Padang Sajadah
Kerinduan Mendalam
Ahad yang indah.
“Sudah kau catat Salwa?”
Setelah shalat dzuhur dan makan siang, mbak Lala sudah segar kembali. Senyumku terukir di antara kesyukuran padaNya. Begitu mudahnya Engkau membolak-balikkan hati manusia. Kadang saat ini dia taat, kadang setelah itu dia futur atau imannya seolah-olah sedang lemah. Mbak Lala teramat anggun dengan balutan jilbab ukuran 80 cm-nya. Masyaallah, semuanya hanya atas kehendakMu ya Allah.
“Alhamdulillah sudah Mbak, itu print out-nya di meja Mbak. Kalau data di komputernya kukasih nama ‘order undangan’ di my document,” aku kembali menekuri tilawah Quran pemberian Siti. Pekerjaanku sudah selesai, pelanggan sedang sepi, lihat saja jalanan lenggang karena panas masih menyengat. Hanya beberapa orang yang kelihatan hilir mudik, di Terminal depan saja terlihat sepi.
Aku mengakhiri bacaan Quranku, kucium penuh takhzim dan kumasukkan kembali ke dalam tasku. Kini, dia temanku selamanya, akan kubawa pergi kemana kakiku melangkah. Bukankah di akhirat kelak, dia akan memberikan syafaat dengan izinNya.
Di kala harapan amal kita tak mencukupi, tiba-tiba Al-Quran akan datang dan berkata padaNya, “Izinkah aku memberikan syafaat padanya ya Allah, karena dia telah membagi waktu siangnya untuk membaca dan mempelajariku, dia telah meluangkan waktu malamnya melawan kantuk demi membaca dan mempelajariku, dia telah menahan serak dan berat di tenggorokannya untuk membacaku, dia telah mempelajariku demi mendekatiMu. Maka, izinkanlah aku untuk memberikan syafaatku padanya.”
Subhanallah, hati siapa yang tak merinduinya.
Aku menatap mbak Lala, senyumku benar-benar terukir indah kesyukuran. Walau aku tak bisa melihat senyumku sendiri, aku yakin senyumku teramat indah. Buktinya, airmataku hampir saja jatuh karena bahagia. Lihatlah Allah, lihatlah dunia, lihatlah wahai orang yang menginginkan kesucian. Lihatlah wajah di depanku yang kini berbalut mahkota terindah yang diperintahkan Allah ‘Azza wa Jalla, wajah itu teramat indah dan menenteramkan hati siapapun yang melihatnya.
“Kenapa kamu melihatku seperti itu Salwa? Apakah?” wajahnya tiba-tiba terlihat grogi, “Apakah aku jadi lucu dengan jilbab ini? Ayo katakan,” dia berjalan mendekatiku dan duduk tepat di hadapanku.
Kedua tanganku kegerakkan ke depan membentuk persegi empat diantara ibu jari dan telunjuk, seperti orang yang sedang memotret objeknya, “Mbak tahu?”
Mbak Lala menggeleng bingung.
“Mbak sangat cantik dan Mbak tampak lebih cerah dari pertama kali kulihat dulu. Kini, Mbak terlihat selalu segar. Aku melihat iman memancar dari hati Mbak, aku melihat wajah Mbak bercahaya. Really and truly, sungguh.”
Wajahnya berubah menjadi merah, senyumku bertambah lebar.
“Kamu tahu Salwa?”
“Ada apa Mbak?”
“Allah telah melengkapi semua kebahagiaan Mbak. Mbak merasa Allah mengatur takdir Mbak dengan amat indah, dengan amat fantastic dan penuh keindahan.”
Aku serius penasaran, “Memangnya apa yang terjadi Mbak?”
“Sungguh ketetapanNya ternyata seluruhnya keindahan Salwa. Hingga, aku bingung mengungkapkan kesyukuranku padaNya. Aku bingung hendak menceritakannya.”
