Naura

41. Aku Memang Bodoh!

Diandra tak habis pikir. Adam yang begitu optimis pada hidupnya, kini seperti orang gila yang terpenjara karena janji. Padahal, Naura sudah menghancurkan janji mereka.

Kenapa ada orang yang sudah disakiti masih berusaha setiap? Bukankah itu seperti orang gila yang dibohongi dengan makanan!

”Apakah kau tak bisa melupakan janjimu itu, jika terus gila seperti itu kau itu sedang menunjukkan kalau dirimu memang budak cinta Adam.”

Nada suara Diandra agak meninggi, mungkin dia tak habis pikir dengan keputusan atau tindakan Adam yang menahan dirinya dari semua hal di luar Naura. Dia memang dalam kondisi fisik sehat saat ini, namun itu sama saja dengan kondisinya dulu dimana dirinya menjadi pesakitan.

”Kamu itu tidak ada bedanya dengan yang pertama kali aku temui. Dimana kamu seperti orang yang koma dan sedih. Disana hanya kamu tak bergerak, ragamu sekarang bisa bergerak tapi pikiran dan hatimu sama saja. Kamu masih sakit Adam!”

Entah kenapa ada sedikit parau dalam suara Diandra. Mungkin dia tak tega melihat kondisi Adam yang terjebak dalam cinta yang semu. Meski tak lagi dicintai dan dikhianati namun dia masih saja terus berpikir untuk tidak mencoba membuka hati pada orang lain.

Dengan alasan janji lama cintanya. Kisah cinta apa ini? Belum pernah mungkin ada kisah cinta aneh dengan penuh kenangan yang menghancurkan dirinya sendiri. Jika demikian, bisa saja Naura akan senang di ujung sana jika melihat ini. Orang yang dizaliminya masih saja mengharapkannya.

Sumpah macam apa ini?

”Kamu marah seperti apapun Diandra, semua itu tak bisa mengubah masa lalu. Masa lalu yang pernah aku lakukan aku sendiri tak bisa mengubahnya. Janji tetaplah janji, jika Naura berkhianat dan aku juga mengkhianatinya maka siapa lagi di dunia ini yang mau menetapi janjinya?”

Angin cukup kencang menerpa mereka. Diandra sudah habis cara dan bicara bagaimana sikap Adam terhadap janjinya itu kepada Naura, mungkin Adam memang korban dari cinta yang menjerumuskannya pada janji manis pernikahan. Dulu, mungkin dia berharap terlalu berlebihan pada Naura dan memang menyangka tanpa keraguan bahwa Naura akan menjadi miliknya.

Cintanya seolah ada dalam kisah dongeng cinta yang tak mungkin ada perpisahan. Dia seperti belum menerima kenyataan hingga sekarang.

”Terakhir Adam, apakah kamu sebenarnya belum ikhlas pada kenyataan bahwa Naura memang bukan untukmu? Apakah kamu sebenarnya tidak bisa melupakannya?” jilbab Diandra sudah kering sekarang, ujungnya diterpa angin sehingga berkibar perlahan dan membuat wajahnya semakin putih terlihat dan lebih memesona.

Adam melihat wajah Diandra, jika mau jujur mungkin wajah Diandra lebih cantik dari Naura, ”Bukan berarti aku belum ikhlas pada kenyataan dimana Naura bukan untukku Diandra. Atau aku masih mengharapkan dan mencintainya semata hingga kini. Ini benar-benar soal janji yang aku ucapkan. Aku ingin menetapi janji itu karena aku sudah berjanji kepada Allah tuhanku. Jika aku mengkhianati janji itu maka bagaimana aku nanti berhadapan dengan Tuhanku!”

Kali ini, Diandra merasa bahwa Adam benar-benar terjebak dalam janji cintanya. Selain itu, kata – kata Adam memang saat ini penuh ketulusan dan jauh dari kebohongan. Diandra yakin bahwa Adam berkata sebenar – benarnya.

”Baiklah Adam, itu cukup. Kini aku mengerti dengan semua yang kamu alami. Pertanyaan terakhir. Dan maafkan aku jika aku lancang padamu. Apakah kamu mempunyai perasaan padaku?”

Suara Diandra melemah pada ujung perkataannya, dia ingin menegaskan apa yang akan diucapkan dan apa yang ada di dalam hati Adam pada perasaannya. Dan, Diandra benar – benar menunggu apa jawaban Adam kali ini soal perasaan Adam kepadanya.

