Naura
13. Sumpah yang Aneh
”Aku adalah Diandra. Ikhlaskah jika airmatamu itu aku menerimanya?”
Angin membela wajah indah Diandra, dan tak ada reaksi dan suara jawaban dari lelaki yang tengah tidur di pembaringan itu. Tidak ada tanda dan tidak ada gerakan sama sekali dari Adam.
”Wahai Adam. Aku Diandra, aku adalah orang buta dan lumpuh. Aku selalu bersedih pada takdirku, tapi orangtuaku memaksaku untuk datang kesini. Jika kamu ikhlas, maka aku akan menerima airmatamu dan itu tidak akan mengecewakan orangtuaku.”
Diandra tidak mau menyerah.
Ada sedikit gerakan yang dilakukan Adam, bibirnya mulai bergerak perlahan, ”Ambillah jika itu bisa membahagiakan orangtuamu.”
Suara itu begitu menenteramkan Diandra, dia pun tersenyum. Sembuh atau tidak, dia tak peduli. Dia hanya tidak ingin mengecewakan kedua orangtuanya yang paling dicintainya.
Halimah pun mendekati puteranya itu, namun dia tak mengambilnya dengan sendok karena permintaan Diandra. Dia tahu dari informasi bahwa Ibu Adam akan keluar membawa sendok dengan sedikit air di dalam sendok. Diandra ingin Ibu Halimah mengambil airmata Adam dengan tangannya.
Halimah pun mengusapkan tangannya pada pipi Adam, dimana di sana air matanya terus mengalir. Jari Halimah basah, dia mendekati Diandra.
”Bolehkah aku yang mengusapkannya?” Sarah memohon kepada Halimah, dia ingin selalu memberikan yang terbaik untuk Diandra.
”Silakan.”
Sarah pun menerima air yang membasah di jari Halimah. Sesuai perkataan Halimah, air itu diusapkan di tempat yang sakit. Itu seperti biasanya, tak ada syarat apapun karena yang diketahui Cuma diusapkan pada bagian yang sakit.
Sarah pun mengiyakan dan mengusapkan tangannya yang basah itu ke kedua mata Diandra sambil mengucapkan Basmallah.
Halimah mengambil dan mengusap airmata Adam lagi, kemudian memberikannya pada Sarah. Sarah pun kemudian mengoleskan kedua kalinya di kedua kaki Diandra dan mengusapkannya secara merata. Hal itu pun selesai, air yang diusap dirasakan oleh Diandra, airmata itu terasa sejuk dan menyelimuti tubuhnya seolah dia berada di padang hijau nan indah dan penuh kesejukan.
Halimah juga menceritakan sebenarnya, mereka tak membuka pengobatan alternatif namun terlanjur media memberitakan. Awalnya hanya ada seorang yang bermimpi dan disuruh mengobati lumpuh kakinya melalui airmata Adam. Lalu, kejadian itu benar-benar terjadi. Maka dari itu, Halimah memang tak menolak orang yang datang, namun soal kesembuhan itu tentu mereka tak bisa mengobati apapun. Semuanya hanyalah karunia dari Allah semata.
Sarah dan Diandra pun mengangguk tanda mengerti.
Namun, Sarah masih merasa bahwa apapun itu tidak ada yang gratis, masalah kesembuhan itu nomor terakhir. Orang yang meminta tolong dan menggunakan jasa orang lain harus membayarnya.
”Sembuh atau tidak itu kami juga memahami bahwa itu urusan Tuhan. Namun, sebagai manusia kita harus saling menghargai. Kami akan mengirimkan uang pada bu Halimah dan kami mohon Ibu tidak menolaknya.”
”Tidak perlu Ibu,” Halimah menatap bu Sarah dengan pandangan meyakinkan, ”Kami bukan penyembuh atau tempat terapi, orang yang datang kemari atas kemauan mereka sendiri dan kami hanya tak mau mereka kecewa. Biarlah hal itu menjadi kewajiban bagi kami, hanya kami minta doa agar putera saya dapat kembali sembuh, dan dapat bangun dari ketidakberdayaannya,” kesedihan tak lagi bisa dibendung oleh Halimah.
Sarah dan puterinya, Diandra pun hanya terdiam dan terharu. Tidak hanya mereka yang mendapatkan ujian, bahkan setiap orang juga mendapatkan ujiannya masing-masing.
