Naura
26. Kenangan Danau Cinta
Hari masih menyapa dengan indah, Adam dan Diandra masih terlibat percakapan seru soal kerjasama bisnis mereka. Diandra penasaran dengan apa yang akan direncanakan oleh Adam dan bagaimana dia akan berusaha mewujudkan mimpi bisnis yang dia sebutkan sebelumnya.
”Satu hal lagi Diandra,” Adam menyela apa yang dikatakan setuju oleh Diandra.
”Apa itu?”
”Muatan bisnis ini bukan untuk mencari keuntungan semata, namun bagaimana orang menjadi banyak terbantu. Yah, setidaknya ini adalah bisnis dan amal. Lingkungan juga harus diperhatikan agar lokasi ini selalu menjadi bersih dan tidak menjadi kotor.”
Diandra paham, ”Baik, itu nanti akan menjadi prioritas kita. Baiklah, kita susun rencana saja apa yang ada di pikiranmu yang akan dibangun disini. Nanti, saya akan menambahi dengan market dan target apa yang bisa diraih.”
Adam belum pernah berbisnis, mungkin juga Diandra menjadi penasehat bisnis yang baik. Bahkan, Diandra tentu bisa menyewa seorang konsultan untuk usaha tersebut.
Adam pun kini terbiasa bicara dengan Diandra. Mereka duduk begitu asyik berbincang soal rencana masa depan mereka. Adam berkata jika Danau Kenanga harus tetap origin, tidak boleh diubah. Kecuali penambahan untuk lebih indah dan lebih nyaman orang berada disini. Lalu, di sekitarnya ada tempat taman bermain. Untuk usaha, boleh usaha apa saja asalkan tidak menimbulkan polusi dan juga pencemaran.
Luasnya lahan, Adam akan melihat berapa banyak yang bisa dibeli disini. Pertama dia akan melihat data, tanah di sekitar danau milik siapa. Tentu saja, mereka akan membelinya. Dari penjelasan Syarif tadi pagi, bahwa uang yang dimiliki Adam di tabungan masih ada 15 Miliar lebih. Itu akan digunakan total untuk rencana ini, rencana untuk membuat Danau Kenanga hidup.
Danau yang indah ini tidak banyak diketahui orang. Adam ingin menunjukkan keindahan Danau ini untuk semua orang. Semua orang dapat menikmatinya dan menghirup udara sejuk dari danau ini serta mereka akan bisa mendapatkan cinta disini. Benar, mendapatkan cinta dari Allah.
Setiap kata demi kata, Diandra menangkap semua hal yang ingin dimulai oleh Adam. Betapa jiwa Adam seperti samudera yang tidak terkontaminasi dengan dunia dan pernik segala macam kerusuhan. Tidak ada di hatinya sebercik rasa ingin memperdaya orang lain, dia adalah salah satu contoh manusia yang tulus. Rasa sakit yang sudah diderita selama ini tak membuatnya kotor. Malah, membuatnya cemerlang, seperti metamorfosis yang dilakukan ulat untuk menjadi kupu-kupu.
Benar. Adam adalah kupu-kupu yang indah, begitulah gambaran Diandra sekarang untuk Adam.
Mereka pun kini menjadi rekan bisnis, siang itu mereka membuat master plan untuk usaha mereka. Kini, Adam menyampaikan apa yang diinginkannya ada disana. Dia yang akan mencari beberapa pemilik lahan di sekitar danau dan akan melakukan negoisasi untuk kepemilikan, sedangkan Diandra akan konsultasi dengan konsultan dan beberapa orang selama seminggu ke depan dan mereka akan bertemu lagi untuk membahas lebih lanjut.
Adam menempatkan beberapa usaha dan apa yang ingin ada dan Diandra menuliskannya dan juga menyiapkan usaha tambahan dan juga berapa lahan yang bisa dibeli nantinya.
Udara sejuk itu mulai berganti menjadi kondisi panas. Mereka sudah cukup lama berbincang dan mereka mulai lapar. Diandra menawari Adam makanan, dia sudah mempersiapkan makan siang dan sudah membungkusnya dari sebelum dia ke danau dan sehabis bertemu dengan Naura.
Adam awalnya ragu hendak memakannya, dia sekarang harus mulai bisa makan dengan tangannya sendiri. Tadi pagi, dia masih kesulitan karena tangannya masih gemetaran karena efek tidurnya yang lama.
Karena terus didesak, Adam pun mau makan dan tangannya perlahan mengambil makanan itu. Dia kesulitan dan berusaha sekuat tenaga, masih gemetaran namun akhirnya mencapai mulutnya dan satu suapan berhasil meskipun kesusahan.
Makanan yang dibawa Diandra sederhana, ada udang windu dan juga ikan gurame bakar. Cukup membuat lidah bergoyang dan perut langsung memanggil, sekali lagi Adam mencoba memakannya namun kali ini tiba-tiba tangannya seolah agak lemah, satu sendok itu jatuh dan terburai.
Adam berusaha mengambil sendoknya yang jatuh di kursi, ”Maafkan saya..., aku membuat makan siangmu tak nyaman.”
Diandra langsung mengambil sendok itu duluan dan menyingkirkannya di belakangnya, ”Siang kini, biarlah aku menyuapimu. Aku adalah sahabatmu bukan? Berkat kamu aku mengenal indahnya dunia ini yang penuh warna,” senyuman Diandra tak bisa membuat bibir Adam bergerak, dia manut dan tak bisa menolak.
