NAMAKU NURBAYA BUKAN MILIK SIAPA-SIAPA

Awal Pertemuan

Pagi di Jakarta belum terlalu panas, tapi udara sudah berat. Penuh dengan debu jalanan, aroma knalpot, dan suara klakson bersahut-sahutan. Di lantai dua rumah kontrakan di Cipete, Samuel James Whitmore duduk bersila di atas tikar pandan yang dibelinya dari pasar minggu lalu. Rambut cokelatnya mulai tumbuh tak beraturan, kemeja linen putihnya tampak kusut. Laptop di depannya menyala, tapi halaman dokumen Word masih kosong, hanya judul proyek penelitian terpampang di bagian atas: Resiliensi Sosial dan Kepemimpinan Perempuan dalam Komunitas Adat Pasca Pandemi.

"Too many footnotes, not enough story," gumam Samuel, menyeruput kopi tubruk yang masih hangat. Ia belum terbiasa dengan rasa pahitnya, tapi menyukai cara minuman itu membuatnya terjaga.

Samuel, 35 tahun, ekspatriat asal Australia, telah enam bulan berada di Indonesia sebagai peneliti tamu dalam program kolaborasi antara Universitas Melbourne dan sebuah lembaga riset sosial lokal. Proyeknya ambisius—menyelidiki bagaimana masyarakat adat bertahan dan berubah setelah pandemi. Tapi jika harus jujur, yang membawanya kembali ke Indonesia bukan hanya data, bukan hanya proyek. Ada nama lain yang tak tertulis di proposal resmi: Nurbaya.

Ia mengenal Nurbaya bukan di Jakarta, bukan pula dalam pertemuan formal akademik. Mereka bertemu pertama kali di Australia, di kampus Universitas Melbourne, saat sama-sama menempuh studi S2 dalam program Kajian Pembangunan dan Sosial Politik. Samuel waktu itu mahasiswa tahun kedua, sementara Nurbaya baru tiba dari Padang lewat beasiswa pemerintah.

Pertemuan pertama mereka terjadi dalam seminar kecil bertema Postcolonial Governance in Southeast Asia. Samuel ingat bagaimana Nurbaya angkat bicara saat sebagian besar peserta seminar diam atau hanya mengangguk-angguk setuju. Bahasa Inggrisnya fasih, dengan aksen lembut yang khas.

“I’d like to question the assumption that indigenous communities are only recipients of development. In many cases, they are the architects only, their methods don’t fit the usual metrics,” kata Nurbaya, matanya tajam menatap moderator.

Setelah seminar, Samuel mendekatinya di lorong.

"You're from Indonesia, right?" tanyanya.

Nurbaya mengangguk. “Minangkabau.”

“Ah,” Samuel tersenyum. “Saya pernah ke Padang, Bukittinggi. Beautiful places. I’m Samuel.”

“Nurbaya.”

Mereka berjabat tangan. Lalu obrolan berlanjut sampai ke kafe kampus. Hari itu, menjadi awal terbukanya ruang interaksi mereka yang terus berlanjut hingga kini.

Di Melbourne, mereka sering bertemu, kadang berdiskusi soal teori Gramsci dan Fanon, kadang hanya duduk diam di taman kampus sambil makan mi instan dari kantin Asia. Persahabatan itu tumbuh pelan, tapi kuat. Tak pernah mereka sebut sebagai cinta, tapi juga tak bisa mereka nyatakan hanya sebagai pertemanan akademik. Ada ruang di antara mereka yang tak pernah diberi nama, tapi tak pernah kosong.

Waktu berlalu. Setelah lulus, Samuel kembali ke kampung halamannya dan bekerja sebagai peneliti untuk LSM yang fokus pada hak masyarakat adat di Arnhem Land. Nurbaya pulang ke Indonesia dan mulai membangun karier akademiknya di Jakarta. Komunikasi mereka tak pernah putus. Email panjang, pertukaran makalah, sesekali video call. Dan ketika Samuel mengajukan proposal untuk riset pasca-pandemi di Indonesia, satu nama langsung muncul dalam pikirannya: Nurbaya.

Tiga minggu setelah kedatangannya di Jakarta, mereka bertemu langsung di kampus Universitas Indonesia, usai diskusi publik tentang masa depan demokrasi lokal. Di antara kerumunan mahasiswa dan akademisi, Samuel melihat sosok yang dikenalnya dengan baik. Rambut hitam panjang, kacamata bulat, dan ekspresi serius yang lembut.

“Nurbaya?” panggilnya.

Perempuan itu menoleh. Wajahnya sejenak tampak bingung, lalu berubah menjadi senyum lebar. “Samuel?”

Samuel mengangguk cepat. “It’s been too long.”

“Aku kira kamu sudah lupa cara naik Trans Jakarta,” jawab Nurbaya sambil tertawa.

“It’s not my favorite mode of transportation, I’ll admit.”

Sejak saat itu, mereka kembali menghidupkan kebiasaan lama, berdiskusi di perpustakaan, menulis bersama di kafe, dan kadang hanya berjalan kaki menyusuri trotoar Jakarta yang kacau tapi hidup.

Suatu sore, di taman belakang fakultas, Nurbaya berkata, “Kadang aku merasa... aku ini bukan aku. Aku ini bayangan dari ekspektasi orang-orang seperti ibuku, dosenku, adatku.”

