Pengorbanan Cinta David
Air Mata Kerinduan
"Alhamdulillah selamat ya Dav," seru Alex mengucapkan selamat kepada David pertama kali, dia memeluk David dengan erat kali ini dia meneteskan air matanya dipelukan David.
"Makasih ya bro, lo emang teman gue yang baik tapi gak usah nangis juga deh nanti kelihatan cengeng sama orang," celetuk David seraya terkekeh baru pertama kalinya melihat Alex menangis di depannya menjadi terkesan lucu baginya.
Terdengar gelak tawa Hamdan saat itu juga, "Hahaha lo benar Dav tapi perlu lo tahu Dav kalau sekuat apapun laki-laki menahan diri untuk tidak menangis di depan orang tapi air matanya tetap saja tidak bisa berbohong dia akan tetap menetes."
"Kali ini gue setuju sama lo Dan," seru Alex merasa terbela oleh perkataan Hamdan dia memang sudah menahannya sejak David mengucapkan dua kalimat syahadat.
Seketika David merangkul ke dua temannya itu dan tersenyum, "Iyaiya gue ngerti kok ya sudah bagaimana sekarang kita pergi makan saja nanti gue deh yang traktir kalian."
Alex lantas langsung menatap David, "Hah lo seriusan Dav? memangnya lo punya uang hah?" ujarnya.
"Astagfirullah, gue masih punya uang meskipun orangtua gue tidak memberikan gue uang asal kalian tahu gue itu punya tabungan dari hasil menjadi model produk, sering sekali gue dapat tawaran dari beberapa orang di instagram setelah menimbang-nimbang akhirnya gue menerimanya dan ya lumayan bukan hasilnya bisa ditabung gue merasa bersyukur sebab wajah gue yang tidak terlalu tampan bisa mendapatkan kesempatan kaya gini," jelas David dengan bangga bisa memberitahu kepada teman-temannya.
"Oh okey kalau begitu mari kita langsung pergi!" Hamdan berseru dengan antusias tidak ingin menolak kesempatan berharga selagi perutnya mendukungnya dia tidak akan bisa menolak tawaran itu.
Mereka pun akhirnya pergi ke mall atas permintaan David yang ingin makan di sana dan menonton film yang baru saja tayang di bioskop sudah lama dia tidak menonton di bioskop apalagi sekarang dia mempunyai dua teman yang baik hatinya ingin membuat ke dua temannya itu senang sebagai tanda terima kasih juga.
"Mau makan di mana nih, KFC atau crispy chicken?" seru David memberikan kebebasan kepada ke dua temannya untuk memilih di mana tempat makan yang enak menurut mereka.
Hamdan lebih memilih untuk melihat-lihat dulu saat itu jujur saja dia belum pernah ke mall apalagi hanya untuk sekadar makan saja itu bukanlah dia sekali tapi saat diberikan kesempatan untuk memilih di mana mereka harus makan membuatnya bingung sebab dia sendiri pun tidak tahu bagaimana rasanya makan di KFC atau di crispy chicken.
"Terserah lo deh Dav mau di mana gue mah ikut aja!" sahut Alex bingung menentukan tempat makannya.
Akhirnya David mengajak mereka untuk memasuki KFC dan duduk di atas bangku panjang yang berada di paling depan ruangan, tempat itu begitu ramai banyak pengunjung yang datang ke sana untuk makan atau sekadar mengobrol.
"Kalian tunggu di sini ya, gue mau mesan dulu!" David berlalu untuk memesan makanan dan minuman meninggalkan ke dua temannya yang sudah duduk cantik di tempat yang sudah dia tentukan.
Selama David memesan makanan Hamdan dan David membuka percakapan tentang datangnya bulan ramadhan yang mana sebentar lagi mereka akan menyambut kedatangannya dengan berpuasa serta salat terawih.
"Tanggal berapa sih memangnya Dav?" tanya Alex belum tahu kapan dimulainya berpuasa.
Hamdan melihat info yang dia dapatkan dari grup hijrahnya mengenai bulan ramadhan, "Nanti tanggal 12 April berarti tiga hari lagi dong ya?" ujarnya sedikit terkejut mengetahui bahkan kini sudah tanggal 9 April.
"Subhanullah cepat banget ya gak kerasa lo sudah bulan ramdhan lagi saja berarti dua hari lagi kita bakal melaksanakan salat terawih dong tapi gara-gara corona jadi susah semuanya serba makai masker," pekik Alex menyadari kondisi bulan ramadhan yang masih terus sama seperti tahun kemarin namun tahun ini lebih baik dari sebelumnya maksudnya ada beberapa kampung yang tidak salat terawih tahun kemarin karena tidak dibolehkan.
