Padang Sajadah

Langkah Cinta (1)

 “Bangun wahai bidadari,”

“Bangunlah.”

Tubuhku tergoncang pelan, hingga bergoyang-goyang.

“Bangunlah wahai bidadari.”

Dengungan suara membahana di seluruh ruang diriku. Fairy? Siapa yang memanggilku dengan nama seindah itu, nama yang selalu kupanjatkan agar aku menjadi bagian darinya. Bidadari? Ya, bidadari.

“Bangunlah wahai bidadari.”

Dalam gelap pandanganku setitik air dari langit turun dan jatuh, jatuh tepat di wajahku. 

“Bangunlah wahai bidadari, kumohon.”

Apakah aku hanya bermimpi. Pasti mimpi! Dan aku harus segera bangun. Aku mencoba menggerakkan seluruh organ dalam tubuhku. Aku berusaha dan terus berusaha hingga tak mengenal putus harapan, aku harus bangun!

Kupaksakan membuka mataku pelan, bau menyengat tiba-tiba menusuk. Bau obat-obatan. Kubuka lebar mataku, mataku memburam melihat seorang anak kecil yang tengah menangis dan duduk di sebelah kepalaku.

Siti.

“Si...,” berat sekali suaraku tertahan dalam tenggorokan. Belum selesai aku berbicara, Siti telah turun dan kembali dengan membawa satu gelas yang diambil dari meja dekat ranjang. Aku memaksa diri bangun dari tidur. Pelan-pelan, Alhamdulillah akhirnya bisa. Bu Nisa membantuku dengan mengambil bantal sebagai sandaran, dia tersenyum seperti biasa.

Banyak orang disana, mbak Lala kulihat duduk sambil wajahnya terlihat sedih, Zulfa dan Azizah kelihatan berdiri di samping kananku. Aku meneteskan airmata kesyukuran padaNya, betapa Dia tidak pernah meninggalkanku sedetikpun walau disaat aku tak terjaga.

Maka nikmat Tuhan kamu  yang manakah yang kamu dustakan? (QS. Ar Rahman: 16).

Sungguh, tidak ada lagi ya Allah. Semua yang menimpa hamba adalah ketatapanMu dan itulah yang terbaik untuk hamba. Karena, Kau lebih tahu mana yang terbaik untukku dan yang buruk untukku. Hamba akan belajar ikhlas, walau kata ikhlas tidak semudah perkataan yang keluar dari lisan.

Ibnu Qayyim al Jauziyah rahimallah menjelaskan bahwa, ‘Manakala manusia ikhlas kepada Rabb-nya, Allah akan memalingkan dari hambaNya tersebut segala hal yang akan mendorong pada keburukan dan kekejian, sehingga hamba itu akan dipalingkan dari setiap keburukan. Kesimpulannya, ikhlas adalah solusi terbaik untuk menjadikan hidup tenang.’

Ibnu Qayyim rahimallah juga menambahkan, ‘Bahwa pangkal dari semua kemaksiatan, baik yang besar maupun yang kecil, ada tiga penyebabnya : bergantungnya hati manusia selain kepada Allah ‘Azza wa Jalla, menuruti kehendak angkara murka, dan menuruti kehendak nafsunya. Ketiga perkara itu akan mengundang kepada yang lain jika satu dilakukan, sebagaimana ikhlas dan tauhid yang lurus akan menyirnakan kedzaliman dan kekejian dari diri orang yang ikhlas dan bertauhid.’

Jika kita melihat secara mudahnya adalah contoh ketika manusia ditimpa musibah dan cobaan semisal sakit. Jika sang hamba tersebut tidak ikhlas dan akhirnya kecewa dengan Allah ‘Azza wa Jalla serta akhirnya akan membangkang perintahNya serta berbuat sesuatu kedzoliman sebagai bentuk kecewa padaNya. Namun beda ketika disikapi dengan ikhlas, maka si hamba akan bertaubat mungkin saja sakit itu adalah teguran dari Allah, atau bahkan merupakan tanda cintaNya karena hamba tersebut telah melakukan dosa sehingga Allah ‘Azza wa Jalla ingin menghilangkan dosa tersebut dengan mengirimkan sakit kepadanya. Allah cinta karena tidak ingin dosa tersebut dibawa ke hadapanNya saat di hisab di yaumul akhir.

Jika kita melihat contoh pula pada orang yang ditimpa kemiskinan dan akhirnya menyalahkan Allah ‘Azza wa Jalla dengan protes dan kecewa pada ketetapan dan takdirNya. Maka bisa saja akhirnya mengundang untuk berbuat melakukan sesuatu yang dilarang oleh Allah dengan mencari uang dengan tidak halal dan akhirnya uang yang haram itu akan menjadi daging serta akhirnya hatinya pun akan terpengaruh dan mengundang dosa-dosa yang lain. Begitu terus menerus hingga syahwat dan angkara murkanya tidak akan pernah terpenuhi kecuali melakukan kedzoliman terus-menerus. Naudzubillah.

