Pembalasan Mawar yang Layu

Bisikan Racun

Malam hari, aku terbaring di ranjang dengan mata terbuka lebar, menatap langit-langit kamar yang gelap. Bram mengira aku sedang tertidur pulas di bawah pengaruh "obat penenang" tadi, namun yang mengalir di nadiku adalah adrenalin murni yang membuatku terjaga seperti binatang buas yang mengendus bahaya.

 

Gelang perak di pergelangan tanganku terasa hangat—tanda bahwa Adrian sedang memantau. Aku membayangkan dia duduk di depan layar komputer di penthouse, mendengarkan setiap detik rekaman percakapanku dengan Bram tadi sore. Aku tahu dia pasti mengepalkan tangan mendengar ancaman Bram tentang "pertukaran jiwa dua hari lagi."

 

Dua hari. Empat puluh delapan jam sebelum bulan purnama mencapai puncaknya.

 

Tiba-tiba, aku mendengar suara gemeretak pelan dari arah pintu. Bukan bunyi kunci yang dibuka, melainkan bunyi kuku yang menggaruk kayu—perlahan, ritmis, seperti tikus besar yang mencoba masuk.

 

Aku tidak bergerak, hanya memutar bola mataku ke arah pintu. Di celah bawah pintu, aku melihat bayangan—dua kaki telanjang dengan kulit yang mengelupas berdiri di sana. Sheila.

 

"Kak Aruna..." suara bisikannya terdengar serak, seperti kertas amplas yang digosok di papan kayu. "Aku tahu kamu tidak tidur... Aku bisa mencium baumu... bau kesehatan... bau kecantikan yang seharusnya jadi milikku..."

 

Aku tetap diam, menahan napas.

 

"Bram bilang dua hari lagi aku akan cantik lagi," lanjut Sheila, suaranya bergetar antara harapan dan keputusasaan. "Dia bilang wajahmu akan jadi milikku... tapi aku takut, Kak. Aku takut dia berbohong. Aku takut aku akan mati dengan wajah yang hancur seperti ini."

 

Aku perlahan bangkit dari tempat tidur, berjalan tanpa suara menuju pintu. Aku bisa mendengar napas Sheila yang berat di sisi lain—napas yang berbau busuk seperti daging yang membusuk.

 

Aku membuka pintu sedikit—hanya cukup untuk menunjukkan wajahku yang sayu dan "setengah sadar" akibat obat. Sheila berdiri di sana dengan gaun tidur putih yang sudah kusam, rambutnya rontok hampir setengah, dan wajahnya... Ya Tuhan, wajahnya.

 

Kulit di pipinya mengelupas seperti cat tembok yang lama, memperlihatkan lapisan daging merah di bawahnya. Matanya cekung, kantung mata hitam pekat, dan bibirnya pecah-pecah hingga berdarah. Dia tampak seperti mayat hidup yang berjalan.

 

"Sheila..." aku bergumam lemah, berpura-pura terkejut dan sedih melihat kondisinya. "Kamu... kenapa jadi begini?"

 

"Karena kamu!" Sheila tiba-tiba mencengkeram bahuku, kuku-kukunya yang pecah menancap di kulitku. "Karena kamu melakukan sesuatu pada jimat itu! Kamu membalikkan kutukannya padaku!"

 

Aku meringis—bukan karena sakit, melainkan karena perlu menjaga akting. "Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan... Kepalaku sakit... semuanya kabur..."

 

Sheila menatapku dengan mata yang nyaris keluar dari rongga. Ada kegilaan di sana, namun juga sisa-sisa kecerdasan yang masih berjuang. Dia mencari kebenaran di balik topeng trauma yang kukenakan.

 

"Ritual itu..." bisikku pelan, menarik Sheila lebih dekat agar bisikanku hanya terdengar olehnya—dan tentu saja, oleh mikrofon di gelangku. "Ritual dua hari lagi... Bram bilang padaku lewat mimpi... dia bilang jika aku menyerah dengan ikhlas, wajahku akan pindah ke orang yang paling aku sayangi... dan itu adalah kamu, Sheila. Kamu satu-satunya keluarga yang tersisa bagiku."

 

Mata Sheila melebar. Kegilaan di sana mulai bercampur dengan harapan yang putus asa. "Benarkah? Kamu... kamu akan menyerahkan wajahmu padaku dengan ikhlas?"

 

"Iya," aku tersenyum tipis—senyum yang rapuh dan menyedihkan. "Aku sudah lelah, Sheila. Lelah dengan semua ini. Jika wajahku bisa membuatmu bahagia... ambillah. Aku hanya minta satu hal."

 

"Apa?" Sheila mencengkeram tanganku erat, matanya berbinar—binar kegilaan yang dipenuhi obsesi.

 

"Jaga Bram untukku. Dia mencintaimu, bukan aku. Aku tahu itu sekarang," bisikku dengan nada pasrah yang sempurna. "Kalian berdua pantas bersama."

 

Sheila tertegun. Air mata mulai mengalir di pipinya yang hancur, membasahi luka-luka terbuka di sana. Dia memelukku erat—pelukan yang terasa seperti pelukan mayat yang dingin dan kaku.

 

"Terima kasih, Kak... terima kasih..." isaknya di bahuku.