"Ya mau bagaimana lagi memang sudah takdirnya yang penting kita bisa menaati peraturan saja agar kita juga bisa terhindar dari virus itu, tapi memang cepat banget sih ya gak kerasa kan?"
Tiba-tiba munculah ide dalam pikiran Alex, "Dan bagaimana kalau kita nanti berlomba-lomba hataman al-quran tapi harus ada hadiahnya bagi si pemenang, berani gak kira-kira?"
"Hayo siapa takut! gak seru kalau satu kali hatam bagaimana tiga kali hatam al-quran lebih besar juga tuh pasti pahalanya, dan kalau gue yang menang gue gak bakal minta apa-apa selain beliin gue baju lebaran okey!" Hamdan paling bersemangat kali ini sebab ada hadiah yang pastinya dia dapatkan selain mencari ridho Allah karena banyak sekali pahala-pahala yang bisa didapat ketika di bulan ramadhan.
Tidak lama kemudian David datang dengan membawa nota pesanan serta kaset DVD yang dia dapat dari bonus pembelian sebagai hiburannya nanti di apartemen dia bisa dengar atau mungkin akan masuk ke dalam koleksinya saja.
"Kalian lagi pada bahas apa? kok ada lebaran-lebarannya," ujar David sambil beranjak duduk di bangkunya tepatnya di tengah-tengah Hamdan dan Alex.
Hamdan menoleh memandang David yang baru saja datang, "Kita lagi mau lomba hataman al-quran untuk bulan ramdhan nanti Dav, nanti yang menang tiga kali hatam akan dibelikan baju lebaran."
"Iya Dav, lo kalau mau ikut juga gak apa-apa pasti akan semakin seru karena nambah pesaing," ujar Alex dengan sangat senang hati mengajak David untuk ikut berlomba-lomba bersama dengannya.
"Wah boleh sih tapi kan gue belum bisa ngaji pastinya gue akan kalah dong sama kalian jadi mending ajarin gue ngaji dulu baru ajak lomba-lomba hatamin al-quran," protes David dia tertarik dengan apa yang dikatakan oleh Hamdan dan Alex tetapi dia juga sadar dia belum bisa mengaji bagaimana dia akan memenangkan perlombaan ini.
Lantas Hamdan pun langsung tertawa mendengar ucapan David yang memang benar, "Ya sudah kalau begitu mending nanti malam lo ikut bareng kita nanti akan diajarkan bagaimana caranya salat dan membaca al-quran."
"Ini pesanannya silahkan dinikmati!" ujar si pelayan seraya membrikan nampan berisi nasi KFC serta menumannya.
Alex langsung mengambil nasinya, "Terim kasih!" serunya.
Akhirnya mereka langsung makan bersama tanpa berbicara, mereka saling menikmati makanannya serta minumannya yang sudah David pesan sesuai selera ke dua temannya itu.
Setelah selesai makan mereka bertiga berniat untuk pergi ke masjid at-taufiq untuk salat magrib, di mana David juga akan ikut salat bersama ke dua temannya itu dan warga sekitar.
"Dav lo sudah tahu kan urutan dalam berwudhu?" ujar Alex saat mereka sudah berada di tempat wudhu.
David menganggukan kepalanya dia memang sudah hafal tata cara berwudhu seperti yang diajarkan oleh ustad Abdullah kemarin waktu dia mau mengucapkan dua kalimat syahadat dan dia juga sempat baca dibuku panduan tuntutan sholat yang dibelinya.
Setelah selesai berwudhu mereka langsung bergegas ke masjid, semua jamaah sudah berbaring sesuai dengan jarak yang telah ditentukan oleh petugas masjid David dan ke dua temannya berbaris di belakang.
Hati David semakin begetar saat kakinya mulai menginjakan di masjid untuk pertama kalinya, tangannya secara sepontan memegang pintu masjid membuat Hamdan menoleh menatap David heran.
"Its okey Dav yuk masuk lo gak usah takut kok masuk dan salat di masjid," ujar Hamdan memberikan kekuatan kepada David bagaimana pun dia ikut merasakan apa yang ada dipikiran David saat ini.
"Dav, kita salat di belakang aja ya di depan sudah penuh sama bapak-bapak," seru Alex setelah melihat keadaan masjid yang sudah ramai diisi oleh semua orang.