“Ada apa Mbak. Ayo katakan padaku, agar aku juga bisa bahagia,” aku menggoyang-goyangkan kedua pundaknya pelan. Aku belum tahu apa, tapi kebahagiaan itu seolah telah menguras seluruh jiwaku. Aku juga bahagia melihat wajahnya yang tersenyum menggemaskan.
“Baiklah, baiklah, akan Mbak katakan,” Mbak Lala menghirup udara sejenak dalam-dalam.
“Ayo katakan padaku Mbak,” aku menatapnya lekat-lekat.
“Kamu masih ingat mas Ahmad?”
Aku mencoba berfikir. Tapi, aku lupa, “Mas Ahmad siapa Mbak?”
“Dia adalah pimpinan redaksi buletin Asy-Syifa yang sering kesini untuk mencetak buletin untuk masjid-masjid seKota Metro. Yang selalu mengenakan baju koko dan seminggu sekali kesini untuk mencetak buletin. Sudah ingat?”
“Ya, mas Ahmad. Memangnya kenapa Mbak?” aku jadi semakin tambah penasaran.
“Tadi malam...,” Mbak Lala ragu hendak melanjutkan. Aku menatapnya bingung, menunggu penjelasannya.
“Tadi malam dia datang ke rumah bersama keluarganya untuk..., untuk melamar Mbak menjadi isterinya,” ketika di ujung ucapannya, mbak Lala memelankan suaranya namun cukup jelas terdengar di telingaku.
“Subhanallah, apakah Mbak menerimanya?”
“Mbak sangat bahagia karena dia dalam pandanganku adalah lelaki yang shalih, dia selalu menjaga pandangannya ketika kesini. Tutur bahasanya lembut, tapi ada satu hal yang meragukanku,” tatapan matanya kini serius menatapku.
Aku lagi-lagi dibuatnya bingung, “Apa yang meragukan langkah Mbak?” tentu saja menikah bagi Mbak Lala sudahlah waktunya. Dia baru saja selesai S1-nya di jurusan komunikasi, lalu, apa lagi yang meragukannya?
“Sebenarnya tadi malam aku ingin memberikan jawabanku menerimanya, tapi aku ingin meminta pendapat seseorang yang aku percaya.”
“Ibu Mbak maksudnya?”
“Bukan,” Mbak Lala menggeleng.
“Ayah Mbak?”
“Bukan,” dia menggeleng lagi. Aku baru sadar, jika dia ingin bertanya kepada kedua orangtuanya tentu saja mereka di rumah. Lalu siapa? Aku tak berani menduga-duga.
“Orangnya ada di hadapanku sekarang.”
Angin semilir menerpaku, mengelus wajahku. Ucapannya benar-benar membuatku linglung sejenak. Aku? Dan bibirku kelu tak bisa berujar apa-apa. Mataku seolah berkedut, dan dahiku berkerut heran sejenak.
“Aku ingin meminta pendapatmu.”
“Kenapa aku Mbak. Aku juga sama seperti Mbak, aku baru saja menemukan jalanNya, aku baru belajar mengenalNya?”
“Karena kau hadiah dari Allah ‘Azza wa Jalla untuk Mbak. Allah mengirimkanmu kepadaku, kau banyak menyadarkan jiwaku. Ceritamu dalam menetapi iman, adalah cerita yang menyentuh iman Mbak. Maka, insyaallah pendapatmu merupakan saran terbaik bagi Mbak.”
Hening. Daun yang gugur adalah ketetapanNya semata. Tentu, hal ini juga merupakan ketetapanNya. Allah, kau muliakan hambaMu ini sekehendakMu. Namun, jangan Kau tinggalkan hamba sekejap atau setarikan nafas sekalipun atau bahkan satu denyut nadi yang terbentuk.
“Lalu, bagaimana pendapatmu adikku?” matanya menatapku penuh pengharapan.
