Pasukan Langit
Perintah untuk 10 Iblis Pemusnah!
Moura yang semula bersikeras, dan bahkan memprovokasi semua pendekar untuk saling bertarung, sehingga dia memiliki kesempatan untuk mengambil sendiri artefak Bunga Bulan. Nyatanya, semua itu sekarang sia-sia.
Moura paham bahwa kekuatan dari artefak langit itu sudah menghilang energinya. Itu artinya, memang benar bahwa tidak ada sisa dari energi yang keluar dari artefak langit. Artefak langit benar-benar sudah musnah.
Meski masih penasaran bagaimana bisa Dasatama melakukan hal itu. Namun, tidak ada sama sekali sisa energi dari artefak langit itu. Moura hanya penasaran, tidak mungkin seorang manusia dapat menundukkan kekuatan dari artefak langit dengan energi sebesar itu. Lalu, apakah ada sesuatu yang terjadi selain penjelasna dari Dasatama? Apakah Dasatama berbohong dan terjadi sesuatu yang lainnya?
Moura tidak bisa menuduh apapun, hal itu karena dia bahkan kehilangan jejak energi dari artefak langit tersebut. Sepertinya, artefak itu benar-benar lenyap bahkan dia tak bisa merasakan energinya sejauh satu benua. Energi itu benar-benar menghilang, ada artefak khusus untuk menyimpan energi. Namun, jika energi sebesar itu disimpan dalam kantung energi. Harusnya energinya masih bisa terbaca.
Moura pun diam dan menyerah. Saat ini, semua pendekar juga sudah menerima kondisi dimana artefak yang sudah hancur itu. Apalagi yang mengatakan itu adalah Dasatama. Mereka semua pun percaya. Dasatama pasti melakukan hal itu karena ingin menjada perdamaian dan tak ada perselisihan di antara para pendekar.
Masalah pun selesai. Para murid dari berbagai perguruan dan juga bersama para guru mereka pun akhirnya menemui Dasatama dan mulai berpamitan. Anggota Pasukan Langit pun meskipun masih penasaran dengan yang terjadi saat pertarungan, mereka pun mendekati pemimpin asosiasi dan juga pasukan pertahanan.
Pasukan Langit tak berani mempersoalkan dan mempertanyakan yang terjadi setelah Dasatama menjelaskan sebelumnya kalau dialah yang menghancurkan Bunga Bulan. Meski masih ragu akan hal itu, mereka diam saja dan tak menyinggung lagi soal Bunga Bulan di depan pemimpin Dasatama.
Pemimpin Dasatama meminta rombongan Pasukan Langit dan juga pasukan pertahanan untuk pulang bersama menuju kota Samarkan. Mereka nantinya akan pulang kembali dengan portal teleportasi dan lebih baik berjalan bersama daripada memisahkan diri.
Pasukan Langit pun menyetujui hal itu, demikian dengan pasukan pertahanan. Mereka semua akhirnya mulai bergerak ke kota Samarkan. Mereka memiliki tugas yang sama untuk menjaga perdamaian di seluruh benua.
Semua pendekar dari berbagai perguruan bela diri berpamitan terlebih dahulu dan memisahkan diri. Pasukan pertahanan, Pasukan Langit dan juga aliansi bela diri berangkat terakhir menuju kota Samarkan. Pertarungan yang sudah terjadi baru saja di hutan Tulisma dan juga pertarungan para pendekar yang memperebutkan Bunga Bulan adalah pelajaran penting.
Para pendekar menyadari bahwa keserakahan adalah musuh utama para ahli bela diri. Jika kekuatan sudah merasuki jiwa seseorang. Mereka bahkan bisa menjadi iblis itu sendiri jika menuruti hawa nafsu kekuasaan dan juga kehormatan.
Contoh yang baru saja terjadi adalah buktinya. Mereka sudah terpedaya oleh kekuatan untuk menjadi lebih kuat daripada yang lainnya. Mereka bahkan rela saling menyerang di antara para pendekar demi sebuah artefak, yang bisa menjadikan mereka kuat dan memiliki kekuatan besar.
Para pendekar aliran putih sudah seperti para pasukan kegelapan yang menghalalkan segala cara untuk menjadi kuat. Ketika godaan kekuatan di depan mata, kadang para pendekar aliran putih dan juga pasukan kegelapan seperti tak punya perbedaan lagi.
Keserakahan membawa mereka menjadi pendekar yang rela menyingkirkan yang lainnya untuk mendapatkan kekuatan besar.
