Mimpiku Tergadai Kemiskinan Bapak

Lari Estafet

Pagi itu, suasana di kediaman Tegar dan Tulus tidak seperti biasanya. Jika biasanya halaman luas yang sudah beralaskan rumput rapi itu sepi karena Tulus berlatih di lintasan tartan desa, kali ini tempat itu berubah menjadi arena keriuhan. Suara tawa anak-anak usia sekolah dasar pecah, bersahutan dengan bunyi gesekan ban kursi roda Tegar yang bergerak lincah di antara kerumunan kecil itu.

"Ingat, tekniknya bukan cuma soal seberapa cepat kakimu bergerak, tapi bagaimana matamu menatap garis finis!" seru Tegar dengan nada semangat yang menular. Ia tidak membawa peluit perak yang biasa ia kalungkan saat melatih atlet profesional. Di tangannya kini hanya ada sepotong kayu kecil yang dicat warna-warni sebagai tongkat estafet darurat.

Tulus berdiri di tengah-tengah kerumunan anak-anak itu. Ia mengenakan celana pendek dan kaos santai, tampak jauh dari kesan "Manusia Tercepat Asia" yang sering muncul di televisi. Ia sedang sibuk membetulkan tali sepatu salah satu anak bernama Bayu, yang tampak sangat gugup.

"Jangan tegang, Bayu. Anggap saja kamu sedang mengejar layangan putus di sawah. Oke?" Tulus mengedipkan mata, membuat bocah itu tersenyum lebar.

"Siap, Kak Tulus!" seru Bayu lantang.

Skenarionya sederhana: lomba lari estafet melintasi halaman belakang, memutar di pohon mangga besar, dan kembali ke garis awal. Ada sekitar dua belas anak tetangga yang bergabung, dibagi menjadi empat tim. Tulus dan Revan—yang entah bagaimana sudah muncul pagi-pagi sekali dengan kaos olahraga—didapuk menjadi kapten tim yang "lemah", sementara Tegar bertindak sebagai juri sekaligus komentator.

"Oke, Tim Harimau dipimpin Kapten Tulus! Tim Rajawali dipimpin Kapten Revan! Posisi siap!" Tegar mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

Para tetangga mulai berdatangan. Awalnya mereka hanya berniat mengantar anak-anaknya, namun melihat keseruan di halaman itu, mereka urung pulang. Pak RT, Bu RT, hingga penjual sayur yang kebetulan lewat, ikut menepi dan bersandar di pagar kayu rumah.

"Wah, jarang-jarang ya kita lihat juara Olimpiade lari-larian sama bocah-bocah ingusan," celetuk Pak RT sambil terkekeh, tangannya sibuk memegang gelas kopi yang diberikan Ibu dari dalam rumah.

"Iya, Pak. Semoga ketularan cepatnya. Anak saya si Doni itu kalau disuruh mandi gerakannya lambat sekali, tapi kalau lihat Kak Tulus begini, semangatnya bukan main," timpal seorang ibu tetangga sambil bertepuk tangan.

"Satu... Dua... TIGA!"

Tegar menjatuhkan tangannya. Anak-anak itu melesat. Tulus tidak benar-benar lari sekuat tenaga; ia justru lebih banyak memberikan instruksi sambil berlari kecil di samping anggota timnya.

"Ayo, Rina! Ayunkan tanganmu! Jangan lihat ke bawah!" teriak Tulus menyemangat.

Di sisi lain, Revan tampak sangat kompetitif. Ia berlari zigzag menghindari pot bunga Ibu, membuat anak-anak di timnya tertawa geli melihat "Om Kota" itu hampir terpeleset rumput yang masih sedikit lembap.

"Ayo, tim kita harus menang! Hadiahnya es krim dari Kak Revan!" seru Revan memprovokasi semangat anak-anak.

Suasana semakin memanas ketika rombongan tetangga mulai memberikan dukungan. Mereka tidak lagi sekadar menonton; mereka bersorak-sorai layaknya berada di tribun stadion utama.

"Ayo Doni! Kejar Kak Tulus!"

"Rina, jangan mau kalah sama laki-laki!"

Ibu keluar dari dapur membawa nampan berisi gelas-gelas sirup dingin. Wajahnya berseri-seri. Melihat halaman rumahnya dipenuhi tawa dan harapan warga desa adalah kebahagiaan yang jauh lebih bermakna daripada tumpukan piala di ruang tamu.

"Bapak, lihat itu," bisik Ibu pada Bapak yang berdiri di pojok teras. "Anak-anak itu... mereka memandang Tulus dan Tegar bukan sebagai orang hebat yang jauh, tapi sebagai kakak yang bisa mereka contoh."

