Padang Sajadah
Kenangan Bersama Bi Murni
“Ayo Non, kita belajar iqra’ lagi?” suara wanita itu sangat lembut, dia telah mengangkat meja kecil dan dua buku iqra’ telah berada di atasnya.
Aku menatap bi Murni, wajahnya benar-benar mengharapkan aku mendekatinya. Padahal tayangan televisi lagi asyik-asyiknya film kartun. Aku mengkal, benar-benar mengkal dengan semua ocehan sok sayangnya.
“Malas! Buat apa belajar huruf-huruf aneh itu! Lebih baik belajar matematika!” aku manyun saja. Umurku sudah 8 tahun, aku sangat malas diatur terus oleh bi Murni, tiap hari hanya dia yang bersamaku sedangkan Papi dan Mami selalu tak di rumah.
Bi Murni duduk di depan meja kecil itu, bersimpuh. Dia menungguku, hingga setengah jam, “Ayo Non, nanti nontonnya diteruskan lagi. Tidak lama kok.”
Aku menoleh sejenak kearah bi Murni, senyumnya terukir, membuatku semakin jengkel. Aku berdiri dan membanting remote ke kursi, “Salwa malas diatur-atur! Bibi belajar sendiri saja!” aku setengah berlari menuju kamar, kubanting pintunya kuat-kuat dan kukunci. Aku membanting tubuhku ke spring bed kuat, kupaksakan mataku tertutup dan tidur.
© © ©
“Non, jangan main terus. Non harus belajar, sebentar lagi kan ujian,” wanita paruh baya itu memegang wadah berisi pakaian-pakaian yang hendak diseterikanya. Jilbabnya terlihat sedikit basah, mungkin terkena air saat menyiram bunga tadi.
“Bibi gak usah ngatur-ngatur Salwa! Salwa udah gede! Salwa sudah SMP! Lebih baik bi Murni selesaikan pekerjaan Bibi!”
“Kalau begitu Non sarapan nasi goreng dulu ya?” senyumnya merekah.
Aku jengkel bukan main, teman-temanku sudah menunggu di luar, “Ya udah dibungkus saja Bi. Kasihan teman-teman sudah menunggu,” aku memakai sepatu kets-ku. Harus cepat.
“Iya Non,” bi Murni masuk ke dapur, terlalu lama.
“Bi! Cepetan! Salwa mau berangkat nih!”
Bi Murni tergopoh-gopoh membawa plastik, “Ini Non! Dimakan ya,” matanya yang telah menua nampak bersinar, keriputnya tak tertutupi lagi.
“Terserah Salwa!” aku melenggang keluar. Teman-teman sudah jenuh di luar, mereka mengomel.
“Ayo berangkat,” aku menepuk pelan punggung Nadia.
“Ayo,” Leni dan Nadia hampir bersamaan.
“Kau bawa apa itu?”
“Nasi goreng, dari pembantuku karena aku tak sarapan di rumah,” ketika melewati pintu gerbang, aku melempar keras plastik berisi nasi goreng itu di tong sampah.
“Kenapa dibuang?” Leni menatapku.
“Buat apa? Nanti kita makan di kantin saja.”
Jarak rumah dan sekolah kami dekat sekitar setengah kilometer.
“Tapi..., membuang makanan itu tidak baik. Lebih baik jika tak mau diberikan pada orang lain,” Leni masih memberi saran padaku.
“Sudahlah! Cuma makanan tak menyelerakan saja. Nanti akan kutraktir kalian apa saja yang kalian mau di kantin. Bagaimana?” aku mengedipkan mataku sambil terus berjalan.
“Tapi...”
“Sudahlah Len,” Nadia mengedipkan matanya pada Leni, seolah berkata ‘ditraktir nanti malah berubah pikiran.’
Aku melangkah tenang. Hidup memang menyenangkan jika kita memiliki banyak uang, semua orang akan menuruti kita bukan?
© © ©
“Sial! Kenapa Papi dan Mami memotong uang jajanku,” aku menggerutu sambil membanting tas di kursi dengan keras, padahal rankingku selalu nomor satu di kelas. Aku sudah SMA kini pasti kebutuhanku juga semakin banyak.
“Non Salwa kenapa? Ada masalah?” wanita berjilbab itu kembali menghampiriku dan duduk di kursi sebelahku.
“Jangan ikut campur Bi! Dan sadar Bi, Bibi hanya pembantu disini. Jangan duduk di kursi!” aku semakin mengkal, sudah pikiranku kacau karena tadi di sekolah aku tidak bisa mentraktir teman-temanku. Bi Murni malah semakin mengganggu pikiranku yang sedang kacau.
