Naura

27. Diandra Tersipu Malu

Syarif menjalankan bisnis dari uang yang Adam miliki, tokonya cukup besar sehingga dapat menampung kelengkapan bahan bangunan yang diperjualbelikan. Modal yang digunakan Syarif hingga Rp 5 Miliar, dan Adam tak peduli hal itu. Soal kerjasama, Adam hanya meminta 20 persen dari keuntungan, itu artinya seperti usaha amal saja bagi Adam.

Sedangkan bagi Syarif, itu adalah mata pencahariannya. Dia memang belum bekerja, selama ini dia terus-terusan membantu Adam dan Ibunya. Tuhan memang Adil, kini setidaknya Syarif menjadi seorang manajer bagi toko yang sangat besar menurutnya. Tak pernah terpikirkan bisa bekerja bahkan menjadi Bos di toko sebesar itu.

Syarif merasa bersyukur dengan semua yang didapatkannya, seorang manusia yang beryukur sebenarnya adalah manusia paling kaya di seluruh dunia. Tak terbayang dia akan mendapatkan sesuatu yang bahkan tidak pernah terpikirkan olehnya. Dia bahkan hanya terpikir menjadi seorang pekerja di pasar atau kuli, tapi kini dia harus membawahi beberapa orang karena tokonya sekarang sangat ramai.

Soal apapun yang terjadi di toko bangunan itu, Adam menyerahkan segalanya pada Syarif. Katanya, Syarif pasti bisa menjalankan tugasnya dengan baik karena Adam sudah sangat mengenal dengan baik sosok Syarif.

Adam juga mengatakan bahwa semua manajemen dan segala bentuk jual beli maupun stok barang semuanya diserahkan sepenuhnya pada Syarif. Syarif pun paham akan Adam sehingga dia harus fokus untuk menjalankan bisnis toko bangunan itu dengan baik. Selain itu, itu adalah hadiah untuk keluarganya nanti karena dia sekarang tidak menganggur karena beberapa hari ini dia akan menikahi Aisyah.

Adam tak mau ikut campur apapun soal toko bangunan itu, dia percaya sepenuhnya pada kemampuan Syarif. Syarif pun langsung belajar banyak pada pak Fandi dan bagaimana mengatur pegawai dan lain sebagainya. Syarif cepat beradaptasi, namun dia sendiri agak keteteran karena sebentar lagi adalah hari pernikahannya.

Keluarga Aisyah juga sangat menyetujui pernikahan dipercepat, mereka sekarang merasa bahagia karena calon suami Aisyah adalah seorang yang mengurusi toko besar. Mereka dulu agak ragu pada Syarif karena masalah pekerjaan. Orang yang merupakan lulusan pesantren kadang diremehkan karena tak memiliki skil untuk bekerja.

Mereka salah, Syarif sangat cekatan dan usaha toko bangunan pun menjadi sangat ramai. Pernikahan pun dipercepat semenjak khitbah, hanya berkelang 10 hari saja setelah lamaran tersebut. Kini tinggal 3 hari lagi.

Masalah toko bangunan, Syarif menerima saran dari Adam agar mempercayakan beberapa hari pada karyawannya. Tidak usah menjadi beban, mereka pasti bisa membereskan semua hal.

Syarif sendiri kini juga memikirkan Adam. Menurut Syarif, Adam kini lebih memporsir dirinya karena sibuk kesana dan kemari untuk mencari kejelasan soal kepemilikan tanah di sekitaran Danau Kenanga. Entah untuk apa, Adam ingin menghabiskan uangnya untuk membangun usaha dan pariwisata disana.

Tak mau ambil pusing, Syarif yakin Adam akan bisa dan kembali tekun seperti sediakala. Dia pasti sedang memikirkan rencana hebat, tentunya dibantu oleh Diandra yang selalu menyertainya.

Ada masa-masa sulit yang pasti dilalui seseorang, Adam sudah melalui masa-masa sulit itu dan kini dia tengah memulai masa gemilangnya. Roda berputar, Syarif yakin kalau Adam memiliki masa depan yang cerah. Syarif pun turut bahagia melihat sahabatnya  itu kini semangat menjalani hari-harinya.