Samuel mengangguk pelan. “Aku juga. Keluargaku berharap aku jadi pengacara. Ayahku hakim, kakekku juga. Tapi aku, i just wanted to understand people, not judge them.”

Nurbaya menatapnya lama. “Jadi kita ini dua orang yang melawan akar?”

Samuel tersenyum. “Atau menanam akar baru. Di tempat yang tak terlihat.”

Diam-diam, Samuel menantikan setiap momen bersama Nurbaya. Tapi ia juga tahu batas. Ia tak ingin mengganggu dunianya, hanya ingin hadir jika diberi ruang.

Suatu malam, setelah kembali dari lapangan selama dua minggu, Samuel mengajak Nurbaya makan malam di restoran kecil di Kemang. Saat makanan datang, percakapan mereka lebih banyak jedanya.

“Aku baru dari Solok. Banyak yang berubah sejak pandemi. Tapi satu yang tetap: perempuan tetap jadi penyangga utama,” katanya sambil menusuk sate ayam di piringnya.

Nurbaya mengangguk. “Karena mereka tak punya pilihan untuk menyerah.”

Samuel meletakkan garpunya. “Nurbaya, aku tahu ini mungkin bukan waktunya. Tapi aku ingin bilang... aku peduli padamu. Bukan cuma sebagai kolega atau partner riset. Tapi sebagai manusia.”

Nurbaya terdiam lama. Matanya menatap ke luar jendela. Lalu pelan-pelan ia berkata, “Samuel... aku tidak mudah dimiliki. Bahkan oleh diriku sendiri.”

Samuel tersenyum kecil. “Aku tidak ingin memiliki. Aku hanya ingin berjalan di sampingmu.”

Malam itu mereka tidak berpegangan tangan. Tidak ada pelukan. Tapi ada jeda hening yang dipenuhi pengertian. Lebih dari semua teori tentang relasi pascakolonial yang pernah mereka baca.

***

Riset Samuel membawanya ke pedalaman Sumatra Barat. Bersama tim kecil dari lembaga mitra lokal, ia mewawancarai tokoh adat, ibu rumah tangga, guru, dan remaja. Ia ingin merekam suara-suara yang jarang didengar. Di Agam, ia duduk di beranda rumah kayu bersama Uni Fera, seorang aktivis komunitas.

“Waktu COVID datang, yang turun ke lapangan siapa? Perempuan juga. Laki-laki banyak yang takut keluar. Tapi kita... kita harus masak, antar sembako, bahkan cari oksigen kalau ada yang sesak,” kata Uni Fera, matanya menerawang.

Samuel mencatat semua dengan teliti. Tapi yang paling penting, ia mendengar. Dalam malam-malam sunyi di kontrakan Cipete, ia menulis ulang pengalamannya, bukan sebagai data kering, tapi sebagai kisah yang hidup.

Di salah satu entri jurnal malamnya, ia menulis:

What is the role of a researcher, if not to become a vessel? And what is the role of love, if not to deepen listening?

Kalimat itu kemudian ia kirim lewat email ke Nurbaya, tanpa lampiran, tanpa penjelasan.

Beberapa jam kemudian, balasan singkat datang:

Mungkin itu cara kita saling menyelamatkan. Tanpa mengklaim. Tanpa menjajah.

Di minggu kelima riset, Samuel dan Nurbaya sepakat mengadakan diskusi bersama di Bukittinggi. Mereka menyewa ruang komunitas kecil milik koperasi lokal. Tak ada protokol resmi, hanya tikar, termos kopi, dan puluhan warga yang duduk melingkar.

Seorang ibu muda bertanya, “Kalau adat berubah, apakah kita masih Minang?”

Nurbaya menjawab tanpa ragu, “Adat itu bukan patung. Ia napas. Kalau tidak menyesuaikan diri, dia mati.”

Samuel menimpali, “Di Australia juga begitu. Kami belajar bahwa tradisi yang bertahan bukan yang paling murni, tapi yang paling mendengar.”

Seorang remaja lelaki berseru dari belakang, “Berarti kalian pacaran, ya?”

Tawa pecah di seluruh ruangan. Nurbaya menunduk, pipinya memerah.

Samuel tertawa kecil. “Kami saling memahami. Dan itu sudah cukup rumit.”

Dalam perjalanan kembali ke Jakarta, Samuel duduk di sebelah Nurbaya. Mereka tidak bicara lama. Hanya saling berbagi keheningan.

Lalu Samuel bertanya pelan, “Kalau aku kembali ke Melbourne nanti, kamu akan merindukanku?”

Nurbaya menatap ke jendela pesawat. “Aku mungkin tidak pandai bilang ‘iya’. Tapi kamu akan tetap ada dalam cara aku menulis.”

Samuel tersenyum. “Maka aku tak perlu khawatir dilupakan.”

Di Cipete, malam semakin larut. Di luar jendela, suara anjing menyalak dan motor melintas. Samuel duduk kembali di depan laptop. Halaman kosong itu kini mulai terisi. Tapi bukan teori, bukan kutipan panjang. Ia mulai dengan satu kalimat: Nurbaya is not the subject of my research. But she is the reason I learned to listen.

Dan dengan itu, cerita pun mulai menemukan nadanya sendiri.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!