Para pendekar terus berjalan beriringan, dan terus merenungi apa yang sudah terjadi di depan mata mereka. Semua itu adalah pelajaran yang sangat penting. Di satu sisi, mereka sudah bekerja sama untuk menghadapi ancaman pasukan kegelapan dan baru saja mereka bersatu dan memenangkan pertempuran. Lalu tiba-tiba, godaan kekuatan itu muncul dan semua pendekar saling berebut dan saling menyerang.
Para pendekar yang terluka segera mendapatkan pengobatan. Mereka menyerang saudara mereka sendiri dan tega melukai sesama pendekar.
Dasatama juga menyadari bahwa kejadian dua puluh tahun yang lalu, saat tiga saint mengorbankan nyawa mereka untuk menghadapi pasukan kegelapan dengan kekuatan mereka bertiga. Itu semua adalah pengorbanan dimana para pendekar saat itu memang sedang diliputi keserakahan dan tidak bersatu.
Aji benar, sosok yang tidak mau dikenal orang itu telah menyadarkan dirinya tentang bahaya perpecahan. Aji mengingatkan Dasatama bahwa jangan sampai kesalahan dua puluh tahun yang lalu terulang kembali.
Persatuan para pendekar adalah kunci untuk mengalahkan pasukan kegelapan. Keserakahan harus dilawan oleh para pendekar untuk membuat dunia ini bisa damai, dan jauh dari maksud jahat orang yang ingin menghancurkan dunia ini.
Dasatama sekali lagi melihat pada pemuda itu, Aji. Aji sendiri berjalan bersama rekan-rekannya sesama Pasukan Langit dan seolah tak terjadi apa-apa. Aji berbincang dengan anggota Pasukan Langit sambil berjalan di belakang. Mereka terlihat kompak dan sangat kompak, tidak salah rasanya Pasukan Langit dibentuk.
Para pemuda yang akan membawa perdamaian dan menjaga benua dari ancaman pasukan kegelapan. Dasatama pun tersenyum dan kembali menghadap ke depan dengan kudanya dan melaju paling depan dan memimpi rombongan tersebut. Dia menatap langit yang cerah dan yakin bahwa perjuangan melawan pasukan kegelapan kali ini akan berbeda. Dasatama melihat cahaya terang yaitu persatuan para pendekar dan sikap siap berjuang bersama.
***
Di sebuah tempat mistis di ujung benua Fosfit. Penghalang dan tempat rahasia adalah tempat yang selalu menjadi persembunyian orang-orang dengan kemampuan kegelapan. Mereka memiliki tempat khusus, yang bahkan akan sangat sulit ditemukan oleh pasukan intelejen khusus di pasukan pertahanan.
Tempat yang mistis dan juga diselubungi dengan aura kegelapan. Sulit menemukan pasukan kegelapan di tempat yang benar-benar tak terjamah oleh manusia.
Namun, kekuatan itu ada dan mereka bersembunyi di balik aura kegelapan. Mereka hanya keluar untuk mengacau dan mencari tumbal. Mereka keluar untuk menakuti manusia dan membunuh mereka. Kekejaman mereka sudah sering didengar oleh rakyat di seluruh benua. Pasukan pertahanan sering ditugaskan untuk mencari tempat mereka, karena laporan dari penduduk atau rakyat disana.
Namun, setelah berhari-hari dan bahkan berbulan-bulan mencari. Mereka tak menemukan keberadaan kekuatan kegelapan tersebut.
Di tempat yang di depan mereka diselubungi energi penutup yang pekat. Seorang lelaki yang berubuh besar dengan rantai yang meliliti seluruh tubuhnya. Di ujung rantai ada senjata yang seperti bumerang yang berat dan tajam terselip di punggungnya. Dia mendesah dan duduk di sebuah kursi yang sangat besar.
Ukiran mengerikan memenuhi seluruh sisi kursi yang didudukinya, tidak hanya di kursi di sekelilingnya, semua adalah tampilan dinding dan juga hiasan yang juga menyeramkan. Semuanya adalah seperti kerangka atau bahkan tengkorak kepala hewan dengan bentuk yang mengerikan.
Lelaki besar itu dikelilingi oleh para pasukan pribadinya yang tengah duduk. Namun, duduk mereka lebih rendah dari lelaki besar tadi. Semuanya nampak kehitaman dan mereka semua adalah pasukan kegelapan.
