Naura
45. Perhatian Adam
Rumah Sakit Air Surga sudah lama berdiri, kerjasama yang dilakukan membuahkan hasil. Dengan kerjasama itu, pihak Mata Air Surga mengendalikan semua manajemen di Rumah Sakit itu.
Banyak dari orang – orang kampung yang berobat ke rumah sakit tersebut. Rumah Sakit Air Surga bahkan juga memberikan pelayanan khusus bagi mereka yang kurang mampu dan tidak memiliki asuransi kesehatan. Syaratnya pun mudah, yaitu menunjukkan surat dari kelurahan setempat soal keadaan rumah tangga dan kehidupannya.
Meski tidak memiliki keahlian khusus di bidang kesehatan dan medis. Setiap pagi, Adam kadang berkeliling masuk ke kamar – kamar pasien yang berada di Rumah Sakit Air Surga untuk memberikan dorongan dan motivasi agar mereka yang tengah sakit bisa sabar dan berdoa untuk kesembuhannya. Mereka diberikan motivasi singkat bagaimana sakit merupakan hal yang diuji oleh Tuhan, ketika mereka lulus nanti dengan kesabarannya maka Tuhan akan memberikan hadiah terbaik baginya.
Semua orang bisa berobat di Rumah Sakit Air Surga, beda agama beda ras tidak ada penghalang sama sekali. Semua dilayani dengan sama, apapun perbedaan yang mereka bawa dari masing – masing tempat dan masing – masing rumah mereka.
Adam bahkan agak lama jika pasien itu adalah anak kecil yang sakit atau para orang tua yang senja usianya. Seorang anak kecil bahkan selalu menunggu kedatangan Adam ke kamarnya, dia sudah seminggu ini dirawat di Rumah Sakit karena terkena Demam Berdarah. Kesehatannya mulai membaik dan dia selalu menunggu Adam untuk menceritakan sebuah kisah.
Adam pun menceritakan sebuah kisah setiap dia datang ke kamar anak itu, dan Anak itu pun selalu menunggunya untuk rindu mendengarkan kisah dari Adam.
Karena dulu, Adam sendiri dikenal memiliki tempat pengobatan alternatif yaitu orang datang untuk meminta air matanya, kini dia datang dengan doa pada beberapa pasien yang dikunjunginya.
Ada juga yang masih percaya airmata Adam bisa menyembuhkan mereka, mereka pun sampai meminta airmata Adam. Namun, Adam tak bisa memberikannya karena dirinya tidak bisa menangis, Adam pun bercanda akan hal itu sehingga pasien itu juga terhibur. Adam lalu mendoakan masing – masing pasien yang dikunjunginya dan memberi mereka support dan keyakinan untuk terus percaya bahwa mereka pasti sembuh.
Dukungan secara moril bagi mereka yang sakit dan tentu saja jiwa mereka tengah lemah dan ada kecenderungan putus asa karena sakitnya yang mereka rasakan. Dukungan itu sangat penting bagi mereka, bahkan bisa menjadi stimulus atau sugesti untuk mereka semangat melawan sakit mereka.
Oleh karena itu, Adam tak lupa mengumpulkan para dokter, perawat dan juga semua yang bekerja di Rumah Sakit seminggu sekali. Adam mengajarkan dan memberi arahan pentingnya rasa kedekatan spiritual kepada para pasien.
Jika hati mereka terisi dan tidak kosong dan apalagi mereka semangat untuk menghadapi sakit mereka dengan tegar maka pengobatan untuk mereka sebagai pendorong untuk mereka cepat sembuh. Hal itu diikuti oleh semua dokter dan karyawan di Rumah Sakit. Tugas mereka selain memberikan obat adalah juga untuk menjalin kedekatan dengan mereka secara personal dan membuat mereka nyaman sehingga mereka akan tenang pikiran dan hatinya.
Pusat kesehatan itu adalah ada pada ketenangan hati dan pikiran. Orang yang sakit kebanyakan juga karena sakit pada hati dan pikirannya. Pikiran yang semrawut akan melemahkan imunitas tubuh dan akan mudah bagi penyakit untuk datang.
Itulah yang dipercaya Adam dengan kayakinan imannya kepada Tuhan. Konsep beragama adalah mencari ketenangan hidup, orang yang tenang hidupnya adalah orang yang dekat dengan Tuhannya, dan orang yang dekat dengan Tuhannya akan tenang dan tidak mudah sakit karena imunitas dan organ di tubuhnya sinkron bekerja dengan lancar dan tanpa hambatan.
