NAMAKU NURBAYA BUKAN MILIK SIAPA-SIAPA
Menikahlah dengan Nur Firman
Nur Firman tersenyum sinis, menatap Nurbaya dengan tatapan penuh kemenangan. Ia melambaikan tangan kepada para pendukungnya, seolah ia adalah pahlawan yang baru saja memenangkan pertempuran.
Nurbaya merasakan dunia berputar. Semua perjuangan mereka, semua bukti yang telah mereka kumpulkan, semua pengorbanan yang telah mereka lakukan, seolah tidak berarti apa-apa. Keadilan telah dikalahkan oleh kekuasaan, oleh uang, dan oleh intrik politik.
Samuel memeluk Nurbaya erat, mencoba menenangkannya. "Nur... Nur... kita tidak akan menyerah."
Namun, Nurbaya tidak bisa mendengar apa-apa. Pikirannya kosong. Ia hanya bisa merasakan rasa sakit yang luar biasa, rasa sakit karena kekalahan, rasa sakit karena ketidakadilan. Pengadilan ini, yang seharusnya menjadi benteng keadilan, telah menjadi teater kekuasaan yang kejam, di mana kebenaran dikalahkan oleh kebohongan, dan keadilan dikubur di bawah tumpukan uang dan pengaruh.
Kekalahan di pengadilan adalah pukulan telak bagi Nurbaya dan timnya. Mereka telah mengerahkan segalanya, mempertaruhkan segalanya, namun hasilnya adalah kekalahan yang pahit. Berita tentang putusan itu menyebar dengan cepat, dan masyarakat yang dulunya bersimpati, kini mulai ragu. Beberapa bahkan mulai menyalahkan Nurbaya, menganggapnya terlalu ambisius dan hanya mencari sensasi.
Amak menelepon Nurbaya dengan tangisan histeris. "Nur, Amak sudah bilang! Nur Firman itu terlalu kuat! Sekarang, Abakmu... Abakmu semakin parah. Dia tidak mau lagi makan, dia tidak mau lagi bicara. Dia sudah menyerah."
Nurbaya merasakan hatinya hancur berkeping-keping. Ia telah gagal. Ia telah gagal melindungi abak, ia telah gagal membersihkan nama baik keluarganya, dan ia telah gagal menjatuhkan Nur Firman.
Samuel, meskipun terpukul, tetap berusaha mencari jalan keluar. "Kita akan mengajukan banding, Nur," katanya, suaranya penuh tekad. "Kita akan mencari bukti baru. Kita tidak akan menyerah."
Namun, Nurbaya merasa lelah. Ia tidak tahu apakah ia masih memiliki kekuatan untuk terus berjuang. Pengadilan ini telah menunjukkan kepadanya betapa kejamnya dunia kekuasaan, betapa sulitnya melawan sistem yang begitu korup. Ia merasa kebingungan, tidak tahu harus melangkah ke mana lagi. Apakah ini adalah akhir dari segalanya? Atau apakah masih ada harapan, meskipun sangat kecil, untuk mendapatkan keadilan?
***
Berita tentang putusan bebas Nur Firman menyebar seperti api di padang rumput kering. Masyarakat yang dulunya bersimpati pada Nurbaya, kini mulai ragu, bahkan berbalik menyalahkan. "Sudah kubilang, Nur Firman itu orang kuat. Buat apa melawan? Malah jadi malu sendiri," bisik-bisik terdengar di mana-mana. Beberapa bahkan mulai menyalahkan Nurbaya, menganggapnya terlalu ambisius dan hanya mencari sensasi, sehingga membuat Abak semakin sakit.
Pukulan terberat datang dari rumah. Amak menelepon Nurbaya dengan tangisan histeris. "Nur, Amak sudah bilang! Nur Firman itu terlalu kuat! Sekarang, Abakmu... Abakmu semakin parah. Dia tidak mau lagi makan, dia tidak mau lagi bicara. Dia sudah menyerah."
Nurbaya bergegas kembali ke Minang. Di rumah sakit, ia menemukan Abak terbaring lemah, jauh lebih parah dari sebelumnya. Matanya kosong, tubuhnya kurus. Ia tidak merespons kehadiran Nurbaya, seolah jiwanya telah pergi. Amak duduk di samping Abak, wajahnya sembab, tangannya terus menggenggam tangan Abak yang dingin.
"Abakmu... dia sudah tidak punya semangat hidup lagi, Nur," bisik Amak, suaranya serak. "Dia merasa gagal. Dia merasa malu. Semua ini... semua ini karena kita tidak mendengarkan Nur Firman dari awal."
Kata-kata Amak menusuk hati Nurbaya. Rasa bersalah yang amat sangat mencengkeramnya. Ia telah gagal melindungi Abak, ia telah gagal membersihkan nama baik keluarganya, dan ia telah gagal menjatuhkan Nur Firman.
