Pasukan Langit
Pertarungan Pamungkas
Ujung dari dunia cermin sudah dilewati Aji. Dia menemui seseorang yang katanya adalah seorang penunggu di ujung dunia dan yang menjaga antara dua dunia. Lelaki itu memberinya air minum dari air yang sangat jernih, dan akan meminta keputusan akhir nantinya apakah dia akan hidup kekal atau menyelesaikan hidupnya.
Itu adalah kata-kata lelaki berbaju putih itu setelah Aji melaksanakan tugas dan pekerjaannya. Jadi, kini Aji telah memulai langkah awalnya di dunia nyata dengan wajah seorang pemuda. Dia kembali ke dunia nyata setelah dua puluh tahun.
Dia pun mendengar banyak desas-desus bahwa dunia semakin kacau dan kekuatan kegelapan, sedang mempersiapkan diri untuk menguasai dunia sekali lagi. Aji pun pergi dan ke rumah makan. Dia pun bertemu dengan Aaman. Disanalah awal mulai perjalanan Aji berada di dunia nyata, dengan tubuh kembali muda berkat air kehidupan dan tubuh kuat dengan artefak Soul Deep.
***
”Kenapa kamu selalu merusak seluruh tujuan hidupku, Bagas! Apa salahku padamu!”
Shura sudah tak tahan lagi dengan semua hal tentang Bagas. Dia selalu merusak kehidupannya. Tujuan hidupnya dan cita-citanya.
Tubuh Shura sudah dipenuhi oleh kekuatan kegelapan dan dia siap melumat tubuh Bagas. Dia sudah tak bisa lagi memendam kesumatnya. Dia mengangkat kedua tangannya ke atas, energi meluap dan mengelilinginya seperti angin topan besar yang dipenuhi kegelapan menembus ke langit.
Aji mempersiapkan kekuatan di tangan kanannya, mungkin ini akan menjadi pertempuran terakhir dalam hidupnya. Namun, Aji meyakinkan dirinya kalau dia harus menyelesaikan misi dan tugasnya karena diberikan kesempatan kembali untuk memperbaiki segalanya.
”Aku tidak pernah menganggumu, Shura! Tapi kamulah yang dipenuhi dengan keserakahan dan juga cita-citamu itu telah menghancurkan banyak mimpi dan harapan orang lain! Bahkan, kamu rela membunuh guru kita, kakek Mahesa!”
Energi meluap dari tangan Aji, dia sudah bersiap untuk keadaan ini dan tak peduli dengan persahabatan mereka dulu. Ini akan menjadi pertempuran terakhir dan dia harus menyelesaikan ini. Dia sudah dua kali mencoba untuk membuat Shura kembali dari kejahatannya. Namun, itu berakibat pada kematian kakek Mahesa dan juga kematian kedua rekan baiknya.
Kali ini, Aji akan serius untuk bertarung dengan Shura. Dua kekuatan itu akan segera berbenturan.
Kekuatan energi kegelapan menembus ke arah langit. Shura bersiap dan melompat tinggi dan menghancurkan segalanya ke bumi. Energi kegelapan menghunjam dari langit dengan radius serangan damage sekitar diameter 10 kilo meter. Shura meledakkan areal tersebut dengan kekuatan yang besar.
Shura berpikir bahwa dia menghancurkan apapun di areal ledakannya. Bahkan, tidak akan ada yang tersisa kecuali kehancuran. Termasuk, dirinya sendiri tapi karena dia memiliki kekuatan Blood Supreme dan Blood Black, tubuhnya akan kembali pulih dengan cepat. Regenerasi melalui luka apapun sudah dikuasainya.
Dia hanya ingin melihat, apakah Aji Bagaskara yang dia kenal berlatih bersama sejak kecil. Apakah dia mampu menahan serangan penghancur semesta tersebut.
Ledakan yang terjadi itu seperti seluruh dunia bergetar karena dahsyatnya. Ledakannya sampai menembus ke langit, dan api berkobar seketika menghanguskan semua hal di sekitar mereka dalam waktu sekejap.
Bumi bergoncang dan awan kabut menutupi seluruh pemandangan. Cukup lama membuat kabut menghilang dengan tersapunya kabut itu dengan angin. Cukup lama, hingga sosok terlihat dan sedang mengangkat kepalan tangan kanannya ke atas dan menahan serangan kuat dari Shura tadi.
