NAMAKU NURBAYA BUKAN MILIK SIAPA-SIAPA

Nur Firman

Tak ada baliho besar dengan wajahnya terpampang di simpang-simpang jalan. Tak ada spanduk selamat datang saat ia berkunjung ke nagari. Tapi nama Nur Firman lebih dikenal daripada bupati, gubernur, bahkan anggota DPR di kampung-kampung Sumatera Barat bagian barat. Ia adalah bisik-bisik di kedai kopi, bayang-bayang di balik izin tambang, dan keputusan-keputusan yang tiba-tiba berubah arah menjelang tengah malam.

Nurbaya pertama kali mendengar nama itu dari pamannya, Iskandar Datuk Bandaro. Seorang tokoh adat yang diam-diam sering datang ke rumah ayahnya untuk “berembuk” soal masa depan keluarga. Tapi lebih banyak waktu dihabiskan mereka di ruang tamu untuk berbicara dalam kode, menghindari telinga siapa pun, termasuk amak yang setia menghidangkan teh hangat tanpa sepatah pun ikut bersuara.

“Nur Firman punya rencana besar untuk wilayah pesisir,” ujar pamannya saat itu. “Kita butuh orang sepertinya kalau ingin warisan ini tetap hidup.”

Warisan? Nurbaya bertanya-tanya, warisan siapa yang mereka bicarakan? Alam? Adat? Atau sebidang tanah di balik bukit yang sejak lama menjadi sengketa antara warga dan perusahaan tambang?

Nur Firman tak lahir dari bangsawan adat, bukan juga dari jalur birokrasi resmi. Ia lahir di Padang, tumbuh di Payakumbuh, merantau ke Jakarta. Di sana ia belajar tentang uang. Bukan dari kampus, tapi dari pasar proyek pemerintah, dari pertemuan di hotel bintang lima, dari kantong-kantong yang berpindah dalam gelap. Ketika reformasi datang, ia sudah tahu bahwa kekuasaan tidak lagi ada di satu tangan. Maka ia membangun jaring, bukan menara. Menjadi simpul dari banyak arah.

Setelah reformasi, ia pulang. Tapi bukan untuk menetap. Ia kembali dengan wajah baru. Pengusaha filantropis, donatur pembangunan masjid, pendiri yayasan beasiswa anak-anak adat. Ia punya satu kebiasaan yang membuatnya disukai banyak orang: ia tahu nama semua orang kecil yang ditemuinya. Tukang parkir, marbot masjid, guru honor, bahkan ibu-ibu pengupas kulit manis di Solok. Ia menyebut mereka dengan nama, bukan jabatan.

“Bang Firman itu orang baik,” kata paman Nurbaya. “Banyak yang bisa kita pelajari darinya. Ia tidak suka ribut. Ia bekerja dalam senyap.”

Tapi dalam senyap itu, kekuasaan tumbuh subur. Lewat kontrak-kontrak pemerintah daerah, proyek reklamasi, pengelolaan air bersih, dan terakhir sumber daya tambang rakyat. Perusahaannya, yang namanya hanya dicantumkan kecil di bawah anak usaha, menguasai konsesi seluas dua kecamatan. Ia tidak pernah mencalonkan diri secara resmi, tapi kepala daerah terpilih selalu datang menghadap.

Nurbaya baru benar-benar menyadari kekuatan Nur Firman ketika ia mencoba mengajukan program penelitian di nagari tetangga. Izin dari wali nagari sudah di tangan. Namun dua minggu kemudian, tiba-tiba surat pencabutan izin datang. Alasannya absurd: "Situasi sosial tidak kondusif."

“Amak dengar dari salah satu kepala jorong, program kamu dianggap bisa membuka luka lama,” kata amak dengan suara pelan. “Dan kalau luka dibuka, orang-orang akan mulai bertanya siapa yang menggaruknya dulu.”

Nurbaya terdiam. Ia tahu, penelitiannya tentang dampak sosial pasca pandemi bukan sekadar data lapangan. Ia menyentuh jaringan distribusi bantuan yang timpang, ketimpangan akses vaksin, dan kebijakan lokal yang menguntungkan segelintir elite. Dan semua jalur itu, entah bagaimana, selalu mengarah ke figur yang sama: Nur Firman.

Dalam jamuan adat keluarga besar, nama itu kembali disebut. Kali ini dalam nada penuh pujian.

“Kalau bukan karena Bang Firman, tanah ulayat kita di Hulu Batang sudah hilang dibeli orang Cina,” ujar salah satu kemenakan ayahnya. “Dia yang tahan. Dia yang urus semua sertifikat.”

Nurbaya ingin bertanya, “Apa imbalannya?” Tapi ia tahu pertanyaan semacam itu akan membuatnya tampak seperti duri dalam daging. Di hadapan para tetua yang menggenggam warisan dan kepercayaan, kritik adalah bentuk pengkhianatan. Dan siapa pun yang mengkhianati, tak akan lagi diundang ke balairung adat.

Di kampus, Samuel pernah berkata, “Power in Indonesia doesn’t always scream. Sometimes it just whispers and waits.” Kini Nurbaya memahami maksudnya. Nur Firman adalah kekuasaan yang membisik. Tak pernah memerintah langsung, tapi semua orang tahu arahnya.

Satu hari, Nurbaya diundang ke acara diskusi kebudayaan yang diselenggarakan oleh yayasan milik Nur Firman. Ia datang dengan ragu. Ia tahu siapa yang akan jadi tamu kehormatan. Tapi rasa ingin tahunya lebih besar dari rasa takut. Ia ingin melihat sendiri, mendengar langsung.

