Mimpiku Tergadai Kemiskinan Bapak

Di Ambang Kematian

Suara sirine ambulans meraung-raung, membelah keheningan malam Kabupaten yang mencekam. Di dalamnya, tubuh Tegar terombang-ambing oleh kecepatan mobil yang memburu waktu. Namun, drama sesungguhnya tidak hanya terjadi di dalam mobil itu. Di belakangnya, sebuah ambulans kedua menyusul dengan kecepatan yang sama gila.

Tulus tumbang. Sang adik, yang selama ini menjadi kompas semangat Tegar, akhirnya menyerah pada beban emosional yang menghantam jantung ringkihnya.

"Detak jantung pasien Tegar tidak stabil! Tekanan darah turun drastis, 80 per 50!" teriak perawat di ambulans depan.

Sementara di ambulans belakang, Bapak memangku kepala Tulus yang terkulai lemah. Bibir bocah itu sudah membiru sempurna, hampir kehitaman. "Tulus, bertahan, Nak! Jangan tinggalkan Bapak. Kakakmu sedang berjuang, kamu juga harus berjuang!"

Ibu, yang baru saja tiba dari desa dengan pakaian lusuh dan bau tanah, hanya bisa meraung. Ia duduk di antara dua brankar saat mereka tiba di selasar RS Provinsi yang megah. Pemandangan itu begitu menyayat hati: dua saudara kembar, satu dengan kaki terbalut perban penuh darah dan nanah, satunya lagi dengan dada yang kempis-kempis berjuang menghirup oksigen.

Gema di Media Sosial: #SatuJantungUntukKembar

Di luar rumah sakit, dunia sedang tidak baik-baik saja. Rekaman percakapan Tegar di ICU tadi sore telah meledak di internet. Jutaan orang menyaksikan bagaimana seorang atlet yang kehilangan kakinya justru menolak kesembuhan demi detak jantung adiknya.

Ting! Ting! Ting!

Ponsel Bapak yang sudah retak layarnya tidak berhenti bergetar. Notifikasi SMS banking masuk bertubi-tubi.

Rp5.000.000 dari Hamba Allah.

Rp10.000.000 dari Komunitas Pelari Indonesia.

Rp50.000.000 dari Yayasan Kemanusiaan.

Dalam waktu kurang dari dua jam, saldo di rekening buruh tani itu melonjak ke angka yang tak pernah ia bayangkan seumur hidup: 1,2 Miliar Rupiah. Tapi bagi Bapak, angka-angka nol itu terasa seperti tumpukan kertas sampah jika dibandingkan dengan nyawa yang sedang dipertaruhkan di balik pintu kaca bertuliskan "RESUSITASI".

"Pak, ini uangnya... uangnya sudah cukup untuk operasi mereka berdua," tangis Ibu pecah di pundak Bapak. "Tapi kenapa mereka malah tidur begini? Ambil semua uang ini, Tuhan! Tapi kembalikan anak-anakku!"

Di dalam ruang sterilisasi, tim dokter bedah jantung dan dokter spesialis ortopedi berkumpul. Ini adalah kasus langka yang menjadi sorotan nasional.

"Kondisi Tegar mengalami Septic Shock. Infeksi dari lukanya sudah mencapai katup jantungnya yang sebenarnya juga memiliki kelainan bawaan yang sama dengan adiknya, meski tidak separah Tulus," jelas Dokter Spesialis Jantung senior. "Jika kita mengoperasi Tulus sekarang, kita butuh stabilitas dari Tegar sebagai donor darah atau setidaknya sebagai penguat psikologis. Tapi masalahnya... Tegar sendiri sedang di ambang maut."

Tiba-tiba, monitor di ruang sebelah—tempat Tulus dirawat—berbunyi panjang.

Tiiiiiiiiiiiiit....

Garis di monitor itu menjadi datar.

"Fibrilasi ventrikel! Siapkan defibrillator! Charge ke 200 joule!" perintah dokter.

DUG! Tubuh kecil Tulus melenting di atas kasur.

DUG! Sekali lagi. Tetap datar.

Di saat yang bersamaan, di ruangan isolasi Tegar yang hanya dibatasi kaca, mata Tegar yang terpejam mengeluarkan air mata. Meski dalam keadaan koma induksi, saraf batinnya seolah merasakan nyawa Tulus yang sedang melayang di langit-langit ruangan.

"Tegar... jangan menyerah..." bisik Coach Hendra dari balik kaca. Ia tak peduli lagi pada karier atau medali. Ia hanya ingin melihat anak asuhnya itu kembali membuka mata.

Rahasia Sang Ibu

Ibu jatuh terduduk di depan pintu ruang operasi. Di tengah isak tangisnya, ia membongkar rahasia yang selama ini ia simpan rapat dari Bapak.

"Ini salahku, Pak... ini salahku," ratap Ibu. "Dulu saat mereka di kandungan, dokter bilang salah satu harus dikorbankan agar yang lain kuat. Tapi aku egois. Aku ingin keduanya lahir. Aku membagi nutrisi yang hanya cukup untuk satu orang menjadi dua. Tegar mengambil kekuatan fisiknya, dan Tulus... Tulus mengambil semua sisa rasa sakitnya."

