Pembalasan Mawar yang Layu
Di Ambang Jurang
Tanganku gemetar memegang foto itu. Darah di wajahku terasa mengalir turun, meninggalkan sensasi dingin yang menyebar dari ubun-ubun hingga ke ujung jari kakiku. Sheila tahu. Dia tahu aku bersandiwara sejak awal.
Tapi tunggu—jika dia tahu, kenapa dia tidak memberitahu Bram? Kenapa dia meninggalkan catatan ini untukku alih-alih langsung membongkar topengku di depan Ayah dan Bram?
Aku menatap tulisan tangan itu lebih dekat. Tinta merah itu masih sedikit basah, artinya catatan ini ditulis tidak lama setelah Bram pergi—mungkin sepuluh atau lima belas menit yang lalu. Sheila menontonku. Dia memantauku dari suatu tempat di rumah ini.
Aku segera menyobek foto dan catatan itu menjadi potongan kecil, membuangnya ke toilet, dan menyiramnya hingga hilang tersedot ke dalam saluran pembuangan. Tidak boleh ada bukti. Tidak boleh ada yang bisa digunakan Sheila untuk menjebakku.
Aku mengambil ponselku, mengetik pesan darurat ke Adrian.
"Sheila tahu. Dia punya foto kita di kafe. Tapi dia belum bilang ke Bram. Ada yang tidak beres."
Adrian membalas dalam hitungan detik.
"Jangan panik. Sheila sedang bermain sendiri. Dia ingin menggunakanmu sebagai kartu tawar untuk mendapatkan posisi yang lebih baik dalam ritual. Ikuti permainannya. Buat dia berpikir kamu takut padanya."
"Bagaimana jika dia memberitahu Bram?"
"Dia tidak akan. Jika dia memberitahu Bram sekarang, dia kehilangan leverage. Sheila ingin memastikan wajahmu benar-benar akan jadi miliknya sebelum dia mengkhianatimu. Manfaatkan waktu ini. Cari tahu apa maunya."
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungku yang mengamuk. Adrian benar. Sheila sedang bermain catur, dan dia baru saja menggerakkan bidak pertamanya. Sekarang giliranku.
Aku keluar dari kamar dengan wajah yang tetap dibuat sayu dan kosong. Aku berjalan menuju kamar Sheila di ujung koridor—kamar yang dulu adalah kamar tamu mewah, namun kini tampak seperti sarang penyakit dengan tirai yang selalu tertutup rapat.
Aku mengetuk pintu pelan. "Sheila? Boleh aku masuk?"
Tidak ada jawaban. Hanya kesunyian yang mencekam.
Aku memutar gagang pintu perlahan. Pintu itu tidak terkunci. Aku melangkah masuk ke dalam kegelapan yang berbau busuk—campuran obat-obatan, keringat, dan sesuatu yang manis-menyengat seperti daging yang mulai membusuk.
Sheila duduk di depan meja rias dengan cermin yang tertutup kain hitam. Punggungnya menghadapku. Rambutnya yang dulunya panjang dan indah kini tinggal setengahnya, rontok tidak merata, meninggalkan area-area botak yang memperlihatkan kulit kepala yang mengelupas.
"Aku tahu kamu akan datang, Kak," ucapnya tanpa berbalik. Suaranya datar, tanpa emosi—sangat berbeda dari Sheila yang histeris semalam. "Kamu datang untuk memastikan aku tidak akan membocorkan rahasiamu pada Bram, kan?"
Aku menutup pintu di belakangku, berdiri dengan jarak aman darinya. "Apa maumu, Sheila?"
Sheila tertawa—tawa yang serak dan sumbang seperti gesekan logam berkarat. Dia perlahan memutar kursinya menghadapku, dan aku harus menahan napas melihat wajahnya di bawah cahaya remang yang menyusup dari celah tirai.
Wajahnya bukan lagi wajah manusia. Kulitnya mengelupas di mana-mana, menampilkan lapisan daging merah yang bernanah. Bibirnya pecah hingga ke sudut mulut, membuat senyumannya tampak seperti luka yang terbuka lebar. Matanya—matanya yang dulunya besar dan indah—kini cekung dalam, dengan bola mata yang menguning.
"Apa mauku?" Sheila berdiri perlahan, melangkah mendekat. Setiap langkahnya meninggalkan jejak kulit mati di karpet. "Aku mau wajahmu, tentu saja. Tapi aku juga mau jaminan."
"Jaminan apa?"
