Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku
Tolong Saya
Aku berlari keluar kamar, nafasku memburu, air mata bercampur peluh membasahi wajah. Tubuhku masih lemah, tapi ketakutan dan amarah memberiku kekuatan. Tanpa sandal, tanpa jilbab, aku menerobos lorong rumah, menabrak kursi dan pintu yang setengah terbuka.
Dadaku sesak. Dada ini seperti dihantam ribuan batu, rasanya ingin meledak. Aku tak peduli lagi pada rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhku. Satu-satunya yang ada di kepalaku, aku harus berteriak. Harus membuat semua orang tahu.
“Tolong! Tolooong! Tolong saya …!”
Aku berteriak sekuat mungkin, suaraku parau, tanganku menepuk-nepuk pagar besi depan rumah. Aku ingin semua tetangga keluar. Aku ingin mereka jadi saksi, melihat aib yang selama ini tersembunyi.
“Tolong! Ada yang harus kalian dengar! Tolong!”
Aku mengerahkan sisa suara dan tenaga. Sekali lagi aku berteriak, hingga tenggorokanku perih.
“To … tolong … to ….”
Dan saat aku menoleh ke arah belakang .…
Deg.
Waktu seperti berhenti.
Di sana, di ujung lorong, Mas Raka berdiri. Nafasnya memburu. Wajahnya basah keringat. Matanya merah menatapku seperti orang kesurupan.
Tangannya menggenggam sesuatu.
Aku memicingkan mata di tengah gelapnya teras.
Kayu.
Kayu balok sepanjang lengan orang dewasa. Ujungnya bergerigi.
Aku terdiam beberapa detik. Otakku membeku. Aku tak percaya.
“Ma-Mas …?”
Aku belum sempat berkata lebih.
Brak!!
Satu suara benturan keras menghantam belakang kepalaku. Rasa nyeri luar biasa menyambar di tengkuk, tubuhku oleng.
Semuanya gelap.
Aku tak sempat lagi berteriak. Tak sempat lagi memohon.
Yang terakhir kutangkap adalah suara Ibuk di dalam rumah.
“Cepat, Raka! Cepat, jangan sampai dia bicara ke siapa-siapa!”
Sebelum kesadaranku lenyap, air mataku sempat jatuh.
Lalu semua menjadi gelap.
Senyap.
*
“Terus, Nak … terusss ….”
“Arghhh …!”
Suara itu.
Suara menjijikkan itu membangunkanku dari pingsan.
Perlahan kelopak mataku terbuka. Pandanganku masih buram, dunia berputar di hadapanku. Rasanya kepala ini seperti dihantam benda tumpul. Sakitnya masih terasa menyengat di belakang tengkuk.
Aku berusaha mengatur napas. Menelan ludah, walau tenggorokanku kering dan perih.
Dan saat pandanganku mulai jelas .…
Ya Allah … ya Allah …!
Tubuhku gemetar hebat. Tanganku terikat ke belakang, kakiku dipasung dengan rantai. Aku hanya bisa menatap ke depan, ke arah kejadian itu.
Sumpah demi Allah.
Aku ingin menjerit. Aku ingin muntah. Aku ingin membutakan mata ini.
Tapi aku tidak bisa.
Di depanku, hanya berjarak beberapa meter, di sebuah ruangan lembap yang baunya menusuk hidung, dua sosok itu yang seharusnya disebut ibu dan anak sedang melakukan sesuatu yang bahkan binatang pun takkan sanggup melakukannya.
Mas Raka. Ibuk.
Ya, mereka.
Di atas dipan kayu reyot, dengan cahaya lampu redup kuning kusam menggantung di langit-langit, mereka melakukannya di depanku. Istri sahnya, tanpa rasa malu. Tanpa rasa bersalah. Tanpa ingat pada Tuhan.
Ibuk terdengar mengerang, sementara Mas Raka mendesah . Suara-suara menjijikkan itu memenuhi ruangan kecil yang sempit.
Air mataku jatuh. Bukan hanya karena sakit di tubuhku, tapi lebih pada hancurnya hati, jijik, marah dan getir yang tak terdefinisikan.