“Sungguh Mbak, aku tak pantas memberimu pendapat. Namun, satu pesanku pada Mbak. Jika seorang lelaki datang kepada kita dan terlihat kebaikan dan keshalihannya, maka tidak ada alasan untuk menolak pinangannya. Namun, untuk meyakinkan hati Mbak. Shalatlah istikharah dulu agar Mbak semakin yakin akan ketetapanNya karena ketetapanNya adalah yang terbaik untuk hamba-hambaNya.”
Mbak Lala memelukku erat. Erat sekali.
“Itulah kenapa aku yakin padamu, aku yakin Allah ‘Azza wa Jalla yang mengirimkanmu sebagai pelipur dan penyejuk iman Mbak. Setiap kata-kata yang kau ucapkan teramat sejuk di hatiku, setiap lakumu adalah contoh buat Mbak. Kau adalah anugerah dariNya, aku ingin kita dapat bersama terus hingga nanti insyaallah di surgaNya.”
“Amiin,” airmataku menetes, hatiku terasa teduh. Tuhan, kemulyaan apa lagi yang Kau berikan pada hamba yang hina ini? Kau Mahatahu segalanya apa yang di langit dan di bumi. Kau tentu tahu betapa dosaku memenuhi langitMu, dan kini, hamba berusaha sekuat tenaga membenahinya. Berusaha menujuMu, setulus hatiku akan mengangungkanMu. Aku berjanji padaMu, akan berusaha sekuat tenaga ya Allah.
© © ©
“Salwa, ada yang mencarimu di luar,” mbak Lala tersenyum sambil menepuk pundakku pelan ketika aku sedang meng-save beberapa transaksi.
“Siapa Mbak?”
“Namanya bu Nisa dan anaknya yang masih kecil.”
“Benarkah?”
“Ya. Mereka sudah kupesilakan duduk. Siapa mereka Salwa, sepertinya wajahmu berubah cerah ketika mereka datang?”
“Bu Nisa adalah orang yang dulu aku tunggu-tunggu ketika aku mencari jawaban tentang semua masalahku. Dia adalah wanita yang kucari-cari ketika aku dulu menunggunya disini, dan anak itu adalah Siti yang pernah kuceritakan pada Mbak.”
“Jadi itu mereka?” wajah mbak Lala berubah terkejut.
Aku mengangguk, “Iya.”
“Semenjak kau bercerita tentang mereka, betapa aku ingin bertemu dengan mereka dan berdoa agar Allah mempertemukannya. Kini, Allah mengabulkan doaku. Ayo, kita temui mereka sekarang?”
Jika hubungannya dengan iman. Sungguh, semuanya terasa indah. Lihat saja, karena iman mbak Lala berdoa agar bertemu seseorang, agar dapat merasakan manisnya iman yang sesungguhnya. Yang para Ulama mengatakan, ‘Seandainya para pembesar kerajaan mengetahui kenikmatan dan kebahagiaan (menetapi iman) yang kami rasakan. Tentu mereka akan merebut dan merampasnya dengan apapun yang mereka miliki. Dengan pedang dan uang mereka.’ Ya. Itulah kekuatan iman.
Aku melihat senyum tulus bu Nisa, kami berangkulan. Aku menciup kening Siti dan mensejajarkan diriku kepadanya dengan duduk. Dia melonjak dan memelukku sehingga aku mengangkat dan menggendongnya.
“Siti merengek terus. Dia kangen sama kamu Nak Salwa.”
Aku menatap wajah Siti yang duduk di pangkuanku.
“Aku kangen sama Mbak. Kenapa beberapa hari ini tidak ke rumah?”
“Mbak lagi banyak tugas Adikku yang cantik,” aku gemas menatapnya.
“Oya Bu, kenalkan ini mbak Lala,” mereka bersalaman. Hatiku tersenyum penuh kesyukuran, begitulah iman yang menyatukan setiap perbedaan. Yang menyatukan antara kaum muhajirin dan anshar melebihi hubungan nasab sekalipun, itulah iman.
