Pengorbanan Cinta David
Salat Tarawih Pertama
Kampus sudah libur semenjak seminggu menjelang ramadhan yang mana David pun sudah melaksanakan UTS dengan hasil yang begitu memuaskan, selama ini dia selalu mendapatkan nilai yang memuaskan dan pastinya usaha itu tidak akan pernah menghianati hasil.
Saat libur kuliah David memutuskan untuk tetap belajar karena dia mempunyai impian untuk masa depannya, begitu juga dia sudah mualaf jadi harus lebih banyak lagi belajar ilmu agama islam serta mencari Guru untuk mampu mengajarinya mengaji serta memberikannya ilmu meski pun dia selalu mendapatkan pengetahuan dari ke dua temannya itu tetap saja dia harus memiliki Guru yang khusus dan dia sudah menemukan Guru tersebut yaitu ustad Abdullah yang dulu pernah menyaksikannya memeluk islam.
"Selamat ya Dav, gue kaget banget dapat kabar dari Alex kalau lo sudah memeluk agama islam yang mana artinya kita telah menjadi saudara seiman," ungkap Gio dalam via telepon.
"Iya thanks ya bro!" David senang mendengar respon baik dari Gio.
"Sekarang lo tinggal di mana Dav gue kemarin nyariin lo tahunya lo sudah pulang duluan waktu gue mau ngasih buku makalah kata Alex juga lo sudah tidak tinggal di rumah lo, gue gak tahu pasti apa problem yang pasti lo harus strong ya!"
Gio sangat tahu sedikit cerita keluarganya David apalagi waktu pertama kali cowok itu masuk di kampusnya hampir semua mahasiswa membicarakannya sosok David yang selalu tampil beda di kampus serta gaya rambutnya pun yang begitu mencolok tidak sedikit mahasiswi yang menyukai sosok David namun sebab mengetahui bahwa agama mereka berbeda membuat mereka jadi menjauh secara perlahan karena ada dinding besar yang menghalangi perasaannya.
"Iya Gi, thanks ya buat dukungannya doakan gue agar semuanya lekas membaik," sahut David penuh harap bagaimana pun dia sangat berharap ke dua orangtuanya bisa kembali menerima perbedaan di antara ke duanya meski tidak tinggal serumah setidaknya David berharap ke dua orangtuanya masih menganggap dirinya sebagai anaknya sendiri.
"Sip Dav, doa gue selalu menyertamu kawan, ya sudah gue mau keliling dulu ya Dav hari ini gue mau jualan mumpung libur kan kuliahnya."
Sambungan telepon pun terputus secara sepihak David kembali meletakan ponselnya di atas meja yang berada di depannya kini, hari ini dia sedang menikmati waktunya untuk membaca buku yang ustad Abdullah dan ke dua temannya itu berikan sebagai bahan bacaan, dia sangat bersyukur sekali memiliki teman yang begitu baik dan tulus menerimanya apa adanya tanpa perhitungan atau minta balasan.
Buku kali ini yang David baca adalah tuntunan salat yang dikasih oleh ustad Abdullah kepadanya sebagai tuntunan dalam mempelajari tata cara salat serta berwudhu, sedikit demi sedikit David hafalkan semua bacaan yang memang penting itu selama ini dia salat selalu mengikuti imam saja jadi dia harus sudah hafal agar nanti dia lebih mudah jika salat sendiri.
Menjadi orang mualaf itu agak susah sebenarnya dia sudah beragama islam tetapi dia harus memperlajari semua apa yang menjadi rukun islam dan rukun imam yang kini David sedang hafalkan juga karena nanti malam setelah salat terawih ustad Abdullah akan mengetes hafalan bacaan David sudah sejauh mana.
"Ya Allah kok David, jadi keingat Dinda ya sudah hampir dua minggu aku tidak mendengar kabarnya dan apakah Dinda merawat Choco dengan baik di rumah? kasihan sekali jika Choco tidak ada yang merawatnya."