Di materi agama juga disebutkan bahwa sumber dari segala kesehatan adalah kebahagiaan dengan bersyukur dengan segala nikmati yang diperolehnya dan sebaliknya, kelemahan dan sakit serta ketidakberdayaan karena mengkufuri nikmat sehingga hatinya gelisah dan penyakit akan datang.
Tidak berarti orang yang sakit berarti tidak dekat dengan Tuhan, melainkan bahwa cenderung lebih banyak sakit itu disebabkan karena pikiran yang kurang tenang.
Ketika hari sudah mendekati pukul 09.00, maka Adam akan pergi dari Rumah Sakit dan menuju ke base camp pusat dan memantau dari sana. Melihat CCTV di beberapa unit usaha dan akhirnya memutuskan hari itu akan berkunjung ke bagian apa. Adam sangat rajin dan tekun bekerja dan memang dia akan bekerja secara profesional ketika dia sudah terjun dan fokus ke usaha yang menjadi target – targetnya.
Di lain sisi, semua bidang udaha di Mata Air Surga kini semua menjadi ramai. Bahkan perumahan terus dilanjutkan pembangunan dan pelebaran lahan. Tempat wisata dan tempat bermain semakin ramai dikunjungi orang lain apalagi pas sore hari dan juga hari libur. Tentu sangat ramai.
Semakin majunya perusahaan yang banyak dikelola Adam. Banyak juga sponsor maupun perusahaan yang ingin beriklan, menyalurkan CSR dan lain sebagainya demi menunjang semakin besarnya Mata Air Surga. Adam pun menerima kerjasama dengan mereka semua selama tidak mengambil alih atau mengatur soal tata kelola Mata Air Surga.
Kini usaha Adam dan rekan – rekannya menjadi raksasa bisnis yang besar di provinsinya. Tidak ada orang yang tidak mengenal Adam, hingga berita soalnya viral. Bahkan banyak media yang mencari informasi tentangnya dari latar belakang dan asalnya dahulu.
Berita semakin gencar karena didapatkan informasi bahwa Adam adalah sosok air mata phoenix yang dulu pernah viral juga diberitakan.
Adam tak peduli dengan semua pemberitaan soal dirinya, dia kini fokus untuk memperbaiki diri dan memberi kemanfaatan banyak bagi orang lain. Itu saja yang menjadi fokus dirinya saat ini juga untuk menemani ibunya, Halimah dan menemani hari-hari tuanya.
Saat Adam tiba di kantor pusat, ternyata ada tamu yang sangat mengagetkkanya, dia adalah Syarif. Syarif cukup lama tak bertemu dengannya, pastilah dia sibuk membesarkan toko bangunan miliknya.
”Kenapa baru main kesini?”
Adam duduk di sebelah Syarif setelah menyalaminya, persahabatan mereka memang tak kenal kondisi dan apapun penghalang. Syarif sendiri sudah dianugerahi seorang bayi laki – laki, jadi dia sendiri lumayan sibuk untuk berkumpul dan bercengkerama dengan buah hatinya.
Adam turut bahagia dan menanyakan kabar isteri dan anaknya, Syarif pun menjawab kalau mereka semua sehat.
Mereka berbincang bersama, seseorang pegawai mengantarkan teh hangat. Adam berterimakasih pada pegawai tersebut dan meminta Syarif untuk menikmati tehnya. Syarif masih melihat sikap tawadhu’ pada Adam, meskipun sudah kaya raya namun dia tetap seperti biasa dan berbincang dengan santai. Tak ada yang berubah dari diri Adam menurut Syarif.
Syarif melaporkan perkembangan toko yang dikelolanya. Dia memberikan lembaran – lembaran laporan keuangan kepada Adam beserta keuntungan dan bagi hasil untuk Adam. Bagi hasil itu juga hanya ditransfer ke rekening Adam.
Adam meraih laporan – laporan itu dan seolah membacanya lembar demi lembar. Meskipun, sebenarnya dia hanya sekilas dan hanya percaya penuh pada sahabatnya itu. Bahkan, dulu sempat Adam memberikan toko itu kepada Syarif dan menjadi hal miliknya. Namun, Syarif tak mau menerimanya dan tetap berjalan seperti biasanya.
Syarif memang Syarif, dan Adam memang Adam. Keduanya tahu betul karakteristik masing – masing, sehingga mereka tak ambil pusing dan menjalani pengusahaan mereka.
Syarif semakin profesional dalam bidangnya dan Adam membesarkan Mata Air Surga. Kehidupan juga berjalan begitu cepat menurut mereka, tak seperti dulu lagi dimana fase mereka bermain bersama di pesantren dan kemana – mana selalu bersama. Kini, mereka memiliki kehidupan mereka sendiri – sendiri.
