Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku

Sumpah Serapah

“Mas … aku mau ngomong,”

suara itu nyaris hanya sebisik angin, lirih sekali. 

 

Dia menoleh pelan ke arahku, mata teduhnya menangkap raut wajahku yang gamang. Jemarinya refleks meraih tanganku, menggenggamnya erat seakan ingin memastikan aku merasa aman.

 

“Mau ngomong apa, Sayangku?” tanyanya pelan, nada suaranya lembut, penuh perhatian.

Seperti tak ingin memaksaku, tapi juga tak mau membiarkanku menyimpan apa pun sendiri.

 

Aku menarik napas dalam-dalam, menahan detak jantung yang tiba-tiba berdegup terlalu kencang di dada. 

 

Sejujurnya, aku takut. Takut kalau kata-kata ini malah jadi jurang baru di antara kami. Tapi aku nggak bisa terus-terusan diam.

 

“Ngomong aja, sini …,” bisiknya lagi, kali ini jemarinya mengusap punggung tanganku pelan.

Lalu tanpa berkata apa-apa, dia menarik kepalaku, membiarkanku bersandar di bahunya yang hangat dan kokoh.

 

Aku pejamkan mata sejenak. Mencium samar aroma sabun dan parfum yang sejak dulu selalu bisa bikin aku tenang.

 

“Mas … a-aku.” Aku kembali menggantung kata-kata.

Bibirku terasa berat untuk mengatakannya.

 

Aku takut menambah pikiran Mas Raka.

 

Mas Raka mengusap pelan rambutku, sabar menunggu.

 

“Dari tadi siang, Ibuk ….”

 

Dengan ragu aku mulai bercerita, suara pelan tapi jelas.

 

“Aku pengen kamu tahu, Mas … apa yang aku rasain. Aku pengen kamu tahu, apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini, waktu kamu nggak ada.”

 

Mas Raka diam.

Tapi aku bisa merasakan jemarinya menggenggam tanganku sedikit lebih erat.

 

“Aku nggak minta kamu milih, Mas … aku nggak pengen kamu ribut sama Ibuk. Aku cuma pengen kamu ngerti posisiku. Pengen kamu tahu, aku nahan semuanya sendirian, Mas .…”

Suaraku bergetar.

 

Tiba-tiba dada ini sesak, dan entah dari mana air mata itu jatuh begitu saja.

 

Mas Raka langsung mengusap pipiku, membalik wajahku menghadap ke arahnya.

 

“Aku paham, Ayna.” 

 

Mas Raka mengusap air mataku, “Ibuk itu, ibuku. Mas lebih tau sikap dan karakter ibu seperti apa.”

 

“Denger ya, Sayang …,” suaranya rendah, hangat.

 

“Kamu tuh segalanya buat Mas. Mas nggak akan pernah biarin kamu ngerasa sendiri, apalagi tersiksa kayak gitu.”

 

“Mas janji seberusaha mungkin ngikut apa maumu, mas tahu mas salah, tapi itu ibuk mas  sayang … kamu harus ngerti posisi mas juga ya.”

 

Dia mengecup pelan ujung keningku.

 

“Kalau ada yang ganggu kamu, siapa pun itu… Mas janji, Mas bakal cari cara. Demi kamu, demi kita.”

 

 

Isakan kecil lolos dari mulutku.

 

Mas Raka mendekapku lebih erat. Tangannya membelai punggungku, seakan ingin menyerap semua resahku.

 

“Sabar ya sayang, ceritain semuanya pelan-pelan … Mas di sini, Sayang. Mas nggak akan pergi ke mana-mana. Malam ini … kamu sama Mas.”

 

 

 

Aku mengangguk pelan di dalam dekapan itu.

Hangat.

 

Rasanya nyaman sekali bersandar di dada Mas Raka malam ini, seakan seluruh beban yang sedari siang menggelayuti pundakku pelan-pelan luruh begitu saja.

 

“Apa kamu mau pulang dulu ke rumah Mama, Dek? Biar kamu tenang dulu … jauh dari Ibuk. Mas ngizinin kok.”

 

Aku langsung mengangkat wajahku.

Mata kami bertemu.

 

“Mas … bener? Serius boleh?” tanyaku memastikan.

 

Biasanya Mas Raka selalu membela ibunya.

 

Tapi yang kulihat malam ini … Mas Raka tersenyum kecil, mengangguk mantap.

 

“Iya, Sayangku. Mas ngerti kok. Kamu pasti capek. Besok pagi kita pulang ke rumah Mama, ya? Mas anterin. Sekalian Mas bisa minta maaf ke Mama juga udah ngebuat anaknya gak betah di rumah.”

 

Tangan besarnya mengusap pipiku yang masih basah sisa tangis tadi.

 

Aku nggak bisa menahan tawa kecil yang langsung lepas begitu saja. Mataku berbinar senang.

Tanpa sadar, aku langsung memeluk leher Mas Raka erat-erat.

 

“Ya Allah … makasih ya, Mas … makasih banget!”

 

Aku manja, mengusap-usap bahunya.

 

“Mas, kamu baik banget deh. Aku jadi makin sayang sama kamu nih,” godaku sambil cemberut manja.