Shura cukup kaget, tubuh Aji atau Bahas yang dikenalnya itu nampak memulihkan tubuhnya dengan otomatis. Luka sobekan dan cabikan tiba-tiba mulai sembuh. Regenerasi yang mirip dengan kemampuan Blood Black. Tapi, sepertinya itu bahkan lebih cepat. Baru saja ledakan dan luka, tapi tubuhnya sudah kembali ke bentuk sempurna tanpa luka.
Kabut menghilang sepenuhnya, dan ..., Shura dibuat kaget karena semua kehancuran yang sudah disebabkannya kembali utuh seperti semula. Padang rumput, hutan dan ledakan yang membuat tanah hancur seperti tak pernah terjadi ledakan.
Dunia apa ini? Shura pun bingung, apakah dia terjebak dalam dimensi yang tidak bisa hancur? Bahkan dia tidak bisa merasakan adanya energi kehidupan dan mungkin sayup-sayup ada energi namun itu adalah beberapa hewan dan juga makhluk lainnya.
Jadi, di dunia manakah dia berada?
”Giliranku, Shura!” Aji sudah sembuh total dari luka yang muncul dari tubuhnya. Dia melesat ke arah Shura.
Ultimate Ghost Speed!
Kecepatan yang membuat serangan dari Aji seolah menghilang. Shura mencoba mengikuti arah serangan dari Aji meskipun dia merasakan dengan instingnya. Serangan pertama masuk ke pertahanan Shura. Sebuah pukulan kuat menghantam dada Shura. Namun, Shura merasakan serangan itu dan menahannya dengan kedua tangannya.
Boomm!
Benturan serangan kuat dari tangan kanan Aji ditahan oleh Shura. Kekuatan yang dahsyat, hal itu karena latihan Aji hampir mendekati seratus tahun. Dia berlatih tiada henti dan terus berlatih untuk menguatkan kekuatan internal dan juga penyerapan energi alam dengan efektif. Serangan itu ditahan dan Shura sekuat tenaga tidak ingin terdorong. Dia akan menahannya, karena dia adalah raja dari segala pasukan kegelapan!
Shura bersikeras menahan, meskipun pukulan energi dahsyat itu diakuinya memang sangat kuat. Shura pun teringat saat mereka sedang berlatih bersama. Bertanding dan disaksikan oleh guru mereka, kakek Mahesa.
Shura terpengal dan Bagas kembali memenangkan adu kekuatan itu. Bagas memang lebih fokus dalam berlatih dan juga lebih giat berlatih. Bagas mendekati Shura yang terhempas jatuh, dia mengulurkan tanganya untuk membantu Shura bangun.
Shura terlihat malas dan tak mau dibantu. Dia mengepal dan mencabut rumpuk di sekitarnya dan berdiri sembil terlihat kesal.
”Ini hanyalah pertandingan, Shura!” kata kakek Mahesa, ”Kamu hanya butuh latihan lebih keras lagi seperti Bagas. Bahkan, kamu harus lebih kuat lagi berlatih agar bisa menyainginya.”
Penjelasan kakek Mahesa tidak digubris oleh Shura. Dia pergi begitu saja sambil memukul angin tanda kekesalannya.
Bagas dan kakek Mahesa menatap kepergian Shura.
”Saya akan mengejarnya, Kakek,” Bagas berusaha untuk mengejar. Namun, pundaknya sudah lebih dulu dipedang oleh kakek Mahesa.
”Biarkan dia! Dia harus menjadi sosok yang bisa menahan amarahnya. Jika dia ingin menjadi sosok yang dewasa, maka dia harus bisa melawan nafsunya sendiri. Jika tidak, dia akan dimakan oleh nafsu dan kegelapan.”
Sejak itu, segala perhatian dari kakek Mahesa seolah hanya ditujukan kepada Bagas. Shura merasa dirinya diabaikan setelah kehadiran Bagas. Dendamnya kesumat, apalagi mendengar dari kakek Mahesa bahwa setelah Blood Supreme dimurnikan. Maka, dia akan memberikan energi pertama penyerapan pada Bagas. Untuk Shura, dia harus membersihkan jiwanya terlebih dahulu dari sikap marah dan iri.
Tidak demikian bagi Shura. Niat buruk sudah memenuhi pikirannya. Jiwanya sudah kalut dan dia merasa bahwa untuk mengalahkan Bagas dan mampu menjadikan kakek Mahesa bangga adalah dengan menyerap energi dari Blood Supreme. Mau tidak mau, Shura harus mencurinya saat kakek Mahesa tidur.
