Naura
70. Aku Mencintaimu
Perasaan seorang wanita mendekati hari pernikahan, sungguh sangat dilema. Semua hal bagaikan bunga dan rembulan, indah pada setiap apapun yang sedang dipikirkannya.
Tersenyum sendiri beberapa kali, dan hampir tak bisa lagi menahan kebahagiaannya. Bingung hendak meluapkan ekspresi kebahagiaan. Ah! Semuanya akan segera berbeda jika Diandra menikah dengan seorang lelaki. Dia akan menyerahkan seluruh hidupnya pada lelaki tersebut.
Bahkan, segala hal berubah. Setiap apapun yang ingin dilakukan oleh Dindra, maka dia harus berkomunikasi terlebih dahulu dengan suaminya.
Kadang, ada rasa ketidaksiapan dalam hal menikah, namun jika mengingat bahwa hati itu butuh seseorang untuk selalu menguatkannya ketika lemah dan sedih. Maka, menikah adalah satu-satunya jalan menemukan kebahagiaan dengan menemukan sosok yang tepat untuk saling berbagi apapun.
Di semua kecemasan yang sedang dipikirkan Diandra, ada kebahagiaan yang terselip dalam hatinya. Diandra merasakan bahwa dia sudah tepat menemukan Adam. Lelaki yang mampu membuat hatinya tenang setiap kali mereka berbincang. Itu adalah kebahagiaan itu sendiri jika kita sudah merasa nyaman dengan segala apapun yang orang itu berikan.
Adam. Lelaki yang dulu membuat dirinya bisa melihat untuk pertama kalinya. Cinta itu seperti menjadi misteri dan takdir yang tak bisa dibantah. Tuhan sudah menetapkan segala sesuatu, takdir lah yang mempertemukan cinta sehingga cinta itu tumbuh setelah takdir mempertemukannya.
Jadi, bukan terbalik bahwa cinta yang memaksa takdir. Itu adalah logika manusia yang ingin membenarkan anggapannya sendiri. Sebab dari takdirlah mereka bisa bertemu dan muncul cinta hingga mereka menikah. Atau bahkan, takdir mempertemukan dua orang untuk menikah tanpa cinta terlebih dahulu
Diandra malam ini masih mematut dirinya di cermin lagi, dia memakai lagi baju pengantinnya. Coraknya sempurna dan dipadu jilbab yang sesuai dengan warna gaun pengantinnya.
Semua sudah dipersiapkan dengan baik. Besok Adam akan datang sore hari dan esoknya adalah hari pernikahan mereka.
Saat dirinya tengah memandangi wajahnya, Diandra menggerak – gerakkan wajah itu ke kanan dan ke kiri. Dia ingin mempersembahkan yang terbaik untuk suaminya dan akan memberikan segala kepercayaan kepadanya.
Hidup akan berakhir dalam hubungan saling mempercayai, itulah keindahan hidup sejati. Diandra lagi – lagi berdzikir pada Tuhannya dan bersyukur bahwa selama ini adalah nikmat yang selalu didapatkannya.
Saat membenahi jilbabnya, jarum yang mengaitkan kain tersebut tak sengaja menancap cepat di ujung jemarinya.
”Ahh..., Astaghfirullah.”
Kaget dan sakit yang dirasakan Diandra. Tanpa sengaja pula tangan yang terkena jarum itu bergerak tanpa sengaja dan menyenggol beberapa make up dan beberapa botol facial lainnya. Ada perasaan yang menyusup dalam hatinya, seolah-olah ada tanda, sebuah pertanda. Apakah ada sesuatu yang akan menimpa dirinya? Diandra pun bertanya – tanya. Apakah Tuhan sedang memberinya peringatan penting bahwa takdirnya sedang dipertaruhkan.
Diandra semakin gelisah dan melihat beberapa barang yang tersenggol tangannya berantakan.
Beberapa make up itu jatuh ke lantai, yang terbuat dari kaca pun pecah.
