Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku
Malas Berdebat
Mobil itu melaju pelan di jalan desa yang masih sepi. Udara pagi yang dingin menerobos masuk lewat kaca yang sedikit terbuka, menyisakan embun tipis di ujung jendela. Matahari baru saja naik, sinarnya masih hangat malu-malu menembus dedaunan di pinggir jalan.
Aku duduk di kursi penumpang, memeluk tas kecil di pangkuanku. Hati ini masih sesak, masih menyimpan sisa luka dari kejadian tadi. Sekuat tenaga aku berusaha menata hati, tapi setiap ingatan tentang kata-kata ibuk tadi kembali memukul dada.
Tiba-tiba, tangan Mas Raka menggenggam jemariku.
Hangat.
“Dek … jangan dipikirin omongan ibuk ya,” lirihnya, matanya tetap fokus ke jalan.
Aku menoleh pelan, menatap wajahnya dari samping.
“Ibukmu loh, Mas … kok ya bisa-bisanya nyumpahin aku mandul tujuh turunan cuma karena aku ngajak kamu minep di rumah mama,” suaraku pelan, parau, hampir seperti gumaman.
Mas Raka menghela napas berat.
Jemarinya yang memegang setir tampak menegang.
“Sudahlah, Dek … Mas gak mau bahas itu lagi. Dan Mas harap … tolong ya, jangan kamu ceritain ke Mama nanti. Mau gimana pun, ibuk itu ibu kandung Mas. Dia harga diri Mas.”
Aku mengerutkan kening.
Aku tahu itu benar.
Tapi entah kenapa rasanya sakit sekali mendengar kalimat itu.
“Mas … aku istrimu, aku manusia, aku punya perasaan … masa kamu lebih mikirin harga diri ibuk yang udah nyumpahin aku mandul tadi? Aku ini istrimu loh, Mas! Memang kamu gak mau punya anak dari aku!”
Suasana di dalam mobil mendadak sunyi.
Mas Raka menarik napas lebih panjang.
“Ayna … kamu harus ngerti. Sekalipun ibuk salah … dia tetap ibuk. Jangan pernah kamu jelekin ibuk. Karena kalau kamu jelekin ibuk, sama aja kamu jelekin Mas.”
Memang benar!
Tapi entahlah.
Perih sekali rasanya.
Di luar, burung-burung gereja beterbangan di pinggir sawah, sinar matahari makin terang, tapi hati ini tetap kelam.
“Iya, Mas … aku ngerti,” akhirnya aku jawab.
Meskipun sebenarnya hati ini masih sebal.
Aku hanya terlalu lelah.
Terlalu malas berdebat.
“Maaf ya, Sayang … Mas nggak bermaksud bikin kamu sedih,” katanya pelan, menoleh sebentar.
Aku cuma angguk, paksakan senyum kecil.
“Nanti di rumah Mama, kamu istirahat yang tenang ya,” lanjutnya.
Aku menatapnya, berusaha percaya.
Setelah hampir setengah jam perjalanan, akhirnya mobil Mas Raka memasuki gang kecil menuju rumah orang tuaku. Rumah sederhana bercat putih gading itu berdiri di ujung jalan, dengan halaman kecil yang ditumbuhi bunga kertas dan pot-pot cabai milik mama.
Mobil berhenti di depan pagar.
Mas Raka mematikan mesin.
“Udah sampe, Sayang,” katanya pelan.
Aku mengangguk, buru-buru membuka pintu mobil.
“Assalamualaikum, Mah …!” seruku keras sambil melangkah ke teras.
Tak butuh waktu lama, suara langkah kaki terdengar cepat dari dalam rumah.
“Waalaikumsalam … Ayna!” suara mamah nyaring sekali, disusul wajahnya yang muncul di balik pintu.
Wajahnya bersinar cerah, matanya membulat senang.
“Masya Allah … mendadak banget ini. Ya ampun, kenapa nggak kabarin mamah dulu, Nak? Ya Allah … mamah kangen banget sama kalian berdua!”
Tanpa aba-aba, mamah langsung memelukku erat. Wangi tubuhnya masih sama, seperti yang selalu aku ingat. Wangi bedak dan dapur. Kehangatan yang tak pernah aku dapat di rumah Mas Raka.
“Mamah … pelan-pelan, Mah … Ayna sesak napas,” godaku, tertawa kecil.
Mamah melepas pelukannya sambil menepuk pipiku pelan.
“Ya Allah … udah makin kurus aja kamu, Nak. Mamah panggilin Papa dulu ya, tunggu sini!”
Tanpa menunggu jawaban, mamah berseru ke dalam rumah.
“Pah! Pah! Anak gadis Papa pulang nih, Pah!”
Aku langsung menutup mulut menahan tawa.
“Huss, Mah … aku udah gak gadis lagi loh, inget, sekarang aku istri orang!” teriakku.
Mas Raka ikut tertawa pelan di sampingku.
“Iya ya Allah, mamah lupa … saking kangennya, Nak. Masih kayak dulu aja, ya Allah … anak mamah ini sekarang udah jadi nyonya orang,” mamah menghampiri lalu mencubit pipiku gemas.
Tak lama, papa keluar dari ruang tengah, mengenakan kaus oblong dan sarung.
“Wah, Raka … ayo sini, masuk … tumben banget pagi-pagi,” sapa papa hangat, menjabat tangan Mas Raka lalu menepuk bahunya.
