Padang Sajadah
Tergerak karena Allah (1)
Matahari seolah berjalan teramat cepat hari ini, hari menjelang sore. Matahari hampir saja memendamkan dirinya dari pandangan di sebelah barat tertutup ruko-ruko tinggi, tinggal nampak setengah bulatan yang tersisa, menampakkan siluet sisa yang begitu indah menampar dan membentu garis sinar yang seolah pantulan ke setiap penjuru di sebelah timurnya. Pepohonan rindang di sekitar terminal menimpali indahnya sinar-sinar matahari yang patah-patah menyinari aspal di bawahnya.
Pandangan mataku dibuat tenang oleh kuasaMu Allah.
“Sudah mau pulang lagi Salwa?”
Aku mengangguk, “Mbak juga?”
“Oya, kapan kamu mau mengajari mbak shalat?”
“Kayaknya mbak Lala sudah tidak sabar lagi?” aku tersenyum lagi, “Insyaallah besok sore Mbak, tapi sementara ini mbak harus tetap shalat lima waktu. Sebisa Mbak Lala, aku yakin mbak sudah hafal minimal gerakannya saja. Walau bacaannya belum sesuai tidak apa-apa, baca saja tahmid, tasbih, takbir dan sebagainya di setiap gerakan shalat. Yang Mbak bisa dulu.”
“Bolehkah seperti itu Salwa?” wanita yang usianya tiga tahun di atasku itu terlihat keheranan.
“Insyaallah Mbak, Allah Maha Mengetahui kemampuan hamba-hambaNya, tidak akan dibebaniNya melebihi kadar kemampuan kita. Allah berfirman, ‘Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa), ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau ami salah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami, Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.’ (QS. Al-Baqarah : 286).
“Lalu, bagaimana memulainya. Aku benar-benar tidak pernah serius, aku hanya shalat sewaktu lebaran saja, itupun tidak tahu bacaannya Cuma seperti yang Salwa katakan tadi. Hanya bisa di gerakan saja.”
Aku menatap ringan mbak Lala, “Mbak mulai saja setelah wudhu dengan melakukan dua fardhu dan satu sunah .”
“Apa itu dua fardhu dan satu sunah?”
“Mbak Lala setelah wudhu berdiri menghadap kiblat, fardhu yang pertama adalah niat dengan sungguh-sungguh. Fardhu yang kedua adalah takbiratul ikhram, mengucapkan kalimat takbir dan sunah yang satu adalah mengangkat kedua tangan hingga sejajar bawah daun telinga atau sejajar dengan pundak.”
Mbak Lala kulihat manggut-manggut, “Baiklah, shalat maghrib nanti aku akan memulainya,” ada senyum yang menghiasi wajahnya yang cantik, rambutnya tergerai tertiup semilir angin sore yang menerpa.
“Ya sudah, terusin lagi kalkulasinya. Saya pamit,” kutatap matahari yang tinggal sedikit lagi menghilang di balik gedung bertingkat yang menghiasi pinggiran terminal terutama jalanan lintas dari setiap penjuru arah yang dilewati angkot. Kota Metro adalah center dari setiap tempat, mudah ketika akan ke daerah lain karena Metro artinya adalah tengah. Wilayah pertengahan.
Pelan melangkah, aku jalan kaki saja. Hitung-hitung jaga kesehatan dengan budaya jalan kaki. Aku teringat lagi aku yang dulu, mana mungkin aku yang dahulu mau berpanas-panasan jalan kaki? Di setiap jalanan yang kulewati, aku banyak menemukan hal-hal baru yang selama ini tidak pernah kuperhatikan. Ayat-ayat kauniyah Allah terhampar di bumi ini diadakan sebagai pelajaran bagi kaum yang memikirkan.
Melihat pengemis yang memakai penyangga kayu yang diletakkan di bawah ketiaknya, dengan membawa kotak. Kuambil uang 5 ribu di dompet kecilku, kumasukkan ke dalam kotak amal yang ditentengnya.
“Terima kasih Mbak, semoga Allah mempermudah jalan anda dan Allah memberikan apa yang menjadi keinginan Mbak,” lelaki tua pengemis itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
“Amiin,” aku mengamini dengan kesungguhan. Hati dan lisanku berujar berbarengan. Bagaimana tidak, mendengar doa yang begitu dahsyat dari orang lemah adalah termasuk doa yang akan diijabah olehNya. Serasa alam yang ada memberikan doanya padaku untuk menemukan apa yang kucari, ketenangan apa yang kucari dan apa yang sebenarnya kuinginkan? Aku benar-benar belum paham. Kakiku mengayun kembali menuju Rumah Sakit, masih lumayan jauh.