 

Mas Raka terkekeh pelan, membalas pelukanku.

 

“Mas juga sayang banget sama kamu, Sayangku … maafin Mas ya … harusnya dari kemarin-kemarin Mas lebih peka. Mulai sekarang kamu prioritas Mas. Selamanya.”

 

Aku mencubit pelan lengan kekarnya, pura-pura kesal.

 

“Iya harus, dong! Aku kan istrimu. Pokoknya besok pulang ke rumah Mama, aku mau dimanja Mama seharian. Nggak mau disuruh cuci piring, nggak mau disuruh nyapu, apalagi dimarahin kayak di sini. Deal ya, Mas?”

 

Mas Raka ngakak kecil.

 

“Deal, Sayangku. Pokoknya besok kamu jadi putri kesayangan Mama lagi. Mas ikut aja deh … asal malemnya tetep jadi putri kesayangan Mas juga ya .…”

Bisiknya menggoda di telingaku.

 

Aku langsung mendorong pelan dadanya, pura-pura manyun, tapi nggak bisa menyembunyikan senyum di bibir.

 

“Cieee gombal banget nih Mas Raka…”

 

“Namanya juga suami sayang sama istrinya. Ayo ah … kita tidur yuk, biar besok paginya kita langsung cus ke rumah Mama. Mas udah kangen juga sama Mama.”

Katanya sambil menarikku pelan menuju kasur.

 

Aku mengangguk semangat.

“Ayo tidur ahhh … besok aku mau ketemu Mama. Mau makan masakan Mama, mau curhat, mau dipeluk Mama. Udah kebayang deh enaknya.”

 

Aku merebahkan diri di kasur, lalu Mas Raka ikut berbaring di sebelahku. Dia merangkul tubuhku erat, mencium keningku pelan.

 

“Selamat tidur ya, Sayangku. Malam ini kamu tenang, ya? Mas di sini. Besok kita pulang. Mas janji.”

 

Aku mengangguk kecil, mataku terpejam dalam dekapan itu.

 

Malam ini untuk pertama kalinya sejak menikah, aku bisa tidur dengan hati yang sedikit lebih lega.

 

*

 

Aku terbangun lebih dulu. Melihat wajah Mas Raka yang masih terlelap di sebelahku, nafasnya pelan, wajahnya tenang. Aku senyum kecil. Tanganku refleks mengusap rambutnya lembut.

 

“Mas … bangun, ayo kita siap-siap. Ingat, mau ke rumah Mama, kan?” bisikku pelan di telinganya.

 

Mas Raka mengerjapkan mata.

“Hmm … udah pagi ya? Iya, Sayang. Sini peluk dulu, lima menit lagi …” katanya manja, menarik tubuhku ke pelukannya.

 

Aku geli sendiri, tapi kubiarkan sebentar. 

 

Setelah beberapa saat, kami akhirnya bangun. Aku langsung membereskan baju-baju seadanya ke dalam tas kecil. Mas Raka juga bersiap. Kami sengaja tidak memberitahu Ibuk dulu, karena aku yakin, kalau tahu, pasti beliau akan bikin keributan.

 

Tapi ternyata, tanpa diduga, Ibuk sudah berdiri di depan pintu kamar kami. Lengannya bersedekap, wajahnya datar tapi matanya tajam.

 

“Mau ke mana pagi-pagi bawa tas kayak gitu?” tanyanya dingin.

 

Aku tercekat. Mas Raka refleks maju ke depan, menahan tubuhku.

 

“Buk … ini kami mau ke rumah Mama Ayna dulu. Ayna kangen orang tuanya, Bu.”

 

Ibuk menyipitkan mata melemparkan pandangan ke arahku lalu menatap Mas Raka kembali.

 

“Kangen? Hah! Belum juga seminggu di sini, udah ngeluh? Baru sebentar jadi istri, udah nggak betah? Payah!”

 

Nada suaranya mulai meninggi.

 

Aku mengatupkan bibir. 

 

Mas Raka berusaha menenangkan.

 

“Buk … bukan begitu. Biarin dulu Ayna pulang sebentar, Mas ikut kok. Nanti balik lagi ke sini.”

 

Ibuk menggeleng, nadanya tegas.

“Pokoknya kalau keluar dari rumah ini, jangan bawa anakku. Biarin dia di sini sama ibuknya. Kau mau pulang? Pulang aja sana sendirian. Biar tahu diri jadi perempuan.”

 

Jantungku mencelos.

 

Tapi Mas Raka tiba-tiba meraih tanganku, menggenggam erat.

“Buk, Mas ikut. Jangan gitu, dong. Mas sayang sama Ibuk, tapi Mas juga sayang sama istri Mas. Tolong, Buk … kasih Mas kesempatan buat tenangin dia dulu.”

 

Ibuk menatap Mas Raka lama, lalu menoleh ke arahku.

Tatapannya … dingin.

Menusuk.

Seakan aku adalah duri besar di hidupnya.

 

“Dasar… perempuan pembawa sial.” bisiknya pelan, tapi cukup jelas di telingaku.

 

Aku menghela napas panjang.

 

“Kudoakan kamu mandul tujuh turunan! Sumpah ibu dilangitkan! Kau sudah mengambil anak dari ibunya!

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!