Naura
31. Pertemuan yang Tidak Diduga
Naura termenung di ruang tamunya, entah kenapa akhir-akhir ini pikirannya seolah semrawut semenjak suaminya menikah dengan sekretarisnya, Firla. Sudah 5 bulan yang lalu dirinya menjadi istri tua, namun belum sekalipun Sandi pulang untuk memberikannya nafkah lahir. Dia lebih memilih bersama istri mudanya setiap saat karena kecantikan dan gaya isteri keduanya.
Naura seolah ditinggalkan, suaminya kadang pulang namun hanya sekedar mengambil baju atau ada keperluan rumah lainnya. Selain itu, dia akan berada di rumah isteri keduanya.
Naura merasa kini seperti burung dalam sangkar. Setiap kali suaminya pulang, dia ingin berbicara bahwa dirinya sudah menerima kalau suaminya menikah lagi. Namun, jangan acuhkan dirinya dan jadikan dirinya isteri seperti sebelumnya. Namun, Adam malah marah dan tak peduli. Dia mengatakan akan tidur di rumah Firla saja yang mengerti akan dirinya.
Lalu, apakah dirinya tidak semengerti Firla? Bukahkah selama ini dia sudah menjadi isteri yang selalu menerima apapun yang dilakukan suaminya bahkan ketika suaminya selalu pulang malam entah kemana bahkan terkadang pagi baru pulang. Naura selalu sabar, namun dia masih dibilang kurang mengerti?
Entahlah, kini Naura seperti seorang yang terpenjara.
Naura kini jadi teringat Adam. Adam yang sudah dikhianati cintanya, apakah kini yang sedang dilakukannya? Perasaan indah dulu saat dirinya selalu bersamanya setiap Ahad di Danau Kenanga selalu teringat kembali.
Semoga engkau bahagia Adam. Apalagi, seorang wanita cantik bahkan mencintaimu yaitu Diandra. Itulah yang kini dipikirkan Naura, entah kenapa masih ada cemburu. Naura langsung melupakan hal itu, kini dirinya adalah isteri dari Sandi dan dia harus bisa menghilangkan semua perasaannya pada Adam.
Naura entah kenapa hari ini merasa bosan. Dia sangat ingin keluar rumah, dia pun sesekali menghirup udara bebas dan mencari tempat untuk refreshing. Tidak ada yang lain kecuali ke Danau Kenanga.
Itu adalah tempat terindah menurutnya di dunia ini.
Naura pun bersiap. Dia memakai baju gaun panjang terbaik dan mengenakan kerudung putihnya. Dia bersiap-siap dan berpamitan pada bi Fatma untuk pergi keluar mencari udara segar.
Bi Fatma hanya meminta Naura untuk berhati-hari. Benar saja, bi Fatma sangat mengetahui bagaimana perasaan dan hati Naura sekarang. Fatma memahami kalau Naura juga butuh mencari udara segar untuk mengembalikan kepercayaan dirinya dan ketenangannya.
Naura pun bergegas, menaiki motor matic pribadinya. Dia pergi sendiri, ingin rasanya segera mencicipi angin Danau Kenanga yang dulu selalu didatanginya dan bagaimana keadaannya kini? Mungkin, masih sepi seperti dulu dengan perkebunan tak terurus di sekitarnya dan kondisi sepi dan air yang begitu jernihnya.
Sungguh membuat kangen. Naura terus melaju, ingin rasanya segera sampai dan seperti punya sayap yang terbang melanglang buana, dia merasakan angin merasakan alam yang begitu indah. Tak rugi baginya keluar rumah.
***
Adam meninjau pembangunan yang sudah berjalan lima bulan ini. Dia merasa puas, konsultan bangunan dan konsultan bisnis dua orang sekaligus sering datang ke tempat TKP di Danau Kenanga.
Bahkan, kedua konsultan itu puas dengan keindahan Danau. Mereka bahkan di masa depan ingin membeli salah satu properti rumah disana untuk persiapan hari tua atau untuk investasi.
Mereka berdua; Adnan dan Burhan sangat mengapresiasi apa yang dipikirkan oleh Adam karena dalam jangka panjang tempat itu akan sangat ramai dan menjadi aset yang luar biasa. Adam dinilai mampu menciptakan sebuah tempat baru yang belum terjamah menjadi obyek usaha dan pariwisata.
Adam tetap rendah hati, dia menyebutkan kalau itu hanyalah kebetulan dan sharing dengan teman dan juga keluarganya. Apalagi, ditambah ada tambahan yaitu dari nona besar seperti Diandra yang selalu support masalah usaha dan juga permodalannya. Mereka meninjau setiap tempat yang sudah mulai dibangun, terutama kantor pusat atau unit pusat sebagai tempat utama untuk memantau semua tempat.