Samuel, meskipun terpukul, tetap berusaha mencari jalan keluar. "Kita akan mengajukan banding, Nur," katanya, suaranya penuh tekad. "Kita akan mencari bukti baru. Kita tidak akan menyerah."
Namun, Nurbaya merasa lelah. Ia tidak tahu apakah ia masih memiliki kekuatan untuk terus berjuang. Pengadilan ini telah menunjukkan kepadanya betapa kejamnya dunia kekuasaan, betapa sulitnya melawan sistem yang begitu korup. Ia merasa kebingungan, tidak tahu harus melangkah ke mana lagi. Apakah ini adalah akhir dari segalanya?
Nur Firman tidak hanya merayakan kemenangannya di pengadilan. Ia, seperti predator yang haus darah, segera melancarkan serangan balik yang lebih brutal dan terencana. Beberapa hari setelah putusan bebas, sebuah surat panggilan pengadilan tiba di rumah gadang. Nur Firman menggugat Nurbaya atas pencemaran nama baik.
Gugatan itu menuntut ganti rugi yang fantastis, mencapai ratusan miliar rupiah, jauh melebihi jumlah utang Abak. Nur Firman menuduh Nurbaya telah sengaja menyebarkan fitnah dan berita bohong yang merusak reputasi dan bisnisnya. Ia mengklaim bahwa semua laporan media yang menguak kasus korupsinya adalah rekayasa Nurbaya dan timnya, yang didasari oleh motif pribadi untuk menjatuhkannya.
"Ini adalah taktik untuk menghancurkanmu secara finansial dan mental, Nur," kata Samuel, wajahnya tegang saat membaca surat gugatan itu. "Dia ingin kamu tidak punya apa-apa lagi, tidak punya kekuatan untuk melawan."
Gugatan itu juga menargetkan Fajar, Ibu Ratna, dan bahkan media yang menerbitkan laporan investigasi. Nur Firman ingin membungkam semua orang yang berani melawannya.
Keluarga besar Nurbaya semakin panik. Mereka melihat ini sebagai akhir dari segalanya. "Nur, sudah cukup! Jangan lagi melawan! Kita tidak punya uang sebanyak itu untuk membayar ganti rugi! Kita akan bangkrut, kita akan kehilangan semuanya!" teriak Mak Piah di telepon.
Amak, yang sudah sangat rapuh, hanya bisa menangis. "Nur, tolonglah. Hentikan semua ini. Demi Abakmu. Dia tidak akan sanggup lagi."
Nurbaya merasakan tekanan yang tak tertahankan. Ia merasa seperti terhimpit di antara batu dan tembok. Di satu sisi, ia ingin terus berjuang demi keadilan. Di sisi lain, ia melihat penderitaan keluarganya yang semakin parah, dan ancaman kehancuran total yang membayangi mereka.
Di tengah badai gugatan dan tekanan, Nur Firman tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia mengirimkan utusan ke rumah gadang, membawa pesan langsung yang kejam untuk Nurbaya. Utusan itu adalah seorang pria berbadan tegap, dengan wajah dingin dan tatapan tanpa emosi, yang pernah mengintimidasi Nurbaya di jalan.
"Nona Nurbaya," kata pria itu, suaranya datar. "Bos saya, Tuan Nur Firman, mengirimkan pesan ini langsung untuk Anda. Beliau sangat kecewa dengan tindakan Anda yang telah mencoreng nama baiknya. Namun, beliau masih berbaik hati untuk memberikan Anda kesempatan terakhir."
Pria itu meletakkan sebuah amplop tebal di meja tamu, di samping amplop perjanjian utang yang dulu. Amplop itu berisi dua lembar kertas.
"Anda punya dua pilihan," lanjut pria itu, matanya menatap Nurbaya tajam. "Pilihan pertama: Anda membayar seluruh utang ayah Anda sebesar empat puluh miliar rupiah, ditambah ganti rugi atas pencemaran nama baik sebesar dua ratus miliar rupiah. Total dua ratus empat puluh miliar rupiah. Dan semua gugatan akan dicabut."
Nurbaya merasakan napasnya tercekat. Dua ratus empat puluh miliar rupiah? Itu adalah angka yang tak terbayangkan, mustahil untuk mereka bayar.
"Pilihan kedua," pria itu melanjutkan, dengan senyum tipis yang menjijikkan. "Anda menikah dengan Tuan Nur Firman. Semua utang ayah Anda akan dianggap lunas, gugatan pencemaran nama baik akan dicabut, dan Tuan Nur Firman akan membantu memulihkan kembali nama baik keluarga Anda di nagari ini, bahkan membantu Abak Anda mendapatkan kembali wibawanya."
***