Mirna dan Kopi Motivasi
Pemuda Lucu dan Kesepakatan
Perjanjian untuk bertemu wanita itu tiba, entah kenapa Daru merasakan dia begitu terpesona dengan wanita itu. Jika teringat wanita itu, Daru merasa bahwa dia ingin bersama wanita itu. Apakah ini perasaan cinta? Sudah sangat lama sekali bagi Daru melupakan semua rasa pada wanita.
Karena, dia ingin sukses lebih dulu dan membahagiakan orangtuanya. Namun, perasaan suka itu muncul tanpa bisa dibendung.
”Jadi, bisnis seperti apa yang ingin anda tawarkan?” tanya wanita itu, dia adalah Mirna. Mereka sudah berkenalan tadi. Dan, karena cukup lama Daru terdiam, Mirna akhirnya membuka obrolan. Mirna juga tidak mau berlama-lama untuk berunding masalah bisnis yang akan ditawarkan Daru.
Slurp!
Daru meminum kopi yang dihidangkan di cafe tersebut. Sejenak, Daru melihat kedua mata Mirna lalu menunduk kembali. Benar-benar mata yang indah, lentik, apakah seperti itu mata seorang bidadari?
”Ehm..., saya bisa memasarkan kopi anda. Kopi anda memiliki racikan yang baik, bahkan kopi ini bisa dikembangkan.”
Mirna memang sudah menceritakan bahwa dia meracik sendiri kopi itu. Dia memang menyukai kopi, meskipun tidak meminum sering. Namun, dia mampu merasakan enaknya kopi dari bau racikan. Entah kenapa, Mirna setiap kali meminum kopi di manapun sejak kecil. Dia bisa menebak rasa kopi dari baunya saja.
”Maksud anda?” Mirna mengerutkan kulit di keningnya, dia penasaran.
”Jadikan saya reseller anda.”
”Reseller?”
”Benar, reseller khusus anda. Saya akan pasarkan dengan baik dan saya yakin strategi saya akan membuat kopi anda menjadi besar.”
Mirna berpikir sejenak, dia melihat lelaki itu. Daru namanya, dia begitu optimis bahkan dia terlihat berapi-api.
”Sejak kapan anda meminum kopi saya untuk berlangganan?” tanya Mirna.
”Ehm...,” Daru mengernyitkan kedua matanya, ”Baru dua hari yang lalu ...,” Daru tak bisa meyakinkan wanita di depannya itu.
”Apa yang membuatmu yakin?”
”Aku ...,”
***
Mirna mencoba mempercayai Daru. Entah kenapa, Mirna juga merasa bahwa lelaki itu bisa menyakinkan. Penjelasannya tentang dia baru saja meminum kopi dari resep yang dibuat Mirna. Daru meminum dan teringat keluarganya di kampung. Dia mengingat semua memori hidupnya di masa lalu, dan membuat energi syahdu untuk membuat semangat bagi orang lain untuk menjalani hidupnya.
Motivasi yang bagus. Mirna teringat percakapan sebelumnya.
”Apa nama yang bisa kita buat untuk kopi yang akan diperluas pasarnya?” tanya Daru
”Kopi Motivasi.”
Ehm.... Daru berpikir dengan nama Motivasi yang diusulkan Mirna.
”Aku masih kurang setuju. Untuk aku, memang kopi itu memberiku motivasi, bahkan aku langsung menemukan ide begitu aku meminumnya. Motivasi itu hanya cocok untukku, jadi untuk dijual ada penambahan yang saya usulkan.”
”Apa itu?” tanya Mirna.
”Gugah Motivasi!” Daru mengangkat kedua alisnya dan tersenyum pada Mirna, ”Nama yang keren kan?”
Ha.. ha.. ha..
Mirna tersenyum kecil, dan kedua mata mereka saling menatap tanpa sengaja. Mereka pun mengalihkan pandangan ke sisi yang lain.
”Sepertinya terlalu ribet!” kata Mirna selanjutnya.
”Lalu apa?” tanya Daru.
”Cukup satu kata, Gugah!”
”Baiklah, deal!”
Mereka pun sepakat. Dan, Daru pamit untuk mempersiapkan apa yang harus dilakukannya besok. Rencananya sudah dibuka dengan matang di hadapan Mirna. Mirna pun setuju. Sekarang, Mirna hanya perlu bertugas untuk meracik kopi khas yang dia buat.
Seperginya Daru, Mirna menatap kepergian Daru dan berpikir. Pemuda yang lucu!