Tempat itu harus refresentatif dan menyenangkan tentunya.
Ruangan untuk pusat kantor itu dibuat dengan desain mendekati alam atau bahkan seperti di alam. Ada kolam yang mengelilingi, ada hiasan di dalamnya berupa tumbuhan dan juga akuarium. Lalu, untuk penempatan tempat duduk tidak seperti kantor melainkan seperti tempat bermain. Ukiran tembok dengan warna-warni dan juga ukiran. Jadi, orang yang bekerja akan bebas seolah memandangin alam dan pikirannya akan terbuka dan bukan terkungkung dalam ruangan.
Ide brilian, dua konsultan paham maksud Adam dan mempersiapkan konstruksi bagian akhir. Untuk pondasi dan besi sudah terpasang dengan baik, tinggal finishing beberapa bagian. Pekerjaan ini dibuat cepat dengan mendatangkan pekerja ahli dan bangunan.
Adam berpindah ke bangunan untuk hotel yang secara resmi sudah ada plang nama. Perencanaan pembangunan Hotel Surga, manajemennya akan dibuat syariah. Adam meninjau sendirian, sedangkan konsultan yang lain tengah mengunjungi bagian properti untuk perumahan. Adam melihat hotel itu, sudah masuk ke lantai dua pembangunannya. Kemudian, di sekitarnya juga dipersiapkan taman yang akan dipergunakan untuk menanam pepohonan khusus yang ada di Quran, baik itu; Tiin, zaitun, kurma, dan lain sebagainya.
Adam merasa puas, semua sedang bekerja, lahan dibuka dan beberapa pepohonan memang masih ada dan dipersiapkan untuk penghijauan. Sedangkan, yang terkena map pembangunan harus dipotong.
Adam beralih lagi ke tempat perencanaan pembangunan taman bermain, taman bahasa dan taman water bomb. Semua berjalan teratur dan bersamaan. Memiliki rekan seperti Diandra tentu saja berkah, karena memang Diandra adalah orang yang memiliki kekayaan yang tak terhitung jumlahnya.
Panas mulai menyengat. Sepertinya Diandra juga tak terlihat, mungkin di salah satu tempat yang juga mengawasi pembangunan. Biarlah, aku akan ke Danau sebentar untuk istirahat dan melihat air dan merasakan kesejukan angin. Begitu pikir Adam, dia pun menuju kesana.
Sampai juga Adam di danau, masih rindang dan sejuk seperti biasa meskipun kini di seluruh tempat sedang pembangunan dan Adam bisa melihat semua prospek pembangunan dari semua sisi sedang berjalan.
Adam mengambil air putihnya dari balik tas sebelah kirinya. Sedari tadi dia membawa tas punggung kecil. Dia minum sambil duduk memandangi air danau yang indah, seindah dulu dan tak pernah berubah. Danau Kenanga, juga disebut danau surga bagi Adam.
***
Pepohonan hilang? Dan apa ini? Kenapa ada pembangunan di seluruh tempat? Naura keheranan. Dia mau memasuki lahan Danau Kenanga tempat biasanya dia menatap danau bening. Kini lima kilometer sebelum danau ada plang besar dan areal ditutup dengan seng dan material untuk menutupi apa yang di bangun di dalamnya.
Hanya ada plang tertulis pembangunan proyek Mata Air Surga dan juga tulisan sedang ada proyek pembangunan. Hati-hati karena banyak pembangunan.
Naura penasaran dan gelisah. Siapa orang yang sudah membuat semua ini? Lahan yang indah itu akan dibongkar dan dijadikan tempat industri? Naura merasa kehilangan danau itu, itu adalah satu-satunya kenangan bahagia dalam hidupnya. Jika dihancurkan maka?
Hilang pulalah kenangan dan masa depannya. Masa kininya hancur, dan kini masa lalunya yang ingin dikenang pun akan dihancurkan. Ada kesedihan yang siap meluap dari hati Naura.
Naura kini penasaran dengan apa yang ingin dibangun oleh orang yang dipikirannya tak waras. Bagaimana tidak, daerah ini akan disulap menjadi pabrik-pabrikkah? Atau akan dibuat semisal komplek vila bagi orang-orang mewah untuk dapat berlibur dan menikmati hari tua?
Ataukah tempat ini akan dijadikan pabrik besar, seperti pabrik rokok atau pabrik penggilingan bahan seperti baju dan lain-lainnya? Semakin penasaran, Naura semakin ingin masuk dan melihat. Meski tertutup, Naura mengetahui jalan pintas masuk ke dalam sana dan akan menemukan Danau Kenanga dengan tepat.
