Naura

46. Dua Sumpah

Di Ibukota, Diandra tak pernah lepas dari kedua orangtuanya. Diandra selalu bersama Ibunya setiap saat. Ayahnya, Hamid tentu dia akan sibuk bekerja dan bertemu saat sore hari atau bahkan menjelang malam.

Kehidupan Diandra penuh kebahagiaan, sudah selayaknya dia untuk bahagia. Cacat yang dulu ditimpakan kepadanya, itu adalah ujian untuknya. Saat sembuh, dia hanya rindu pada keluarganya.

Ketika malam, Diandra tak bisa lepas dari perbincangan dengan Ibunya, Sarah.

Diandra tengah bercengkerama dengan Ibunya, Sarah. Sarah sendiri sering bertanya apa yang dilakukannya selama di Mata Air Surga. Namun, semua hal baik yang terjadi. Apalagi bi Jamilah selalu mengawasi dan membantu Diandra disana.

Sarah pun menanyakan kabar perkembangan psikologi Adam. Kata Diandra menceritakan kalau Adam adalah sosok pekerja keras. Dulu, dia mengalami hal itu karena memang cinta yang membutakannya. Namun, dengan demikian itu juga menjadi sarana dia bisa bertemu dan bisa melihat lagi tentunya.

Semua jalan sudah digariskan oleh Tuhan, ada baik dan buruk, juga ada sehat dan sakit. Semua itu mengiringi perjalan setiap manusia. Dan, Sarah mengerti dari cerita Diandra puterinya barusan soal bagaimana akhirnya Adam bisa bangkit dari keterpurukan dan mengembangkan usaha yang besar sekarang.

Lalu, Sarah juga penasaran. Apakah benar kalau puterinya itu sudah mantap mencintai Adam atau karena semacam balas budi atau juga karena sumpahnya dulu yang diucapkannya saat masih sakit dulu?

Diandra diam sejenak. Tentunya, dia bingung untuk memahamkan sesuatu yang dirinya sendiri belum punya keyakinan penuh atau masih ragu dengan yang dilakukannya.

Benar juga! Bahkan setelah diskusi panjangnya dengan Adam soal janji, Diandra bahkan juga baru ingat janji dan sumpahnya saat masih sakit dulu. Benar, janji itu adalah janji yang terucap begitu saja dan keyakinan yang tinggi. Janji itu adalah janji dimana jika memang dirinya bisa sembuh dari buta dan lumpuhnya. Dirinya akan menikahi Adam dan akan menjadi pendampingnya semata.

Janji itu terucap begitu saja dari bibir Diandra. Seolah, dia akan dapat menggapai hal itu dengan ucapannya. Namun, semua hal memang tak seperti angan dan harapan. Kenyataannya, akan sulit untuk menyanggupi suatu janji. Pertama, Adam yang memang masih terpenjara dengan janjinya sendiri. Kedua, kini Diandra yang terperangkap dalam sumpahnya sendiri.

Itulah kenapa sekarang dia menyadari, bahwa janji yang diucapkan Adam juga janji yang sangat mirip dengannya. Semakin mendalami kisah Adam dan dirinya kini dia semakin paham alurnya, takdir memang sudah mempertemukan mereka semua dengan segala kisah sebagai awalnya.

Kini, sumpahnya sendiri baru diingatnya. Lalu, bagaimana dia mengakali sumpah itu agar juga sama dengan sumpah Adam?

”Ibu, kita tak tahu bagaimana takdirnya nanti. Hanya saja, Adam adalah sosok lelaki yang bertanggungjawab dan  mempunyai jiwa yang besar untuk menolong orang lain.”

”Benar katamu Diandra,” kini, Sarah ikut berkomentar soal Adam pada puterinya itu, ”Lelaki itu memang memiliki jiwa yang besar. Bahkan banyak orang kini yang memberikan testimoni bagaimana dia melakukan segala hal dengan penuh tanggungjawab. Dia sendiri sangat profesional namun tetap rendah hati pada siapapun. Adam itu...”

Tuut Tuut Tuut

Suara handphone milik Diandra berbunyi. Ibunya menghentikan ceritanya dan membiarkan puterinya itu membaca pesannya terlebih dahulu.

Diandra tersenyum melihat isi pesan dari hanphone-nya. Ibunya, Sarah pun bertanya dari siapa. Diandra menjawab bahwa itu adalah pesan dari Adam. Kebetulan sekali, panjang umur karena sedang dibicarakan dan seolah hal itu nyambung begitu saja.

