Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku
BRAK!!!
Mas Raka tetap berdiri di situ.
Diam. Tidak bergerak sedikit pun. Tidak satu pun kata keluar dari mulutnya. Seolah tubuhnya telah membatu, pikirannya telah tumpul dan hatinya … ah, entah ke mana perginya hati itu.
Mataku berkaca-kaca.
Aku menatapnya dengan sisa tenaga yang kupunya. Masih berharap, berharap dia akan angkat bicara, akan membela, akan memohon agar ibunya berhenti, akan melindungiku, meski sekali saja.
Tapi nihil.
Dia tetap di sana, memandangi lantai, memandangi dinding, memandangi apa pun … asal bukan aku.
Ibuk lalu bersuara.
Nadanya berat, kasar, dingin menusuk tulang.
“Raka, ambilkan korek.”
Kalimat itu melayang di udara ruangan yang pengap. Aku menahan napas, jantungku seolah berhenti berdetak. Untuk apa korek? Mau apa lagi dia?
Mas Raka bergerak.
Perlahan, tanpa sepatah kata pun, dia berjalan ke arah meja tua di sudut ruangan. Tangannya terulur, meraih korek api gas kecil berwarna merah. Jemarinya sedikit gemetar, tapi wajahnya tetap datar, kosong, tanpa ekspresi.
Aku menatapnya lekat-lekat.
“Mas … jangan … tolong … Mas …,” bisikku pelan, suara serak hampir tak terdengar.
Tapi dia tak menggubris.
Dia berikan korek itu ke ibunya.
“Ini, Buk.”
Seperti biasa, Ibuk menyambutnya dengan senyum licik yang membuat bulu kudukku merinding. Seulas senyum yang sudah lebih dari cukup untuk membuat siapa pun paham bahwa dia tengah merencanakan sesuatu yang jahat.
Lalu … tanpa banyak bicara, ibuk menyalakan korek.
Ujung nyala api kecil itu menyala stabil, lidah apinya menari pelan.
Aku menahan napas.
Dia membakar ujung 90lok.
Perlahan-lahan. Besi di ujung 90lok itu mulai berubah warna, memerah membara, menyala jingga di bawah jilatan api kecil itu. Bau logam panas bercampur dengan bau busuk ruangan yang pengap.
Perempuan yang sejak tadi terdiam di sudut ruangan mulai merintih pelan.
“Jangan … jangan … jangan sakiti dia …,” suara paraunya membuat bulu kudukku berdiri.
Aku bisa melihat mata ibuk menyipit puas saat ujung 90lok itu cukup panas. Dia mengibaskan korek, mematikannya, lalu berbalik menatapku.
“Biar kamu ingat, ya, dasar anak sialan. Supaya nggak berani lagi macam-macam sama aku.”
Aku menggigit bibir. Tubuhku bergetar hebat. Aku mencoba menggerakkan pergelangan tanganku yang terikat tapi tak bisa. Terlalu kencang.
Aku menoleh, menatap Mas Raka.
Masih diam. Masih berdiri di tempat yang sama. Menjadi penonton. Menjadi pengecut.
Ingin rasanya aku berteriak sekencang-kencangnya.
Ingin kuteriakkan ke wajahnya
“Lihat aku, dasar bajingan pengecut! Ini istrimu! Ini nyawa yang dulu kamu jaga! Kenapa diam saja, Raka?!”
Tapi semua terjebak di tenggorokan.
Ibuk perlahan mendekat.
Tangannya yang keriput memegang gagang 90lok panas itu. Asap tipis mengepul dari ujungnya yang masih membara. Dia jongkok di hadapanku. Aku bisa mencium bau bajunya, bau tubuhnya, bau kebenciannya.
“Tahu nggak, Nak,” ucapnya pelan, hampir seperti bisikan.
“Kalau dulu waktu kamu lahir, aku pengen banget buang kamu ke sumur. Sayang papamu keburu pulang. Aku muak ngeliat muka kamu. Dari bayi … sudah bawa sial!”