Tangan Diandra pun bergerak mengambil nasi dan lauk udang yang kecil sudah dipotongnya dan menjulurkannya kearah bibir Adam. Adam pun membuka mulutnya dan memakannya pelahan.
Diandra sangat bahagia kali ini, matanya terlihat berbinar melihat Adam yang mau makan dari suapannya. Tak menyangka, bahwa lelaki itu yang dulu hanya terbaring bertahun-tahun kini mau makan dan pulih. Seperti dirinya, dari kecil tak bisa melihat dan kini matanya bisa melihat apapun yang dia inginkan.
”Kau kasihan padaku Diandra?”
Pertanyaan Adam barusan dan tiba-tiba mengagetkan Diandra. Dia sendiri bingung hendak mengatakan apa, bahkan bibirnya kelu dan tak bisa menjawab pertanyaan itu sangat lama, terdiam dan seolah membiarkan pertanyaan itu pergi begitu saja diterpa angin dan tak usah didengar lagi.
”Apakah kamu ingin membalas budi padaku semata?”
Pertanyaan kedua Adam juga membuat Diandra tak lagi bisa diam saja. Bibirnya masih kelu, entah apa yang ada dalam dirinya sendiri. Dia bingung mau mengatakan apa-apa, dia ingin berucap tapi takut berbohong. Namun, kejujurannya juga dia tak bisa memahami dengan apa yang diperbuatnya.
”Adam...” mata Diandra menatap kedua mata Adam, ”Aku tak bisa menjawab semua pertanyaanmu sekarang. Aku tak bisa menjawabnya sendiri karena itu juga pertanyaan yang sedang aku tanyakan pada diriku sendiri. Beri aku waktu, kali ini semua yang kulakukan adalah atas gerak ragaku sendiri. Aku sendiri belum bisa memahami apa yang aku lakukan.
Mungkin, suatu hari aku akan menemukan jawabannya. Setelah aku menemukan jawabannya, aku akan memberitahumu.”
Keduanya diam lagi. Namun, Diandra segera dapat menguasai dirinya dan mengambil beberapa makanan lagi dan menyuapi Adam. Adam pun tak bertanya lagi, dia pun memakan suapan yang diberikan Diandra. Hingga tanpa sadar dia memakan makanan yang cukup banyak hingga perutnya terasa kenyang.
Dulu, dia hanya disuapi ibunya barang tiga suap dan biasanya Adam tak mau makan lagi. Perutnya sangat kecil sekarang, tulangnya pun menonjol terlihat. Jadi, memakan makanan yang tiba-tiba banyak tentu membuat perutnya terasa sebah dan kembung karena tak biasanya makan cukup banyak.
”Cukup Diandra. Perutku sangat kenyang!”
Diandra pun tertawa kecil, ”Benar juga, perutmu belum terbiasa makan banyak jadi sedikit saja berlebih pasti kenyang. Itu wadahnya sudah menyusut sangat kecil jadi harus membiasakan lagi makan banyak Adam.”
Ah! Bisa saja Diandra, tapi hal itu membuat Adam juga ikut tersenyum, ”Baiklah, kita bertemu lagi Ahad depan. Kita akan membahas bagaimana bisnis akan dimulai.”
”Tentu saja!”
Keduanya pun tersenyum, mereka kembali menatap Danau Kenanga. Sungguh, danau yang memiliki kenangan sangat banyak bagi Adam, tentu saja bagi Diandra juga merupakan kisah hidup pertamanya bisa bersama seorang lelaki. Mungkin, ada pengalaman baru dimana dia merasa nyaman kepada sosok lawan jenis, mungkin juga ada yang tumbuh diantara hatinya yaitu bibit cinta.
Diandra sendiri tak paham hal itu, karena baginya ini merupakan hal baru dari hidupnya. Dia adalah bayi yang tiba-tiba langsung dewasa. Pengalamannya secara praktek belum ada, kecuali ilmu yang selalu dipelajarinya dari Ibunya dan keluarganya.
Selain itu, Diandra tak mengetahui betapa dunia ini begitu luas.
”Ayo Adam kita pulang, hari sebentar lagi dhuhur ini.”
”Iya, tunggu sebentar,” Adam berdiri dan mendekati bibir danau, dia melihat sejenak kearah danau dan angin menerpa tubuh dan rambutnya. Sementara, agak jauh Diandra melihatnya, angin juga menerpa rambutnya.
Adam diam sejenak menghadap kearah Danau Kenanga, dalam batinnya dia berkata, ”Naura..., selamat tinggal. Aku akan memulai hari baruku, berbahagialah engkau disana. Aku tak pernah menyalahkanmu tentang semua ini, karena ini memang jalan dari Tuhan untuk kita.
Aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu. Dan aku, entah kenapa masih memikirkanmu. Doakan aku semoga aku juga bisa melupakanmu, karena aku butuh kekuatan baru untuk menjalani hari-hariku. Selamat tinggal Naura.”
Meski tak bersuara, Diandra merasa bahwa itu salam perpisahan dari Adam untuk Naura. Adam pun berbalik ke arah Diandra dan berjalan mulai meninggalkan Danau Kenanga tempat kenangan terindah antara Adam dan Diandra.
”Ayo pulang Diandra.”
Keduanya saling tersenyum dan meninggalkan danau, angin terus bergerak dan cipak air masih terlihat. Mendung berarak dan langit masih biru, hari baru pun telah tiba.