Tentu beda ketika kemiskinan dijadikan sebagai bahan evaluasi karena mungkin jika dia kaya dia akan lupa padaNya. Berarti, Allah ‘Azza wa Jalla belum menghendaki kepadanya kekayaan uang saat itu. Bahkan, jika dia berhusnudzon (Berprasangka baik, lawan kata dari Suudzon (berprasangka buruk) kepadaNya maka dia akan terus bergiat untuk berusaha keras agar mencapai kemulyaan dan ketika telah kaya dia bersyukur dan memberikan kemanfaatan kepada manusia yang lain. Itulah kekuatan ikhlas.

Dan berilah hamba keikhlasan itu wahai Rabbku.

‘Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari hati yang tidak khusyuk, dari doa yang tidak didengar, dari jiwa yang tak pernah puas, dan dari ilmu yang tidak bermanfaat.’ ( HR. Tirmidzi dan Muslim).

 

Wahai Pemilik nyawaku

Betapa lemah diriku ini

Berat, ujian dariMu

Kupasrahkan semua padaMu

 

Tuhan, Baru kusadar

Indah nikmat sehat itu

Tak pandai aku bersyukur

Kini kuharapkan cintaMu

 

Berharap akan jiwa yang lapang atas semua takdirMu, berharap agar hati begitu ikhlas dan mengharapkan kebaikan semata dariMu, berharap bahwa sakit ini meleburkan segala dosa-dosaku, dan berharap bahwa ini semua adalah ujian agar hamba bisa menjadi hamba yang pandai bersyukur dan menuai gelar terindah sebagai orang yang sabar. Amiin.

Aku meneteskan airmataku, “Allah..., ampuni hamba, kuatkan hamba, berkahi hamba. Allah, berilah petunjuk, berilah cintaMu agar hamba menjadi pecinta yang mengetahui apa yang Kau inginkan. Allah...”

Azizah mendekat kearahku dan mengecup keningku pelan, “Salwa, aku mencintaimu karena Allah. Aku banyak belajar darimu tentang ketegaran.”

“Mbak La...La bagaimana pernikahan Mbak. Maaf saya tidak bisa menemaninya,” aku merasa bersalah pada mbak Lala.

Mbak Lala mendekatiku dan memegang tangan kananku, “Kau lebih penting dari apapun. Kini, jangan pikirkan hal aneh-aneh dulu. Kamu harus segera sembuh ya?” airmatanya menetes.

“Mana suami mbak Lala? Mana mas Ahmad Mbak?” walau suaraku serak namun kuyakin dia bisa mendengarnya.

“Mbak menundanya hingga kau sembuh dan mas Ahmad menyetujuinya. Makanya lekaslah sembuh, kau harus berusaha bangkit ya?” lagi-lagi kulihat airmata itu kembali menetes.

“Masyaallah, bukankah itu kebahagiaan Mbak? Kenapa ditunda?”

“Karena Mbak sayang sama kamu Salwa. Mbak gak ingin bahagia dan kamu masih sakit seperti ini.”

Allah, demi kemulyaanMu. Apa yang Kau berikan kepada hamba telah cukup membuat hamba yakin akan segala kebesaranMu. Allah, kuserahkan seluruh hidupku kepadaMu.

“Mbak lekas sembuh ya?” Siti menatapku dengan ketulusannya.

Dan kami larut dalam cintaNya.

Nabi saw bersabda, ‘Sesungguhnya Allah akan menjaga hambaNya yang beriman – dan Dia mencintainya- seperti kalian menjaga makanan dan minuman seorang yang sakit (diantara) kalian, karena kalian takut pada (kematian)nya.’ (HR. Al-Hakim, Ibnu Abi ‘Ashim dan Al-Baihaqi).

Itulah penjagaanMu wahai Rabbku, Kau sangat khawatir kepada hambaMu. Padahal kami selalu dan selalu berbuat dosa padaMu. Hamba teringat perkataan para waliMu yaitu para ulama pernah mengatakan, ‘Jangan kau merasa bosan berdiri di pintuNya, meski kau diusir. Kalau kau kembali berbuat maksiat, jangan merasa bosan berdiri di pintuNya, dan jangan kau putus beralasan, meski kau ditolak. Dan jika pintu dibuka bagi yang diterima, masuklah sebagai orang yang tak diundang, lalu bentangkan kedua tanganmu, lalu katakanlah, ‘Kasihanilah aku, bersedekahlah padaku, wahai Dzat Yang Paling Pengasih’.”

Subhanallah, itulah cinta Tuhan kita, Allah ‘Azza wa Jalla.

 

Kata-kata cinta terucap indah

Mengalir berdzikir di kidung doaku

Sakit yang kurasa biar jadi penawar dosaku

Butir-butir cinta airmataku

Teringat semua yang Kau beri untukku

Ampuni khilaf dan salah

Slama ini ya Ilahi

Muhasabah cintaku

 

Tuhan, kuatkan aku

Lindungiku dari putus asa

Jika kuharus mati, pertemukan aku denganMu

 

Kata-kata cinta terucap indah

Mengalir berdzikir di kidung doaku

Sakit yang kurasa biar jadi penawar dosaku

Butir-butir cinta airmataku

Teringat semua yang Kau beri untukku

Ampuni khilaf dan salah

Slama ini ya Ilahi

Muhasabah cintaku (Edcoustics : Muhasabah Cinta)

©     ©     ©

Aku telah kembali ceria, seperti sedia kala. Pure and cloudless. Aku telah bekerja seperti biasanya. Toko Aneka Printing yang baru mulai pembukaan telah ramai dengan pelanggan. Subhanallah, inilah semua jawaban dari ketetapanMu pada hamba. Kesyukuran semakin mengalir deras di setiap darahku hingga tak ada kata yang menyesaki setiap sel darahku kecuali namaMu.