Kulihat anak seusia 8 tahun, dengan pakaian yang lusuh dan bertelanjang kaki, mendekati dan menyenggol setiap orang yang sedang membeli barang di pasar atau seseorang yang sedang makan.
“Om, minta uangnya Om,” teriakan salah satu dari mereka ketika menyenggol seorang lelaki yang sedang makan bakso di ‘Tenda Bakso.’
“Om, sudah dua hari belum makan Om. Laper Om, minta uangnya Om,” si anak kecil itu mengangkat kedua tangannya dan membentuk wadah di depan wajahnya. Wajahnya benar-benar menghiba.
“Jangan bohong kamu! Bilang dua hari belum makan!”
“Benar Om, saya tidak bohong,” bocah kecil itu meringis sambil kedua tangannya memegangi dan memilin-milin perutnya, persis orang cacingan.
Lelaki itu berdiri. Wajahnya terlihat mengkal, mungkin selera makannya terasa terganggu, “Pergi kamu! Atau saya pukul mau!” lelaki itu mengacungkan kepalan tangan kanannya yang kekar ke depan, persis di depan wajah bocah kecil itu.
“Enggak Om ampun!” wajah bocah itu teramat ketakutan, langkahnya segera mundur ke belakang dan beringsut pelan meninggalkan ‘Tenda Bakso’ itu.
“Dasar bocah! Mengganggu selera makanku saja!” lelaki itu kembali duduk dan menikmati kembali baksonya dengan lahap.
Aku menggeleng. Banyak hal yang selama ini tidak pernah kuperhatikan, mulai dari hidup yang indah hingga takdirNya juga menghendaki ada orang yang bernasib fakir dan meminta-minta. Aku ingin menemukan jawaban apa yang ada di balik takdirMu Allah, aku akan berusaha menguaknya.
Kulangkah kakiku agak cepat mengikuti bocah kecil tadi. Dia berjalan ke sisi Pasar ‘Shoping ’ di bagian bawah. Aku berjalan lebih cepat dan mencapainya.
Aku menepuk pundaknya pelan, “Adik belum makan?”
Wajah bocah kecil itu menengok dan melihati wajahku, wajahnya terlihat bingung sejenak, “Iya Mbak,” wajah itu langsung berubah memelas dan menunduk, matanya kurasa melihat kedua jari-jari kakinya yang mengenakan sandal jepit warna biru.
Aku mendudukkan diriku sejajar dengannya ketika berdiri. Wajah kami berhadapan, “Ibumu kemana?”
“Ibu?” dia menatapku lurus, sorot matanya tajam.
“Iya, dimana Ibumu sehingga kau harus meminta-minta di pasar?”
“Ibuku sedang sakit di rumah Mbak.”
Alangkah takdirmu lebih berat dariku, “Siapa namamu Dik?”
“Budiono Mbak, teman-temanku memanggil Dion. Mbak, Dion minta uangnya dong, Dion belum makan, Dion lapar Mbak,” Dion memegangi dan memeras perutnya dengan kedua tangannya.
Aku tidak banyak berfikir, kuambil dompet di dalam tasku. Kuambil uang sepuluh ribu, “Ya udah cepat beli makanan, nanti kamu tambah kurus lagi,” aku menyerahkan uang itu pada Dion.
“Terima kasih Mbak, semoga Mbak lekas dapat jodoh,” Dion tersenyum sumringah menerima uang dari tanganku dan memasukkan uang itu ke dalam saku celananya yang kumal.
Seluruh organ dalam tubuhku seolah terkena setrum, “Ap..., apa? Jodoh?”
“Iya Mbak, soalnya Mbak cantik banget. Pasti yang mencintai Mbak banyak, makanya Dion berdoa supaya Mbak cepat dapat jodoh, biar tidak diganggu orang,” wajah kecil itu tersenyum menang.
Bocah sekecil ini sudah paham tentang jodoh? Bukankah jodoh, kematian dan rizki telah Engkau catat ketika ruh manusia Kau tiupkan dalam rahim seorang ibu ya Allah. Sedangkan, aku selama ini telah menjauhiMu. Allah...
“Oya, nama Mbak cantik siapa?” Dion tersenyum, khas anak kecil setelah diberikan mainan.
“Nama Mbak, Salwa Salsabila. Panggil saja Mbak Salwa.”