“Mbak, hari ini aku ingin jalan-jalan berdua saja dengan Mbak. Mbak bisa kan?” wajahnya polos berharap.
Aku melirik bu Nisa, dia mengangkat kedua pundaknya sambil tersenyum. Lalu, aku menatap mbak Lala, dia juga melakukan hal yang sama seperti bu Nisa. Kompakan ya?
“Pergilah jalan-jalan. Biar mbak jaga, lihatlah masih ada Sarman, Firman dan Teguh,” mbak Lala melirik sejenak ke belakang. Tiga orang karyawannya tengah sibuk lay out dan mencetak beberapa undangan, “Tidak apa-apa, ini juga ahad. Tentu, tidak akan seramai waktu hari kerja. Mbak juga ingin berbincang dengan bu Nisa dan berkonsultasi beberapa permasalahan.”
“Iya Nak, pergilah. Aku akan menunggu disini sampai kalian kembali,” Bu Nisa tersenyum menatapku.
Dan akupun tersenyum menatap Siti, “Ayo, kutunjukkan banyak hal padamu,” dan kami berjalan kearah matahari bersinar. Kami berjalan menelusuri pasar dan, melihat kebesaranNya. Kami menuju Taman Kota.
Seorang wanita tua tampak duduk di pinggir jalan, tangan kanannya memegang wadah mangkuk kecil, menengadah ke jalanan. Sedangkan tangan kirinya memegang tongkat kayu yang terlihat tua, berharap ada orang yang ingin menyedekahkan sedikit hartanya.
Di hatiku timbul pikiran untuk mengajari Siti. Bukankah hati anak kecil teramat polos untuk mengikuti apa yang dilihatnya. Sedangkan, amal yang baik jika diikuti orang lain maka akan menjadi ilmu bermanfaat yang akan terus mengalir walau manusia meninggalkan dunia ini?
Aku mengambil uang lima ribuan dan menuntun Siti mendekati wanita tua itu. Setiba di dekat wanita tua itu, dia menengadahkan tangan kanannya sedikit maju kearah kami. Mungkin dia melihat senyum kami kearahnya, dan menandakan bahwa kami akan memberinya sedekah.
Aku pun menghulurkan tanganku hendak memasukkan uang itu ke dalam wadah mangkuk wanita tua itu.
Namun...
Tangan kecil Siti juga menghulur tepat bersamaku, tangan kami bersejajar kini di atas mangkuk si wanita tua. Subhanallah, ternyata dia juga telah merencanakan dari jauh tadi karena ketika dekat dengan wanita tua tangannya langsung keluar dari balik saku dan uang itu telah tersedia.
Dan bukanlah itu yang membuatku takjub. Tapi...
Tanganku bergetar ketika uang lima ribuan dari tanganku jatuh tepat di atas mangkuk kecil milik si wanita tua. Tepat di atas uangku yang berada di dalam mangkuk, uang dari Siti jatuh dan menimpa uangku. Uang itu..., sepuluh ribu rupiah. Inikah kekuatan iman, ada iri dalam hatiku karena aku telah kalah dalam beramal. Apakah ini juga yang dirasakan Umar bin Khattab ra. ketika dia kalah berinfak pada Abu Bakar Ash-Shidiq ra.?
Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab ra. memberikan hartanya pada Rasulullah saat akan persiapan perang. Umar dalam hati berfikir bahwa dialah yang paling banyak memberikan hartanya, yaitu setengah dari hartanya. Tiba-tiba datang Abu Bakar ash-Shidiq ra. membawa uang dan diberikan pada Rasulullah saw. Rasul bertanya, ”Apa yang kau tinggalkan untuk keluargamu sehingga seluruh uangmu kau infakkan?” Abu Bakar ra. menjawab, ”Aku meninggalkan Allah dan RasulNya pada keluargaku.”
