NAMAKU NURBAYA BUKAN MILIK SIAPA-SIAPA
Yang Hilang 1
Angin malam di Minang terasa dingin menusuk tulang Nurbaya, seolah membawa serta bisikan takdir yang kelam. Setelah percakapan berat dengan abak dan amak mengenai utang dan nama Nur Firman, Nurbaya memutuskan untuk segera kembali ke Jakarta. Ia butuh jarak, ruang untuk bernapas, dan mencoba menyusun kembali pikirannya yang kalut. Rumah gadang yang dulu megah, kini terasa seperti sangkar emas yang menjebaknya, setiap sudutnya memancarkan beban yang tak kasat mata.
Perjalanan kembali ke Jakarta terasa panjang dan sunyi. Setiap kilometer yang memisahkan dirinya dari tanah Minang, seharusnya membawa kelegaan, namun yang ada hanyalah kegelisahan yang semakin dalam.
Nurbaya mencoba menyusun pikirannya, mengurai benang kusut yang melilit hidupnya. Di secarik kertas, ia menuliskan dua kolom: apa yang akan hilang jika aku menolak dan apa yang akan hancur jika aku menerima.
Di kolom pertama, ia menuliskan: kehancuran nama baik keluarga, kemungkinan abak terjerat hukum dan kehilangan segala yang tersisa, amak yang terus-menerus menderita dalam kesedihan. Gambaran itu terasa begitu nyata, begitu menakutkan. Nama Haji Zulkarnain, yang dulunya menjulang tinggi, kini tergantung di ujung tanduk. Bayangan abak di balik jeruji besi, amak yang semakin rapuh dimakan kesedihan, dan pandangan mencemooh dari masyarakat adat, semua itu terasa seperti beban yang tak sanggup ia tanggung.
Kemudian, ia beralih ke kolom kedua: masa depanku, cintaku pada Samuel, kebebasanku, harga diriku sebagai seorang perempuan, sebagai seorang individu yang mandiri. Setiap kata yang ia tulis terasa seperti sayatan. Mimpi-mimpinya tentang membangun karier, memilih pasangannya sendiri, semua itu kini terasa hancur berkeping-keping. Bayangan Samuel, senyumnya, sentuhan tangannya, kini terasa begitu jauh, begitu mustahil. Ia merasa seperti boneka yang digerakkan oleh tali-tali utang dan kekuasaan, tak punya kendali atas hidupnya sendiri.
Di bagian bawah kertas itu, dengan tangan gemetar, ia menuliskan satu kalimat yang membelah dadanya seperti belati panas: Bagaimana mungkin pilihan ini adil jika semua sudah direkayasa sejak awal? Ia tahu ini adalah jebakan, sebuah skenario yang telah diatur rapi oleh Nur Firman. Ia adalah korban, namun ia juga tahu bahwa dalam pusaran adat dan kekuasaan ini, keadilan seringkali hanyalah ilusi.
Beberapa hari setelah Nurbaya kembali ke Jakarta, ponselnya berdering. Nomor tak dikenal. Dengan ragu, ia mengangkatnya. Suara berat dan familiar itu menyapa, membuat jantungnya berdebar kencang. Itu Nur Firman.
"Nurbaya," sapanya, suaranya terdengar santai, seolah mereka adalah teman lama. "Saya harap anda sudah memikirkan tawaran saya."
Nurbaya mencengkeram ponselnya erat-erat. "Tawaran apa, Pak Nur Firman?" tanyanya dingin, berusaha menyembunyikan getaran dalam suaranya.
"Tentu saja, tawaran untuk melunasi semua utang ayah anda. Dan sebagai gantinya, anda menjadi istri saya," jawabnya tanpa basa-basi, nada suaranya penuh keyakinan, seolah ini adalah kesepakatan yang tak mungkin ditolak. "Saya sudah bicara dengan orang tua anda. Mereka setuju. Kita bisa segera mengatur tanggalnya."
Darah Nurbaya mendidih. Beraninya dia berbicara seolah dirinya adalah barang yang sudah disepakati? Beraninya dia menganggap persetujuan orang tuanya sebagai persetujuannya juga?
"Saya tidak setuju, Pak Nur Firman," kata Nurbaya, suaranya tegas dan jelas, meskipun ia bisa merasakan ketakutan mencengkeram hatinya. "Saya tidak akan menikah dengan anda. Pernikahan bukan transaksi. Dan saya bukan barang yang bisa anda beli."
