Naura
33. Apa Dia Berubah?
Naura dan cintanya yang musnah. Naura selalu mempercayai Adam, namun dia yang mengkhianatinya. Adam adalah lelaki yang mulia dan tidak menyimpan dendam sama sekali. Kali ini, dia datang untuk memperjelas permintaan maafnya, dan mereka sudah menjadi orang lain sekarang.
Naura paham akan kenyataan itu.
Selain itu, permasalahan yang terjadi antara dirinya dengan Adam juga sudah berakhir. Rasa bersalah pada Adam seolah selalu menghantui dan mengekang pikirannya sehingga selalu terbayang. Dengan sudah bertemu Adam dan meminta maaf, Naura berharap ketenangan hidupnya akan dapat kembali dan dia bisa melupakan perasaan bersalahnya itu.
”Kau ada disini Naura,” sebuah suara lembut terdengar, suara Diandra. Diandra datang dan mendekati Naura dan Adam.
”A... Aku...” Naura agak terbata ingin menjelaskan kenapa dia disana, dia juga tidak mau Diandra salah paham pada dirinya.
”Naura ingin menikmati indahnya Danau Kenanga, kebetulan pas aku juga disini. Jadi, bergabunglah duduk disini Diandra.”
Penjelasan Adam cukup membantu Naura dalam menjelaskan situasi tersebut. Naura pun jadi bisa bernapas lega dan tak perlu menjelaskan susah-susah.
”Oya Diandra, bagaimana kamu bisa mengenal Naura? Apakah kalian bertemu di suatu tempat?” Adam kini yang merasa keheranan.
”Hm...,” Diandra berkacak pinggang sambil berdiri kemudian duduk di tengah antara Adam dan Naura, namun lebih dekat kearah Naura, ”Kamu kan memang tidak mengenal wanita dengan baik Adam. Tentu saja kami sesama wanita sering ada acara, dan kita bertemu lagi kita ngobrol banyak hal.”
Adam pun manggut-manggut, seolah mengerti meskipun sulit dimengerti, ”Ooo begitu, memang urusan wanita itu terlalu rumit untuk dipahami seorang lelaki ya. Baiklah, baiklah.”
Naura terpesona melihat wajah cantik Diandra berbalut kerudung cerah, tepat sekali perpaduannya dengan wajahnya yang putih. Sinar mentari juga mengenai wajah itu dari sela-sela daun, hal itu menambah rona wajah Diandra semakin memancar.
Naura tak berani bertanya, hanya saja kehadiran dua orang yaitu Adam dan Diandra ke danau pastilahh soal hubungan mereka. Benar saja, danau yang indah ini sebentar lagi akan banyak dirusak manusia. Jadi, menurutnya itu wajah apabila sebelum tempat ini ditutup umum maka Diandra dan Adam berlibur dan menikmati angin sepoi di Danau Kenanga.
Naura dan Diandra mengobrol sangat asyik hingga Adam merasa dipinggirkan. Adam pun menyingkir kearah lain di ujung rindangnya pohon di atas mereka. Juga, agar dirinya tidak mengganggu urusan kedua wanita tersebut. Adam mengerti jika ada dua orang wanita tengah bicara serius maka lelaki hanya akan mengganggu jika mereka nimbrung dalam keasyikan tersebut.
Hari sudah dhuhur, Adam pun mendekati kedua wanita cantik itu. Mereka berdua seperti dua bidadari dengan sayapnya yang indah, tengah mengitari kehidupan Adam. Adam sendiri semenjak bangun dari tidurnya memang merasa seperti dunia ini hanyalah permainan semata. Dia pun lebih ikhlas menjalani hidup dan akan menerima apa saja dengan baik apa yang ditakdirkan Tuhan untuknya.
”Apakah kalian hendak pulang dulu? Aku akan pulang untuk shalat dan makan siang. Naura, jika kau tak keberatan kau bisa mampir ke rumah bersama Diandra. Namun, jika kamu sibuk dan harus pulang maka tak mengapa. Aku pamit dulu,” Adam pamitan duluan, dia melihat keduanya masih asyik mengobrol.