“Maaf, maafkan Bibi Non,” wanita itu segera memelorotkan dirinya di lantai, “Memangnya Non Salwa punya masalah apa? Bibi boleh tahu?”
“Papi dan Mami mengurangi uang jajan Salwa karena mereka bilang Salwa boros. Mereka tidak pernah pulang masih saja berbuat tidak adil! Aku benci mereka!”
“Memangnya non Salwa butuh uang banyak ya?”
Aku diam saja. Aku hanya melepaskan kekesalanku.
Bi Murni berdiri dan masuk ke kamarnya. Beberapa detik kemudian muncul lagi dan memberikan amplop kepadaku.
“Ini apa Bi?” aku keheranan.
“Buat non Salwa, tadi katanya butuh uang banyak. Bibi belum memerlukannya, tidak apa-apa terimalah,” bi Murni tersenyum sambil menarik jemari tangan kananku untuk menerima amplop itu. Aku melihat ketulusan di wajahnya, dialah wanita yang selalu menjagaku, dia yang merawatku sejak kecil dan mengurusi semua kebutuhanku. Papi dan Mami? Mereka tak pernah memperhatikanku dan hanya memberi uang setiap keperluanku. Mereka selalu pergi ke luar kota untuk berkarier dan hanya seminggu sekali mungkin baru pulang.
“Bibi ikhlas?” aku menyelidik tanya.
“Demi kebahagiaan Non, Bibi ikhlas.”
Deg! Hatiku bergetar begitu saja. Aku selalu tak menggubrisnya sama sekali.
© © ©
Dua hari lagi ujian kelulusan SMA namun Tubuhku menggigil hebat, badanku panas seolah terbakar. Aku hanya bisa berbaring dengan menutupkan tubuh dengan selimut tebal dan berlapis-lapis hingga keringat bercucuran dan membasah kening dan seluruh wajahku. Rambutku pun basah oleh keringat.
Aku sudah menghubungi Papi dan Mami, mereka sedang mengurusi bisnisnya masing-masing. Sedang meeting, namun mereka berjanji segera pulang setelah menyelesaikan rapat masing-masing mengingat pentingnya rapat mereka. Aku merengek pada mereka dan merekapun berjanji pulang sesegera mungkin.
Apakah anak bagi Papi dan Mami tidak lebih berharga dari bisnis yang mereka lakukan? Daripada karier yang mereka kejar siang dan malam? Lalu, apa gunanya mereka melahirkan aku?
Pintu kamar terbuka, bi Murni tergopoh-gopoh membawa wadah plastik kecil berisi air hangat dan handuk kecil terlampir di sisi wadah. Dia duduk di samping ranjang, “Dikompres ya Non,”
“Gak usah Bi.”
“Tapi tubuh non Salwa panas.”
“Tidak usah Bi! Salwa hanya ingin Papi dan Mami pulang! Mengapa mereka tak sayang sama aku!”
“Tapi bi Murni sayang sama non Salwa,” tangannya bergerak mengambil handuk kecil itu dan memasukkannya dalam air hangat itu. Mengangkat dan memerasnya, lalu tangannya bergerak mendekati wajahku.
“Dukk!” tanganku cepat menampar lengan tuanya. Handuk itu terbang ke atas entah kemana, dan tanganku yang kuat menabrak wadah air hangat itu dan tumpah mengenai baju bi Murni.
“Masyaallah,” bi Murni terlihat kaget, wajah kagetnya langsung berubah tenang. Dia memunguti handuk dan wadah air tersebut. Maksudku hanya ingin menampik handuk itu, namun kebablasan. Aku merasa bersalah. Kenapa dengan aku ini?
Bi Murni berdiri, dia menatapku. Tatapan kami bertemu, dia masih saja tersenyum dengan ketulusan. Aku diam saja memaknainya. Dia keluar dan menghilang di balik pintu, suasana kamar menjadi sepi, sangat sepi.
Aku menatap langit-langit. Berlalu, waktu terus berlalu yang kulalui dalam hidup ini seolah tak berarti. Hanyalah apa yang kucari, aku tak mengerti dengan semua ini, aku tak mengerti apa hakikat hidup. Kepalaku bertambah sakit, tubuhku semakin panas dingin. Bibirku bergetar, biarlah aku mati jika memang harus mati. Biarlah aku mati daripada kesakitan seperti ini, apalagi tak tahu untuk apa aku hidup.
Biarkan aku mati Tuhan, jika Engkau memang ada.
Seseorang masuk kamar, bi Murni melangkah sambil tersenyum mendekatiku. Matanya sempat kutangkap sembab, “Kumohon Non, non Salwa harus sembuh ya?” tangannya memeras handuk dari wadah, dan pelan-pelan agak canggung menempelkan handuk itu di keningku. Aku diam saja.