“Iya, Pak. Nemenin Ayna. Dia kangen katanya,” jawab Mas Raka, berusaha tersenyum meski aku tahu, dia sedikit canggung.
Aku tersenyum kecil. Baru beberapa menit di sini, rasanya beban yang selama ini menyesakkan dada mulai pelan-pelan terlepas.
“Ayo masuk dulu … duduk, minum teh. Mamah bikinin gorengan ya. Ada pisang goreng hangat nih, Ayna suka kan?” ujar mamah antusias, menggandeng tanganku masuk ke ruang tamu.
Aku mengangguk, “Duh, kangen banget makan gorengan buatan mamah.”
Aku sengaja menoleh sekilas ke Mas Raka, yang hanya bisa tersenyum simpul sambil mengangguk.
“Nak,” panggil mamah pelan, nada suaranya lembut tapi berat.
“Gimana rasanya jadi seorang istri, jadi menantu? Betah di sana?”
Aku sontak diam. Dada ini langsung terasa berat seketika.
Ah, pertanyaan itu .…
Pertanyaan yang selama ini ingin sekali aku dengar, tapi sekaligus takut aku jawab.
Aku menunduk, menggenggam gelas teh di tangan, merasakan hangatnya di telapak tapi tak bisa menyamai dinginnya perasaanku.
Rasanya ingin sekali aku menangis di pangkuan mamah. Ingin sekali aku mengadu. Cerita semuanya. Tentang Mas Raka. Tentang ibu mertuaku. Tentang luka-luka kecil yang setiap hari aku telan sendiri.
Tapi bagaimana?
Aku bukan takut mereka marah.
Bukan takut harga diri suamiku tercoreng.
Aku takut … membuat orang tuaku sedih. Takut mereka kepikiran. Takut melihat mamah diam-diam menangis di balik pintu kamar. Takut papa membanting apa pun karena menahan amarah. Dan takut kakak laki-lakiku datang menyerbu rumah Mas Raka dan menyeretku pulang dengan emosi meledak.
“Ay … kenapa, Sayang? Kok bengong?” suara mamah pelan, membuyarkan lamunanku.
Aku tersenyum kecil.
Memaksa.
Lalu buru-buru mengambil pisang di piring dan mulai mengupas kulitnya.
“Ayna .…”
Nada mamah makin berat.
“Mamah tau kok … jadi istri, masuk ke keluarga orang, apalagi jadi menantu perempuan … nggak gampang. Ada saja tantangannya. Apalagi kalau ibu mertuamu keras orangnya.”
Aku menggeleng pelan.
Bibirku ingin bicara, tapi hanya diam.
“Mamah ngerti … Nak. Tapi satu yang selalu mamah harap … jangan pernah rendahkan harga diri kamu di rumah orang lain. Jangan pernah tunduk kalau kamu diperlakukan semena-mena. Ayna bukan anak yang dibesarkan untuk jadi pelayan, bukan anak yang boleh diinjak harga dirinya.”
Suara mamah mulai bergetar. Aku tahu. Aku hafal betul getaran itu.
“Tapi … sebagai perempuan … kamu tetap harus jaga sikap, jaga nama baik keluarga kita. Mamah nggak mau kamu jadi bahan omongan orang. Mamah cuma pengen kamu bahagia di sana, walaupun berat.”
Aku menunduk makin dalam.
Air mata sudah mengambang di pelupuk mata. Aku tahan mati-matian. Jangan. Jangan sampai mamah lihat aku menangis. Jangan.
“Ayna … kalau ada masalah … ngomong sama mamah ya. Jangan disimpen sendiri. Nanti sakit kamu. Mamah nggak mau kamu rusak batin cuma karena menahan sesuatu yang nggak adil.”
Aku mengangguk pelan, masih tak berani menatap wajah mamah.
“Ay … ada masalah ya, Sayang?” tanya mamah lagi, suaranya lembut sekali.
Hangat … tapi perih.
Aku kembali menggeleng.
“Nggak, Mah … semuanya baik-baik aja kok.”
Ting!
Tiba-tiba suara notifikasi pesan terdengar begitu nyaring.
Aku yang dari tadi cuma memainkan layar ponsel tanpa benar-benar memperhatikan, langsung refleks melirik ke atas layar.
“Nenek Gombel”
Ah, iya .…
Itu nama kontak yang sengaja kuberi untuk ibu mertua. Mas Raka juga tahu soal itu dan anehnya … dia cuma diam waktu aku pertama kali bilang, “Aku namain aja ya Nenek Gombel.”
Kupikir, paling cuma pesan recehan lagi.
Tapi saat kubuka .…
[PULANGKAN ANAK LAKI-LAKIKU! ATAU KUSANTET KALIAN SEKELUARGA!]
Tanganku langsung gemetar.
Aku menatap tulisan itu lama, seperti memastikan apa mataku tidak salah baca.
Sumpah demi apapun … baru kali ini aku benar-benar ngeri. Bukan soal santetnya, tapi soal kebencian yang tumpah sejelas itu dalam bentuk pesan.
Astaghfirullah
Aku yang masih terpaku menatap layar, seketika mamah yang duduk di sampingku, penasaran karena aku tiba-tiba diam, langsung merebut ponsel dari tanganku.
“Eh … Mah, jangan ….”
Tapi terlambat.
Mamah sudah membaca isinya.
“Astaghfirullah!”
Teriak mamah, sambil menutup mulutnya dengan tangan kanan. Matanya membelalak, wajahnya pucat seketika.
“Ya Allah, Ay … ini … ini ibu mertuamu?”