”Bu Halimah,” suara lembut Diandra membuat Halimah menatap wanita cantik itu, ”Sepanjang hidupku, aku hanya terkurung dalam raga ini. Aku tak bisa melihat dan tak bisa berjalan. Dunia seolah sempit, hanya saja aku memiliki keluarga yang menyayangiku dan menceritakan segala hal tentang dunia ini.
Saya yakin..., Adam akan sembuh. Saya pernah berharap setidaknya sekali saja dalam hidup saya dapat melihat walau sejenak. Hal itu sudah cukup bagiku merasakan kebahagiaan seluruh dunia ini. Tapi, jika airmata Adam bisa menyembuhkan mataku, maka aku berjanji atas nama Tuhan, Ibuku, Ayahku dan juga bu Halimah. Aku akan menikahi Adam dan membantunya untuk sembuh!”
Semua terkaget di ruangan itu, bahkan Sarah pun merasa bahwa puterinya itu seolah mengucapkan sumpah yang benar-benar sangat berat.
”Puteriku... hati-hati dengan sumpahmu itu,” Sarah merasa bahwa Puterinya memutuskan sesuatu tanpa pertimbangan. Jika dia benar-benar sembuh, maka sumpahnya itu seperti seorang yang mengabdikan diri pada seorang raja dan akan menjadi bawahannya selamanya.
”Ibu... dengarlah Diandra,” Diandra tersenyum kearah suara Ibunya, meski tak bisa melihat dia sangat paham letak darimana suara berasal, ”Dalam hidupku, aku tidak pernah melihat bunga. Jika aku bisa melihatnya sekali saja, maka aku rela meninggalkan dunia ini. Jika memang Adam bisa menjadi perantara penyembuhan mataku..., bukankah itu sudah merupakan surga bagiku Ibu.”
”Tapi Puteriku...” Sarah masih khawatir dengan sumpah Diandra itu.
”Sudahlah Bu. Aku merasakan bagaimana luka yang diderita Adam, meskipun aku tak bisa melihatnya. Diandra merasakan kalau dia seolah menampung semua sakit yang orang derita dan menampungnya sendirian. Jika benar ada orang yang sembuh karena airmatanya, itu seperti dia sedang memikul semua beban sakit semua orang. Dia adalah orang yang berbesar hati dan orang paling kuat di dunia ini.”
Setelah itu, keadaan hening lagi. Sarah tak berani menerskan kata-katanya setelah mendengarkan penjelasan Diandra. Lagi pula, apakah benar kalau airmata Adam itu bisa menyembuhkan mata Diandra yang buat dan juga kakinya yang lumpuh, itu hal yang sangat tidak masuk akal sama sekali.
Sarah dan Diandra pun berpamitan pada Adam yang tetap saja tak menjawab dan hanya terdiam. Halimah mengantarkan mereka hingga ke ruangan tamu, dan mereka duduk sejenak untuk sekedar basa-basi dan mengobrol sehingga terasa lebih akrab.
Hari pun sudah sore, mereka serombongan berpamitan dan bertanya penginapan yang terdekat karena sudah malam. Ayah Diandra yaitu Hamid juga sedang menyusul mereka karena menyelesaikan beberapa pekerjaan di beberapa kantornya. Mereka menuju ke kota, letaknya sekitar 10 km dari desa dimana Adam berada. Mereka pamitan pergi, berharap ada perubahan meskipun rasanya aneh dengan pengobatan airmata tersebut.
Mereka pun undur diri, tinggal Syarif dan Halimah di ruangan tamu. Syarif pun berpamitan pada bu Halimah untuk pulang, dia datang setiap pagi hingga sore menemani Adam dan Ibunya, apalagi hari senin hingga sabtu. Orang akan berkumpul ramai dari seluruh pelosok desa dan kota.
Untuk uang yang dikelola Syarif, dia selalu melaporkan pada Halimah namun Halimah seolah tak peduli. Simpan saja, begitu perkataan Halimah dan juga Syarif diminta mengambil uang itu tanpa perlu izin jika dia membutuhkan. Bagi Halimah, uang tak berarti, hanya kesembuhan Adam yang menjadi inti dari seluruh masalah hidupnya.
Syarif undur diri, Halimah beranjak untuk shalat dan sebelumnya dia melihat Adam. Adam selalu tayamum dengan gerakan tangannya sambil tetap tidur miring. Dia selalu shalat dengan kondisi berbaring dan tayamum, setelah itu dia akan menjadi pesakitan lagi dan hanya beberapa kali mendesah nama Naura.
Setiap kali melihat hal itu, tak kuasa, airmata Halimah pun pasti menetes meratapi takdir putera semata wayangnya itu.