Akhirnya David memutuskan untuk menghubungi Najma, waktu itu David meminta nomor Dinda tapi Hamdan malah memberikannya nomor Najma katanya 'Jika lo mau menanyakan sesuatu tentang Dinda lewat Najma saja agar dia yang akan memberitahu lo tentang Dinda' Ya pada akhirnya David hanya menurut saja lagi pula dia tidak ingin bertemu dengan Dinda terlebih dahulu untuk saat ini dia masih malu dan tentu saja dia belum siap untuk memulai obrolan dengan Dinda kembali setelah dia menitipkan salam kepada Hamdan untuk Dinda.
"Assalamualaikum Dan," ujar David saat sambungan telah terhubung.
"Waalaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh." Terdengar suara Hamdan yang begitu antusias mengangkat telepon darinya, "Ada apa Dav?"
David pun tersenyum, "Dan lo lagi di mana sekarang?"
"Hemm gue lagi bantu Nyokap di restoran ada apa memangnya?" Ya menjelang bulan puasa ini Hamdan menyibukan dirinya untuk membantu Mamahnya jaga restoran nanti setelah mendapatkan orang untuk membantu Mamahnya baru dia akan mencari kerjaan lain.
"Oh lagi jaga, ya sudah deh nanti saja Dan nanti malam saja gue nanyanya," ujar David merasa tidak enak mengetahui Hamdan sedang bekerja.
Setelah sambungan terputus David melihat balasan dari Najma sebelumnya dia sudah bilang sama Najma untuk tidak perlu cerita-cerita atau mengatakan kepada Dinda tentang apa yang dia katakan.
*Najma Sastra
"Waalaikumsalam, sorry baru balas Dav aku baru pulang dari luar, alhamdulillah Dinda sehat Dav dia kemarin sempat cerita kalau dia sedang mengajak Choco jalan-jalan di Mutiara Indah."
"Syukurlah kalau begitu Naj gue ikut senang kalau dia jagain Choco ya sudah makasih ya Najma sudah ngasih tahu gue khawatir takut Dinda gak merawat Choco."
David pun meletakan ponsel miliknya di atas meja dia kembali pokus membaca hingga sampai menghafalnya, nanti malam dia akan ikut salat terawih di masjid bersama dengan ke dua temannya itu, setelah merasa lelah David membaringkan dirinya di kasur dan terlelap tidur sebentar tidak lupa dia memasang alarm agar bisa bangun nantinya.
****
'Barang siapa ibadah tarawih di bulan Ramadan seraya beriman dan ikhlas, maka diampuni dosa yang telah lampau.' (HR. Bukhari, Muslim).
"Hay brother!" seru Hamdan dengan senang menyambut kedatangan David bersama motor ninjanya yang menjadi kendaraan kesayangannya. Senangnya David masih boleh memakai motornya yang diantarkan oleh Pak Bayu ketika dia bilang untuk mengantarkan motornya.
Hamdan dan David memang sedang menunggu kedatangan David malam ini, sebelumnya mereka sudah janjian untuk melaksanakan salat terawih di majid bersama para Bapak-bapak dan Ibu-ibu lainnya, ya seperti biasa salat terawih pertama masjid selalu penuh namun lama kelamaan pasti sepi baik dari kaum Adam atau pun Hawa.
"Yuk langsung masuk imam terawihnya sudah datang, lo sudah hafalkan Dav niatnya?" ujar Hamdan dengan nada rendah.
Dengan pasti David menganggukan kepalanya dan tersenyum bangga dia sudah berusaha untuk menghafal semuanya dan kini akan dia praktekan, mereka bertiga pun maju ke shaf salat paling pertama.
Bilal pun sudah berseru yang berarti salat terawih akan dimulai, terdengar suara imam terawih yang pertama ini dengan suaranya yang merdu dan menggema di seluruh ruangan, suara makmun pun terdengar bersemangat suasana baru yang David rasakan saat ini air matanya menetes sebab rasa haru yang dia rasakan.
"Assalamualaikum warohmatullah."
Salat terawih pun selesai dengan jumlah 12 rokaat dan bacaan imam memang termasuk cepat maklum ya orang kampung mereka menghargai Nenek-nenek dan Kakek-kakek tua yang masih banyak ikut berterawih bersama di masjid.
Lalu bilal membacakan doa setelah salat terawih yang dibacakan oleh bilalnya langsung dengan khusu David menengadahkan tangannya mengaminkan apa yang tercantum dalam doa yang sedang bilal bacakan.
