Nilam (Rahasia)

Ini Saatnya

Satria tahu, saatnya telah tiba. Malam itu, setelah percakapan intens dengan Tommy, apartemennya terasa sesak oleh keputusan yang harus ia ambil, kebenaran yang harus ia sampaikan. Ia memegang ponsel, menatap nama Mia di layar. Hubungan mereka, yang dibangun di atas kompromi dan ekspektasi sosial, kini harus diakhiri. Ini bukan lagi sandiwara, melainkan pengakuan jujur atas jalan yang tak bisa lagi mereka lalui bersama.

Ia menjemput Mia di sebuah restoran Italia langganan mereka. Mia, dengan senyum manisnya, sama sekali tidak menyadari badai yang akan datang. Ia bercerita tentang rapat komite kampanye, dukungan yang semakin kuat, dan rencana liburan mereka setelah pemilihan selesai. Setiap kalimat Mia terasa seperti tusukan bagi Satria, mempertegas beban pengkhianatan yang ia pikul.

"Ada yang ingin aku bicarakan, Mia," Satria memulai, suaranya lebih berat dari biasanya. Ia memilih kata-katanya dengan hati-hati, memilin serbet di tangannya.

Mia menatapnya, senyumnya sedikit memudar. Instingnya sebagai perempuan tajam. "Tumben sekali. Ada apa? Kamu terlihat tegang."

Satria menarik napas dalam. "Aku... aku ingin kita mengakhiri ini."

Seketika, ekspresi Mia berubah. Dari kebingungan, menjadi terkejut, lalu kemarahan yang membara. Ia meletakkan garpunya dengan suara dentingan keras yang menarik perhatian beberapa pasang mata di sekitar mereka.

"Apa maksudmu?" Mia menuntut, suaranya bergetar namun tegas. Ia adalah putri seorang politikus berpengaruh, dibesarkan dalam lingkungan yang menuntut kekuatan dan kontrol. "Jangan bercanda, Satria. Pemilihan tinggal beberapa minggu lagi. Kita tidak bisa... tidak bisa melakukan ini sekarang."

"Ini bukan tentang pemilihan, Mia. Ini tentang kita. Tentang kejujuran," Satria mencoba menjelaskan, suaranya lebih lembut, berharap bisa meredam amarah Mia. "Aku... aku tidak bisa lagi melanjutkan ini. Aku tidak jujur pada diriku, dan itu berarti aku tidak jujur padamu."

Mia tertawa sinis, tawa yang tidak sampai ke matanya. "Tidak jujur? Atau kau sudah menemukan mainan baru? Jangan kira aku buta, Satria. Aku tahu ada sesuatu yang aneh sejak beberapa bulan terakhir. Jadwalmu yang tiba-tiba padat, tatapanmu yang kosong saat kita bersama. Aku tahu kau bertemu dengan perempuan itu."

Satria terdiam. Ia tidak menyangka Mia sudah tahu. Matanya menunjukkan rasa bersalah.

"Siapa? Nilam? Menantu Tumpal Dongoran?" Mia mencibir, suaranya meninggi. "Seorang perempuan yang sudah bersuami, dan sekarang kudengar sudah bercerai? Dan kau, Satria Raja, calon presiden, akan mempertaruhkan segalanya untuk sebuah petualangan?"

Mia bukan korban yang tidak berdaya. Ia adalah perempuan yang cerdas, tahu cara bermain dalam arena politik dan sosial. Ia sudah mengumpulkan kepingan teka-teki, dan kini ia menyatukannya dengan amarah yang membara.

"Ini bukan petualangan, Mia," kata Satria, berusaha mempertahankan ketenangan. "Ini... ini adalah tentang menemukan kebenaran yang selama ini aku abaikan. Aku mencintainya."

Pengakuan itu seperti percikan api yang membakar batin Mia. Wajahnya memerah padam. "Mencintai? Kau berani mengucapkan kata itu setelah semua yang kita bangun? Kau akan menghancurkan segalanya! Karirmu, namaku, nama keluargaku! Apakah kau sudah gila?!"

"Aku akan menanggung semua konsekuensinya," Satria berujar tegas. "Aku akan menjelaskan kepada semua orang. Aku tidak akan membiarkanmu menanggung beban ini sendirian."

Mia berdiri, kursinya berderit mundur dengan keras. Ia menatap Satria dengan pandangan penuh kebencian. "Konsekuensi? Kau pikir semudah itu? Kau akan lihat konsekuensinya, Satria. Aku tidak akan membiarkanmu pergi dengan mudah. Kau akan membayar mahal untuk ini."

Ia melemparkan serbet ke meja, lalu berbalik dan berjalan keluar dari restoran tanpa menoleh lagi. Satria hanya bisa menatap punggungnya, tahu bahwa badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Ia telah membuat Mia menjadi musuh.

