Pembalasan Mawar yang Layu

Senyum Sang Pemangsa

Dunia di sekitarku seolah berhenti berputar. Kata-kata Adrian bergema di aula yang mendadak sunyi senyap. 

 

Aku merasakan jemari Adrian yang dingin melepaskan tanganku, namun tatapannya masih mengunci mataku, seolah-olah dia sedang menelanjangi semua rahasia yang kusimpan rapat di balik gaun pertunangan ini.

 

Wajah Bram berubah merah padam. Sebagai calon mempelai pria yang harga dirinya baru saja diinjak-injak di depan umum, dia melangkah maju dengan tangan mengepal. 

 

"Adrian! Apa maksudmu dengan omong kosong ini? Keluar dari rumahku sekarang!"

 

Adrian bahkan tidak menoleh. Dia hanya menyunggingkan senyum tipis yang meremehkan—tipe senyum seorang predator yang tahu bahwa mangsanya sudah terjebak, namun ia memilih untuk bermain-main sebentar lagi. 

 

"Rumahmu, Bram? Setahuku, sertifikat tanah ini masih atas nama ayah Aruna. Jangan terlalu cepat merasa memiliki sesuatu yang bukan hakmu."

 

Kerumunan tamu mulai berbisik-bisik. Ayahku, yang berdiri di podium, tampak bingung dan mencoba menenangkan situasi, namun aura Adrian terlalu menekan. 

 

Sementara itu, disampingku, Sheila tampak sangat gelisah. Dia terus meremas tangannya sendiri, dan aku menyadari bintik-bintik merah di lehernya mulai merambat naik ke rahangnya yang lancip. Kutukan jimat yang kutukar mulai bekerja, memakan energi Sheila yang saat ini sedang diliputi rasa cemas.

 

"Tuan Adrian…anda memang suka bercanda dengan cara yang unik," aku akhirnya bersuara, memecah ketegangan. 

 

Aku melangkah mendekati Adrian dan sengaja membelakangi Bram. "Terima kasih atas sarannya, Tuan. Aku akan mengingatnya baik-baik. Tapi hari ini adalah hari bahagiaku. Bukankah lebih baik kita merayakannya dengan segelas champagne?"

 

Aku memberikan isyarat pada pelayan untuk mendekat. Adrian menatap gelas yang kusodorkan, lalu kembali menatapku. Ada kilatan rasa tertarik di matanya yang dingin. Dia tahu aku tidak takut padanya. Dan dia mungkin tahu aku sedang bermain peran.

 

"Menarik," gumamnya pelan, nyaris tak terdengar oleh yang lain. Dia mengambil gelas itu, menyesapnya sedikit, lalu berbalik pergi tanpa kata pamit, meninggalkan kebingungan yang membara di hati semua orang.

 

Bram segera menarik lengan ku dengan kasar begitu Adrian menghilang dari pintu utama. 

 

"Aruna! Kenapa kamu malah bersikap baik padanya? Dia musuh bebuyutan keluarga kita!"

 

"Ssh, Bram. Banyak wartawan di sini," aku mengusap lengan Bram dengan lembut, meski dalam hati aku ingin menyayat kulitnya. "Jika aku membalasnya dengan kemarahan, besok berita utama akan menyebut kita tidak berkelas. Biarkan dia bicara. Toh, sebentar lagi kita akan terikat secara sah, bukan?"

 

Bram mengatur napasnya, mencoba meredam emosi. 

 

"Benar. Dia hanya iri karena aku mendapatkanmu... dan segala yang menyertaimu."

 

Kalimat terakhir Bram—segala yang menyertaimu—membuatku ingin tertawa. Dia memang mengincar aset ayahku sejak awal. Aku menoleh ke arah Sheila yang kini tampak pucat pasi. Bibirnya mulai membiru, dan dia terus menutupi lehernya dengan rambut panjangnya.

 

"Sheila, kamu terlihat tidak sehat. Apa kamu perlu istirahat di kamarku?" tanyaku dengan nada penuh empati yang mematikan.

 

"I-iya, Kak. Kepalaku mendadak berputar," jawab Sheila dengan suara bergetar.

 

Aku berpamitan pada ayah dan Bram sebentar, mengantarnya menuju lift, memastikan dia masuk ke kamarku—tempat di mana jimat itu berada. 

 

Begitu Sheila berbaring di tempat tidurku, aku duduk di sampingnya, membelai rambutnya. 

 

"Istirahatlah di sini. Teh herbal yang kamu buat tadi... aku sudah membawanya ke sini. Minumlah sedikit."

 

Aku memberikan cangkir teh yang sebelumnya dia siapkan untukku. Aku sudah tahu dari kehidupan lalu bahwa teh ini mengandung zat kimia yang bisa memicu halusinasi ringan jika digabungkan dengan frekuensi energi negatif dari jimat di bawah kasur. Sheila, yang merasa haus karena serangan gatal aneh tadi, meminumnya tanpa curiga.

"Terima kasih, Aruna... Kamu memang kakak yang baik," gumamnya pelan sebelum matanya mulai sayu.

 

Aku berdiri, menatap tubuhnya yang mulai bereaksi terhadap balikannya kutukan. 

 

"Aku memang baik, Sheila. Itulah sebabnya aku mengembalikan semua 'hadiah' yang pernah kau berikan padaku di kehidupan lalu. Nikmatilah tidurmu."