David pun menurut saja apa yang dikatakan sama teman-temannya menjadi perintah yang harus dia patuhi selama dia memulai perjalanan hidupnya yang baru, Hamdan mengajarkannya cara salat dengan baik dan mengikuti imam di masjid dengan tertib tanpa mendahulukan imam.
Setelah salat David pun ikut berdzikir serta bergabung membaca al-quran bersama para anak muda tetapi Hamdan dan Alex mengajak David bergabung dengannya dan Alexlah yang menuntunnya membaca al-quran meski lidahnya masih sulit untuk melafadzkan ayat-ayat suci al-quran itu masih di wajarkan apalagi bagi mualaf yang baru belajar membaca al-quran.
Dari Aisyah R.A berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Orang yang ahli dalam al-quran akan berada bersama malaikat pencatat yang mulia lagi benar, dan orang terbata-bata membaca alquran sedang ia bersusah payah (mempelajarinya), maka baginya pahala dua kali." (HR Bukhari, Muslim, Abu Daud).
Setelah mengaji sebentar David keluar dari masjid dia tidak kuat menahan air matanya, entah kenapa dirinya merasa terharu dengan apa yang dilakukannya kini, ya dia akan menjalani kehidupan yang baru ini tanpa dukungan dari kedua orangtuanya. Rasa rindu kembali menyelimuti dirinya sejak dulu David memang anak yang manja baik dengan Mamahnya maupun dengan Papanya yang selalu memanjakan dirinya.
"Lo kenapa nangis Dav? Masih kaget ya dengan kegiatan baru Lo ini?" seru Hamdan merangkul David dari belakang lalu menarik kembali tangannya.
Merasa malu ketahuan menangis oleh Hamdan, dengan cepat dia pun mengusap air matanya dan tersenyum, "Entah kenapa perasaan gue jadi tidak karuan Dan, gue kangen sama nyokap dan bokap gue yang udah hampir satu minggu ini tidak ada kabar."
"Kalau gitu Lo datang aja ke rumahnya," sahut Hamdan meski dia tahu tidak semudah itu untuk David kembali ke rumah orangtuanya.
"Dinda gimana kabarnya ya Dan?" Tiba-tiba David Menganti topik pembicaraan dan membahas tentang Dinda.
Hamdan jadi curiga jika sebenarnya David bukan hanya merindukan kedua orangtuanya akan tetapi rindu kepada Dinda juga, dia tersenyum tipis.
"Gue gak tahu Dav, kegiatan Rohis pun diliburkan jadi gue gak pernah ketemu sama Dinda lagi bahkan tidak pernah menerima pesan lagi, tapi mau sampai kapan Lo bakal sembunyi kaya gini dari Dinda?" Hamdan menjadi bingung dengan apa yang sebenarnya David lakukan, bukankah jika dia rindu kepada Dinda tinggal menghubungi cewek itu seperti dulu saat dia mencoba untuk mengajak Dinda pacaran tapi kenapa David lebih memilih untuk bungkam dan menghindarinya.
"Entahlah, gue hanya ingin memperbaiki diri dulu sebelum bertemu dengan Dinda, meski gue takut jika Dinda akan direbut sama cowok lain," kata David dengan raut wajah sedihnya.
"Hahaha." Hamdan kebablasan tertawa dia tidak tahan dengan kelakuan lucu David.
David menoleh mendengar gelak tawa Hamdan yang mengejeknya, "Anjir, kok Lo jadi ketawa sih Dan?"
"Lo takut Dinda bakal direbut cowok lain tapi sikap Lo malah menjauh kayak gini, hati-hati Lo Dinda banyak yang sukai gak takut kalau tiba-tiba Dinda dilamar sama cowok ganteng, baik, Sholeh? Makanya jangan bohongi perasaan Lo sendiri Dav!" Meski Hamdan tahu jika David kini telah berubah menjadi lebih pemikir dan pendiam dia yakin jika sifat keras kepala David masih ada.
Raut wajah David mulai terlihat bersemangat kembali, air matanya tadi sudah mengering pikiran David sudah kembali rileks, apa yang dikatakan Hamdan memang benar dia harus bertindak sebelum cowok lain mengambil hati Dinda meski pun dia belum bisa menikahi Dinda dengan cepat yang pasti dia harus buat Dinda jatuh cinta dulu kepadanya.
#mohon maaf bila ada kesalahan dalam penjelasan, mohon bijak dalam berkomentar