau sedang berada di jalan setapak desa, mengejar Tegar yang selalu berada di depanmu. Hari ini, Tegar tidak di depanmu. Dia ada di dalam jiwamu."

Tulus mengangguk pelan. Ia berjalan menuju lintasan empat. Salim berada di lintasan lima, tepat di sebelahnya.

Saat Tulus melepas jaket dan maskernya, stadion bergemuruh. Nama "TEGAR! TEGAR! TEGAR!" bergema, menggetarkan struktur bangunan.

Salim menoleh, mengerutkan kening. "Ada yang beda dengannya hari ini," gumam Salim pada pelatihnya di pinggir lapangan. "Auranya... tidak terasa seperti orang yang habis cedera."

Tulus berlutut di blok start. Ia menyentuh permukaan lintasan yang kasar. Di kejauhan, di tribun khusus, ia bisa melihat Tegar duduk dengan tongkatnya, memberikan isyarat jempol.

"Para atlet, bersedia!"

Tulus menaruh kakinya di blok. Ia bisa merasakan jantung barunya berdetak dengan ritme yang sangat stabil. Dug-dug. Dug-dug. Tidak ada lagi sesak. Tidak ada lagi rasa perih.

"Siap!"

Pinggul Tulus terangkat. Matanya lurus ke depan. Di lintasan sebelah, ia mendengar bunyi motor elektrik kecil dari kaki Salim yang sedang bersiap melakukan daya ledak.

DOOR!

Suara tembakan start meledak.

Tulus meluncur seperti anak panah. Reaksinya luar biasa—0,12 detik. Hampir menyamai rekor dunia.

"Gila! Start yang luar biasa dari Tegar Satria!" teriak komentator melalui pengeras suara.

Di tiga puluh meter pertama, Salim memimpin dengan keunggulan teknologi bioniknya. Langkahnya panjang dan berdentum keras. Namun, di meter kelima puluh, sesuatu yang aneh terjadi.

Tulus tidak melambat. Justru sebaliknya.

"Sekarang, Tulus! Tarik napas rahasiamu!" teriak Tegar dari tribun, meski suaranya tenggelam dalam riuh penonton.

Tulus mengingat pelajaran Tegar: Saat kau mencapai titik jenuh, jangan tekan kakimu, tapi lepaskan beban di pikiranmu.

Tulus mulai menutup jarak. Di meter kedelapan puluh, ia sejajar dengan Salim.

Salim melirik ke samping, matanya membelalak tak percaya. "Bagaimana mungkin?! Dia harusnya kesakitan!" Salim mencoba menambah kecepatan, memaksa mesin di kakinya bekerja di atas limit.

Kriet!

Sebuah bunyi gesekan logam terdengar dari kaki Salim. Keseimbangannya goyah sedikit.

Tulus melihat celah itu. Ia tidak lagi lari dengan teknik; ia lari dengan seluruh kerinduan tahun-tahunnya saat ia hanya bisa duduk di kursi roda. Ia lari untuk masa kecilnya yang hilang.

"Ini untukmu, Mas!" teriak Tulus dalam hati.

Tulus melesat melewati garis finis dengan selisih dada yang sangat tipis dari Salim.

Stadion seketika hening selama satu detik, sebelum akhirnya meledak dalam kegilaan.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!