Naura
29. Kehadiranmu itu Penting
Ahad tiba, entah kenapa Diandra begitu berbunga-bunga. Persiapan pagi ini sudah lengkap, Diandra menenteng tasnya. Bi Jamilah pun tak lupa diajak, Diandra sebenarnya ingin pergi sendiri dan tak merepotkan. Tapi, kedua orangtuanya meminta Diandra tetap ditemani, hal ini karena mereka terlalu sayang pada Diandra. Jadilah bi Jamilah ikut.
Mereka tiba di desa tempat Adam siang harinya. Saat mereka ke rumah Adam, Adam tak ada dan sudah pergi ke Danau Kenanga. Bi Jamilah pun tinggal di rumah membantu bu Halimah.
Diandra berangkat sendiri, ada motor baru di rumah Adam sedangkan Adam mengendarai motor lamanya. Hati Diandra semakin berbunga-bunga menuju Danau Kenanga. Apakah ini juga yang dirasakan Adam ketika dia sedang terbuai dengan cintanya pada Naura?
Bagi Diandra sendiri, Adam adalah lelaki pertama orang yang bukan keluarganya yang mampu menempati hatinya. Bukan karena wajahnya, tapi karena karakter dan kemauan keras dan kesungguhannya.
Perjalanan itu semakin membuat hati Diandra bergetar, hingga dia menghentikan motornya dan sampai di pohon yang di bawahnya ada Adam tengah menulis sesuatu dalam kertas. Adam menghadap danau dan memegang pena sambil beberapa kali kepalanya terangkat dan memandang air, sepertinya mencari inspirasi.
Diandra perlahan berjalan, ingin memberi kejutan pada Adam. Perlahan dan perlahan, semakin dekat hingga 5 meter. Dia tak mau menciptakan suara apapun termasuk menghindari menginjak daun kering sehingga langkahnya benar-benar tak terdengar.
”Kau pikir aku tak menyadarimu Diandra?” suara Adam terdengar oleh Diandra, meskipun Adam tak menoleh sama sekali namun Diandra paham kalau dia sudah ketahuan. Tapi, Diandra sendiri heran kenapa Adam bisa mengetahui kehadirannya padahal dia sudah menyembunyikan dirinya dengan baik.
”Oya Adam,” Diandra pun berjingkat mendekati Adam, dia berjalan dan duduk langsung di sebelah Adam, ”Darimana kamu tahu kalau aku sudah hadir? Bukankah aku sudah menyembunyikan kehadiranku dengan baik?”
Adam pun menghentikan pandangannya ke danau dan menoleh kearah Diandra, ”Karena...” tiba-tiba saja, ucapan Adam berhenti begitu saja. Entah kenapa, pandangannya terpaku begitu saja pada wajah indah di hadapannya itu. Mata lentik dan tampilan Diandra benar-benar membuat Adam terkejut dan terkesima.
Benar, Diandra membuat kejutan. Dia menutupi rambutnya dengan kerudung biru muda. Rambutnya tak lagi tergerai karena angin kencang di pinggir danau. Rambut sebagai mahkotanya kini tergantikan dengan selendang keabadian nan indah mempesona. Wajah Diandra terlihat bercahaya, Adam pun tersenyum dan tak meneruskan ucapannya tadi.
”Apakah aku cantik Adam?” Diandra penasaran dan bertanya pada Adam.
Adam diam sejenak, ”Sungguh Diandra, semua makhluk di seluruh bumi ini akan menjawab sama kalau kamu itu memang cantik dan bahkan seperti bidadari. Kenapa kau tanyakan pertanyaan yang seharusnya tak usah kau tanyakan?”
Diandra hanya menggelengkan kepalanya, ”Kami ini Adam, memang dirimu ini tidak bisa merayu perempuan. Perempuan itu suka dengan kata-kata manis tapi kamu katanya pujangga kenapa kamu datar saja pada perempuan?”
Adam tertawa saja mendengar jawaban Diandra, semakin sewot dia Diandra terlihat semakin manja dan menarik. Mungkin itulah seorang wanita, mampu meluluhkan lelaki dan membuatnya bisa jatuh. Godaan seorang lelaki memang adalah seorang wanita, dengan wanita lelaki bisa menjadi mulia atau sebaliknya menjadi hina jika dia menjadi budak cinta.
Adam berdiri dan melangkah dua langkah menuju pinggir danau, dia menatap aliran air yang tenang, ”Ingatlah Diandra, tak semua lelaki itu sama. Seperti langit yang kadang berubah cerah dan kadang berubah mendung. Selalu ada dua sisi, kebanyakan lelaki menyerah berjuang sebagai lelaki sejati. Mereka menyerah dan menjadi budak atas wanita dan cinta. Sedangkan aku, memilih untuk berjuang menahan diriku dari godaan wanita hingga bagiku kesucian adalah segalanya bagi seorang lelaki maupun perempuan yang belum menikah.”