“Ya Allah … apa aku sedang bermimpi buruk? Bangunkan aku, Ya Allah. Bangunkan aku dari mimpi keji ini .…”
Aku mencoba memberontak. Tanganku mencoba meronta dari ikatan tali tambang kasar yang membelenggu pergelangan. Kulitku lecet, perih. Kakiku meronta di antara pasungan kayu, tapi sia-sia. Tubuhku terlalu lemah.
“Arghhh …!!” jerit pelan keluar dari bibirku. Suaraku serak. Tenggorokanku kering.
Tapi mereka, mereka tetap saja tenggelam dalam dosa itu.
Aku merasa seperti dilempar ke neraka. Ingin muntah melihat pemandangan laknat itu.
Aku memalingkan wajah ke arah lain. Pandanganku menyapu ruangan. Bau apak, tembok-tembok berlumut, bercak air hitam di langit-langit, dan hanya sebuah lampu redup bergoyang-goyang tertiup angin dari jendela kecil berlubang di atas.
Aku sadar tempat ini … bukan di rumah. Bukan di rumah sakit. Bukan di rumah mertuaku.
Ini seperti gudang kosong atau bangunan tua.
Di mana ini? Kenapa aku di sini? Bagaimana mereka bisa tega?
Aku menggigit bibir, tubuhku menggigil hebat.
“Ya Allah, selamatkan aku … Ya Allah … kuatkan aku .…”
Suara ibuk kembali terdengar.
“Hhh … Nak … jangan pelan-pelan … cepat ….”
Aku ingin menutup telingaku. Aku ingin tuli. Tapi tak bisa. Sia-sia.
Ada suara berat di dekat telingaku. Aku mengerutkan kening.
“Adik … adik bukan? Ini kakakkk ….”
Suara serak itu terdengar pelan, nyaris tak terdengar di antara suara tetesan air dari langit-langit yang bocor.
Aku mengerjap pelan, memastikan telingaku tak salah dengar.
“Kok gak jawab? Bukan ya …? Bukan …?”
Suara itu terdengar patah, seperti seseorang yang sudah terlalu lama bicara sendiri di dalam gelap.
Dengan sisa tenaga, aku menggerakkan kepala. Pelan-pelan, menoleh ke arah kanan. Samar-samar di balik bayang lampu kusam itu, aku melihat sosok perempuan.
Astaghfirullah .…
Seorang perempuan kurus kering, tubuhnya ringkih bagai kerangka yang dilapisi kulit tipis. Rambutnya acak-acakan, gimbal, kusam dan menutupi sebagian wajah. Bau busuk bercampur bau darah kering menyengat dari tubuhnya.
Aku hampir saja memalingkan wajah karena tak kuat menahan mual. Tapi suara itu kembali memanggil.
“Mana adikku yaa …? Adikku mana …? Ibuk jahat, ibuk jahat .…”
Tanganku merinding.
Perempuan itu terpasung di sudut ruangan. Kakinya dirantai ke dinding, tangannya diikat ke sebuah tiang kayu reyot. Tubuhnya penuh luka lebam beberapa masih segar, beberapa sudah menghitam. Ada bekas cakaran di pipinya dan matanya … matanya kosong, namun basah, seperti menyimpan ribuan tangis yang tak sempat keluar.
Aku tercekat.
Berapa lama dia di sini? Kenapa dia bisa begini? Siapa dia?
Tapi yang membuat tubuhku makin dingin adalah ketika aku perhatikan lebih seksama di wajah sayu perempuan itu, aku melihat sisa-sisa kecantikan. Matanya … bentuknya mirip sekali denganku.
“Adik … kamu ya? Bukan …? Aduh … jangan pergi lagi … jangan pergi kayak dulu … ibuk bawa kamu, aku ditinggal … aku dikurung di sini … aduh, aku kangen …”
Perempuan itu menggumam lirih, suaranya parau seolah pita suaranya rusak karena terlalu lama menjerit tanpa didengar.
Aku menelan ludah.
“Kamu … siapa …?” tanyaku pelan, nyaris tak percaya suara sendiri.
Dia menoleh. Senyum samar di wajah pucatnya.
“Aku … Aku … kakakmu .…”
Suaranya gemetar tapi juga jelas.
“Kamu adik bukan?” tanyanya lagi.
Aku tersentak.
“Kakak?” Jawabku yang tak kalah gemetar dari dirinya.
“Iya … aku kakakmu … tapi ibuk gak suka aku … jadi aku dikurung di sini … kamu jangan kabur ya … aku kangen .…”