Naura
67. Hidup dan Kematian, Itu Sangat Dekat
Hidup itu seperti sebuah air yang menempel pada daun talas, dia cukup lama hinggap di daun tersebut tanpa menembus daunnya. Dia bertahan menunggu air datang lagi dan dengan daya beratnya, air itu akan tumpah.
Mereka tidak akan lama berada disana, air itu akan jatuh juga ke bumi. Seperti juga apa yang terjadi pada manusia yang tinggal di dunia ini. Semuanya akan kembali.
Hakikat kehidupan, dan semua yang ada di dunia ini. Semuanya hanyalah fana, sebentar lagi, semua juga akan binasa. Seorang manusia hanya dituntut bijak dan menerima segala ketentuan yang sudah digariskan Tuhan padanya.
Tangan Naura bergetar sambil tetap memegang telepon yang baru saja diangkatnya. Dia mendapatkan panggilan dari suaminya, sudah sangat lama suaminya tidak menghubunginya bahkan sudah lama suaminya itu tidak pernah menganggapnya ada.
Jika mereka bertemu, seperti manusia yang bertemu dan tidak saling mengenal. Mereka seperti bukan suami isteri lagi, ketika bertemu hanya sekedar lewat. Masalah yang datang bertumpuk dan rumah yang akan dijadikan jaminan. Semuanya serba kacau. Hanya melihat danau Kenanga, hati Naura sedikit terobati dan mendapatkan ketenangan.
Hingga handphone milik Naura berdering dan panggilan itu adalah dari suaminya. Setelah sekian lama, apakah Sandi ingin berdamai dengannya atau bahkan dia akan marah-marah lagi karena dirinya tidak ada di rumah? Entahlah, namun pada akhirnya Naura akan mengangkat dan memastikannya.
Suara Sandi dari seberang, dan semuanya tiba-tiba hal itu bagaikan sambaran petir di siang hari. Semua serba kacau ketika Naura mendengarkannya. Semua hal yang dia dengar dari Sandi, adalah sesuatu yang benar-benar seperti langit yang runtuh saat itu juga.
Tiba – tiba rintik hujan. Begitu lembut dan teduh.
Entah kenapa sambungan terputus dan ada suara keras seperti tabrakan yang barusan di dengar oleh Naura.
Dia sedang berada di Danau Kenanga saat menerima telepon. Saat itu tiba – tiba gerimis. Naura tak bisa menjawab karena dia sedang bingung dengan kondisi dirinya.
Naura berteduh di payung besar yang ada di taman di dekat Danau Kenanga. Dia mendengarkan seksama apa yang dikatakan Sandi namun dia tak bisa berbicara karena dia sendiri tengah bimbang akan semua takdirnya.
Setelah mendengar kalau Mata Air Surga adalah milik Adam. Barulah dia menyadari kenapa selama ini Adam selalu berada di Danau Kenanga karena ini semua adalah proyek bisnisnya.
Adam yang dulu miskin dan lugu, kini telah menjadi orang yang sukses. Dan yang terpenting, dia membebaskan hutang keluarganya dengan uang 5 Milyar?
Namun, begitu mendengar ada teriakan dan benturan keras. Naura pun keluar dari bawah payung dan berlari dengan cepat. Dia tak tahu apa yang terjadi, tapi perasaannya mengatakan ada sesuatu yang terjadi.
Naura menghubungi keluarganya, mereka juga belum tahu kalau dirinya diceraikan Sandi. Hasan pun datang menjemput Naura di Danau Kenanga. Ayahnya itu langsung datang dengan motornya begitu mendengar panggilan dari puterinya.
”Kamu kenapa disini puteriku?”
Naura tak bisa menjelaskan banyak, dia meminta ayahnya untuk memboncengnya ke rumah dulu. Dia mencoba menelepon berulang kali ke Sandi, namun tak diangkat. Hp – nya aktif namun tidak ada respon apapun.
Di rumahnya yang di desa, Naura juga disambut ibunya. Mereka bertanya – tanya kenapa Naura menelepon dan berada di Danau Kenanga di ujung desa mereka.