Pranggg!
Deg! Deg! Deg!
Detakan jantung berpacu, ada rasa gelisah yang tidak bisa dibantah menyusup seluruh jiwanya. Apakah ini adalah pertanda sesuatu?
Ada apa ini? Begitu batin Diandra tiba – tiba. Semua baik – baik saja, kemudian hati Diandra mencoba menenangkan dirinya sendiri. Namun, masih ada perasaan tak tenang yang menghampirinya.
Diandra pun turun ke bawah dan memberesi make up yang jatuh. Dia pun terus berdzikir dan meyakinkan hatinya ini adalah sebuah ketidaksengajaan semata. Diandra pun menghembuskan napasnya dalam – dalam.
***
”Kamu juga harus hidup bahagia Naura, aku mohon kita semua berhak untuk bahagia.”
Adam tak bisa menerima jika orang mendoakan dirinya bahagia sedangka orang tersebut menderita.
”Lalu... apakah kamu punya jalan keluarnya Adam?” Naura sambil menggendong bayi lucu itu dan berdiri sambil menatap pepohonan di sekitar jembatan tersebut.
Adam pun terdiam cukup lama dan desing angin seolah menamparnya dan menyadarkannya.
”Kini..., aku seperti menjadi budakmu Adam. Setelah aku menikah aku seperti budak saja, dan kamu yang membayarkan hutang keluargaku. Kini, aku menjadi tawananmu karena uang tersebut.”
Adam pun langsung menjawab, ”Uang itu aku berikan ikhlas dan tak mengharapkan apapun Naura. Aku ingin kamu bebas dan tidak lagi terbebani. Uang itu... tidak usah kau bayar, itu adalah pemberian semata Naura.”
Naura menatap Adam, ”Aku tak bisa menerimanya cuma-cuma Adam, cukup untuk semua yang sudah terjadi antara kita. Jika kamu tak bisa memilikiku Adam, maka tidak ada yang bisa memilikiku selamanya. Jadi, kamu harus bahagia bersama Diandra dan aku pamit kepadamu Adam.
Ini... adalah perpisahan kita Adam.”
Hati Adam menjadi gelisah. Dia benar – benar begitu sulit menentukan kesimpulan dari semua ini. Di saat hatinya mulai mencintai Diandra, namun saat itu juga cintanya pada Naura tumbuh kembali dan itu juga merupakan bentuk rasa kasihan dari Adam karena selama ini yang lebih menderita dari siapapun adalah Naura.
Selama ini, dia mengira bahwa dirinyalah yang disakiti dan tak bisa berbuat apa – apa. Namun, baru kini dia sadar bahwa selama ini yang paling menderita adalah Naura.
Hidup dalam beban dan tekanan.
”Naura..., maafkan aku. Aku tak bisa melupakanmu hingga sekarang. Namun, Diandra juga membutuhkan aku. Kini, aku berada di persimpangan jalan dimana aku bingung hendak memilih jalan yang mana Naura.”
Mata Adam berair, dia menatap Naura. Senyum Naura pun terpancar, seperti indahnya pualam yang paling indah. Disinari lampu jalan di jembatan dan juga sinar rembulan.
Wajah itu sangat cantik dan menawan. Adam kembali terbius, seperti beberapa tahun yang lalu di Danau Kenanga.
Saat paling bahagia ketika Adam menatap wajah itu setiap ahad dan di hatinya hanya ada nama Naura.
Kini, wajah itu bersinar bagai bidadari yang turun dengan sayap – sayap emasnya.
Naura berjalan mendekati Adam sambil terus tersenyum, semakin dekat. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah. Keduanya sangat dekat, Naura masih saja tersenyum dan Adam tak berdaya dan hanya terpesona pada keindahan wanita di depannya tersebut.
Wajah mereka bahkan sangat dekat.
