Nilam (Rahasia)

Musuh Terselubung

Hujan telah usai, meninggalkan Jakarta basah di bawah rembulan. Namun, intrik politik tetap mendidih. Di apartemen mewah yang tak pernah terasa seperti rumah, Nilam duduk sendirian. Dinginnya AC tak mampu membekukan gejolak benaknya. Pesan singkat dari Satria masih terpampang di layar ponsel rahasianya, sebuah janji singkat yang menyimpan bobot besar. Pertemuan rahasia di Singapura telah menjadi ritual, sebuah oase di tengah fatamorgana "kehidupan normal".

Enam bulan terakhir, hidup Nilam berputar pada dua poros. Ia adalah Nilam Cita Resmi, ahli strategi di balik layar tim sukses Satria Raja, lulusan Harvard yang mampu membedah sentimen publik dan menyusun narasi pidato yang menggetarkan. Ia adalah otak di balik slogan "Perubahan Baru," simbol harapan bagi pendamba pemimpin bersih.

Namun, di sisi lain, ia adalah Nilam yang menyimpan rahasia dendam, sebuah misi yang ia bawa sejak kanak-kanak. Hinaan "anak haram" yang melukai ibunya membentuknya menjadi pribadi yang tak pernah melupakan. Ia kini berada di posisi strategis, di pusat pusaran kekuasaan yang dulu ingin ia hancurkan. Dan ia tahu, ini adalah kesempatan terakhirnya.

Lamunan Nilam, tentang kecanggungan masa SD dan pelariannya ke perpustakaan untuk melahap buku-buku hukum, sejarah, dan politik, dibuyarkan oleh ketukan pelan.

Riko, asisten setianya selama empat tahun terakhir, muncul dengan wajah lelah namun penuh hormat. Riko selalu menjadi sosok yang bisa diandalkan, sebuah jangkar di tengah badai pekerjaan Nilam. Ia memahami seluk-beluk pikiran Nilam dan mampu mengantisipasi kebutuhannya bahkan sebelum diucapkan.

"Maaf mengganggu, Bu," ujar Riko, memegang map. "Hasil analisis sentimen publik untuk 'Kampanye Keluarga Harmonis' sudah keluar. Saya rasa ini bisa menjadi amunisi kita untuk meningkatkan poin emosional Pak Satria".

Nilam menghela napas. Bagian ini, memanipulasi emosi publik, paling ia benci. Tapi ini perlu. "Bagaimana hasilnya?"

"Sangat positif, Bu. Masyarakat merespon baik narasi tentang keluarga ideal. Terutama setelah pidato Pak Satria yang menyinggung sedikit tentang peran Bu Mia sebagai ibu negara idaman dan pentingnya dukungan keluarga dalam membangun bangsa". Nada suara Riko terdengar antusias, menandakan keyakinannya pada strategi ini.

"Itu bagus. Pastikan tim media kita terus memoles citra itu. Kita butuh resonansi. Buat Mia terlihat tidak hanya sebagai pendamping, tapi sebagai pondasi yang kuat bagi Satria". Nilam melihat kilatan pemahaman di mata Riko. Riko tahu betul bagaimana dinamika Mia—seorang ibu rumah tangga yang kini didorong ke panggung politik—bisa dimanfaatkan untuk kampanye.

"Siap, Bu. Mengenai pertemuan besok malam dengan Bu Mia di La Vela, apakah ada arahan khusus lagi?" Riko menanyakan dengan sigap, sudah menyiapkan logistik untuk pertemuan penting ini.

Pertemuan itu lebih dari formalitas; ini pertarungan bawah sadar. Mia adalah lawan cerdas yang bisa membaca apa yang tak terlihat. Sebagai sesama perempuan, Nilam paham betul kalau Mia sudah mengendus ada sesuatu antara Nilam dan Satria. Tapi, Mia harus menjaga wibawanya. Mia tidak akan bertindak gegabah. Apalagi hanya berdasarkan intuisinya sebagai perempuan dan seorang istri. Bertarung dengan Mia, jelas membutuhkan strategi yang matang.    

Mia, istri Satria, bukan sekadar pelengkap. Belakangan ini ia semakin aktif dalam kampanye, seringkali muncul di acara publik dengan senyum menawan dan narasi yang selaras dengan pesan "keluarga ideal". Riko telah melaporkan bagaimana Mia mulai membangun personal branding-nya sendiri, memanfaatkan posisi sebagai calon ibu negara untuk menarik simpati publik, terkadang bahkan melampaui arahan tim. Nilam menyadari Mia adalah kunci akses ke lingkaran dalam keluarga Satria dan Sudjono. Mia menggenggam banyak hal yang mungkin tidak disadarinya.