"Setelah ini salat witir ya?" ujar David menatap Alex mencaritahu kebenarannya karena yang dia tahu salat terawih sudah selesai tapi imam masih terus membaca surat.
"Iya Dav kita bakal salat terawih sekarang," sahut Alex sambil tersenyum, respect dia menguap di depan David jujur saja Alex memang sudah mengatuk sejak tadi dia harus bertahan hingga nanti kultum.
Akhirnya mereka kembali salat witir yang merupakan bagian dari salat tarawih yang hanya bisa dikerjakan saat bulan Ramadhan saja. Namun pada faktanya, sholat witir dapat dikerjakan setiap malam, tanpa memandang bulan Hijriyah atau sering disebut sebagai salat penutup yang mana jika sudah salat witir tidak boleh melakukan salat apapun lagi namun allahu a'lam bishoab.
Hukum salat witir yaitu sunnah muakad. Namun apabila ingin mengikuti jejak Nabi Muhammad, maka kerjakanlah setiap malam, karena Nabi Muhammad tidak pernah meninggalkan salat witir dalam kondisi apapun.
****
Setelah salat terawih selesai akan ada acara kultum yang dibawakan oleh ustad Hambali mengenai keutamaan melaksanakan salat terawih pada bulan ramadhan ini, seperti biasanya setelah dzikir mereka akan mendengarkan kultum sebagai penceramah pada malam terawih yang pertama ini.
"Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh bulan suci ramadan membawa banyak kebahagiaan bagi semua kaum muslim di dunia. Bulan ramadan waktunya bagi umat Islam untuk kembali introspeksi diri dan beribadah sesuai perintah Allah SWT.
Salat tarawih merupakan salah satu ibadah yang istimewa lantaran hanya bisa dikerjakan di bulan Ramadan. Kendati demikian, hal ini bukan semata-mata menandakan bahwa salat tarawih harus dikerjakan bagi umat Islam di malam hari. Sebab, hukum salat tarawih sendiri merupakan sunnah muakad. Artinya, hanya sebatas dianjurkan untuk dikerjakan guna mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Jika seorang muslim dapat mengerjakannya disebut akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda. Namun, bukan suatu dosa besar jika seorang muslim tidak mengerjakannya."* Ustad Hambali bersuara dengan lantangnya di hadapan para jamaahnya
Seperti biasa sangat penting bagi David dalam mencatat ilmu pengetahuan yang sedang disebar secara gratis dia pun tidak ingin melewatkan kesempatan untuk tidak mencatat poin-poin penting tersebut, selagi itu perkataan yang spontan yang ustad Hambali katakan di depan para jamaahnya David merekamnya dengan ponsel, segitu cerdasnya otak David dalam mencari ilmu apalagi dia sangat membutuhkan pengetahuan ini sebagai pengetahuan barunya mengenai ajaran agama islam.
"Cerdas sekali gue punya teman ya?" gumam Hamdan sembari melirik David yang sedang asik merekam pembicaraan ustad Hambali yang memang selalu diundang dalam berbagai acara di beberapa daerah.
Saat itu Alex sedang menahan rasa kantuk yang sedang menyerangnya ustad Hambali memberikan ceramah yang begitu panjang sekali tetapi sungguh berharga serta bermanfaat bagi para jamaah yang masih awan tentang pengetahuan.
"Tengok tuh si Alex tidur!" seru David mengetahui Alex yang sedang asik bersandar di tembok.
Lantas Hamdan ikut menoleh padahal mah dia tahu jika Alex tertidur, "Iya sudah biasa dia mah apalagi penceramahnya ustad Hambali paling lama bicaranya dari ustad-ustad yang lainnya."
David melotot kaget, "Seriusan lo? gue sih sebenarnya malas ya Dan, buat dengerin ceramah lama-lama kaya gini makanya gue rekam biar saat gue lagi santai bisa mendengarkannya kalau kaya gini kan percuma gak bakal masuk, menurut gue sih ya!"