"Jaminan bahwa setelah ritual, Bram tidak akan membuangku seperti sampah," Sheila berhenti tepat di hadapanku, wajahnya hanya sejengkal dari wajahku. Bau busuk dari napasnya membuat perutku bergejolak. "Aku tahu Bram. Dia hanya menggunakanku untuk mendapatkan wajah cantik yang bisa dia pamerkan. Setelah dia mendapatkan apa yang dia mau, aku akan dibuang—atau lebih buruk lagi, dibunuh agar tidak ada saksi."
Aku menatap matanya yang menguning. Ada ketakutan di sana—ketakutan yang murni dan mendalam. Sheila bukan lagi sepupu ambisius yang iri hati. Dia sudah berubah menjadi korban yang terperangkap dalam permainan yang jauh lebih besar darinya.
"Lalu apa yang kamu ingin aku lakukan?" tanyaku pelan.
Sheila menyeringai—seringai yang mengerikan dengan bibirnya yang robek. "Kamu punya Adrian. Dia pria yang kuat, kaya, dan berkuasa. Aku mau kamu menjamin keselamatanku setelah ritual. Aku mau Adrian melindungiku dari Bram."
Aku terdiam, otakku berputar cepat menganalisis situasi ini. Sheila pada dasarnya meminta perlindungan—dia ingin lompat kapal dari Bram ke Adrian karena dia tahu Bram akan membunuhnya setelah ritual selesai.
"Kenapa aku harus membantumu?" tanyaku, menjaga nada suaraku tetap datar. "Kamu yang memulai semua ini. Kamu yang membuatku menderita dengan jimat sialan itu."
"Karena jika kamu tidak membantuku," Sheila mengeluarkan sebuah ponsel dari saku gaunnya, menunjukkan layar yang menampilkan tidak hanya foto aku dan Adrian di kafe, tetapi juga rekaman video—video yang menunjukkan aku memuntahkan cairan biru di wastafel kamar mandi tadi sore. "Aku akan mengirim semua ini ke Bram. Dan aku juga akan memberitahunya bahwa kamu sudah menandatangani dokumen untuk memblokir dana perusahaan cangkangnya."
Darahku membeku. Bagaimana dia tahu tentang dokumen itu? Aku sangat hati-hati. Tidak ada yang tahu kecuali Adrian dan aku.
Sheila seperti membaca pikiranku. "Kamu pikir aku bodoh, Kak? Aku memasang aplikasi keylogger di laptopmu sejak sebulan lalu—jauh sebelum kamu 'berubah' menjadi Aruna yang licik ini. Aku membaca semua emailmu, semua pesanmu, semua dokumentasimu. Aku tahu semuanya."
Jebakan. Aku terjebak.
"Berapa lama?" bisikku. "Berapa lama kamu tahu aku bersandiwara?"
"Sejak kamu kembali ke rumah kemarin," jawab Sheila dingin. "Tidak ada orang yang trauma seberat itu bisa berjalan dengan langkah yang masih terkalkulasi sepertimu. Tidak ada orang yang shock mental bisa memilih kata-kata dengan se-presisi itu saat bicara dengan Bram. Aku mengenalimu, Kak. Aku tahu saat kamu sedang berbohong."
Aku mengatur napas, mencoba menenangkan panik yang mulai merayap. Aku harus berpikir cepat. Aku harus membalikkan situasi ini.
"Baiklah," ucapku akhirnya. "Aku akan minta Adrian melindungimu. Tapi kamu harus memberiku ponsel itu dan menghapus semua backup filenya."
Sheila tertawa lagi—tawa yang mengerikan. "Kamu pikir aku sebodoh itu? Ponsel ini hanya salah satu backup. Aku punya tiga salinan lain di tempat berbeda. Dan jika aku tidak mengirim kode konfirmasi setiap enam jam, semua file itu akan otomatis terkirim ke email Bram."
Sistem fail-safe. Sheila lebih pintar dari yang kukira.
"Lalu apa jaminanmu bahwa kamu tidak akan mengkhianatiku setelah aku membantumu?" tanyaku.
"Tidak ada," jawab Sheila blak-blakan. "Tapi apa pilihanmu? Jika kamu menolak, aku kirim semuanya ke Bram sekarang juga, dan kamu akan mati di ritual dua hari lagi dengan cara yang sangat menyakitkan. Jika kamu menerima, setidaknya kamu punya kesempatan untuk bertahan hidup—dan aku juga.