”Kau pulang saja dulu Adam,” senyuman Diandra pun meyakinkan kalau mereka masih betah mengobrol.
”Benar Adam dan maaf aku harus langsung pulang, salam takjimku untuk bu Halimah,” kini, Naura juga memberikan senyuman.
Kedua senyuman wanita itu mampu meluluhkan dunia, apalagi dengan perasaan Adam. Rasa berdebar tiba-tiba muncul begitu saja manakala dua wanita penting dalam hidupnya itu tersenyum semuanya padanya.
”Baiklah..., kalau begitu kalian lanjutkan saja mengobrolnya.”
Adam pun pamit dan berjalan pergi, dia mengambil motornya dan menstater motornya. Dia melaju diantara suara-suara orang tengah membangun proyek Mata Air Surga.
***
”Apa yang beda dari Adam sekarang Naura?” Diandra duduk setelah kepergian Adam dan meminta Naura juga ikut duduk dengan mengkode tangannya ke kursi kayu itu. Naura tak bisa menolak, dia pun ikut duduk di sebelah Diandra. Sepertinya obrolan ini akan penting untuk mereka berdua.
”Dia sudah banyak berubah Diandra,” setelah menatap Diandra dari samping, Naura lalu memandangi danau kembali, ”Kini, dia seperti orang bijak yang bicara, kini dia sudah dewasa di bandingkan beberapa tahun yang lalu. Dulu dia seperti anak-anak yang selalu bersemangat bercerita segala hal. Namun, kini dia lebih bicara hanya sesuatu yang penting dan intinya saja.”
Naura pun membayangkan Adam dahulu dimana Adam selalu bersemangat mengobrol tentang semua hal yang baru. Dan kini, perubahannya adalah kemungkinan Adam sudah memahami seluruh arti kehidupan karena Adam sudah merasakan hidup seperti mati.
”Jika itu yang kamu rasakan maka itu benar Naura,” Diandra mengayunkan kedua kakinya ke depan dan ke belakang bergantian antar kaki kiri dan kanannya, ”Ada banyak hal yang terjadi pada Adam meskipun dia hanya terbaring di pembaringannya. Dia seperti menemukan mutiaranya saat sakitnya dan itulah takdir yang harus dijalani Adam. Aku sendiri terkadang juga bingung ketika berbincang dengannya, dia seperti bukan manusia lagi dan seolah tak punya nafsu dan kemauan seperti manusia. Kecuali yang dilakukannya atas kebaikan orang lain.”
Keduanya masih memandangi danau.
”Oya Diandra..., kau.., begitu cantik memakai kerudung itu. Benar, bahkan jika ada lelaki manapun yang melihatmu mereka akan langsung jatuh cinta padamu dan mereka bisa menjadi buta karena cinta,” Naura menggoda Diandra, tapi tulus dalam hatinya dia melihat kecantikan yang terpancar dari wajah Diandra.
”Ternyata ada juga wanita yang suka ngegombal ya Naura...,” Diandra tertawa kecil namun tawa itu segera hilang manakala dia mengingat Adam, ”Tapi tidak untuk satu lelaki itu, dia biasa saja dan seolah tak memuji diriku.”
Naura penasaran, ”Maksudmu Adam?” Naura melihat wajah Diandra yang kini tersenyum dengan indahnya.
Diandra mengangguk, ”Dia memang berbeda dari kebanyakan lelaki. Dia seperti gunung yang kokoh. Kini, setelah dia bangun dari tudur panjangnya yang selalu dilakukannya adalah kebaikan untuk orang lain dan dia melupakan kebahagiaan dirinya sendiri. Bu Halimah pun mengatakan hal demikian padaku. Bahwa, Adam sudah berbeda, dia sudah seperti seorang yang dewasa pemikirannya.”
Naura memang juga menyadari hal itu, dimana tadi ketika mengobrol dengannya. Seperti ada nuansa keikhlasan dalam diri Adam. Adam tak lagi mempermasalahkan masalah cinta mereka bahkan dia merasa kalau Adam sudah melupakan seluruh masa lalunya dan kini menjadi manusia yang baru.