 

Aku keluar dari kamar dan mengunci pintunya dari luar, meninggalkan Sheila yang mulai meracau dalam pengaruh halusinasi tehnya sendiri. 

 

Aku hendak kembali ke pesta sebelum Bram mencariku. Namun, saat aku berjalan menyusuri lorong remang-remang menuju aula, sebuah bayangan jangkung muncul dari balik pilar besar.

 

Langkahku terhenti seketika. Adrian berdiri di sana, bersandar di dinding dengan tangan terlipat di depan dada. Aura dingin Adrian yang menekan masih terasa, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda di matanya—kilatan tajam yang tidak bisa kubaca.

 

"Tuan Adrian? Kupikir Anda sudah pergi," ucapku, mencoba menjaga suaraku tetap datar meski jantungku berdegup kencang.

 

Adrian tidak langsung menjawab. Dia melangkah maju, perlahan mengikis jarak di antara kami. 

 

Setiap langkahnya terasa seperti ancaman sekaligus perlindungan. 

 

Dia berhenti tepat di hadapanku, cukup dekat hingga aku bisa mencium aroma kayu cendana dan tembakau mahal yang maskulin dari jasnya.

 

"Aku tidak suka meninggalkan urusan yang belum selesai, Aruna," suaranya rendah, berat, dan bergetar di udara lorong yang sunyi.

 

Aku mendongak, menantang tatapannya. "Urusan apa? Jika ini tentang bisnis keluarga Wijaya, Anda bisa membicarakannya dengan ayahku atau Bram besok."

 

Mendengar nama Bram, rahang Adrian mengeras. Ada kebencian yang murni dan dalam di sana. 

 

Aku baru menyadarinya. 

 

Di kehidupan sebelumnya, aku selalu mengira Andrian jahat. Dia menghancurkan perusahaan ayahku karena keserakahan. Tapi melihatnya sedekat ini sekarang, aku menyadari sesuatu yang lain. 

 

Apa yang Andrian lakukan mungkin terjadi sebagai bentuk kemarahan seorang pria yang melihat sesuatu yang berharga sedang disalahgunakan.

 

Dulu saat dalam keadaan sekarat dan terkurung, aku pernah mendengar percakapan Bram dan Sheila tentang Adrian yang beberapa kali melakukan kekacauan di rumah untuk mencari keberadaanku. 

 

Tapi, mereka berhasil meyakinkannya kalau aku pergi ke luar negeri. 

 

"Bram tidak pantas menyentuh bahkan seujung kukumu," desis Adrian. 

 

Tiba-tiba, tangannya bergerak cepat, mencengkeram lembut lenganku. Matanya yang tajam menyisir wajahku, dari kening hingga bibir, seolah mencari tanda-tanda luka atau paksaan. 

 

"Kenapa kamu melakukan ini? Kenapa kamu membiarkan pria pengecut itu mengikatmu dalam pertunangan ini?"

 

Aku tertegun. Ada getaran aneh dalam suara Andrian—bukan sekadar ejekan, tapi rasa khawatir yang disembunyikan di balik topeng kedinginannya.

 

"Ini pilihanku, Tuan Adrian. Anda tidak punya hak untuk mencampuri urusan pribadiku," jawabku sambil mencoba menarik lenganku, tapi dia menahannya dengan mantap, tidak menyakiti namun juga tidak melepaskan.

 

"Pilihan?" Adrian tertawa sinis, namun matanya tetap tertuju padaku dengan intensitas yang menyesakkan napas. "Pilihan untuk menjadi tangga bagi ambisinya? Aku tahu persis bagaimana Bram akan memanfaatkamu untuk membangun kejayaannya. Jika kamu pikir dia mencintaimu, kamu salah besar, Aruna. Perasaannya tidak pernah tulus padamu?” 

 

“Lalu bagaimana denganmu?” Mataku menatap Adrian lekat. “Apa kamu memiliki perasaan tulus terhadapku?” 

 

Andrian terpaku. Kaget mendengar pertanyaanku. Wajahnya yang dingin sedikit memerah. 

 

Aku semakin yakin, pria itu menyukaiku. 

 

Dan perbuatan keji yang dilakukannya di kehidupan lalu sebenarnya adalah upaya untuk "menyelamatkanku" dari Bram? 

 

Namun saat itu aku terlalu buta untuk melihatnya.

 

Adrian tiba-tiba mengulurkan tangannya, ujung jarinya menyentuh pipiku dengan sangat ringan, seolah takut aku akan pecah jika ditekan terlalu keras.

 

"Jangan biarkan dia menghancurkanmu lebih jauh. Jika kamu merasa terdesak... temui aku. Jangan lari ke arah pria yang sedang menyiapkan liang lahat untukmu."

 

Dia melepaskan lenganku, mundur satu langkah untuk mengembalikan jarak profesional di antara kami. Namun, sebelum dia benar-benar berbalik untuk pergi, Adrian menatap ke arah pintu kamarku yang terkunci, lalu kembali menatapku dengan tatapan peringatan yang dalam. 

 

"Sesuatu di matamu berubah hari ini, Aruna. Kamu tampak lebih berbahaya, tapi juga lebih rapuh. Hati-hati dengan permainan yang sedang kamu mainkan sendiri di rumah ini."

 

Adrian menghilang di kegelapan lorong tepat saat teriakan melengking Sheila pecah dari dalam kamarku yang terkunci, disusul suara benda berat yang jatuh menghantam pintu, membuat seluruh dinding lorong ikut bergetar. 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!