Naura pun menenangkan dirinya dan menjelaskan kalau dirinya sudah diceraikan oleh Sandi. Ayah dan Ibunya pun kaget dan tak percaya soal itu, namun Naura meyakinkan bahwa ada orang yang membayarkan hutang keluarga mereka dan Sandi juga selama ini tak mencintai Naura dan menceraikannya.
Hutang mereka lunas?
Hasan bertanya siapa yang melunasi hutangnya pada Rodin ayah Sandi. Naura pun berterus terang bahwa yang membayar hutangnya adalah Adam. Hasan pun tahu sekarang, Hasan juga menyesal pada semua perbutannya pada Adam. Dulu, dia bahkan tak pernah menganggap adanya Hasan dan memakinya karena dia miskin.
Hasan juga tahu kalau Adam yang mendirikan Mata Air Surga, namun dirinya terlalu malu dan bersalah untuk menemui Adam.
Telepon Naura pun berdering. Naura segera menyalakan Hp dan mengangkatnya. Dan..., saat mendengar suara dari seberang telepon. Tubuh Naura gemetar, hanphonenya jatuh dari pegangan tangan Naura.
”Ada apa Naura?” Hasan yang kebingungan dan Naura yang jatuh bersimpuh. Kecelakaan terjadi pada Sandi, dan Sandi meninggal dunia di tempat beserta isterinya, Firla. Mereka berada di rumah sakit di Mata Air Surga yang terdekat dari lokasi kejadian.
Naura gemetaran dan mengatakan apa yang baru saja didengarnya dari teleponnya. Hasan sang ayah juga ikut kaget.
Naura pun diantar Hasan bergegas ke Rumah Sakit, saat gerimis dan saat hati Naura semakin bimbang. Ujian datang bertubi – tubi baginya. Semuanya seperti mimpi dan dia baru saja bangun dari mimpi.
Seolah – olah, hidup tidak memiliki nilai.
***
Di Rumah Sakit.
Naura dan Hasan langsung menuju tempat dimana ruangan Sandi dan Firla berada. Keduanya bertanya pada beberapa perawat yang ada dan mendapatkan lokasi keduanya berada setelah kecelakaan terjadi. Mereka berdua sudah meninggal di tempat kejadian, jadi mereka dibawa ke Rumah Sakit untuk mencari data informasi keluarga keduanya.
Kedua mayat yaitu Sandi dan Firla sudah langsung diurusi jenezahnya oleh pihak Rumah Sakit. Keluarga Sandi dan Firla pun datang dan mereka menangis sejadi – jadinya. Mereka fokus pada kedua mayat itu dan membawa mereka untuk dikuburkan. Keluarga mereka masing – masing berduka.
Saat itu, bayi Firla selamat karena Firla sang Ibu melindungi puterinya dengan punggungnya saat tabrakan terjadi. Punggung Firla yang terkena luka itu melindung bayinya.
Bayinya selamat dan hanya menangis karena trauma. Saat di Rumah Sakit, saat itu Adam ada disana dan memperhatikan mayat yang datang itu. Adam segera tahu bahwa kedua orang yang kecelakaan dan meninggal adalah Sandi dan isteri mudanya.
Adam pun langsung menelepon keluarga Sandi dan mereka pun datang. Bayi Sandi yang lucu kini dalam gendongan Adam. Adam memperhatikan bayi mungil itu dalam gendongannya.
Adam mencoba menghibur bayi yang ditinggal kedua orangtuanya. Adam meminta salah satu perawat membuatkan susu, dan dengan diberi susu salam dot itu, bayi itu terdiam dan kini tertidur dalam gendongan Adam.
Adam pun jadi berpikir, jika dia menjadi seorang ayah tentu dirinya akan bahagia menggendong buah hatinya kelak.
Perawat ingin mengambil bayi itu dan merawatnya namun Adam tidak memperboehkannya dan biarkan dirinya yang mengendongnya terlebih dahulu. Perawat itu merasa bos Adam sangat bahagia menggendong bayi itu dan meninggalkannya.
Adam duduk di kursi panjang di lorong rumah sakit itu. Saaat itulah, Naura datang bersama ayahnya Hasan.
Naura melihat Adam sedang menggendong bayi kecil dan duduk di kursi panjang. Naura melangkah perlahan dan Adam pun melihat ada yang datang. Pandangan mereka pun bertemu, ada keanehan yang menyelimuti pandangan keduanya.