”Oya Adam, kenapa aku tidak melihat Diandra, kemana dia?” Ada rasa penasaran di pikiran Syarif, benar biasanya Diandra sudah ada di beberapa tempat tapi tadi dia berkeliling ke Air Mata Surga namun tak menemukan keberadaannya.
”Sudah seminggu ini Diandra belum datang Syarif, mungkin dia ada keperluan mendadak dengan keluarganya atau sedang pertemuan keluarga. Biasanya dia sabtu begini pasti sudah ada.”
Semenjak kejadian mereka bicara empat mata itu, entah kenapa Adam juga merasakan ada yang lain di antara mereka. Hingga Diandra belum datang setelah itu hingga seminggu ini. Adam tidak mau berspekulasi terlalu dalam, mungkin hanya sedang ada keperluan yang lain. Bukankah Diandra juga cukup sibuk?
Begitu pikiran Adam mencoba menangkan dirinya yang sebenarnya juga mulai gelisah.
Syarif menggelengkan kepalanya, ”Kamu itu berpikir apa, kamu pikir bisa mengelabui aku temanmu sejak kecil? Aku sangat paham karaktermu dan bagaimana dirimu Adam. Kenapa kamu tidak coba hubungi saja dia, sekedar bertanya dia sedang apa. Bukankah itu mudah?”
Perkataan Syarif benar juga. Mungkin, Syarif menangkapnya sedang gelisah juga sehingga Syarif menyarankan hal itu kepada Adam. Apa susahnya berkirim sapa dan tanya kabar dan kenapa tidak ke Mata Air Surga.
”Benar juga, kenapa aku tidak tanya saja,” Adam meraih hanphonenya, dia memencet sesuatu di chat dan mengirimkannya ke Diandra. Dia terlalu sibuk atau tidak mau berkirim salam padahal dia juga penasaran kenapa Diandra tak biasanya tidak ke Mata Air Surga.
Daripada berpikir ada apa dan gelisah, kenapa tak dari tadi menanyakannya langsung. Memang, kadang orang itu bisa teledor dengan apa yang dilakukannya sendiri tentunya.
”Assalamu’alaikum, sedang apa Diandra? Kenapa tidak ke Mata Air Surga? Apakah ada keperluan keluarga? Maaf.”
Adam menutup hanphonenya dan berbincang kembali dengan Syarif.
”Baru itu Adam sahabatku, apa ada sesuatu yang terjadi antara kamu dan Diandra?” Syarif mencoba mengulik kisah Adam dan beberaka kali terlihat matanya menggoda Adam.
”Biasa sajalah Syarif, seperti biasanya. Kami bertemu dan bercerita tentang banyak hal dan dia selalu memiliki sesuatu yang baru yang menarik untuk dibicarakan. Ditambah sekarang dia sibuk mengurusi hotel kita.”
Syarif pun tersenyum, ”Baiklah, baiklah,” meski Syarif mengetahui pasti ada sesuatu namun dia ingin menjaga rahasia rekannya itu. Biarlah dia yang menjalani dan menentukan hidupnya sekarang. Dia sudah dewasa dan bisa menentukan jalannya sendiri kecuali dia meminta saran padanya.
Suara bunyi handphone Adam berbunyi. Adam langsung melihatnya dan itu dari Diandra.
”Wa’alaikumsalam, tumben kamu chat dan perhatian Adam. Aku sehat, ini ada urusan keluarga. Aku akan kesana jika semuanya sudah selesai.”
Adam tersenyum saat melihat pesan itu, Syarif pun menangkap senyum itu walaupun sebentar dan senyuman hilang kembali.
”Dia sedang ada keperluan keluarga, katanya kalau sudah selesai dia akan datang lagi kesini.”
Syarif pun manggut – manggut, ”Nanti malam makan di luar yuk, saya ajak isteri anak dan kamu ajak Ibu Halimah. Sudah lama kita tidak meluangkan waktu untuk makan sesekali di luar.”
Adam pun tersenyum, ”Baiklah, insyaallah sehabis shalat Isya’ ya. Saya akan bilang ke Ibu kalau kamu yang ajak.”
Syarif memberi tanda O besar pada jari telunjuk dan ibu jarinya. Ibu Halimah memang susah diajak makan atau keluar rumah, namun kalau Syarif yang meminta Ibu pasti tak akan bisa menolaknya.
Syarif pun pamitan, dia meminta Adam jangan sampai lupa untuk makan makam. Dia ingin memperlihatkan jagoannya pada sahabatnya itu sekalian makan di luar. Padahal di sekitar Mata Air Surga kini sudah banyak rumah makan dan kuliner yang banyak. Tapi, kalau makan di luar tentu suasananya lain, sesekali tak masalah tentunya bagi Bu Halimah. Refreshing.