“Terima kasih. Semoga Allah melapangkan rezeki kalian, memulyakan kalian di dunia dan di akhirat, memberikan kebaikan-kebaikan, dan memudahkan urusan jodoh kalian.”
“Amiin,” aku mengamini dengan khusyuk. Bukankah doa orang-orang yang lemah tak memiliki pembatas dengan Allah ‘Azza wa Jalla, ‘Sesungguhnya Allah hanya memberikan pertolongan kepada ummat ini karena orang-orang lemah mereka, dengan doa, dengan shalat, dan keikhlasan mereka.’ (HR. An-Nasa’i).
Kami melanjutkan perjalanan.
“Adikku, kau sudah mempersiapkan uang infak ya ketika bepergian?”
“Tidak Mbak,” Siti menjawab sambil mendongakkan kepalanya padaku, senyumnya teramat indah.
“Lalu, kenapa tadi sepertinya kau sudah bersiap-siap memberikan uangmu sedari jauh dari wanita tua itu?”
“Uang itu memang sudah ada dikantongku, Umi yang memasukkannya.”
“Jadi, itu uangmu satu-satunya?”
“Iya Mbak,” Siti mengangguk mantap.
“Kau tidak berfikir, misalnya beli snack atau jajanan? Uangmu kan sudah habis?” aku kembali menguji daya pikirnya.
“Kan ada Allah yang selalu bersama kita Mbak. Jika kita lapar, Dia yang akan memberi kita makanan.”
Deg! Allah..., anak kecil ini telah bermakrifat kepadaMu. Tunjukkanlah jalanMu selalu padaku dan pada Siti, amiin.
“Siapa yang mengajarimu seperti itu?” aku jadi penasaran darimana Siti belajar banyak hal.
“Dari Kakakku. Aku kangen padanya, kata Umi sebentar lagi dia pulang dan kembali berkumpul bersamaku. Nanti, pasti Mbak Salwa akan kukenalkan padanya. Mbak pasti akan senang berkenalan dengannya.”
Seperti apa Kakaknya sebenarnya. Dia laki-laki atau perempuan? Ya Allah, pertemukanlah aku denganNya, aku ingin belajar banyak darinya.
“Sebenarnya Kakakmu itu...,”
“Dion! Dion!” Siti berteriak-teriak memanggil sekumpulan anak kecil yang duduk dan tengah tertawa-tawa dengan pakaian lusuh di depan sebuah toko emas. Seorang anak kecil berdiri dari kumpulan itu dan melihat kearah kami. Anak kecil itu..., ya. Dia adalah Dion.
Ada kekagetan dari raut wajah Dion, dia mundur satu dua langkah. Kami mendekati sekumpulan itu, namun Dion berlari dengan kecepatan penuh meninggalkan kami. Kami memanggil-manggilnya dan berusaha mengejar, tapi dia telah menghilang di tikungan barisan toko.
“Kenapa dia lari ya Mbak?”
“Kamu kenal dia Adikku?”
“Dia temanku sewaktu sekolah, hanya saja ketika kelas lima dia sudah tidak pernah berangkat lagi. Dia pernah bilang katanya hendak pindah. Tapi, kenapa dia masih disini?”
“Kamu tahu rumahnya?”
“Iya, aku masih ingat.”
Kami masuk ke gang-gang di sekitaran pasar. Sekarang Siti kelas enam SD, dan Dion sudah tidak sekolah sejak kelas lima. Jalanan gang itu sedikit becek karena kebersihan yang kurang terjaga dengan baik. Sedikit kumuh, dirtiness.
“Ini rumahnya Mbak,” Siti berhenti di rumah yang sangat kecil untuk ukuran rumah. Ini barisan rumah kontrakan.
Kami mendekati pintu tersebut, “Assalamu’alaikum,” aku mengetuk pintu pelan. Satu kali, tak ada sahutan. Kuulangi lagi, kutunggu sejenak. Kuulangi sekali lagi, ini yang terakhir.