 

Aku menepuk punggungnya dengan lembut, membiarkan dia menangis. Di dalam hatiku, aku tersenyum dingin. Sheila kini benar-benar percaya bahwa ritual itu akan menyelamatkannya. Dia akan menjadi peserta yang kooperatif, yang tidak akan curiga pada apapun yang Bram persiapkan.

 

Setelah Sheila melepaskan pelukannya dan kembali ke kamarnya yang gelap di ujung koridor, aku menutup pintu dan bersandar di dinding. Napas ku terengah-engah—bukan karena takut, melainkan karena menahan amarah yang membara.

 

Aku mengangkat pergelangan tanganku, menatap gelang perak yang berkilau samar di kegelapan. Aku tahu Adrian mendengar semuanya. Aku tahu dia sedang menganalisis setiap kata yang kuucapkan, mencatat reaksi Sheila, dan menyusun rencana.

 

Besok pagi, aku harus melanjutkan sandiwara ini. Aku harus tetap terlihat lemah, hancur, pasrah—agar Bram dan Sheila terus lengah hingga detik terakhir.

 

---

 

Pagi datang dengan cahaya abu-abu yang menyusup melalui tirai kamarku. Aku bangun dengan gerakan lambat—berpura-pura masih di bawah efek obat—dan berjalan sempoyongan menuju kamar mandi. Cermin di sana memantulkan wajahku yang pucat, mata yang sayu, dan rambut yang berantakan.

 

Sempurna.

 

Aku turun ke ruang makan dengan langkah gontai. Ayah sudah duduk di sana, memegang secangkir kopi yang tidak diminumnya. Dia tampak seperti bayangan dari dirinya sendiri—mata cekung, bahu membungkuk, seperti pria yang sudah kehilangan segalanya.

 

"Aruna..." suaranya parau saat melihatku. "Bagaimana tidurmu?"

 

"Mimpi buruk," jawabku pelan, duduk di kursi dengan gerakan robot. "Ibu terus memanggilku dari dalam cermin. Dia bilang aku harus datang menemuinya."

 

Ayah menegang. "Jangan bicara seperti itu, Sayang. Ibumu sudah tenang di sana. Dia tidak akan memanggilmu."

 

Bram masuk ke ruang makan dengan senyum tipis di wajahnya. Dia sudah berganti pakaian rapi—kemeja putih, celana bahan hitam—seperti pria yang akan pergi ke kantor untuk meeting penting. Namun aku tahu dia tidak akan ke kantor. Dia akan ke gudang farmasi tua itu untuk mempersiapkan ritual.

 

"Selamat pagi, Aruna," sapanya dengan nada lembut yang menjijikkan. "Kamu sudah terlihat lebih baik hari ini."

 

Aku tidak menjawab, hanya menatap kosong pada piring kosong di depanku.

 

Bram duduk di sampingku, tangannya menyentuh bahuku—sentuhan yang membuatku ingin muntah. "Aku harus pergi sebentar untuk mengurus beberapa hal. Kamu istirahatlah di rumah. Sheila akan menemanimu."

 

"Sheila..." aku bergumam, seolah baru teringat sesuatu. "Dia... dia datang ke kamarku tadi malam. Dia bilang wajahnya sakit."

 

Bram terdiam sejenak, matanya menyipit. "Apa yang dia katakan padamu?"

 

"Dia bilang... dia bilang dua hari lagi dia akan cantik lagi," jawabku dengan tatapan polos yang kosong. "Apa maksudnya, Bram?"

 

Bram tersenyum—senyum yang tidak mencapai matanya. "Dia hanya bermimpi, Sayang. Jangan dipikirkan. Fokuslah pada pemulihanmu sendiri."

 

Dia berdiri, mencium keningku dengan bibir yang terasa seperti es, lalu berjalan keluar. Aku mendengar suara mobilnya meninggalkan halaman rumah.

 

Begitu dia pergi, aku segera berlari kembali ke kamar, mengunci pintu, dan membuka laptop yang kusembunyikan di balik panel dinding rahasia. Aku mengetik pesan singkat pada aplikasi terenkripsi yang dipasang Adrian.

 

"Bram pergi ke gudang. Sekarang waktu yang tepat."

 

Balasan Adrian datang dalam lima detik.

 

"Tim sudah siap. Kami akan masuk diam-diam dan memasang kamera tersembunyi di seluruh gudang. Kamu tetap di rumah dan jaga Sheila. Jangan biarkan dia curiga."

 

Aku menutup laptop dan menarik napas panjang. Semuanya berjalan sesuai rencana.

 

Namun, saat aku berbalik untuk keluar kamar, aku melihat sesuatu yang membuat jantungku berhenti.

 

Di meja riasku, tergeletak sebuah amplop cokelat yang tidak ada di sana tadi pagi. Aku membukanya dengan tangan gemetar.

 

Di dalamnya, ada selembar foto—foto aku dan Adrian di kafe Nocturne kemarin, duduk berhadapan dengan peta dan dokumen di meja. Dan di bawah foto itu, sebuah catatan tulisan tangan dengan tinta merah:

 

"Kupikir kamu trauma dan lemah, Aruna. Ternyata kamu hanya penipu yang lebih baik dariku. Tapi tidak masalah. Permainan baru saja dimulai. —S"

 

Sheila. Sheila sudah tahu.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!