Acara berlangsung di sebuah resort mewah di tepi Danau Maninjau. Nur Firman datang terlambat tiga puluh menit, mengenakan kemeja putih gading, tanpa dasi. Ia tidak berdiri di panggung. Ia duduk di antara hadirin, menyimak, sesekali mencatat, dan baru bicara saat diminta menutup acara.

“Banyak yang bilang saya ini bayangan,” ujarnya di hadapan mikrofon. “Tapi jangan salah, bayangan hanya ada kalau ada cahaya. Maka mari kita tetap jadi cahaya. Walau kecil, tapi cukup membuat bayangan itu jujur.”

Orang-orang tertawa dan bertepuk tangan. Nurbaya merinding. Kata-katanya halus, tapi sarat makna. Ia sedang menyatakan keberadaan sekaligus membungkusnya dalam kerendahan hati palsu.

Usai acara, Nur Firman menghampirinya.

“Saya dengar nama Uni Nurbaya dari banyak orang,” katanya sambil menjabat tangan. “Senang akhirnya bisa bertemu langsung. Anak dari Haji Zulkarnain, bukan?”

Nurbaya hanya mengangguk. Ia tak tahu harus membalas dengan apa.

“Ayah anda orang yang saya hormati. Dan saya dengar, anda sedang meneliti dampak pandemi terhadap struktur sosial nagari. Topik menarik. Mungkin suatu hari bisa kita diskusikan lebih dalam.”

Setelah acara di Maninjau, Nurbaya duduk termenung di beranda rumahnya. Udara dingin dari pegunungan menampar pipi, tapi tak mampu menenangkan pikiran. Ia mengingat kembali sorot mata Nur Firman saat menatapnya di akhir pertemuan. Ada ketenangan yang menakutkan di sana. Seperti seseorang yang sudah lama merencanakan sesuatu, dan kini hanya menunggu waktunya tiba.

Beberapa minggu setelahnya, ia menerima undangan makan siang di sebuah rumah makan di Jakarta. Undangan itu tidak datang dari Nur Firman langsung, tapi dari seseorang yang mengaku “penasihat budaya” yayasan. Nama dan gelarnya panjang, tapi yang membuat Nurbaya ragu bukan itu. Ia tahu, makan siang bukan sekadar makan siang. Dalam politik dan adat, meja makan adalah meja negosiasi. Dan ia tak suka bernegosiasi soal integritasnya.

Namun, penasaran selalu lebih kuat dari penolakan. Ia datang. Duduk. Menyimak. Laki-laki itu berjas hitam, berbicara lembut, penuh metafora—bercerita panjang lebar soal pentingnya peran anak muda dalam menjaga “tulang belakang budaya”.

“Kita butuh darah segar seperti Anda, Mbak Nur. Tapi darah segar itu mesti tahu arah alirannya, agar tak jadi darah yang tumpah sia-sia.”

Nurbaya menahan napas. Ia mulai terbiasa dengan bahasa seperti itu. Indah, tapi berduri.

Lelaki itu menyerahkan sebuah map. Di dalamnya, proposal kerja sama penelitian, pendanaan penuh untuk tiga tahun ke depan, jaringan ke kampus dan universitas adat, dan surat rekomendasi dari beberapa wali nagari yang sebelumnya menolaknya. Ia tak menyentuh map itu.

“Ini hanya simbol niat baik,” ujar sang penasihat. “Kita bukan mengendalikan, kita mendukung. Seperti tiang yang menopang rumah gadang. Anda tetap jadi atapnya.”

Sejak malam itu, satu demi satu orang mulai menghubunginya. Paman, tetua, kerabat jauh. Semua dengan narasi yang sama: bahwa masa depan keluarga mereka tak bisa dibiarkan di tangan orang yang "keras kepala". Bahwa Nur Firman adalah “jodoh politik” yang akan menyelamatkan warisan.

“Tidak ada yang memaksa, Nur,” kata ibunya lembut. “Tapi kalau kamu menolak, mungkin semuanya akan runtuh. Termasuk rumah ini.”

Dan seperti itu, bayangan Nur Firman bukan hanya mengintai, tapi mulai merasuk. Nur Firman bukan sekadar nama. Dia adalah sistem yang berjalan di luar hukum formal. Dia adalah pengadilan yang tidak butuh palu. Raja tanpa mahkota dan Sumatera Barat adalah kerajaannya.

Kabar mulai beredar bahwa Haji Zulkarnain telah “dibantu” saat mencalonkan diri sebagai anggota bupati. Nurbaya terkejut mendengarnya pertama kali dari seorang jurnalis lokal yang menelepon untuk wawancara.

“Kami dengar Ibu dekat dengan jaringan Bang Firman. Banyak pihak menunggu pernyataan resmi.”

Nurbaya menutup telepon dengan tangan gemetar. Di desa, kabar lebih cepat daripada angin. Bahkan sebelum seseorang membuat keputusan, desas-desus bisa menciptakan takdir baru.

Ia menghubungi ayahnya. “Abak, kenapa tidak pernah bilang kalau ingin masuk politik?”

Suara abah terdengar tenang, nyaris seperti seorang guru yang sedang menasihati murid keras kepala. “Kadang bukan kamu yang memilih jalan, Nur. Jalanlah yang memilihmu. Kau anak dari Haji Zulkarnain. Kau bukan siapa-siapa, tapi nama ayahmu adalah sesuatu. Dan darahmu adalah bagian dari pusaka kami. Kau tak bisa lari dari itu.”

Nurbaya merasa tubuhnya digiring perlahan. Tidak dipaksa, tapi diarahkan. Tidak diancam, tapi diberi iming-iming. Semua yang pernah dipelajari tentang relasi kuasa di kelas Sosiologi kini terasa hidup dan menyakitkan. Teori takluk di hadapan kenyataan.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!