“Wa’alaikumsalam,” suara serak dan berat terdengar dari dalam.
Pintu tua itu terkuak pelan, seorang wanita tua yang kepayahan lagi berat melangkah menatap kami keheranan, “Kalian mencari siapa?” wajah itu terlihat sakit.
“Kami mencari Dion Bu. Apa dia tinggal disini?”
“Iya, mari masuk,” kami mengikuti langkah wanitu yang lemah itu, sangat pelan. Langkahnya diseret dan ketika melewati kursi kayu itu, kakinya sedikit tersandung kaki kursi dan wanita itu terjatuh pelan.
“Astaghfirullah,” wanita tua itu sempurna jatuh terduduk, kami memegangi tangannya dan berusaha membantunya bangun dan duduk di kursi. Siti juga membantuku.
“Ibu!” seorang anak kecil keluar dari arah belakang, dia Dion.
Dion melihat kami sedang membantu wanita tua itu duduk, “Tolong jangan apa-apakan Ibuku! Biar aku saja yang bertanggung jawab!”
“Memangnya kamu melakukan apa Dion! Kamu mencuri!” ada kekagetan di wajah wanita tua di sebelah kami. Sungguh, keadaanya terlihat parah. Wajahnya teramat pucat.
Aku dan Siti berpandangan bingung hendak berkata apa.
© © ©
Kulihat Dion tersenyum padaku, “Maafkan aku ya Mbak. Ternyata aku salah sangka,” wajahnya nampak malu melihatku, “Dan terimakasih untuk semua kebaikan Mbak.”
Ya, inilah ketetapan Allah, ketetapanNya sesungguhnya adalah yang terbaik dari setiap apapun. Dion mengira aku ke rumahnya untuk menuntut waktu aku memberinya uang dan dia membelikannya roti dan rokok untuk teman-temannya. Ceritanya, dia sebenarnya hanya membelikan roti untuk temannya yang menunggu warung di pinggir jalan itu sedangkan teman-temannya yang lain memaksanya dan merebut uangnya untuk membeli rokok.
Bu Nisa berjanji untuk besok mendaftarkan kembali Dion ke sekolah, telah setingkat telat dan berarti mengulang kelas lima. Dia keluar dari sekolah karena Ibunya sakit dan tidak bisa membiayai sekolahnya lagi. Sedangkan, ayahnya sudah meninggal semenjak dia kecil. Bu Nisa lebih mudah ketika akan mengurus sekolah Dion karena sekolahnya sama dengan Siti, dan bu Nisa selalu mengantarkannya setiap sekolah.
Bu Nisa akan menjadi Ibu asuh bagi Dion. Dan tadi kami membawa bu Sulis, ibunya Dion, ke Rumah Sakit. Ternyata sakitnya karena sakit biasa, namun karena tidak pernah dibawa berobat, hingga semakin terlihat parah. Ada indikasi penyakit darah rendah, dan dia selalu bekerja keras untuk membiayai sekolah anaknya dan memenuhi kebutuhannya sendiri hingga sakitnya bertambah parah.
Hari ini aku pulang kerja lebih awal, tentu saja karena ahad dan Toko ‘Aneka Printing’ tutup lebih cepat. Aku mengajak bu Nisa dan Siti ke tempat dua anak asuhku, Angga dan Siti, namanya sama. Siti melompat gembira karena diajak ke tempat anak asuhku. Dion tidak bisa ikut, dia harus menjaga Ibunya.
“Sekali lagi terima kasih ya Mbak?” Dion mencium tanganku lagi, “Doaku telah dikabulkan Allah. Yaitu doa, agar dia mengirimkan orang yang membantuku bersekolah lagi. Dan, Allah menurunkan Mbak.”