Benar saja, nafsu keserakahan sudah memenuhi pikiran Shura. Dia pun mencuri Blood Supreme dari baju kakek Mahesa saat dia tidur. Sayangnya, kakek Mahesa mengetahuinya dan tersadar. Dia marah dan hampir saja memukul Shura, karena tindakan nekatnya untuk mencuri Blood Supreme.
Niatnya sudah buruk. Sayangnya, Shura mengambil kesempatan saat kakek Mahesa sedang menasehatinya. Kakek Mahesa tidak menyangka bahwa Shura berani mengambil senjata dari balik bajunya, dan langsung menusuk kakek Mahesa tanpa diduga. Kekuatan serangan itu diniatkan Shura untuk melukai, sayangnya kakek Mahesa tidak selamat dan langsung terjatuh.
Shura merasa menyesal sudah melampaui batas, dia memeluk kakek Mahesa dan berusaha untuk membangunkannya. Kakek Mahesa merasakan sakit luar biasa dan meninggal, dia memang sudah sangat tua dan pedang itu menusuk jantungnya.
”Maafkan aku, Kakek! Aku hanya iri karena kakek lebih memperhatikan Bagas!”
Rasa iri dan dengki membuat pikiran Shura tak karuan. Dia terus membenarkan perbuatannya dan melupakan rasa bersalahnya. Dia kini akan mengambil Blood Supreme dan akan mewujudkan cita-cita kakek Mahesa. Dunia tanpa perang dan semuanya menjadi damai, caranya adalah menjadikan semua manusia sebagai budak.
Manusia yang sudah menjadi budak, tidak akan berbuat aniaya karena mereka tidak memiliki kehendak seperti nafsu. Shura akan membuat mereka semua mati dan akan dibangkitkan kembali dengan kekuatan kegelapan. Saat itu, dunia akan benar-benar menjadi damai.
Saat kakek Mahesa masih berada di pangkuan Shura dan meninggal. Bagas datang dari berburu dan dia melihat kakek Mahesa, sudah tergeletak tak bernyata. Bagas berlari ke arah gurunya itu, namun Bagas segera pergi dan mengambil Blood Supreme.
Sejak itu, Shura dan Bagas tidak pernah bertemu lagi dan mereka menjadi sosok yang berbeda dan tidak lagi hubungan. Shura menguatkan kekuatannya dalam penyerapan Blood Supreme dan menyiapkan pasukan perang dengan membentuk pasukan kegelapan.
Beda dengan Bagas. Dia berkeliling tempat dan belajar kekuatan warior dan berlatih sendiri. Dia ingin meneruskan perjuangan dari kakek Mahesa untuk membawa perdamaian di seluruh dunia, meskipun nyawa taruhannya atau meskipun tubuh terlula. Semuanya adalah demi untuk menjaga perdamaian di dunia ini.
”Kau tidak cukup kuat untuk melawanku, Bagas!” Shura masih berusaha menahan serangan kuat dari Aji, dan dia mengeluarkan energi tambahakn untuk menekan serangan dari Bagas.
”Teruslah sombong, Shura! Kamu memang belum pernah belajar bagaimana kamu bisa melihat kebahagiaan orang lain, dan kamu membuatnya menjadi kekacauan!”
Aji melepaskan kekuatan internalnya, kekuatan alam juga ditambahkan untuk menguatkan serangannya. Dia mampu mendorong kekuatannya ke arah Shura dan membuatnya mundur dan tertekan. Energi Aji ditambah kembali dan pukulan kuat itu masuk terus-menerus, dan membuat Shura terpental ke belakang cukup jauh.
Shura terpukul dengan dorongan kuat, dan dia hrus mundur beberapa langkah karena tekanan kuat dari Aji.
”Mana kekuatan yang kamu banggakan itu Shura, apa hanya itu saja kemampuanmu. Jika kekuatanmu hanya seperti itu, kamu tidak akan bisa mengubah dunia!” teriak Aji.
Shura tak terima, dia mempersiapkan kekuatan kegelapannya kembali dan dia meluncur dengan kecepatan kegelapan. Dia disambut oleh Aji dan ledakan energi besar terjadi lagi dan bahkan menghancurkan apapun di sekelilingnya.
Booomm! Pukulan bertemu dengan pukulan. Keduanya melesat dan di semua sisi mereka bertarung dengan bertemunya energi mereka. Energi pertempuran berpendar dimana-mana, setiap energi mereka bertemu maka gunung hancur, karena serangan efek dari energi yang diepaskan.
Namun, saat keduanya mundur untuk mempersiapkan pertarungannya kembali. Dunia di sekitar mereka berubah dari kehancuran kembali ke keadaan normalnya kembali.