Kata-kata Adam ini memang benar. Diandra belajar psikologi manusia, kini di zaman modern ini. Memang banyak lelaki maupun perempuan yang hanya mementingkan nafsu mereka dan cinta belakangan. Cinta seolah jadi kambinghitam pada nafsu mereka.
”Oke Oke pak Kyai, sekarang kembali ke topik masalah kita tadi. Darimana kamu tahu kalau aku datang padahal kamu tidak melihatku. Katakan dengan jujur, kalau tidak aku tak akan bisa tidur nyenyak malam ini.”
Ada ada saja, Adam pun tertawa lagi.
”Kamu itu seperti malaikat yang datang..., kehadiranmu cukup besar untuk dapat menghilangkan kehadiran yang lain. Jadi, meskipun kamu menyembunyikan diri, aku akan menemukanmu Diandra.”
Kali ini, pipi Diandra benar-benar memerah. Dia benar benar tersipu malu. Kali ini dia dirayu oleh Adam.
”Kamu sekarang merayuku Adam. Apakah kau juga begitu pada Naura dulu? Apa kau juga suka merayunya?”
Pertanyaan Diandra itu tiba-tiba keluar, rasa penasaran Diandra muncul lagi dan tentu saja waktunya mungkin tak tepat.
”Maafkan aku Adam, aku tak bermaksud...”
”Tidak apa-apa Diandra. Itu adalah kisah dahulu, kalau tidak begitu aku juga tidak akan bertemu dengamu. Semua adalah garis takdir yang sudah ditetapkan untuk kita, sekarang tinggal bagaimana kita menjalani detik ini dan hari ini. Iya kan Diandra?” Adam tersenyum menatap Diandra.
Diandra pun tersenyum, ”Benar juga apa yang kamu katakan Adam. Kalau tak begitu, kita tak akan bertemu. Dan, kenapa kamu bisa begitu yakin memotivasi orang lain dengan menjalani yang terbaik saat ini juga. Lalu..., apa saja yang sudah kamu kerjakan selama seminggu ini? Katakan padaku.”
Diandra menantang Adam, dia sendiri sudah menyiapkan beberapa maping usaha yang siap dengan diskusi bersama kakaknya, Elfan. Jadi, dia yakin sudah banyak mengerjakan sesuatu.
”Baiklah, baiklah...” Adam pun kembali duduk dan memperlihatkan kertas lembaran yang cukup banyak. Bahkan terlihat sangat banyak dengan diklip dan ditandai, Diandra sampai terbengong melihat banyaknya kertas, apa saja yang dipersiapkan orang ini?
”Kamu membuat apa dengan kertas sebanyak ini Adam? Aku mau membacanya saja sudah pusing duluan.”
”Ha... Ha... Ha...” Adam tertawa lepas membuat wajah cemberut Diandra kembali terlihat. Wajah seorang wanita yang sedang cemberut itu memang terlihat menyenangkan bagi lelaki, tak beda juga dengan pandangan Adam. Saat wanita tengah sewot dan cemberut, saat itulah seolah lelaki menjadi sangat bahagia karena wanita yang cemberut artinya mereka butuh perhatian dan hanya lelakilah yang bisa menenangkan mereka.
Adam pun menunjukkan satu-persatu kertas itu. Dari awal bahwa map lokasi dari setiap orang yang berjumlah tujuh orang sebagai pemilik yang blok di seluruh pinggiran Danau Kenanga itu sudah diselesaikan dan bisa menjadi milik Adam. Jumlah totalnya ada 30 Hektar, dan itu sangat luas dan blok dalam satu tempat dan tidak terpencil berlengka. Semuanya jadi satu tempat dan bisa dibebaskan.
Untuk urusan uang, Adam benar-benar menghabiskan uang tabungannya kecuali hanya sisa sedikit saja. Mungkin, hanya tersisa sekitar 100 juta dari tabungan Adam selama ini yang orang berikan sebagai hadiah dari obat airmatanya.
Adam pun sudah meminta izin pada Ibunya, dan bu Halimah setuju saja demi semua kebahagiaan dan keinginan Adam dia tak peduli dengan uang itu. Perjalanan semakin mudah selanjutnya bagi Adam dan Diandra.
Adam kembali membuka kertas yang lain, setelah semua bisa dibebaskan. Adam menunjukkan map usaha yang sudah dirancangnya dengan gambar bangunan dan sketsa. Ada gambar tentang sebuah kamp atau kampung bahasa yang dijadikan anak-anak maupun dewasa untuk belajar bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan bahasa Arab. Kamp itu seluas setengah hektar di sebelah kiri sebelum Danau Kenanga.
