Pengorbanan Cinta David

Buka Puasa Bersama

David menggeliat dengan nyaman tanpa dia sadari hari sudah sore. "Huwaaa," gumamnya sambil menguap serta melentangkan ke dua tangannya.

 

"Sudah jam berapa ini?" tanyanya yang kini sudah duduk dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka, kepalanya terasa pening perutnya pun sedikit sakit.

 

Dengan langkah gontai David turun dari tempat tidurnya berjalan menuju kamar mandi, air segar mampu menyadarkan dirinya dari rasa kantuk yang masih dirasakannya David memantulkan wajahnya pada cermin dan mulai menggosok sabun pada wajahnya yang sangat tampan.

 

"David!" Terdengar suara Mamahnya yang sedang memanggil dirinya membuat David bergegas membersihkan tubuhnya yang penuh dengan busa-busa lembut.

 

Krekk ....

 

Pintu kamar pun terbuka lebar kini David sudah memakai bathrobe putih yang melekat di tubuhnya sesekali David menyela rambutnya dengan jemari tangannya.

 

"Ada apa Mah? maaf aku baru selesai mandi jadi membuat Mamah menunggu," ungkap David penuh rasa bersalah.

 

Anggelia memilih masuk ke dalam kamar anaknya itu, "Sepertinya aku sudah mulai nyaman tinggal di sini?" ujarnya tanpa melihat ke arah anaknya yang masih berdiri di belakangnya.

 

"Seperti yang Mamah lihat," sahut David sambil berjalan ke arah sofa panjang yang ada di dalam kamarnya.

 

"Apakah kamu belajar dengan baik di kampus?" Anggelia merasa gamang nilai anaknya itu turun karena tinggal di lingkungan yang berbeda dia mendekat ke arah David, "Mamah senang melihat kamu sudah merasa nyaman tinggal di sini dan jika butuh apa-apa katakan saja okey? Mamah mau masak dulu di dapur," terang Anggelia berlalu keluar dari kamar David.

 

Anggelia masih ingin memastikan perkembangan anaknya selama tinggal di Jakarta melihat kamar David yang nampak rapi membuat hati dan perasaan Anggelia senang ya itu pasti apalagi sebagai seorang Ibu karena selama di Eropa kamar David selalu dibereskan dan dibersihkan oleh pembantunya namun di sini David menolaknya dia berkata ingin mandiri.

 

"Gue kira ada apa, ternyata cuma mau nanyain itu," gumam David dengan mengembuskan napasnya lalu dia meraih ponsel miliknya yang tergeletak di nakas.

 

Terdapat tiga panggilan tidak terjawab dari Alex saat membuka pesan ternyata Alex ingin menanyakan soal kimia kepadanya yang mana tadi pagi dosen telah memberikan tugas makalah yang akan dikumpulkan besok.

 

*Gilang

 

"Woy bro, how are you there?" (Woy bro, apa kabar disana?)

 

Gilang adalah sahabat kecil David di Eropa dia memiliki tubuh tinggi semapai dan sering mengubah warna rambutnya semaunya, David juga sering diajak ke club untuk nongkrong dengan Gilang bersama ke tiga temannya yang lain dia juga sekelas dari sekolah dasar hingga sekolah menengah.

 

"I'm fine Lang, sorry, I rarely tell you that you have lots of work from your campus there, are you okay?" (Saya baik-baik saja Lang, maaf, saya jarang memberi tahu kamu bahwa saya memiliki banyak pekerjaan dari kampus di sana, apakah kamu baik-baik saja?)

 

David membalas pesan Gilang dengan menggunakan bahasa inggrisnya dia jadi rindu dengan kota kelahirannya itu, David pun menyekrol akun sosmednya yang tidak pernah sepi followers instagramnya pun selalu bertambah banyak komenan positif yang dia dapatkan dari para penggemarnya, oh ya kalian perlu tahu bahwa David di Eropa adalah seorang yang dikenal memiliki wajah yang tampan serta telah tercantum menjadi pewaris dari kekayaan sang Papah selain itu juga semasa sekolahnya David selalu menjadi juara 1 karena kecerdasannya.

 

"Sudah jam empat sebentar lagi pasti Hamdan sudah nelpon nih," pekik David kaget saat pandangannya melihat jam angka yang besar menempel di dinding kamarnya.

 

Akhirnya David langsung bergegas memakai baju karena dia harus bertemu Hamdan dan Alex sore ini, setelah selesai David turun untuk menemui Mamahnya.

 

Anggelia masih berada di dapur bersama Bi Yuli yang sedang masak tidak sengaja David mendengarkan percakapan ke duanya yang mana Mamahnya bercerita tentang dirinya kepada Bi Yuli kalau hari ini David sedang berpuasa kebetulan juga Bi Yuli dan para pembantu rumah tangganya sedang berpuasa syaban juga makanya Anggelia masak yang banyak hari ini yang dibantu langsung oleh Bi Yuli. Begitulah ramahnya Anggelia terhadap pembantu rumah tangganya yang biasanya masak sendiri karena mereka sedang berpuasa.

 

"Mah, David pergi dulu ya mau kumpul bersama Hamdan dan Alex," ujar David yang sudah berada di depan Anggelia yang sedang menyisir bawang merah.