Gelang yang dipakai lelaki besar itu pun menyala. Ada pesan yang datang dan itu adalah pesan dari seorang yang amat dikenalnya. Sosok yang menjadi pemimpin intelejen seluruh pasukan pertahanan, Nesia. Salah satu dari Lima Gerbang.
Apakah ada hal yang penting sehingga Nesia menghubunginya? Ditambah ini sudah sangat lama dia tidak dihubungi oleh salah satu dari Lima Gerbang. Apakah ini berhubungan dengan persiapan penyerangan kepada seluruh benua?
Apakah sudah pasti pemulihan dari Lord Demon, Shura? Dua puluh tahun yang lalu, soal penyerangan dirinya dihubungi dan diminta mempersiapkan seluruh pasukannya. Namun, dua hari sebelum hari itu tiba. Perintah kembali turun dan memerintahkan untuk membatalkan pertempuran, karena serangan dari Lima Legenda dan membuat Shura mengalami luka dan harus melakukan pemulihan.
Rupanya, Lord Demon saat itu belum mencapai kesempurnaan dalam menyerap Blood Supreme. Dirinya diminta menunggu kembali sampai Shura memulihkan dirinya dan menyerap sepenuhnya Blood Supreme.
Lelaki besar itu pun menekan gelang komunikasi miliknya dan memasukkan energinya ke dalam gelang itu. Untuk membuat pesan itu sampai kepadanya, maka dia harus mengalirkan energi agar pesan dari Nesia bisa dia dengarkan. Energi kegelapan masuk ke dalam gelang miliknya dan energi itu merasap dan suara dari Nesia mulai terdengar.
”Tora, satu dari sepuluh iblis pemusnah. Saatnya sudah tiba, Tuan Lord Demon sudah menyerap dengan sempurna artefak Blood Supreme dan memulihkan dirinya dengan baik. Saatnya untuk bergerak, dan bawa seluruh pasukanmu untuk menghancurkan seluruh benua! Ini sudah waktunya!”
Tora. Salah satu dari 10 Iblis Pemusnah. Dia berdiri dari tempat duduknya yang besar dan tinggi. Dia menggerakkan kedua tangannya yang mengepal. Pasukan intinya yang berada di ruangan itu menyadari bahwa Tora sudah rindu dengan pertempuran, setelah sembunyi cukup lama dan hanya membunuh para penduduk dan pendekar di sekitar mereka.
Para pengikut Tora pun sudah merasakan energi membunuh yang kuat muncul dari tubuh Tora, tuan mereka. Sekian lama bersembunyi bagi orang yang memiliki kekuatan besar tentu adalah sebuah penjara baginya.
Pelepasan energi yang kuat dan rasa haus darah itu, bahkan membuat para pengikut Tora merinding dibuatnya.
”Kami menunggu perintah dari Tuan Tora!”
Para pengikut berkata berbarengan, mereka juga mendengar perintah dari Nesia salah satu dari Lima Gerbang barusan. Artinya, mereka semua akan turun sekali lagi setelah dua puluh tahun yang lalu. Saat mereka mendapatkan perintah yang sama meskipun pada akhirnya perintah itu gagal karena insiden yang dilakukan Lima Gerbang.
”Kumpulkan semua pasukan di bawah kepemimpinanku dan persiapkan diri dengan baik. Kita akan minum darah banyak kali ini! Ha... ha... ha...!” tawa Tora menggelegar dan membuat rantai yang melilit seluruh tubuhnya bergemerincing karena saling bergesekan.
”Baik tuan Tora!” para pengikut Tora yang duduk rendah itu segera bangun, dan meletakkan tangan mereka di dada mereka. Mereka pun berbalik ke belakang dan langsung bergerak dan bubar bersamaan. Setiap mereka membawahi pasukan masing-masing.
Tora melangkahkan kakinya meninggalkan kursinya. Dia yakin, semua rekannya juga pasti sudah diberitahu oleh Nesia soal invasi kali ini. Kemenangan yang tertunda dua puluh tahun lalu akan mereka dapatkan kali ini.
Sebentar lagi, pasukan kegelapan akan menjadi kekuatan yang akan ditakuti oleh semua orang karena mereka semua akan ditaklukkan dan dijadikan budak seluruhnya. Selama ini, mereka bersembunyi dan dipojokkan oleh para pendekar, sebagai praktisi ilmu hitam dan mereka pun selalu dihina.
Kali ini, pasukan kegelapan akan mengusai dunia. Tora tersenyum, tiba saatnya dirinya menjadi penguasa seperti yang dijanjikan oleh Shura! Tawanya menggelegar kembali.