Selain kamp bahasa, Adam juga menunjukkan gambar berupa hotel dengan konstruksi seperti green construction, atau konstruksi bangunan alam. Orang yang menginap disana bisa menikmati suasana culture yang baik sehingga akan mendapatkan inspirasi atau ketenangan dari penatnya pekerjaan yang dijalaninya sehari-hari.
Adam menata kalau hotel itu adalah hotel syariah, dimana pasangan yang mau menginap harus menunjukkan kalau mereka pasangan suami isteri.
Adam juga menunjukkan potensi alam yang bisa dijadikan pariwisata, berupa pemancingan alam liar. Nanti akan dibuatkan gazebo atau tempat teduh untuk masing-masing orang yang ingin memancing di danau.
Masjid kecil juga akan dibangun di sekitar danau. Di tempat lain dari yang sudah dibebaskan Adam juga pasti ke depannya akan dibuat perumahan karena ketika melihat map yang dibuat maka mereka akan mendekati tempat yang nyaman untuk tempat tinggal. Mungkin, Adam akan memulainya dari usulan Diandra bahwa sekitar dua hektar akan dijadikan perumahan yang dibuat minimalis dengan harapan mereka akan menjadi penghuni awal dan dapat menarik perhatian sebagai bahan juga untuk promosi gratis.
Data mereka saling bertemu, usulan Diandra juga dituangkan berupa pembangunan pariwisata anak yaitu water bomb, juga ada pariwisata bunga yang lengkap sehingga orang akan datang dan berfoto selfie ria dan akan dijual bibit bunga dan bibit buah disana.
Diandra juga menyebutkan mini mall yang siap dibangun, juga dengan tempat olahraga semi tertutup sehingga orang akan datang untuk berolahraga. Ada juga pembangunan gedung serba guna yang bisa dimanfaatkan disewa untuk acara pernikahan dan lain sebagainya.
Untuk danau sendiri akan dibuatkan kapal untuk mereka yang mau berkeliling di air dan juga ada pasar di tengah danau.
Sekali lagi, Adam terpukau dengan banyaknya ide brilian dari Diandra. Namun sayangnya, Adam sekarang termenung sedikit. Masalah uang pembangunan tentunya, dia sudah habis untuk pembebasan lahan.
”Tenang saja Adam. Aku sudah memberitahumu bukan kalau kamu mengurusi tanah dan aku yang mengurusi sisanya.”
”Tapi...,” Adam tahu bahwa usaha ini tidak bisa mengutamakan profit semata, melainkan untuk jangka panjang dan pariwisata untuk melayani banyak orang dan juga tentu saja membuat inspirasi bahwa Danau Kenanga adalah tempat yang indah.
”Sudah kubilang tenang saja. Kita akan bekerjasama membuat tempat ini menjadi objek wisata dan objek usaha. Basisnya adalah melayani orang lain dan tentu saja berbagi kebahagiaan kepada sesama.”
Mereka pun saling tersenyum, deal! Mereka sudah sepakat akan kerjasama ini. Ini juga menjadi proyek besar bagi Diandra, sebelumnya dia sudah meminta izin pada Ayahnya dan Ayahnya sangat setuju. Berapapun uang untuk segala sesuatunya, akan Hamid sediakan. Tentu saja, Hamid akan menyediakan konsultan khusus demi agar rencana mereka berjalan semestinya.
Keduanya tersenyum lalu menghadap keindahan Danau Kenanga, airnya yang jernih dan ditimpali angin segar membuat keduanya bahagia.
”Adam, akan kita namai apa tempat ini nanti?”
Benar saja, Adam baru terpikirkan setelah ditanya Diandra barusan. Nama harus melekat pada semua hal yang akan mereka usahakan, semuanya akan menjadi satu manajemen dengan segala perniknya.
”Kamu punya usulan Diandra?”
Diandra menatap Adam yang masih menatap Danau Kenanga, ”Aku akan mengikuti nama yang kamu buat Adam. Tak peduli nama apapun yang kau buat, bahkan ketika kamu membuat nama Naura sekalipun.”
Adam agak kaget dan melihat wajah Diandra. Sungguh wanita yang mulia, ujung jilbabnya tertiup angin sepoi. Adam pun berbalik menatap danau, kesegeran melingkupinya dan matanya menjadi penuh dengan keindahan.
”Baiklah, bagaimana kalau kita menamainya Mata Air Surga.”
Semilir angin kembali menerpa mereka, anginnya cukup kencang di siang hari.