Aku menatap langit yang masih terlihat terang ba’da ashar ini. Semua ketetapanMu sangat aneh kurasakan ya Allah, semua serba tiba-tiba, serba teratur begitu runutnya Kau mengaturnya. Astonish and amazing. Jikalau bukan Engkau, tidak akan pernah ada kejadian ini, ketetapanMu adalah aturan yang terjadi di bumi. Termasuk, semua kisahku.
Aku melangkah kembali untuk menetapi setiap ketetapanNya dengan senyuman setulus dan sejernih air. Honest and straight. Meninggalkan setiap keraguan yang coba syetan terlaknat hembus-hembuskan.
Alangkah bahagianya Siti ketika kuajak pertama ke rumah Siti anak asuhku di sekitaran pasar. Bayaran sekolahnya masih lama, ini saja masih pertengahan semester, jadi aku tidak memberi uang, sekedar bersilaturahim.
Siti berwajah cahaya berbincang seru dengan Siti anak asuhku. Aku, Bu Nisa dan pak Darman mengobrol di kursi kayu tua. Pak Darman seorang tukang becak yang sering mangkal di Pasar Cenderawasih. Siti anak asuhku bekerja sepulang sekolah hingga pukul tiga, di warung bu Giri sebagai buruh cuci piring. Anak sekecil itu...
Siti semakin gembira ketika bertemu dengan Angga di blok belakang Rumah Sakit. Angga, dia anak yang pintar. Juara pertama di kelasnya, walau termasuk keluarga tak berada namun semangat belajarnya tinggi dan keberhasilan dibuktikannya. Siti dan Angga berbincang seputar pelajaran, kadang terlihat diskusi mereka amat seru. Aku tersenyum menatap mereka.
Ketika matahari hampir terpendam di kaki langit sebelah barat, kami berpamitan pada bu Larsih, ibu Angga. Angga menangis dan mencium tanganku ketika aku hendak pamit.
“Terima kasih ya Mbak. Karena doa Mbak, aku bisa selalu menjadi juara kelas dan juga dapat terus bersekolah. Aku akan selalu mendoakan agar Mbak Salwa selalu bahagia dan selalu dalam lindungan Allah.”
“Amiin.”
Dunia seolah berbisik “Amiin’ memenuhi seluruh penjuru dunia dan langsung menembus Arsy Allah ‘Azza wa Jalla. Hidayah yang kudapat lantaran kebaikan orang-orang lemah yang tak berhenti mendoakan. Allah, masihkah hamba bisa berlaku sombong? Tidak bisa sedetikpun ya Rahman.
Siti sangat bahagia hari ini, wajah bercahayanya tampak semakin cemerlang.
“Terima kasih ya Mbak atas semuanya,” Siti yang duduk di sebelahku melirikku sambil tersenyum. Bu Nisa hanya tersenyum sambil kini menatapku pula.
Di gang menuju kost-ku, mobil berhenti.
“Pamit Bu, Siti. Assalamu’alaikum,”
Mereka menjawab salamku, mobil melaju kembali dan kulihat senyum mereka seolah tertinggal. Tertinggal di hatiku dengan jelas. Saatnya pulang, meneruskan kembali segala proses kehidupan ini, dalam ketetapanNya yang indah.
Terima kasih ya Allah, untuk semua orang-orang yang Kau kirimkan dalam semua penggalan hidupku. Orang-orang yang mencintai hamba dengan tulus. Lihatlah, mereka memperlakukan aku dengan sangat baik, dan Kaulah yang mengaturnya.
Mereka yang berteman satu sama lain karena Aku, berhak memperoleh cintaKu dan mereka yang saling membantu antara sesamanya, karena Aku, berhak memperoleh cintaKu. Dan tiadalah seorang mu’min (pria ataupun wanita) berserah diri karena Allah atas kematian tiga orang dari antara anak kandungnya yang belum dewasa, pasti Allah ‘Azza wa Jalla memasukkannya ke dalam surga dengan limpahan karunia rahmatNya. (HR. Thabarani).