"Iya benar-benar Dav gue juga sependapat sama apa yang lo pikirkan tapi sayang gue gak cerdas kaya lo sampai punya pemikiran untuk merekam suaranya kaya gini," tukas Hamdan menyadari kecerdasan David yang jauh lebih baik darinya.
Ada rasa senang pada diri Hamdan saat mengetahui kalau David bukan hanya seorang mualaf saja tetapi juga cowok itu mempunyai daya tarik untuk mempelajari ilmu pengetahuan agama islam itu memang penting sih bagi David namun Hamdan melihat kegigihan David kali ini.
"Semoga apa yang saya katakan bermanfaat ya Bapak-bapak Ibu-ibu dan anak muda yang sangat bersemangat sehingga masjid at-taufiq kali ini penuh semuanya dengan anak muda berkah ya wkwk, semoga besok kalian bisa menjalankan puasanya dengan lancar ya!" seru ustad Hambali dengan terkekeh matanya mengamati satu persatu jamaahnya dari yang masih setia mendengarkannya sampai ada yang tertidur. "Ya meskipun ada yang sampai tertidur mendengarkan perkataan saya tetapi insya Allah dia akan mendapatkan pahala karena memiliki niat yang baik untuk mendengarkan ceramah."
Seketika itu juga Hamdan dan David tertawa mendengarnya mereka berdua langsung menoleh pada Alex yang sudah membuka matanya dengan lebar mendengar ucapan sarkatis dari ustad Hambali salah satu bentuk cara beliau membangunkan para jamaahnya yang tertidur saat mendengarkan ceramahnya.
"Ah ambilin gue minum ke biar gak ngantuk lagi," pinta Alex sambil menunjukan air aqua di depan Hamdan.
Dengan senang hati Hamdan mengambilkan air aqua itu lalu memberikannya kepada Alex yang langsung diteguk sampai habis oleh cowok itu.
"Haus Pak haji?" ejek Hamdan seraya tertawa melihat air aqua yang sudah habis dalam hitungan bebarapa detik saja.
Alex pun melirik tajam Hamdan, "Ahh gue ngantuk banget belum tidur dari tadi pagi jadi beginilah," ungkapnya dengan terus menguap sehingga tangannya terus berada di mulutnya untuk membungkamnya agar tidak terbuka lebar dan syetan akan sangat mudah untuk masuk nantinya.
"Iyaiya tahu deh orang sibuk ya, tapi kayanya lo butuh istirahat yang cukup agar tubuh lo tetap sehat." David memberikan saran untuk Alex, dia tahu bahwa Alex sangat pekerja keras sampai lupa jika dirinya pun harus dijaga dengan baik.
Kultum pada malam terawih pertama pun telah ditutup oleh ustad Hambali dan terawih pun telah berakhir David dan ke dua temannya memilih untuk beristirahat sebelum kembali mengaji.
"Bagaimana jika minum kopi dulu biar mata tidak ngantuk," seru Hamdan menawarkan obat ngantuk bagi Alex yang sepertinya tidak bisa lagi menahan rasa kantuknya apalagi untuk membaca al-quran.
"Ya sudah bolehlah gue juga mau menikmati kopi bareng kalian," sahut David dengan antusias, ke dua matanya sudah berat begitu pun tubuhnya terasa lemah padahal dia sudah tidur meski untuk beberapa menit saja.
Mereka pun pergi ke warung dekat dengan masjid, untuk pergi minum kopi bersama menikmati malam mereka menyambut bulan puasa yang mana mereka tidak bisa lagi kumpul di siang hari untuk sekadar makan atau nongkrong minum, maka malam ini mereka akan mengunakan waktu itu dengan sebaik mungkin.
"Dan apakah lo sudah menyampaikan pesan pada Dinda?" tanya David tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
Ingat akan sesuatu yang ingin David katakan membuatnya tersadar mungkin temannya itu akan menanyakan tentang Dinda kepadanya, "Sudah lo tidak perlu khawatir gue akan beritahu lo jika memang Dinda menanyakan lo lagi."
Keputusan David untuk menjauh masih dilakukan dengan baik, dia tidak akan lupa akan janjinya sendiri, setelah sudah siap untuk bertemu dia akan menemui Dinda langsung tanpa ada prantara dari orang lain.