 

Mendengar suara David membuat Bi Yuli langsung membalikan tubuhnya memandang ke arah David yang sudah rapi dengan memakai kaos hitam polos serta memakai celana chinos pants yang terlihat cool penampilan David saat ini.

 

"Jangan lama-lama ya pulangnya!" pinta Anggelia sambil menatap wajah anaknya.

 

David menghampiri Anggelia dan mencium tangan Mamahnya, "Siap laksanakan Bu Bos!" sahutnya seraya memberikan penghormatan kepada Mamahnya dan berlalu pergi meninggalkan Mamahnya.

 

Karena hari ini Pak Bayu sedang mengantarkan Papahnya jadi dia menyuruh Pak Asep untuk mengeluarkan motornya sehingga saat dia keluar rumah motor sudah siap dipakai.

 

"Makasih banyak Pak!" ujar David sembari mengambil kunci motor dan helmnya yang dipegang oleh Pak Asep.

 

Drengg ... Drengg

 

Motor David melaju dengan kecepatan standar yang kini sudah keluar dari kediaman rumahnya namun tidak jauh dari rumahnya David melihat seorang pengemis yang membawa anaknya membuat hati David kembali terketuk ingin menolongnya, seketika motornya pun ditepikan tepat di mana pengemis itu berada lalu dia mengulurkan uang untuknya senilai 100 ribu terlihat si pengemis yang kaget dan senang saat melihat uang yang begitu besar baginya.

 

Jalanan sore terlihat sangat ramai David rasa kini dia sudah mulai menyukai tempat tinggal barunya banyak hal yang dia temukan dan jumpai di kota Jakarta yang sebelumnya tidak ada di Eropa, bahasa betawi yang terdengar lucu, para pengamen yang mudah sekali dia jumpai, banyaknya ondel-ondel yang merupakan kesenian boneka yang konon sudah ada sejak zaman pra-Islam di pulau jawa. Selalu dikaitkan dengan dunia magis, ondel-ondel mulanya merupakan simbolisasi dari penjaga kampung dari segala macam bahaya, ancaman, dan wabah penyakit. Hal tersebutlah yang kemudian menjawab pertanyaan mengapa wajah ondel-ondel dibuat begitu menyeramkan. Seperti itulah sejarah ondel-ondel yang dia dengar dari Hamdan saat pertama kali David melihat boneka besar yang bisa berjalan dengan diiringi lagu.*

 

"Woy David!" seru Alex seraya berdiri untuk menyambut David yang baru saja sampai.

 

David membuka helmnya dan langsung melakukan tos high five ala pertemanan mereka, "Hamdan sudah datang?" tanya David setelah turun dari motornya.

 

"Dia lagi beli es buah dulu di jalan soalnya gak enak kalau buka puasa tanpa minum es buah," kata Alex seraya mengerlingkan sebelah matanya dan merangkul David untuk duduk.

 

Awalnya mereka ingin makan di restoran namun Hamdan membatalkannya dia menganti tempatnya dan akhirnya mereka setuju untuk makan di pinggir jalan yaitu ketoprak, tempatnya memang ada dipinggir jalan tapi di sana tersedia tempat duduk juga sehingga mereka bisa nyaman makan di sana.

 

"Gimana suka gak tempatnya? gue yakin lo belum pernah nongkrong di pinggir jalan kan, makanya gue ajak ke tempat ini wkwkw." Alex terkekeh dia ingin mengenalkan tempat-tempat yang biasa di kunjungi serta makanan khas batawi yang dia yakini bahwa seorang David belum pernah mencobanya.

 

David memutarkan pandangannya ke sekeliling tempat ini yang mana di sampingnya ada sepasang kekasih yang sedang makan berdua membuat dirinya tersenyum kecut.

 

"Biasalah, tatapanmu mengisyaratkan bahwa kau tidak menyukainya," celetuk Alex saat melihat ke mana arah pandangan David.

 

Seketika David langsung tertawa kecil, "You know, they make me jealous," ungkapnya tanpa ragu.

 

Terlihat motor Hamdan yang baru saja sampai cowok itu langsung turun dan berjalan menghampiri Alex dan David, "Sorry membuat kalian menunggu lama, Lex lo sudah mesan ketopraknya kan?"

 

Alex menganggukan kepalanya, "Sudah jam berapa Dan, apakah sebentar lagi adzan?" Saat ini dia tidak membawa jam tangan bahkan di tempat ini tidak aja jam pula.

 

"Lima menit lagi adzan tunggu saja, gimana bro puasa lancar?" tanya Hamdan menatap ke arah David.

 

"Ya begitulah kepala gue tadi sempat merasa pusing perut juga terasa sakit mungkin lo berdua juga pernah merasakannya bukan?" David menopang dagunya sembari menatap ke dua temannya itu.

 

Penjual ketoprak yang sering dipanggil Pak Ahmad itu datang menghampiri ke tiga anak muda dengan membawa pesanan mereka, tak lama kemudian terdengar adzan magrib berkumandang dengan segera mereka membatalkan puasanya.

 

Ada ilmu yang akan Hamdan share mengenai berbuka puasa yuk geser langsung untuk dapat mengetahui lebih lanjutnya! salam hangat untuk para readers :)

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!