”Adam..., Naura akan selalu mencintaimu, selamanya. Jika di dunia ini, aku tak bisa bersamamu. Aku akan menunggumu di kehidupan kedua kita nanti Adam.”
Suara lembut Naura benar – benar mampu menggetarkan hati Adam. Adam tak kuat berbicara sama sekali, lisannya seperti terkunci dengan keindahan wajah di depannya tersebut.
Bayi dalam dekapan Naura masih tidur dengan tenangnya, Naura menggerakkan tangannya ke depan, ”Gendong dia Adam.”
Adam patuh dan seolah terkena sihir, dia membuka kedua tangannya dan bayi itu sudah berpindah dalam dekapannya. Bayi itu sempat menggeliat sambil bibirnya mengecap namun segera terlelap dalam tidurnya kembali.
”Naura... Aku...” Adam kesulitan berbicara.
Naura pun mendekatkan jari telunjuknya ke depan, persis di dekat bibir Adam.
”Jangan katakan apapun Adam. Aku tahu, kita tidak ditakdirkan bersama di dunia ini Adam. Biarlah kisah cinta kita menjadi cerita turun – temurun. Bahwa Cinta, adalah saling mempercayai meskipun tak bisa memiliki.”
Adam berjalan beralih dan memandang pepohonan, dia membelakangi Adam.
”Aku tidak akan membuatmu bimbang dan susah lagi Adam. Aku ikhlas dengan berada di dunia dan dapat mengenalmu. Jika kamu memang masih mencintaiku..., aku harap kamu mencariku di akhirat nanti, cari aku dan temui aku... Adam.”
Tubuh Adam gemetaran dan masih duduk mendengarkan kata – kata Naura. Bayi dalam dekapannya pun masih lelap dalam tidurnya. Adam kebingungan mencerna semua hal yang terjadi hari ini. Saat itu.
”Hentikan! Hentikan mbak Naura!”
Sebuah teriakan dari pinggir jembatan, seorang wanita berlari mendekati Adam. Dia adalah Nada. Sedari tadi, Nada berada disana dan mendengarkan percakapan mereka.
Benar saja, Naura sudah berdiri dan menaiki besi tingkat pada pinggir jembatan itu. Adam sendiri baru menyadarinya karena dia terlalu gemetar. Saat menoleh itulah, Naura tersenyum kearah Adam.
”Aku mencintaimu selamanya...Adam”
Adam langsung tersadar, ”Tidak Naura, jangan lakukan itu! Aku juga sangat mencintaimu, jangan lakukan hal bodoh itu!”
Adam berdiri dan membuat bayi dalam dekapannya terbangun dan menangis tiba – tiba karena gerakan Adam yang berdiri mendadak.
Senyuman Naura merekah, ”Selamat tinggal, Adam...”
Wushhhhhhhh!
Angin berhembus, waktu seolah terhenti. Adam tak bisa mencapainya karena tangan kirinya masih memegangi bayi yang digendongnya.
Byuurrr!
Nauraaaaaaa! Nauraaaaaa!
Saat itu, Nada sudah berada di dekat Adam. Napasnya pun sengal, namun Adam sudah memberikannya bayi mungil itu.
”Jaga dia.”
Tak banyak kata, Nada langsung menerima bayi itu dan didekapnya kuat karena bayi itu masih menangis.
Satu detik kemudian. Tak ada yang dipedulikan Adam lagi, dia pun menyusul dan langsung melompat ke air deras di bawah Jembatan Tiga itu.
Wusshhhh! Byuuurr!
Nada gemetaran dalam berdirinya, benar feelingnya bahwa akan terjadi sesuatu makanya dia tadi langsung mengikuti pak Adam. Kini, dia langsung mengoyangkan kepalanya berkali – kali.
Dia mulai sadar, dan teriakan minta tolong menggema dan henti dari bibir Nada.
Cinta telah membuat seisi dunia terpesona, angin berdesau dan dunia menjadi saksi setiap manusia yang memiliki cinta di hatinya.