Aku pingsan pada saat itu karena tubuhku masih lemah dan bukan karena gangguan ginjal, hanya terlalu kecapaian. Aku harus banyak beristirahat saja, lihatlah mbak Lala, Sarman, Teguh dan Firman selalu mengomel ketika aku mulai mengangkat barang membantu mereka. Aku juga tak bisa berbuat apa-apa kecuali menuruti mereka, bukankah membahagiakan sesama muslim adalah bagian dari ibadah?

Mbak Lala telah menikah, aku melihat keceriaan ketika aku menghadiri akadnya. Kini, pasti dia masih berlibur mengisi bulan madunya.

Mas Firman kebagian menjadi penjaga di toko yang lama bersama Teguh, ditambah dua karyawan baru satu perempuan dan satu lelaki disana. Sedangkan, di toko yang baru dan besar itu yang menjaga disana ada mbak Lala, Sarman dan empat karyawan baru. Dan aku hanya datang saja membantu ketika waktu kuliah dan waktuku belajar serta mengajarkan ilmu agama longgar. Mbak Lala membebaskan aku  karena alasannya kini aku sebagai pemegang saham dan berhak mendapatkan benefit kala stock opname setiap bulannya.

Dunia amat ceria, dan ceritaku akan terus berlanjut.

Seperti ceritaku di sore ini, dan Allah kembali menunjukkan kuasaNya padaku.

Aku teramat rindu pada Siti, si kecil berwajah cahaya itu. Saat hendak berangkat menuju rumahnya, aku dikagetkan dengan kedatangan mereka ke kost-ku. Mereka datang bertiga dengan pak Samsul dan bu Nisa.

Aku menyambut mereka, Ratih dan Rini ikut menjamu mereka sehingga ruangan di dalam kost sedikit sempit namun masih cukup lebar.

“Subhanallah, padahal hari ini saya berniat hendak ke rumah Siti. Tapi, ternyata Allah mendahulukan kalian daripada saya untuk bersilaturahim.”

Bu Nisa menatapku, “Benarkah?”

“Iya. Entah kenapa tiba-tiba rinduku membuncah dan ingin bermain bersama si cantik ini,” aku mengelus jilbab Siti yang duduk di pangkuanku.

Bu Nisa dan pak Samsul saling bertatapan dan seolah ada yang mereka sembunyikan karena seolah saling mempersilakan.

“Ada sesuatu rahasiakah yang Bapak dan Ibu sembunyikan dariku? Apakah kalian merasa kalau saya orang lain setelah semua yang terjadi?” aku menatap wajah bu Nisa, aku mencoba mencari jawaban di wajahnya yang menyejukkan.

“Kamu saja yang menjelaskan Mi,” pak Samsul berkata dan menatap Isterinya. Ada sesuatu yang besarkah?

“Begini Anakku,” bu Nisa masih terlihat berhati-hati, “Bagaimana menurutmu jika ada lelaki yang shalih datang kepada perempuan dan melamarnya, sedangkan wanita itu telah cukup umur dan sudah siap pula dari beberapa sisi?”

Pertanyaan aneh, “Jika seorang lelaki shalih datang melamar, maka tidak ada alasan bagi perempuan itu untuk menolaknya selama tidak ada lagi alasan yang syari. Memangnya kenapa Bu?”

“Itulah masalahnya Anakku,” wajah bu Nisa menatapku.

“Maksud Ibu?” aku jadi tambah penasaran.

“Bagaimana kalau lelaki shalih itu datang kepadamu dan melamarmu, apakah kau mempunyai alasan untuk menolak?”

“Wah-wah, ini pasti lelucon. Mana ada yang mau melamar saya Bu..,” aku tersenyum pada bu Nisa. Ratih dan Rini juga masih duduk di sebelahku.

“Aku tidak bercanda Salwa, ada seorang lelaki yang shalih datang kepadamu dan melamarmu. Sore ini kami datang untuk mengabarkan padamu tentang lamaran itu.”

Deg! Jantungku terkesiap, tak kulihat sedikitpun ada canda dan gurauan dari wajah serius bu Nisa. Siapa yang hendak melamarku? Allah, rahasia apalagi yang Kau sembunyikan dan Kau persiapkan untuk hambaMu yang hina ini?

Aku tidak mungkin menyanggah jika bu Nisa sudah mengatakan bahwa lelaki itu adalah lelaki yang shalih. Tentu bu Nisa lebih mengetahuinya, Allah...., apa yang harus hamba lakukan?

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!