Ya, dulu Naura sering diajak Adam untuk melewati tempat rahasia itu untuk bisa lebih cepat dan juga melewati beberapa bagian pepohonan sawit dan juga bambu yang rindang. Ada jalan setapak yang memang indah untuk sekedar menikmati kesejukan seperti di tengah hutan.
Naura tak bisa menahan dirinya lagi, Dia menyusuri jalanan setapak yang dulu ditunjukkan Adam padanya. Satu persatu pepohonan dilewati Naura. Masih indah seperti dulu, hanya saja beberapa pohon perdu yang dulu sangat rimbun kini mulai terkurangi dan ada penebangan pada barisan perdu itu.
Namun, sepertinya penebangannya bukan mau merusak, namun ditata. Benar saja, kini perdu lurus keatas seluruhnya. Dulu, selalu ada yang miring bahkan ambruk dan dibiarkan. Kini, perdu itu meskipun tak sebanyak dulu dan sekarang lebih berjarak antara satu bambu dengan bambu yang lain juga tidak ada bambu yang roboh dan merusak suasana pemandangan. Semuanya berdiri tegak lurus dan menjulang.
Keindahan lebih nampak lagi dengan kilauan sinar matahari yang masuk menembus barisan perdu bambu itu. Sesekali sambil melewati jalan setapak, kilauan sinar menabrak wajah kita dan juga sesekali pula tertutupi pepohonan bambu.
Kerlipnya indah sekali, seolah kita sedang melewati lampu kerlap kerlip, bedanya lampunya adalah cahaya matahari.
Naura melewati barisan perdu bambu yang menjulang tinggi hingga mencapai ujungnya. Sebentar lagi dia akan melewati beberapa pohon besar dan akan sampai di tepian Danau Kenanga. Naura berharap saat tiba dan melihat Danau Kenanga maka danau itu masih utuh dan indah. Jangan sampai dibangun bangunan pabrik disana, karena pasti akan tercemar airnya.
Naura kemudian sampai di batas barisan pohon perdu. Benar saja, dia hampir menabrak sebuah tembok besar. Pepohonan yang tinggi menjulang sebelum mencapai danau sudah tiada. Hanya tinggal beberapa pohon kecil saja. Naura menghentikan laju motornya.
Ada beberapa pekerja yang tengah mengaduk semen melihat kearah Naura. Mereka berpikir itu adalah wanita yang biasa mengantar makanan atau snack atau minuman. Namun, kenapa wajahnya berbeda? Begitu pikiran para pekerja tersebut. Mereka pun biasa saja dan melanjutkan pekerjaan mereka.
Naura gemetaran, setelah lama tak mengunjungi tempat ini ternyata sudah banyak perubahan bahkan sudah sangat berbeda dari keindahan yang dulu selalu dibayangkan dalam imajinasinya.
Perlahan, Naura turun dari motornya. Langkahnya agak gontai, kenangannya akan segera musnah melihat semua pembangunan di sekitar danau. Banyak pekerja yang dibagi banyak tim dan membangun di semua sisi. Naura pun terus berjalan melewati kanan dan kiri yang terlihat tembok sedang dibangun.
Naura terus berjalan, melewati lekukan demi lekukan pembangunan dan melewati beberapa pekerja. Sudah rapat dan memang dalam gambaran Naura, ini pasti pembangunan pabrik besar. Naura berjalan terus, dulu di sekitarnya adalah pepohonan besar dan tinggi menjulang.
Rerumputan masih agak tinggi, rerumputan itu pun masih mengingatkan dirinya akan hari-hari dimana dia melangkah dan tangannya menggerai ujung-ujung ilalang. Tangannya terasa teduh kala menyentuh dan menyapa rerumputan ilalang.
Dulu, dia selalu melakukan itu karena ada sensasi seolah berada di surga dan hanya ketenangan yang dirasakannya. Kini, dia pun mengulanginya lagi, karena hanya ilalanglah yang masih tersisa. Bunga putihnya ilalang di ujung rerumputan itu mengesek tangannya yang lembut. Terasa menggelitik namun juga memiliki sensasi seolah dirinya menyatu dengan alam.
Mata Naura terpejam sambil perlahan melangkah. Indahnya dalam imajinasi dapat dirasakan dengan baik seperti seluruhnya adalah kesejukan dan menjalar ke seluruh tubuhnya.
Sudah tak ada lagi pepohonan menjulang. Di depannya, dalah barisan rumput sekira 50 meter menuju danau. Naura belum mau membuka matanya, dia takut akan menemui sesuatu yang akan membuatnya kecewa. Dia ingin tetap seperti dulu, danau indah yang selalu dipandanginya.