Awan masih berarak, satu satu mulai ada yang menutupi matahari namun kembali tertiup angin dan pergi lagi hingga matahari berpijar tanpa penutup. Sangat terik dan panas.
”Baiklah Diandra, aku harus pulang. Aku tak mau bi Fatma khawatir kalau aku pergi dan belum pulang-pulang.”
Naura pamitan dengan Diandra, dia mengatakan kalau dia merasa jenuh maka dia akan datang lagi kesini. Di Danau Kenanga. Tentu, jika proyek ini atau pemilik proyek mengizinkannya datang dan menikmati udara sejuk di danau.
Mereka berpisah, Naura pulang ke rumah dan menggunakan motonya sedangkan Diandra juga mengambil motor matic dan pulang dulu ke rumah Adam dan Ibunya.
***
Hembusan debu menampar-nampar wajah Adam. Dia melaju pulang karena ingin bisa sampai di rumah untuk makan siang dan juga shalat dhuhur. Matahari begitu terik, dan nuansa alam begitu indah.
Bangunan yang sudah direncanakan dengan Diandra dalam proses. Pengerjaan yang cepat dan rapi membuat Adam dan Diandra senang. Mereka memang mempekerjakan orang dan dipilih dengan keahlian khusus sehingga tidak asal dalam pembangunan dan juga konstruksinya diawasi oleh konsultan bangunan sehingga apa yang menjadi hasilnya sesuai dengan apa yang dirancang.
Adam sudah merasa cukup melakukan banyak hal. Namun, semenjak siang ini tadi saat dia melihat Naura dari kejauhan dan merasakan kehadirannya. Dia merasa hatinya sempat goyah dan ragu lagi hendak melangkah.
Rasanya, kedua kakinya benar-benar gemetaran. Tak ada yang tahu kecuali dirinya dan Tuhannya. Betapa perasaan mendalam akan cinta pada Naura masih membekas sangat kuat sehingga Adam kesulitan menenangkan diri dan hatinya.
Adam benar-benar kesulitan, Naura datang dari kejauhan dan Adam merasakannya. Langkah demi langkah yang Naura langkahkan membuat jantungnya akan berhenti setiap langkah Naura. Adam benar-benar sekuat tenaga melawan rasa tak berdayanya.
Saat itulah, Adam terbayang wajah Ibunya, Halimah. Wajah tangis ibunya yang selalu merintih tiap malam demi kesembuhan Adam. Derai airmata ibunya itulah yang membuat Adam kuat berpijak. Naura bukan siapa-siapa lagi baginya, sedangkan Ibunya adalah orang yang selalu menjaga dan menangis setiap hari untuknya. Jika dia tak berdaya lagi, maka tangis ibunya akan pecah kembali.
Dan, Adam tak mau itu terjadi lagi.
Dia memejamkan matanya dengan kuat saat itu. Dan, ketika Naura sudah berada dekat di belakangnya kekuatan dari Tuhan muncul untuknya. Aku harus kuat, Adam adalah manusia yang kuat ya Allah. Adam tidak mau lagi menjadi manusia lemah yang kalah karena cinta dan dunia.
Meski gemetaran kedua kaki Adam, Adam meredamnya dan menguatkan pijakan kedua kakinya. Tak ada lagi cinta untukmu Adam, yang ada adalah tawa Ibumu. Begitulah hati Adam menguatkannya. Kakinya semakin kuat berpijak saat itu dan dia pun memberikan diri menyapa Naura sebelum Naura menyapa dirinya.
Motornya terus melaju, Adam bahagia dan tersenyum kini. Kembali pulang ke rumah dan makan makanan ibunya. Ibunya yang selama ini selalu setia bersamanya saat dia hancur, mana mungkin Adam berani menghancukan harapan ibunya sekali lagi hanya karena wanita itu memperlihatkan dirinya.
Ibu, aku adalah Adam. Anak ibu yang kuat!
Rumahnya terlihat, Adam menaruh motornya dan masuk ke rumah. Ibunya, kini adalah segalanya di dunia ini. Tak akan membiarkan dia bersedih lagi, itu azzam dan kesungguhan Adam untuk bangkit.