“Mbak Salwa, nanti kalau ketemu lagi aku minta uang lagi ya? Mbak Salwa jadi donatur tetap buat Dion ya?”
“Hati-hati Mbak, anak kecil itu penipu!” seorang ibu setengah baya melewati kami dan berjalan lagi dengan terburu-buru. Kutatap perginya hingga jauh dari pandangan, kutatap kembali wajah polos Dion. Wajah itu teramat ketakutan.
“Tidak apa-apa Dion, Mbak ikhlas kok memberikan uang itu. Gunakan sebaik-baiknya ya, Mbak yakin Dion bukan penipu, Dion anak yang baik kan?” Dion hanya mengangguk. Aku tersenyum menatapnya, tadi dia bilang donatur tetap? Dapat kata-kata darimana anak ini, “Dion harus punya cita-cita tinggi, jangan mau jadi orang yang meminta terus. Suatu saat, Dion harus menjadi orang yang memberi. Mbak akan berdoa supaya Dion nanti jadi orang kaya dan dermawan. Bagaimana? Lebih suka memberi kepada orang atau meminta-minta?”
“Enak jadi yang memberi Mbak, soalnya kalau meminta-minta kadang-kadang kita dihina,” Dion menjawab dengan lugunya.
“Tapi Mbak Salwa,” bibirnya yang kecil ragu hendak berujar.
“Ada apa?”
“Apa Dion bisa menjadi orang yang memberi?”
“Pasti bisa. Dion harus yakin,” aku tersenyum.
“Bagaimana caranya, Dion tak punya apa-apa Mbak.”
Manusia di dunia ini tidak boleh melakukan satu hal saja, jangan pernah putus harapan padaNya. Aku menggerakkan kedua tanganku dan meraih kedua tangan kecil Dion, “Dion punya dua tangan ini, Dion punya dua kaki yang tiap hari kau gunakan untuk bermain dan berlari, Dion punya kedua mata yang digunakan untuk melihat dunia yang indah ini bukan?”
Dion hanya mengangguk, namun sorot matanya belum paham, “Mbak Salwa juga punya. Memangnya kenapa kalau Dion punya kedua tangan ini Mbak?”
“Kedua tangan ini bukan untuk meminta, tapi untuk bekerja. Ini semua adalah karunia Allah yang diberikan pada kita untuk bekerja dan supaya kita tidak meminta-minta pada orang lain.”
Dion mengangguk lagi.
Angin mengabarkan padaku dengan tiupan lembutnya, sudah saatnya pulang, “Dion, Mbak pulang sekarang ya? Semoga besok kita ketemu lagi dan bercerita banyak lagi.”
“Iya Mbak.”
“Oya, Dion agamanya apa?”
“Ibuku Islam Mbak, Dion juga Islam.”
“Alhamdulillah, ya sudah. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam,”
Aku berjalan meneruskan langkahku, menyeberangi pasar ke arah bundaran. Melewati ruko-ruko di sekitar kantor pos, saat kakiku berada tepat di samping bundaran. Terjadi tabrakan ringan motor dari arah lajur timur yang hendak memutar tersenggol dengan motor dari arah lajur sebelah utara yang hendak belok ke kiri.
“Braak!”
Kedua pengendara terjatuh, transportasi terhenti sejenak.
Posisiku yang dekat membuat ragaku tergerak untuk segera membantu, aku membantu berdiri seorang ibu berkerudung yang dibonceng salah satu motor yang bertabrakan. Beberapa orang menuntun kedua motor agar jalanan segera dapat berjalan seperti semula.
“Ibu tidak apa-apa?” aku membantu memapahnya berdiri.
“Dasar Goblok! Naik motor tidak lihat-lihat!” seorang lelaki yang memakai celana jeans pendek berteriak pada lelaki yang membonceng wanita berkerudung yang kutolong.
“Anda yang tidak punya mata! Sudah tahu saya sedang memutar, anda malah ngebut dari arah utara!”
“Anda yang salah!”
“Sampeyan yang salah!”
“Saya minta ganti rugi!”
“Saya yang seharusnya minta ganti rugi!”
Beberapa orang yang berkerumun di sekitar keributan dua lelaki itu tak berani berbicara. Mereka diam sambil memerhatikan bergantian pada dua orang yang sedang bertanding mulut tersebut.
Telingaku ikut-ikutan panas mendengar keributan itu ditimpali dengan deru suara kendaraan yang memekakkan telinga. Seolah aku ingin menutup telingaku kuat-kuat, tak ingin mendengarkan keributan yang terus mendengung. Konsentrasiku pecah, aku merasakan sesuatu basah di tanganku, merembes dari balik lengan baju ibu berkerudung yang masih mengerang sakit. Darah yang basah.