Bapak tertegun. Ia memeluk istrinya erat. "Tidak ada yang salah, Bu. Mereka lahir untuk saling menjaga. Lihatlah Tegar, dia memberikan kakinya untuk tanah ini, dan sekarang dia memberikan hidupnya untuk adiknya."

***

Kepala Dinas yang tadi sore mencari panggung kembali datang, namun kali ini ia tidak membawa kamera. Ia datang dengan wajah pucat karena jabatannya diujung tanduk akibat kasus korupsi dana desa yang menyeret koleganya.

"Pak, saya... saya ingin memastikan semua biaya—"

"Pergi!" suara Bapak rendah namun penuh ancaman. "Uang kalian tidak ada harganya di sini. Rakyat sudah membiayai anak saya. Pergi sebelum tangan saya yang kotor ini menyentuh seragam mahalmu!"

Kepala Dinas itu mundur teratur, sementara para wartawan di ujung lorong terus mengambil gambar. Kejadian ini bukan lagi sekadar berita olahraga, ini adalah tragedi kemanusiaan yang menguras air mata seluruh negeri.

Tepat pukul 02.00 pagi, seorang perawat keluar dengan tergesa-gesa. "Keluarga Tegar dan Tulus! Kami butuh keputusan cepat!"

Bapak dan Ibu berdiri dengan kaki gemetar.

"Tegar mengalami gagal napas, sementara Tulus membutuhkan transplantasi katup segera atau ia tidak akan selamat dalam satu jam ke depan. Ada stok katup sintetis dari Surabaya yang baru tiba dengan helikopter bantuan Polri. Namun, kondisi Tegar saat ini terlalu lemah untuk menjalani pembersihan infeksi kaki jika kita juga harus fokus pada Tulus."

Dokter menatap Bapak dengan tatapan sangat serius. "Jika kami menyelamatkan kaki Tegar, kami mungkin kehilangan momentum untuk jantung Tulus. Jika kami fokus pada Tulus, kemungkinan besar kaki Tegar harus segera dipotong habis sampai pangkal paha malam ini juga untuk menghentikan racun di darahnya. Mana yang Bapak pilih?"

Suasana mendadak senyap. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar seperti vonis mati.

Bapak menatap Ibu. Ibu mengangguk pelan sambil memegang dadanya.

"Lakukan apa yang diinginkan Tegar, Dok," ujar Bapak dengan suara bergetar namun mantap. "Potong kaki anak saya. Selamatkan adiknya. Tegar sudah bilang... dia tidak butuh kaki untuk mencangkul. Dia hanya butuh adiknya untuk tetap bernapas."

Malam itu, dua meja operasi diletakkan berdampingan. Lampu operasi yang terang benderang menjadi saksi bisu sebuah pengorbanan luar biasa. Di satu meja, gergaji medis bekerja memisahkan bagian tubuh Tegar yang telah membusuk demi menyelamatkan nyawanya dari sepsis. Di meja sebelah, dada Tulus dibelah untuk mengganti katup jantungnya yang rusak.

Tangan kedua saudara kembar itu sempat saling bersentuhan sesaat sebelum dibius total. Sebuah ikatan batin yang tak terbaca oleh sains, namun dirasakan oleh semua orang di ruangan itu.

Di luar, ratusan orang berkumpul di halaman rumah sakit. Mereka menyalakan lilin. Para pelari dari berbagai kota datang, melakukan silent run (lari dalam diam) mengelilingi gedung rumah sakit sebagai bentuk penghormatan bagi Nomor 072.

Satu jam... dua jam...

Tiba-tiba, monitor detak jantung Tegar bergejolak hebat.

"Dokter! Terjadi pendarahan hebat pada arteri femoralis Tegar!"

"Tekan lukanya! Tambah stok darah! Kita harus selamatkan dia!"

Di saat yang sama, jantung baru Tulus mulai berdetak. Deg-deg... deg-deg...

Namun, di layar monitor Tegar, angka-angka itu perlahan menurun. Mata Tegar yang terpejam rapat tampak bergerak-gerak, seolah ia sedang berlari di sebuah padang jati yang sangat luas, menuju garis finish yang putih bersih, di mana tidak ada lagi rasa sakit, tidak ada lagi tongkat kayu, dan tidak ada lagi kemiskinan.

"Jangan menyerah, Tegar! Gar! Kembali!" teriak Coach Hendra dari balik kaca, suaranya habis, air matanya jatuh membasahi masker medisnya.

Apakah ini akhir dari sang pahlawan? Apakah dunia harus kehilangan sang legenda hanya agar jantung yang lain bisa berdetak?

Di koridor, Ibu jatuh pingsan saat melihat lampu operasi Tegar berubah warna menjadi kuning redup. Kabar duka atau mukjizatkah yang akan keluar dari pintu itu?

 

__________________________

Dukung cerita ini dengan klik tombol 'Vote' dan 'Komentar' untuk bab selanjutnya!

Bagaimana menurut kalian? Apakah Tegar harus bertahan atau pengorbanannya berakhir di sini?

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!