Naura

47. Makan Bersama

Janji makan di luar, benar! Adam sudah berjanji pada Syarif untuk mengajak Ibunya makan bersama keluarga baru Syarif.

”Ayo Bu, kita berangkat,” Adam mengetuk pintu kamar Ibunya, dia tak sabar untuk mengajak ibunya itu makan di luar. Waktunya hampir sibuk untuk bekerja setiap hari dan tidak atau jarang makan di luar. Biasanya mereka makan di rumah bersama dan Ibunya selalu menunggunya.

Jika diajak makan di luar pun, Ibunya pasti menolak. Ibunya pasti merajuk, apakah masakan ibunya itu tak enak. Lalu, Adam pun akan mengalah dan membatalkan acara makan di luarnya. Dia lebih tak ingin melihat wajah ibunya sedih, dan mereka pun setiap malam makan bersama. Ibunya selalu menunggunya untuk makan bersama. Itulah cinta Ibu, yang tak punya tepi seperti samudera luas.

Kali ini, bu Halimah pasti akan ikut dan benar saja Ibunya setuju. Hal itu karena tentu saja bahwa Syarif yang mengajak mereka pergi. Ibunya tak bisa menolak jika Syarif yang memintanya.

”Tunggu sebentar, Ibu baru saja membereskan rumah Adam.”

Suara dari dalam itu membuat Adam langsung duduk di meja tengah sambil menunggu Ibunya. Yang penting, Ibunya sudah mau dan itu akan membuat mereka bisa sesekali menghirup udara malam dengan segar. Adam ingin membahagiakan Ibunya tersebut, apa saja akan dilakukan Adam untuk kebahagiaan Ibunya.

Halimah keluar dengan memakai gaun sederhana dan jilbab biru tua. Halimah tersenyum dan mengajak berangkat segera. Adam menawarkan Ibunya untuk naik mobil atau motor, Ibunya pun memilih motor saja.

Adam menurut, mereka berangkat setelah sebelumnya mengunci pintu. Perjalanan mereka pun tak jauh, hanya di kompleks luar dari Mata Air Surga. Semenjak Mata Air Surga ada, daerah di sekitarnya pun menjadi ramai dan banyak bangunan baru dan rumah makan yang berdiri.

Adam janjian dengan Syarif makan di lesehan saja dan itu dekat dengan pemandangan perbukitan.

Perjalanan yang mereka tempuh sekitar 15 kilometer, mereka sampai di sebuah rumah makan lesehan yang katanya makanannya enak. Itu pun menurut Syarif yang sering membeli makanan ketika malam.

Syarif dan isterinya serta bayi mungil yang dinaikkan dalam gendongan ibunya sudah ada di meja besar khusus meja ramai – ramai. Adam dan Ibunya mendekati mereka dan duduk bersama mereka.

Adam bertanya pada Syarif apakah sudah lama menunggu, mereka baru saja juga datang ya sekira 15 menit saja.

Adam pun memesan makanan, mereka mengobrol bersama. Bu Halimah begitu senang melihat bayi mungil jagoan dari Syarif itu. Bahkan, dia meminta Aisyah yang merupakan isteri dari Syarif untuk menggendongnya.

Aisyah memberikan bayi laki – lakinya pada bu Halimah. Bu Halimah pun menggendongnya. Halimah menciuminya dan mencandainya, bu Halimah terlihat bahagia. Dia juga mau diajak makan malam di luar oleh Adam karena dia juga ingin melihat jagoannya si Syarif.

”Kenapa dia tidak mirip sama kamu Rif?” Adam bercanda duluan pada Syarif saat melihat wajah putera Syarif yang menggemaskan.

”Tidak mirip gimana, itu mirip banget foto copyku itu Adam.”

Syarif tak terima dan menyangkal goyonan Adam tersebut.

”Lihat dirimu, hitam dan banyak bicara. Lihat saja anakmu itu, kulitnya saja putih dan mulus. Ya jelas tidak mirip kamu!”

Mereka tertawa bersama, ada kebahagiaan yang mereka rasakan jika berkumpul bersama. Seolah kebahagiaan itu menghapus semua pahit yang pernah mereka derita di masa lalu. Tak pernah terbayang kini mereka bisa tertawa bersama, padahal biasanya mereka menangis bersama.

Tentu saja saat itu, dimana takdir sedang menguji mereka. Bu Halimah pun mengingat hal itu dan hampir saja airmatanya jatuh, kini dia sangat bahagia melihat Adam yang sembuh dan penuh ceria. Dia juga bahagia melihat Syarif, sahabat baik puteranya itu bisa memiliki keluarga dan bahagia, padahal dulu dia mengorbankan untuk menunda pernikahannya karena ingin ikut menjaga Adam.