“Ibu berdarah,” aku membuka lengan baju tersebut, luka memar di sikunya terbentur sesuatu dan terlihat sobek. Aku buru-buru membuka tas kecilku, kuambil tisue dan kutempelkan pada luka tersebut dan untung ada kain sobekan di dalam tas sehingga kugunakan mengikat siku yang berdarah tersebut. Semoga sementara darahnya tidak mengalir lagi sebelum dibawa berobat.
“Dasar Syetan! Sudah salah tidak mau mengaku!” lelaki bercelana jeans itu mengambil helmnya dan bersiap-siap seolah hendak memukul.
“Memangnya saya takut! Dasar orang gila!” lelaki itu meraih batu yang disusun di taman depan kantor pos. Orang-orang yang berkerumun menyingkir agak jauh ke belakang, mereka tidak mau ikut campur.
Selesai aku mengikat luka ibu tersebut, aku berjalan menuju dua orang yang hendak berkelahi tinggal menunggu siapa yang duluan saja. Dan ketika lelaki bercelana jeans hendak mengayunkan helmnya serta lelaki tua setengah baya yang hendak memukulkan batu.
“Hentikan!” aku berteriak keras di tengah amukan dan deruman knalpot yang saling bersahut-sahutan. Teramat keras dan kurasa itulah suara terkeras yang pernah kukeluarkan semenjak aku lahir ke dunia ini.
Kerumunan kecil itu hening, mereka semua melihat kearahku.
“Kalian seperti anak kecil, kalian sudah tua! Apa jadinya jika tingkah kalian seperti ini! Bagaimana anak-anak kalian nanti? Apakah tidak bisa dibicarakan dengan dada terbuka dan saling memahami? Ini hanyalah masalah kecil wahai bapak-bapak sekalian.”
“Diam! Kamu tidak tahu apa-apa bocah!” mata lelaki bercelana jeans pendek itu menyalak tajam. Aku tidak takut sama sekali.
“Aku memang tidak tahu apa-apa wahai Bapak, tapi apa yang akan Bapak dapat jika berkelahi dan akhirnya semuanya runyam? Kepuasan karena dianggap hebat? Ingin menang sendiri? Bagaimana jika ada yang mati? Tentu polisi akan menangkap salah seorang yang membunuhnya bukan? Alangkah mudahnya jika saling memaafkan, bukankah itu lebih mudah!”
“Kamu benar anakku,” lelaki paruh baya itu menjatuhkan batu yang berada di genggamannya, “Tidak ada gunanya meladeni nafsu yang mengajak kepada keburukan. Astaghfirullah, Bapak khilaf, Bapak sudah tua kenapa bisa terpancing emosi begini,” sorot mata lelaki paruh baya itu mulai terlihat membening dan tidak menyalak seperti sebelumnya.
Lelaki paruh baya itu mendekati lelaki bercelana jeans pendek, “Kita bicarakan saja ini baik-baik, kita bicarakan saja dengan kekeluargaan. Bukankah itu lebih mudah, kita juga tidak jadi tontonan gratis begini. Bagaimana?”
Lelaki itu masih memegang kuat helmnya, semoga dia luluh hatinya, hatiku berdoa berulang-ulang.
Lelaki bercelana jeans itu memegang kedua helmnya dan dua detik kemudian dia taruh pelan di atas motornya dan berbalik menghadap lelaki paruh baya, “Saya juga minta maaf Pak, saya lebih muda seharusnya menghormati yang lebih tua. Kendaraan yang rusak bisa diperbaiki dengan mudah, tapi jika sudah pertengkaran akan susah di leraikan. Maafkan saya Pak,”
Lelaki paruh baya itu menepuk pelan pundak lelaki bercelana jeans pendek, mereka saling berjabat tangan.
“Ayo segera bawa Ibu ini, tangannya berdarah,”
Mereka langsung menuju wanita berkerudung yang meringis kesakitan itu, mereka langsung memapahnya ke motor, aku menolak naik motor dan jalan kaki saja ketika lelaki bercelana jeans menawariku ke Rumah Sakit.
“Nak, terima kasih ya? Semoga Allah memberikan yang terbaik untukmu, kau wanita yang pemberani,” wanita berkerudung itu tersenyum.
“Amiin, semoga kita dipertemukan lagi suatu saat ya Bu,” aku membalas senyumnya.