"Tidak ada arahan khusus. Aku akan membawa draf final pidato untuk besok. Pastikan reservasi di sudut terjauh, di mana tidak ada kamera tersembunyi. Aku tidak ingin ada kebocoran sekecil apa pun". Nilam menegaskan, ia tahu Mia sangat berhati-hati dengan citranya, dan detail sekecil apa pun bisa jadi celah.

Riko mengangguk patuh. "Baik, Bu. Ada lagi?"

"Tidak. Kamu boleh pulang. Istirahat. Kita masih punya empat minggu yang berat". Nilam melihat Riko menghela napas lega, namun tetap dengan senyum profesionalnya.

Empat tahun bekerja bersamanya, Nilam tahu Riko juga memendam ambisi. Ia sering kali melihat Riko mempelajari lebih dari sekadar tugasnya, mengamati interaksi politik, dan menganalisis strategi. Riko bukan sekadar asisten, ia adalah calon politisi yang cerdas, dan Nilam terkadang bertanya-tanya apakah Riko memiliki rahasia atau agenda tersembunyi seperti dirinya.

Setelah Riko pergi, Nilam kembali tenggelam dalam kesunyian. Matanya menatap berkas di meja. Bukan berkas kampanye, melainkan laporan investigasi yang ia susun sendiri. Laporan tentang Sudjono Utama, konglomerat media yang merupakan ayah dari Mia, dan Nasrullah Abdullah, ayah Satria Raja. Jaringan bisnis mereka saling terkait, terutama di sektor pertambangan dan perkebunan provinsi kaya. Nilam mencurigai adanya praktik ilegal dalam konsesi tambang mereka, perjanjian yang merugikan masyarakat lokal dan merusak lingkungan.

Ini adalah titik masuknya. Jika ia menemukan bukti konkret, ia bisa menjatuhkan mereka, sekaligus membalas dendam masa lalu yang menghantuinya. Nilam yakin Sudjono dan Nasrullah, yang sama-sama berkuasa, punya andil dalam karir politik Satria. Hubungan ini bukan hanya tentang kekuasaan, tapi rahasia kotor di balik citra bersih. Dan sekarang, dengan Mia yang lebih aktif dalam kampanye, akses Nilam ke lingkaran dalam keluarga Satria dan Sudjono menjadi lebih mudah. Mia adalah kuncinya.

Nilam kembali sibuk di depan komputernya. Ia harus memeriksa beberapa naskah pidato agar Satria tidak salah bicara. Materi pidato Satria memang harus dikurasi olehnya. Bersama empat orang lain dari berbagai profesi vital, tim kurasi bekerja hampir tak mengenal waktu, memperhatikan kata demi kata untuk menghasilkan naskah pidato yang sempurna. Beruntungnya, Satria memiliki kemampuan orasi mumpuni, sehingga apa yang disusun timnya bisa disampaikan dengan baik dan mudah dicerna.

Nilam membaca ulang naskah pidato yang sudah diperbaikinya. Ia tersenyum puas; semuanya sesuai rencana.

"Empat minggu lagi," gumam Nilam. Ia hanya perlu bersabar menuntaskan semua rencana besarnya. Setiap langkah sudah direncanakan matang dan penuh perhitungan. Rencana besarnya bukan hanya tentang balas dendam, tetapi juga tentang kebebasan mutlak. Setelah semua ini selesai, ia akan menghilang, pergi sejauh mungkin tanpa dikenali. Memulai hidup baru dengan identitas baru, di tempat di mana masa lalu tidak bisa menjangkaunya. Bukan sebagai Nilam Cita Resmi yang dikenal orang, bukan sebagai anak haram, bukan sebagai dalang di balik layar, tapi sebagai seseorang yang benar-benar utuh dan merdeka.

Nilam mulai merapikan meja kerjanya. Beberapa barang kesayangan dia masukkan ke dalam kotak yang telah dia siapkan. Mulai hari ini, dia akan mengangkut sedikit demi sedikit barang-barang pribadi yang telah menjadi sepak terjangnya selama lebih dari 15 tahun.

***

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!