Saat menempelkan handuk dan memposisikan tepat, dia terlalu hati-hati karena tak mau mengenai kedua mataku, kulihat airmatanya menetes, teramat bening. Bi Murni tak menghiraukan airmatanya, Ia terus menyentuh keningku. Berharap segera membaik. Maafkan Salwa Bi, karena kecewaku pada Papi dan Mami aku selalu menjadikanmu sebagai pelampiasan amarahku. Bi, sungguh maafkan Salwa.
© © ©
Liburan semester pertama kuliah ini aku pulang. Aku malas pulang setiap minggu atau tiap bulan karena toh Papi dan Mami tidak pernah ada, yang penting uang sakuku tetap dikirimkan lengkap. Hmm... aku tersenyum.
Saat membuka majalah Gaul yang kubeli kemarin, suara adzan menggema. Kenapa tak bosan-bosannya orang adzan lima kali sehari, dibayar tidak, kenapa bersusah payah menjalankan agama? Aku meneruskan bacaan majalahku sambil merapikan rambutku yang sedikit mengganggu pandangan mataku pada majalah.
“Non Salwa,” bi Murni telah sempurna mengenakan mukena, keluar dari kamarnya.
Aku menatapnya dan menutup majalah, “Ada apa Bi?”
“Shalat dulu Non, nanti diteruskan baca majalahnya.”
“Bibi duluan aja, nanggung sebentar lagi selesai lagi asyik nih.”
Bi Murni tetap tersenyum, “Ya sudah Bibi shalatnya duluan, nanti setelah Bibi Non shalat ya?” bi Murni lalu masuk ke kamarnya. Aku kembali menekuri majalahku. Hingga, tanpa terasa aku ketiduran di sofa.
“Non, bangun Non.”
Aku membuka mataku malas, “Ada apa Bi?” sambil mengucek-ucek mataku.
“Shalat dzuhur dulu, sudah pukul 02.00 siang.”
Aku berdiri dan menuju kamar mandi, mencuci muka. Shalat? Apakah Papi dan Mami juga shalat? Mereka tidak pernah mengajariku shalat kecuali Bibi yang selalu mengajakku shalat namun aku selalu tak melakukannya. Buat apa shalat? Toh hanya membuang-buang waktu saja.
Aku keluar dari kamar mandi, bi Murni tersenyum padaku. Aku mengambil majalah di meja tamu dan segera masuk ke kamar, kukunci dari dalam dan aku merebahkan diriku, meneruskan membaca majalah di kamar.
© © ©
“Bibi ini hanya pembantu! Jangan sok mengatur hidupku!”
“Maafkan Bibi Non, Bibi hanya ingin kamu sembahyang. Bibi ingin agar Non disayang Allah,” wajah yang masih mengenakan mukena itu memelas.
“Terserah Salwa mau shalat atau tidak!” aku membanting remote. Selera menonton sinetron kesukaanku hilang sudah, “Salwa sudah kuliah Bi, bisa menentukan mana yang baik buat Salwa. Tak usah Bibi mengatur-atur lagi. Salwa ini pintar Bi, sudah kuliah! Aku tentu lebih pintar menentukan yang baik daripada Bibi yang kuliah saja tidak! Atau mungkin tidak lulus SMA!” aku meninggalkan bi Murni selepas maghrib itu, kulihat mungkin dia sudah tidak bisa bertahan lagi. Airmatanya tumpah, aku segera masuk ke kamar, berkemas dan lebih baik aku kembali ke Metro, disana lebih bebas tak ada yang mengatur dan mengusik segala kesenanganku.
Aku bergegas, menyeret tas dengan malas keluar rumah. Aku segera sampai di gerbang depan.
“Non...,” di pintu rumah bi Murni mencegah.
Aku membiarkan saja bi Murni memanggilku.
“Non...,” dan suara itu hilang bersama tubuhku yang memasuki mobil Taxi. Mobil itu mengantar jiwaku yang kesal ke travel dan langsung menuju Kota Metro. Di Lampung ini, hanya baru ada dua kota madya, yaitu Metro dan Bandar Lampung.
© © ©
Hp-ku berdering. Siapa pagi-pagi begini mengganggu? Aku mengambilnya. Papi? Tidak biasanya. Aku mengangkatnya.
”Halo Pap. Ada...”
”Kamu segera pulang ke rumah pagi ini,” ada penekanan dalam getar suaranya.
”Ada apa Pap? Kayaknya serius banget.”
”Ini tentang bi Murni,” nadanya datar. Aku semakin penasaran.
“Apa! Bi Murni? Kenapa dengan bi Murni?”
“Beliau dipanggil Allah selepas subuh tadi. Kamu harus cepat pulang!”