Kini, Syarif hanya perlu fokus pada pernikahannya. Pernikahan yang sempat tertunda 3 tahun lamanya karena dia ingin bisa fokus menemani Adam. Kini semua terbayar, kebahagiaannya adalah saatnya dipikirkan sekarang. Segala bentuk persiapan, lamaran dan segala macam biaya dalam rangka hari pelaksaan semuanya sudah ditanggung oleh Adam.

Adam sigap menyuruh seseorang untuk mencatat dan menyiapkan segala persiapan pernikahan. Jadi, Syarif hanya perlu bersiap diri saja, jangan sampai grogi saat akad nikah sedang dilaksanakan. Itu pesan Adam.

Tak salah menurut Syarif bahwa Adam adalah sahabat terbaiknya. Susah senang mereka pernah bersama di pesantren dan makan apa saja bersama, oleh karena ini hari pernikahan seolah membawa seseorang dalam kehidupan mereka. Namun, mereka sadar bahwa waktu terus berjalan, setiap orang akan mengalami fase yang berbeda setiap waktu.

Mereka hanya berharap, meskipun segalanya bisa saja berubah dengan kondisi fase setiap umur manusia. Mereka hanya berharap kalau tetap menjadi sahabat baik, bahkan ketika mereka nanti bisa berkumpul di surga.

”Baju pernikahanmu sudah siap Syarif?” Adam bertanya sambil mengunjungi rumah sahabatnya itu, kakinya masih perlahan berjalan dan belum bisa tegak sempurna atau berlari.

”Sudah Adam. Lalu, baju apa yang akan kamu kenakan saat pernikahanku? Bukankah bajumu jelek semua?” Syarif tertawa meledek sahabatnya itu.

”Kamu ini, tenang saja. Diandra sudah mempersiapkan baju terbaik untukku saat di hari pernikahanmu tentunya.”

”Kenapa Diandra yang mempersiapkannya? Apakah kalian juga akan segera menyusul kami ya?” Syarif kembali meledek, Adam hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja.

Syarif hanya ingin mencairkan suasana, dia tak ingin Adam berlama-lama dalam kesendirian. Meskipun terkesan itu langsung ke inti, namun Syarif membawakannya dengan bercanda sehingga suasana dipenuhi senyuman riang dan bukan menyinggung perasaan Adam.

Namun, di sisi lain dari arah mereka. Ada Diandra yang tanpa sadar mendengarkan hal itu, dadanya berdegub kencang dan wajahnya pun menjadi kemerahan. Dia segera pergi dari sana, takut ketahuan kalau wajahnya menjadi malu memerah.

”Kamu itu Syarif. Aku belum terpikirkan untuk menikah sementara waktu ini. Aku ingin menyembuhkan lukaku dulu dan bisa bermanfaat bagi orang banyak Syarif. Ingat, kamu jangan singgung masalah itu lagi ya.”

Syarif langsung paham, ”Baiklah Sahabatku, terserah kamu mau menikah kapan dan dengan siapa. Aku hanya akan mendukungmu saja,” Syarif pun menepuk pundak kanan sahabatnya itu. Tubuhnya kini mulai terisi, memang masih terlihat tulang menonjol namun Adam sudah mulai terlihat bercahaya wajahnya dan tidak pucat lagi.

Adam juga paham bahwa Syarif hanya bercanda dan saking bahagianya bisa berbincang dengannya lagi. Dulu, sudah sangat lama sekali Syarif hanya bicara sendiri meskipun bersama Adam. Seolah, Syarif sedang berbincang dengan sebatang pohon yang diam saja mendengarkannya.

Pengobatan yang dulu membuat orang ramai ke rumah Adam kini sudah tidak ada lagi. Semua orang memahaminya karena Adam sudah sembuh dari sakitnya dan dia tak lagi meneteskan airmatanya seperti dulu saat pesakitan dan berada di kamar hanya untuk menetapi luka cintanya.

Selain itu, di rumah Adam tidak pernah lagi ada orang berobat untuk airmata Adam. Tutup dan tak melayani kembali, karena Adam sudah pulih dan tak akan membantu siapapun yang datang untuk pengobatan. Orang yang terlanjur datang diminta Adam untuk berobat ke medis. Meskipun kecewa, Adam mendoakan orang tersebut agar diberi kesembuhan dengan baik dan cepat.

Lama-kelamaan tak ada lagi isu soal airmata Phoenix dan itu seolah sirna dengan sendirinya. Seperti hujan yang sudah berhenti dan cerah menyapa kembali.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!