Setelah menikah, baru pertama kali ini dia mengunjungi kenangannya itu. Perlahan, Naura kehilangan gesekan pada bunga dan daun ilalang. Sudah berakhirkah ilalang yang tersisa? Jika ilalalng sudah hilang, maka di depan sana adalah tempat duduk dan juga pohon jambu di pinggir danau. Pasti sejuk membayangkannya bisa duduk lagi disana.
Perlahan, Naura membuka matanya. Sekitar 15 meter di depan sana. Pohon jambu masih seperti dulu, tertiup angin dan ada daunnya yang kering berguguran turun. Juga ada kursi yang masih panjang dari kayu. Namun, mata Naura terpaku juga pada sosok yang tengah duduk dan menghadap ke danau. Sosok itu seperti sangat lekat dalam ingatan Naura, hanya saja badannya terlihat kurus.
Apakah itu Adam? Jika dia Adam, kenapa dia ada disini? Apakah dia juga meratapi Danau Kenanga yang akan dibangun pabrik dan menikmati saat-saat terakhirnya menikmati indahnya danau?
Sedetik kemudian, Naura takut untuk melangkah mendekati Adam. Setelah sekian lama, dia yang tega menyakiti dan menghancurkan hidup Adam. Apakah layak dirinya bahkan untuk berbincang, bahkan seucap maaf pun belum diucapkannya semenjak menghancurkan seluruh hidup Adam.
Di satu sisi, ketakutannya bertambah ketika nanti Adam tahu bahwa dirinya disini dan bertemu dengannya. Dia membayangkan bahwa Adam akan marah dengan kehadirannya bahkan bisa jadi balas dendam atas apa yang sudah dia lakukan dulu dan mengkhianati cintanya.
Mereka dulu yang berjanji menjaga kesucian cinta mereka, walaupun apapun yang terjadi bahkan diantara sumpah mereka yang melegenda dalam ingatan mereka adalah mereka tak peduli pada bumi dan langit yang terbelah. Cinta mereka akan abadi dan mereka akan selalu bersama.
Dialah yang menghancurkan janji mereka berdua, bahkan dirinya meninggalkan Adam begitu saja di danau ini. Tempat suci dan sakral bagi mereka, namun dialah yang memutuskan semuanya. Memutuskan jalinan yang sudah terajut, seperti seorang yang susah payah membuat baju dan menjahitnya hingga menjadi utuh sebuah baju namun tiba-tiba memutuskan semua benangnya dan mencerabutnya demikian kasar dan merusak baju tersebut.
Seperti juga, seseorang yang menanam dan merawat sebatang pohon. Menyiraminya dan memberi pupuk setiap hari. Namun, belum juga pohon itu berbuah, orang itu tak sabar dan menarik pohon itu hingga tercerabut ke akar-akarnya.
Seperti itulah umpama dirinya atas Adam. Kini, lelaki yang dihancurkan hidupnya itu berada di depannya. Tak bersuara dan tak bergerak kecuali tengah menatap Danau Kenanga yang jernih. Apakah dirinya kini berani untuk menyapanya, sekedar menyapa bahkan beranikah dirinya meminta maaf atas semua yang sudah dilakukannya?
Meninggalkannya dan memilih bahagia bersama seorang lelaki lain. Demi apa dia meninggalkan Adam? Demi menyelamatkan keluarganya dari kehancuran. Itulah jawaban yang bisa diberikan kala dia harus melakukan itu secara terpaksa. Namun, apakah Adam mau tahu dengan alasannya itu?
Dan kini, semuanya telah berakhir. Hubungan mereka berakhir untuk sebuah cinta, lalu masihkah ada harapan untuk melanjutkan hubungan itu menjadi pertemanan atau persahabatan?
Benar!
Itu adalah sesuatu yang bisa mengobati semua luka dirinya yang selama ini selalu merasa bersalah pada Adam. Dirinya harus berani, harus berani mengatakan maaf dan harus berani menjalin persahabatan setidaknya untuk mengobati setiap penyesalan yang menghantuinya setiap malam.
Naura memberanikan diri, dia mengucap basmallah dalam hati dan bibirnya. Dia perlahan mendekati lelaki itu, tubuhnya memang terlihat lebih kurus dari dulu. Naura mulai mendekat perlahan dan tak mau mengganggu tiba-tiba. Sepertinya, Adam tengah menikmati hawa sejuk danau, mungkin ini perpisahan juga untuk keindahan danau karena akan dibangun industri di tempat ini.
Diantara desing suara besi bertemu besi, dan diantara pukulan demi pukulan para pekerja yang tengah membenahi bangunan dan juga mesin eksavator yang menimbun tanah dan menggalinya. Suara-suara itu beriringan dan bergantian, ditambah kesejukan angin yang menyisa dari desingnya dari arah danau yang jernih.
”Kamu baru datang Naura? Sudah lama ya?”