“Allah...,” tanpa terasa bibirku bergetar memanggil namaNya, “Baik. Baik saya segera pulang Pap,” aku merasa seolah hanya satu tujuanku kini. Sesegara mungkin, bahkan jika bisa aku akan menaiki kilat, diterbangkan angin. Satu tujuan saja yang memenuhi seluruh isi di kepalaku. Pulang. aku harus segera pulang. Airmataku menetes, kusambar tas dan langkahku segera kupercepat, tak kupedulikan lagi beberapa teman di sebelah kamar-kamar yang memerhatikanku. Karena aku harus segera pulang. Rasa bersalah di pikiranku pada seorang yang selalu menjaga dan mengasuhku dari kecil.
Pagi itu menjadi saksi sejarah dalam catatan kehidupanku. Kehidupan seorang anak manusia yang telah melupakan segala asal-muasal penciptaannya, melupakan kenapa dia ada.
Sesampai aku di rumah, Papi dan Mami berdiri di depan pintu menungguku. Beberapa orang terlihat lalu-lalang keluar masuk rumah, ada yang menggotong kafan dan ada yang sibuk di depan rumah menata kursi. Wajah Papi dan Mami tampak muram, “Apakah jenazah bi Murni sudah dikebumikan?” aku menatap mereka bergantian sembil menciumi kedua tangan mereka.
“Dia tidak akan dikebumikan sebelum melihat anaknya sendiri yang mengantarkannya ke kuburnya,” nada suara Papi terlihat lain dari biasanya.
“Anaknya? Jadi, selama ini bi Murni mempunyai anak?”
“Iya anakku,” Mami menganggukkan kepalanya.
“Alangkah durhakanya anaknya itu karena membiarkan Ibunya disini menjadi pembantu tanpa pernah mau menjenguknya,” aku sedikit kesal sambil melihat ke lantai keramik di bawah, “Apakah anak bi Murni sudah datang?”
“Sudah,” jawaban Papi semakin terasa hambar di telingaku.
“Dimana dia Pap?” aku penasaran ingin bertemu seperti apa wujud anak bi Murni, anak dari seorang yang telah mengasuhku dan mengurusi semua keperluanku dari bayi hingga aku kuliah semester lima ini.
“Dia ada disini, berarti jenazah bi Murni bisa segera dikebumikan.”
“Dimana dia Pap? Aku tidak tahu yang mana orangnya.”
Hening.
“Dimana Pap?”
Papi mendesah nafas dalam. Aku benar-benar tegang, bibirnya mulai bergerak, “Anak tunggal bi Murni sekarang ada di hadapan kami Salwa.”
“Mak..., maksudnya...,” aku benar-benar tak tahu maksud perkataan Papi. Dia memanggilku aneh, tidak seperti biasanya. Salwa? Papi selalu memanggilku dengan sebutan puteriku. Ada apa semua ini?
“Iya Anakku,” Mami menepuk pundak kananku pelan, “Sudah saatnya kami berterus terang. Orangtua kandungmu bukanlah kami, kau adalah anak tunggal bi Murni yang telah mengasuhmu sejak kecil. Sebenarnya kami...”
“Tidak mungkin! Tidak...,” bumi tempatku berpijak seolah bergetar, langit-langit di atasku seolah runtuh dan menyisakan goncangan-goncangan yang seolah membuat hati dan dadaku terisi sesak. Kedua kakiku gemetaran tak kuat menyangga tubuhku yang limbung, “Kalian pasti bohong! Ini tidak mungkin. Tidak!” dan anggukan mereka semakin membuat kedua telapak tanganku menutup kedua telingaku. Mataku semakin nanar, berpendar-pendar, semuanya terisi cahaya. Hingga gelap dan menghilang. Aku kehilangan kesadaran.
Allahu ya Rahmaan,
Allahu ya Rahmaan
Allah Allah Allah Allah Allahu ya Rahman
Berlalu waktu berlalu
Sepi menghantarku kembali padaMu
Bersimpuh aku bersimpuh
Dalam lelah hati memohon padaMu
Di pintu kasihMu, Hati kan mengadu
Di dalam gelapku, Memohon ampunMu
Kasihani aku
Terangi jiwaku
Sinari hidupku...
Yang berharap belas kasih
Yang berharap maaf untuk
Segala salah dan dosa
Dari hitam di langkahku
Semoga Engkau beri
Setitik cahya terang
Sebelum masa hilang
Dari pandangan
Allahu ya Rahmaan,
Allahu ya Rahmaan
Allah Allah Allah Allah Allahu ya Rahman
Di pintu kasihMu
Hatiku mengadu
Di dalam gelapku
Memohon ampunMu
Kasihani aku
Terangi jiwaku
Sinari hidupku...