”Nama yang bagus, ayo persiapkan segalanya. Kita mulai dengan promosi dan persiapan pembangunan. Aku akan meminta uang ditransfer esok hari, dan pasti konsultan akan datang dari ibukota yang dikirim ayahku. Kita akan membangun Mata Air Surga di sini Adam!”
Pandangan mereka bertemu, ada senyuman yang saling tersungging.
Memang benar Diandra, kehadiranmu adalah hadiah dari Tuhan. Dan, itu sangat penting bagiku. Aku setidaknya akan bangkit demi siapapun yang percaya padaku. Namun, untuk urusan cinta atau apapun itu soal keluarga, aku belum memikirkannya. Itu yang menjadi isyarat lirih di hati Adam.
Begitupun dengan Diandra, dia tak peduli bagaimana perasaan Adam. Hanya saja, rasa nyaman berada di dekatnya sudah cukup untuk membuat hatinya menjadi tenteram.
Kisah mereka akan bergulir pada akhirnya, entah bagaimana ending kisah mereka. Mereka hanya percaya untuk menjalaninya saja dengan penuh kesungguhan dan kesabaran. Biarlah, takdir yang akan menjawab segala urusan mereka nantinya.
***
Esok harinya, pembangunan mulai dilaksanakan. Beberapa pekerja dari desa dimana Adam tinggal mulai bekerja. Membersihkan area yang harus dibersihkan karena akan terkena proyek pembangunan bangunan.
Untuk yang akan diperlukan untuk penghijauan maka ada yang tak ditebang pohonnya. Pohon-pohon ditebang, lubang ditutup dan persiapan lahan harus dipercepat untuk proses mapping selanjutnya.
Batu bata mulai datang, dan bahan-bahan bangunan berupa besi dan lain sebagainya didatangkan dari toko milik Adam sendiri yang dikelola Syarif. Syarif bahkan sampai ikut mengirimkan barang yang dipesan Adam. Dia ingin meninjau langsung bagaimana mega proyek yang akan dibuat Adam dan Diandra.
Meski besok adalah hari pernikahan Syarif, dia masih tak peduli. Pernikahan sudah diatur dan ditetapkan, toh dia harus tetap bekerja kecuali besok. Adam pun memarahinya agar tetap di rumah saja, namanya juga Syarif mana dia peduli.
Syarif meninjau mulai dari pemerataan lahan, mesin eksapator sudah bekerja meratakan tanah agar rata. Dan, keindahan Danau Kenanga tidak akan dijamah kecuali hanya ditambahi untuk keindahan semata untuk membuat orang betah berada disana.
”Proyek Mata Air Surga.”
Syarif membaca banner besar yang dipasang di depan pintu masuk semua lahan yang dibebaskan Adam. Syarif tersenyum melihat itu, ini pasti akan hebat pada akhirnya. Karena, dia percaya bahwa Adam adalah seorang yang ulet dan tekun, dan itu terjawab kembali sekarang setelah masa sakitnya.
”Adam, aku pamit dulu ya. Ingatlah satu hal, jangan berlebihan tetap jaga kesehatanmu,” Syarif pamitan dan bersiap hendak naik mobil angkutan yang baru menurunkan barang pesanan dari Toko Bangunannya.
”Iya Syarif. Kami hati-hati, langsung pulang ke rumah. Kami akan datang besok di hari bahagiamu.”
”Oke Adam,” Syarif mulai menaiki mobil, dia ingat sesuatu, ”Oya Diandra!” Syarif menengok kearah Diandra yang berada di dekat Adam.
”Ada apa Syarif?” Jilbab merah mudanya berkibar di ujungnya, wajahnya yang bersih dan putih ditimpali sinar mentari. Namun, dia memakai topi besar yang menutupi wajahnya dari sinar matahari.
”Tolong jaga Adam untukku. Dia orangnya susah dibilangin kalau sudah fokus pada pekerjaannya. Kadang dia lupa makan!”
Diandra tersenyum pada Syarif, ”Kamu tenang saja Syarif! Aku akan menggantikan Ibunya. Kalau tak mau makan, akan aku suapi dia!”
Syarif tertawa cekikikan, ”Baiklah, aku pulang dulu. Proyek Mata Air Surga ini harus berhasil! Aku percaya pada kalian!”
Syarif pergi dengan mobil angkutan itu, dia di samping sang sopir. Seperginya Syarif, Adam dan Diandra kembali mengawasi para pekerja, mereka mengawasi dan memberi arahan agar pembersihan lahan sesuai dengan mapping bangunan yang akan dibangun nanti.
Hari makin panas, istirahat hampir tiba. Adam pun mengajak Diandra pulang sebentar untuk shalat dan makan siang di rumah saja.