Bapak mengangguk pelan. "Itu inti dari perjuangan mereka, Bu. Memberikan jalan bagi mereka yang dulu tidak punya jalan."

Lomba berakhir dengan Tim Harimau milik Tulus menang tipis karena Bayu berhasil melakukan "dive" lucu di garis finis, persis seperti atlet profesional yang ia lihat di YouTube. Anak-anak itu jatuh bergelimpangan di rumput, napas mereka tersengal namun wajah mereka penuh kemenangan.

Tegar mendekati mereka dengan kursi rodanya, membagikan medali dari kertas karton berlapis kertas emas yang sudah ia siapkan semalam bersama Tulus.

"Ini untuk kalian semua. Ingat, hari ini kalian lari di halaman ini, tapi suatu saat nanti, mungkin salah satu dari kalian akan lari di stadion besar membawa nama Indonesia," ujar Tegar dengan suara yang dalam namun lembut.

Seorang bapak tetangga mendekati Tegar, menjabat tangannya dengan erat. "Mas Tegar, terima kasih ya. Anak saya sejak pulang sekolah kemarin cuma bicara soal mau jadi pelari seperti Mas Tulus. Dulu kami pikir lari itu cuma hobi buang-buang waktu, tapi melihat kalian... kami jadi sadar kalau bakat anak itu harus didukung."

"Benar, Mas," sambung ibu-ibu lainnya. "Kami titip anak-anak kami ya. Kalau ada waktu luang, tolong diajari sedikit-sedikit. Siapa tahu ada 'Tulus' baru dari desa kita ini."

Tegar tersenyum haru. "Tentu, Bu. Pintu rumah kami selalu terbuka untuk mereka yang mau belajar."

Sore pun menjelang, namun anak-anak itu seolah enggan pulang. Mereka duduk melingkar di bawah pohon mangga, mendengarkan Tulus bercerita tentang pengalamannya saat pertama kali ikut perlombaan internasional.

"Kak Tulus, waktu itu kakinya tidak sakit?" tanya seorang anak dengan mata bulat penasaran.

"Sakit sekali," jawab Tulus jujur sambil duduk bersila di atas rumput. "Tapi setiap kali rasa sakit itu datang, Kakak ingat pesan Kak Tegar. Lari itu bukan cuma soal kaki, tapi soal hati yang tidak mau menyerah. Kalau hati kalian kuat, kaki kalian akan mengikuti."

Tegar memandang adiknya dari kejauhan. Ia teringat sepuluh tahun lalu, saat mereka hanya dua anak yatim yang dipandang sebelah mata di desa ini. Sekarang, mereka adalah pusat dari harapan baru.

Tiba-tiba, Revan datang membawa beberapa kotak besar berisi burger dan kentang goreng yang ia pesan dari kota melalui kurir. "Ayo! Pesta kemenangan untuk semua atlet masa depan!"

Sorakan kegembiraan kembali pecah. Halaman rumah itu kini berubah menjadi tempat piknik dadakan. Tetangga-tetangga mulai membawakan makanan tambahan dari rumah mereka masing-masing—ubi rebus, jagung bakar, hingga kacang godog—sebagai bentuk terima kasih dan dukungan untuk "kerajaan kecil" yang sedang dibangun Tegar dan Tulus.

Malam mulai turun dengan lembut. Satu per satu tetangga pamit pulang, membawa anak-anak mereka yang tampak lelah namun bahagia. Janji-janji untuk berlatih lagi minggu depan terlontar dari mulut mungil anak-anak itu.

Saat halaman kembali sepi, Tulus, Tegar, dan Revan duduk di teras, memandang bintang-bintang yang mulai bermunculan.

"Tugas kita ternyata bukan cuma melatih kecepatan, Lus," gumam Tegar sambil menatap medali kertas yang tersisa di tangannya.

"Iya, Kak. Tugas kita adalah memastikan mimpi mereka tidak putus di tengah jalan," sahut Tulus pelan.

Ibu keluar membawa sapu untuk merapikan sisa-sisa pesta, namun Bapak menahannya. "Sudah, Bu. Biarkan saja dulu. Sisa-sisa tawa mereka biar jadi hiasan halaman malam ini."

Mereka semua terdiam, menikmati kehangatan yang merayap di hati mereka masing-masing. Di desa kecil ini, di atas aspal yang kini berganti tartan dan halaman yang penuh tawa, sebuah estafet mimpi baru saja dimulai. Bukan estafet untuk mengejar medali, melainkan estafet untuk mengejar masa depan yang lebih cerah bagi generasi berikutnya.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!