Baju Adam sendiri sudah sempurna kering, berarti sudah cukup lama dirinya berbicara empat mata pada Diandra. Mungkin, segalanya memang harus diakhiri hingga di kemudian hari tidak ada lagi hati yang tersakiti oleh sebuah cinta antara Adam dan Naura. Siapapun itu.

Adam berdiri dan menikmati semilir angin yang menerpa wajah dan tubuhnya. Terasa segar sebagaimana sejuknya angin yang ditimpali aura air danau. Adam melihat air jernih di danau, bahkan saat ini tiba – tiba wajah Naura pun muncul di jernihnya air dan tengah tersenyum padanya. Adam sendiri sebenarnya sudah melupakannya sekuat tenaganya, namun seolah bayangan itu selalu hadir.

Meskipun wanita itu mengkhianatinya, hati kecil Adam selalu berpikir bahwa Naura melakukan semua ini padanya dan menyakitinya sebenarnya bukan karena keinginan Naura.

Seperti dulu, Naura itu suci dan murni. Namun hanya ternoda oleh dunia. Adam mengembalikan ingatannya itu, dan kini Diandra menunggu jawaban darinya.

”Bohong jika aku mengatakan tidak ada perasaan apapun padamu Diandra. Kau sudah mengisi relung hatiku yang kosong. Kamu ibarat putri raja yang membangunkan seorang prajurit biasa. Aku bangkit juga karenamu dan karena ketulusanmu.

Aku memang orang yang bodoh. Tak tahu kemilaunya sayap merak yang indah meskipun dia sudah mengeluarkan indahnya warna – warni ekornya yang mekar sangat indah. Aku memungkiri keindahanmu, dan aku tertawan oleh rantai sehingga tidak bisa mendekatimu.

Rantai itu demikian kencang mengekang seluruh jiwaku sehingga hatiku pun tak bisa keluar. Aku tertawan dan aku terjebak dalam dimensi cinta, dimensi sumpah dan dimensi dimana aku sendiri tak bisa mengatur hidupku sendiri.”

Adam berbalik menatap Diandra, semoga itu cukup menjelaskan apa yang menjadi pemikirannya selama ini. Agar tidak ada salah paham dalam diri Diandra, dia tak tahu bagaimana lagi nanti Diandra akan menilainya. Kini semua sudah jelas, antara cinta dan cinta dan antara isyarat dengan isyarat.

”Ayo pulang, aku akan mengantarkanmu.”

Adam membantu Diandra berdiri, kakinya masih sedikit sakit mungkin keseleo. Adam pun menuntun langkah Diandra dan Diandra tidak menolak lagi. Sudah cukup jelas apa yang dijelaskan Adam tadi baginya meskipun masih menyisakan banyak pertanyaan – pertanyaan namun Diandra meredam dan menyimpannya dalam hatinya.

Angin semilir membelai mereka. Adam menatap lurus ke depan sambil memegang lengan Diandra dan membantu berjalan. Diandra tak bisa menjaga perasaannya, dia amat bahagia merasa lelaki itu menggandengnya. Itu saja sudah cukup baginya.

Sesekali mata Diandra melihat Adam yang tak menatapnya dan masih melihat lurus ke depan. Senyum Diandra merekah, dia melihat wajah Adam dan merasa nyaman sekali. Ini pertama kalinya ada kesimpulan yang bisa diambil oleh Diandra. Diandra sudah terjerat cinta sepenuhnya pada Adam.

Dan, mungkin inilah yang dulu dirasakan Adam pada Diandra. Kini, Diandra tak bisa menyalahkan Adam atas sumpahnya dulu kepada Naura. Bahwa jika seseorang sudah mencintai maka kadang akalnya hilang. Tak peduli pada kenyataan di masa mendatang karena bahagianya saat ini sudah melampaui seluruh bahagia di dunia ini.

Ini mungkin yang disebut surga sebelum surga.

***

Di sisi lain, ada seorang lelaki yang memperhatikan mereka dengan stelah jasnya. Dia memperhatikan apa yang dilakukan oleh Diandra dan berbincang dengan Adam setelah tercebur dalam danau.

Tangan lelaki itu nampak bergurat dan menggengam. Lelaki itu adalah Rendra. Kenapa seorang wanita yang begitu dia inginkan bersama dengan lelaki sederhana dengan peci lusuh. Apakah memang lelaki itu menggunakan guna-guna sehingga Diandra begitu betah berbincang dengannya.

Sialan! Lelaki itu pun pergi dengan sangat kesal.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!