Namun, Diandra sendiri aneh. Tak biasanya Adam mengiriminya pesan, biasanya itu dia menghubungi karena penting dan lewat telepon langsung. Tumben kali ini hanya pesan, atau dia ragu setelah pertemuan terakhir mereka saat dirinya ditolong oleh Adam sewaktu di Danau Kenanga?

Karena itukah, Adam merasa penasaran padanya dan apa yang terjadi setelah pertemuan terakhir itu? Mungkin saja, itulah yang akhirnya menjadi kesimpulan Diandra pada pesan Adam yang tiba – tiba itu.

Diandra pun membuka pesan itu, Adam bertanya kabar semata dan kenapa tidak datang ke Mata Air Surga? Benar saja! Adam menjadi gelisah setelah pertemuan mereka terakhir kemarin. Artinya, ada perasaan gelisah yang dialami Adam dan itu membuat hati Diandra bahagia tentunya.

Dia menceritakan kisahnya terakhir kali bertemu Adam saat dirinya tercebur di Danau. Ibunya, Sarah menjadi gempar karena peristiwa itu. Dia hampir saja memarahi Diandra karena dirasa Diandra kurang berhati – hati. Diandra harus dimarahi dulu saat mau bercerita dan Diandra pun mendengarkan dan menerima saran dari Ibunya agar berhati – hati selanjutnya.

Besok lagi, kalau Diandra tidak mau hati – hati, maka Ibunya akan menyertai kemanapun dia pergi. Diandra lalu menyerah dan memohon maaf pada Ibunya dan akan selalu berhati – hati mulai sekarang.

Diandra melanjutkan kisahnya mulai dirinya menguak perasaan Adam kepadanya hingga bercerita bagaimana Adam terjerat sumpahnya sendiri. Demikian kini, Diandra baru menyadari bahwa dirinya juga memiliki sumpah yang harus dipenuhinya.

Kini, Sarah juga merasa bahwa Diandra akan kesulitan dengan sumpahnya sendiri untuk menikah dengan Adam. Sumpah itu apalagi diucapkannya dengan yakin saat sebelum sembuh dari buta dan lumpuhnya. Jika sudah sembuh seperti ini, maka sumpah itu akan melekat pada Diandra.

Sarah bingung hendak mengatakan apa pun lagi soal itu. Meskipun, ketika pun Diandra akhirnya menikah dengan Adam, maka dirinya tidak mempermasalahkannya karena yang paling utama bagi Sarah adalah kebahagiaan puterinya tersebut. Hanya saja, Diandra harus meman benar – benar mencintai Adam dan bukan karena balas budi atau sumpah.

Pernikahan yang bukan karena cinta akan menjadi malapetaka karena tak ada rasa perhatian dan kepercayaan di dalamnya.

Kini, Diandra dan ibunya Sarah sedang memikirkan bagaimana dengan kisah yang harus dijalani oleh Diandra. Benar – benar kisah hidup manusia yang rumit, Diandra pun takut jika Adam tak mau menikah dengannya karena janji dan sumpahnya itu memenjarakannya. Sedangkan sumpahnya sendiri juga memenjarakan dirinya. Entahlah, Diandra belum yakin apakah ide yang pernah terbesit dalam pikirannya saat itu bisa dilakukan demi membebaskan dirinya dan juga Adam?

”Apakah kamu bisa hidup tanpa memenuhi sumpahmu itu Anakku? Sumpahmu itu terlalu berat untuk kamu pikul,” Sarah menatap puterinya itu dengan tatapan iba. Janji telah diucapkan, kenapa bisa ada hal aneh seperti ini.

”Entahlah Ibu, Diandra tidak paham. Allah sudah membuat bibirku begitu saja mengucapkan sebuah sumpah. Kini, aku dan Adam adalah sosok yang sudah mengucapkan sumpah kepada Tuhan. Pada akhirnya, mungkin Allah yang akan menentukan takdir kami.”

Sarah dan Diandra saling menatap. Mereka saling merasakan tentang jalan hidup yang penuh liku dan cerita hidup manusia.

Orang bisa saja mengingkari sumpahnya, namun bagaimana manusia bisa hidup dan diberikan segalanya oleh Allah. Sedangkan, Allah yang memberikan segalanya dan mereka berani mengkhianati Tuhan?

Diandra pun bersiap dengan segala resiko dan hasil akhir kisah cintanya. Ibunya hanya bisa mendukung dan mendoakan kebaikan dan semua yang terbaik untuk Diandra. Diandra pun mengaminkan doa Ibunya itu.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!