***

Beberapa hari setelah konfrontasi dengan Mia, Satria menerima pesan singkat dari kepala tim kampanyenya. "Tumpal Dongoran meminta pertemuan darurat. Besok pagi, di kantornya. Katanya ada hal sangat penting yang harus dibicarakan, dan ini bukan soal kampanye. Aku dengar dari sumberku, dia sudah tahu soal Nilam. Bersiaplah."

Darah Satria seolah membeku. Ia tahu pertemuan ini tidak akan mudah. Tumpal Dongoran bukan hanya ayah mertua Nilam, tapi juga salah satu pengacara paling berpengaruh di Indonesia, dengan koneksi luas di dunia politik dan bisnis. Keinginannya untuk menjadikan Nilam sebagai penerusnya di firma hukum Dongoran & Partners, serta ambisinya dalam ranah politik, membuat Tumpal menjadi lawan yang sangat berbahaya.

Satria memutar otak. Bagaimana Tumpal bisa tahu secepat ini? Pasti dari Mia, atau mungkin dari jaringan intelijen Tumpal sendiri. Satria tahu Tumpal akan melindungi nama baik keluarganya dan yang lebih penting, masa depan politik Nilam yang ia persiapkan matang-matang.

Pagi itu, Satria melangkah masuk ke kantor Tumpal Dongoran dengan perasaan campur aduk. Ruangan Tumpal terasa megah sekaligus intimidatif, penuh dengan buku-buku hukum tebal dan piagam penghargaan. Tumpal duduk di balik meja mahoni besarnya, wajahnya kaku dan matanya dingin. Tidak ada senyum ramah, tidak ada basa-basi.

"Duduk, Satria," ujar Tumpal, suaranya berat dan penuh wibawa.

Satria duduk, mencoba menampilkan ekspresi tenang meskipun jantungnya berdebar kencang.

"Aku dengar banyak hal belakangan ini," Tumpal memulai, menatap Satria tanpa berkedip. "Tentang menantuku, Nilam. Dan tentang kamu."

"Pak Tumpal, saya bisa menjelaskan..."

"Menjelaskan apa?" Tumpal memotong, nadanya tajam. "Menjelaskan bagaimana kamu, calon pemimpin yang seharusnya menjadi teladan, bisa melibatkan dirimu dalam skandal dengan perempuan yang baru saja bercerai dengan putra dari salah satu kolega terpenting dalam lingkaran politikmu?"

Satria menelan ludah. Tumpal sudah tahu lebih dari yang ia kira.

"Nilam dan saya... kami memiliki perasaan satu sama lain," Satria mencoba menjelaskan. "Ini bukan sesuatu yang kami rencanakan."

Tumpal mendengus. "Perasaan? Di dunia ini, Satria, ‘perasaan’ adalah kemewahan yang tidak bisa kita miliki begitu saja, apalagi di posisi sepertimu. Aku telah membangun reputasi keluargaku puluhan tahun. Aku sudah mempersiapkan Nilam untuk mengambil alih segalanya. Dan sekarang, kau datang dengan ‘perasaan’ itu dan menghancurkan semua rencanaku?"

Kemarahan Tumpal mulai terlihat. "Kau tahu siapa Nilam bagiku? Dia bukan hanya menantuku, dia adalah pewarisku. Aku telah menanamkan ambisi dan visiku padanya. Dan kau... kau mengacaukan semuanya. Belum lagi posisi kalian berdua. Kau adalah Satria Raja. Orang akan melihat ini sebagai persekongkolan kotor di balik layar politik. Atau lebih buruk, skandal percintaan yang murahan."

"Saya tidak berniat merusak reputasi Nilam atau Anda, Pak Tumpal," Satria menjawab tegas. "Saya akan menanggung semua konsekuensinya sendiri."

"Konsekuensi? Apa konsekuensi yang bisa kau berikan yang sepadan dengan reputasi yang hancur, dengan karir yang terancam?" Tumpal mengepalkan tangannya di meja. "Aku ingin kau menjauhi menantuku, Satria. Sekarang juga."

"Saya tidak bisa melakukan itu, Pa. Saya mencintai Nilam."

Mata Tumpal menyipit. "Kau keras kepala. Baiklah. Jika kau tidak mau menjauh secara sukarela, maka aku akan memastikan kau tidak punya pilihan lain. Ingat ini, Satria. Aku punya banyak cara untuk melindungi keluargaku. Dan aku tidak akan ragu untuk menggunakannya. Karir politikmu bisa berakhir sebelum dimulai."

Ancaman itu jelas. Tumpal tidak main-main. Ia akan menggunakan pengaruhnya untuk menghancurkan Satria. Pertemuan itu berakhir dengan dingin, meninggalkan Satria dengan beban berat di pundaknya.

***

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!