Begitulah hidup, bu Halimah sudah banyak makan garam kehidupan. Jadi, dia sangat paham bahwa setiap hal akan bergulir dan berganti. Dia pun melihat bayi laki – laki Syarif, dia tersenyum dan mencium pipi dan kening bayi itu sambil mendoakan kebaikan untuknya.

Syarif pun memandang Adam sejenak, dia memberikan kode melalui kedipan mata kanannya. Dia memberi isyarat pada Adam untuk melihat ibunya, bagaimana Ibunya itu sangat bahagia saat menggendong bayi. Kode itu artinya, bahwa kamu juga harus berpikir soal kebahagiaan ibumu.

Adam mengerti dengan kode yang diberikan Syarif itu, tak ada yang salah dengan isyarat Syarif. Itu semua benar adanya, Adam melihat Ibunya begitu bahagia menggendong seorang bayi. Itu tanda bahwa Ibunya memang sudah merindukan seorang cucu untuk dapat dia gendong setiap hari.

Namun..., lagi – lagi perasaannya tak menentu jika teringat hal pernikahan dan juga janji dan sumpahnya dulu. Semua berkecamuk dalam pikiran Adam, antara kesetiaan memegang janji atau mengingkarinya dan hidup sebagaimana manusia hidup secara normal.

Makanan yang dipesan datang. Adam berpikir jika ibunya menyukai ayam kampung sehingga memesan ayam kampung bakar. Untuk dirinya sendiri, dia lebih suka bebek dan memesan bebek panggang.

Malam semakin sunyi, udara dingin mulai menyergap. Pemandangan nampak indah ketika bulan temaram dan berada di ujung perbukitan. Mereka mulai menyantap makanan yang ada di depan mereka. Si bayi kecil di taruh di kereta bayi kecil yang ada penyangga untuk tubuh kecilnya.

Meskipun sempat menangis dan protes namun dia diberikan mainan yang bisa dipegangnya dan mengeluarkan bunyi gemericik sehingga dia sedikit betah dan membiarkan orang – orang dewasa di sekitarnya untuk menikmati makanan mereka.

”Siapa nama puteramu itu Syarif?” bu Halimah bertanya sambil meminum teh hangat yang baru saja datang diantarkan pelayan.

Syarif menghabiskan makanan yang ada di mulutnya terlebih dahulu lalu membalas pelan pertanyaan bu Halimah, ”Kami memberinya nama Muhammad Ammar bu. Bantu kami doakan dia ya bu, biar menjadi anak yang shalih dan berbakti kepada orangtuanya.”

Syarif tersenyum kepada bu Halimah, bu Halimah sudah dianggapnya seperti ibunya sendiri. Sejak kecil pun, Syarif sering main ke rumah Adam dan kadang juga dibuatkan makanan oleh bu Halimah dan makan bersama dengan Adam juga.

”Nama yang bagus Syarif, dan tentu saja. Ibu akan selalu mendoakan yang terbaik untuk Ammar. Dia pasti akan membahagikan ayah dan ibunya serta menjadi kebangganmu Syarif,” ucapan bu Halimah teramat menenteramkan Syarif.

”Aamiin,” suara amin Syarif, Aisyah dan Adam hampir berbarengan.

”Terimakasih Bu, bagi kami ini adalah karunia yang besar dari Allah dan kami wajib menjaganya dengan sebaik – baiknya.”

Mereka makan dengan lahap dan nyaman, tidak salah rumah makan lesehan itu diminati oleh Syarif. Adam dan bu Halimah sampai tertawan oleh rasa enak dari makanan itu sehingga mereka memuji rasa makanan itu. Pasti koki yang memasaknya memiliki pengalaman yang banyak dan juga sudah belajar memasak dengan baik. Biasanya, bu Halimah sangat teliti pada rasa makanan, dan dia memuji makanan itu bahwa rasanya enak dan bumbunya tepat.

”Tentu saja Bu, makanya saya sering sesekali makan disini atau pesan dibungkus untuk dibawa pulang. Rasanya memang sangat enak.”

Mereka terus berbincang, rasanya seperti lama mereka tak berkumpul. Dan benar saja, kini mereka mulai sibuk dengan urusan masing – masing. Sehingga, berkumpul seperti ini akan mengingatkan mereka pada kenangan – kenangan indah di masa lalu.

”Apakah anda mas Adam?” seorang lelaki yang berumur sekitar 50 an tahun keluar, di depan tubuhnya masih terlihat celemek yang menandakan bahwa dia adalah seorang pemasak atau koki.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!