Ada keheningan singkat di ujung telepon, seolah Nur Firman terkejut dengan penolakan itu. Lalu, tawanya pecah, tawa kering dan sinis yang membuat Nurbaya merinding.
"Oh, Nurbaya. anda pikir anda bisa menolak saya?" suaranya berubah dingin, penuh ancaman. "Anda tidak tahu siapa saya. Saya bisa membuat hidup ayah anda hancur. Saya bisa membuat keluarga anda kehilangan segalanya. Bahkan nama baik mereka akan tercoreng selamanya di seluruh nagari. Anda pikir anda bisa lari dari saya di Jakarta?"
Nurbaya menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Ia tahu ancaman itu bukan gertakan kosong. Namun, harga dirinya menolak untuk tunduk.
"Saya tidak akan menikah dengan anda, Pak Nur Firman," ulang Nurbaya, setiap kata adalah deklarasi perlawanan. "Saya akan mencari cara lain untuk menyelesaikan masalah ini. Tapi bukan dengan mengorbankan diri saya."
"Anda akan menyesal, Nurbaya," desis Nur Firman, suaranya penuh kemarahan yang tertahan. "Anda akan melihat bagaimana saya bisa membuat hidup anda dan keluarga anda menjadi neraka. Ini bukan pilihan, Nurbaya. Ini adalah keharusan."
Sambungan telepon terputus. Nurbaya menjatuhkan ponselnya ke sofa, tubuhnya gemetar. Ia telah menolak. Ia telah menyatakan perlawanan. Tapi ia tahu, ini hanyalah awal dari pertempuran yang jauh lebih besar. Ia telah menantang seorang penguasa yang tak terjamah, dan ia tahu, Nur Firman tidak akan tinggal diam. Ia harus bersiap menghadapi konsekuensi dari penolakannya.
Setelah panggilan itu, Nurbaya merasa seperti baru saja melewati badai. Tubuhnya lemas, namun ada percikan api perlawanan di dalam dirinya. Ia telah menolak. Itu adalah langkah pertama. Namun, ia tahu, Nur Firman bukanlah tipe orang yang menerima penolakan begitu saja. Ancaman-ancamannya terngiang di telinganya, "Saya bisa membuat hidup ayah anda hancur... nama baik mereka akan tercoreng selamanya... Anda pikir anda bisa lari dari saya di Jakarta?"
Nurbaya segera menghubungi Samuel. Suaranya masih bergetar saat ia menceritakan percakapannya dengan Nur Firman. Samuel mendengarkan dengan seksama, kemarahan jelas terpancar dari nada bicaranya.
"Dia benar-benar kurang ajar!" Samuel menggeram. "Nurbaya, aku akan datang. Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi. Kita harus mencari pengacara, kita harus mencari bukti. Ini jelas pemerasan."
"Aku tahu, Sam," jawab Nurbaya, suaranya lebih tenang sekarang. "Tapi ini bukan hanya masalah hukum. Ini masalah kekuasaan dan pengaruh. Nur Firman punya orang di mana-mana. Di Minang, hukum seringkali bisa dibengkokkan oleh uang dan koneksi."
"Itu tidak berarti kita tidak mencoba," tegas Samuel. "Aku akan mulai mencari informasi tentang Nur Firman, tentang bisnisnya, tentang koneksinya. Pasti ada celah. Dan aku akan datang ke sana secepatnya."
Nurbaya merasa sedikit lega mendengar tekad Samuel, namun kegelisahan tetap menyelimutinya. Ia tahu Samuel adalah seorang pejuang keadilan, namun ia juga tahu betapa rumitnya situasi di kampung halamannya.
Tak lama setelah itu, panggilan dari amak datang. Suara amak terdengar panik dan penuh ketakutan. "Nur, Nur Firman menelepon abak. Dia marah besar. Dia bilang kalau kamu tidak mau menikah dengannya, dia akan membuat abak masuk penjara! Dia bilang dia punya semua bukti utang itu, dan dia akan melaporkan abak ke polisi karena penipuan dan penggelapan dana!"
Jantung Nurbaya mencelos. Ini dia. Konsekuensi dari penolakannya. "Amak, tenang dulu. Abak tidak melakukan penipuan. Itu utang yang dia pinjam untuk membantu warga dan kampanye."
***