Apa 1blis satu ini berbicara seolah bagai aku anak yang lahir dari kandungannya.
Mataku panas. Air mata mengalir deras.
Golok panas itu perlahan didekatkannya ke wajahku.
Aku bisa merasakan hawa panasnya beberapa senti di depan pipiku. Aku menoleh, berusaha menghindar. Tapi tangan ibuk mencengkeram daguku kuat-kuat, memaksa wajahku kembali ke arah 90lok itu.
“Aku akan ninggalin tanda biar kamu ingat. Kalau kamu itu bukan siapa-siapa di dunia ini. Dan kamu hidup cuma karena aku izinkan!”
Tepat saat ujung golok itu hampir menyentuh kulit pipiku .…
Ibuk terkekeh.
Tawanya berat, seperti orang kesurupan, bercampur antara puas dan benci yang mengerikan.
“HAHAHAHAHA!!”
Suara tawa itu menggema di ruangan sempit, membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya berdiri.
Aku merinding.
Tubuhku gemetar hebat. Napasku makin memburu. Peluh dingin membasahi pelipis dan tengkukku.
Ibuk lalu berdiri, tubuh tuanya sedikit membungkuk, tapi langkahnya tetap mantap.
Dia berjalan ke arah Mas Raka yang sejak tadi masih terpaku di tempat, seperti boneka tak bernyawa. Ibuk menyodorkan 90lok yang masih menyisakan bara hangat di ujungnya.
“Ini!”
Nada suaranya berubah lebih pelan, tapi ancaman dan perintahnya tak bisa disangkal.
“Ibuk ingin kamu yang ninggalin tanda itu di wajah busuknya. Supaya dia tahu diri. Supaya besok-besok nggak ngelawan. Biar orang-orang lihat kalau dia nggak pantas hidup di keluarga kita.”
Tanganku mencengkeram tanah.
Jantungku seperti mau copot. Mataku menatap ke arah Mas Raka berharap, setidaknya kali ini dia menolak. Setidaknya kali ini dia bangun dari kebodohan dan keberpihakannya.
Tapi tidak.
Mas Raka diam.
Tak ada sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Tidak mengiyakan. Tidak pula menolak. Dia hanya menatap 90lok itu … lama… seakan sedang mempertimbangkan sesuatu yang bahkan aku tak sanggup pahami.
Lalu perlahan .…
Tangannya terulur.
Dia mengambil 90lok itu.
Ya Tuhan …
Aku merasa nafasku tercekat. Seolah-olah waktu berhenti. Suara jangkrik dari luar gudang yang biasanya terdengar riuh kini seperti lenyap ditelan malam.
Yang ada hanya suara detak jantungku yang menggila.
Mas Raka berjongkok di hadapanku.
Matanya kosong. Datar. Tak ada lagi kelembutan yang dulu pernah kutemukan. Tak ada bayang-bayang kasih sayang seorang suami. Yang ada hanya tatapan nanar yang menakutkan.
Tangannya memegang gagang 90lok itu erat.
Aku menatapnya.
“Mas …,”
Suara lirihku terdengar rapuh, bahkan mungkin lebih lemah dari bisikan angin.
Mas Raka menatapku sekilas, lalu menunduk.
“Maaf,” bisiknya pelan.
Aku nyaris tak percaya. Satu kata itu malah lebih menusuk daripada golok yang dia genggam.
Karena jika dia benar-benar minta maaf … berarti dia akan tetap melakukannya.
“Mas … tolong jangan … aku istrimu, Mas … aku istrimu .…”
Air mataku mengalir deras.
Aku bisa melihat jemarinya gemetar.
Bahkan bulir-bulir keringat menetes di pelipisnya. Dia menggertakkan rahang, seolah-olah sedang berperang melawan dirinya sendiri.
Ibuk mendekat.
“Lama amat sih, Raka! Apa kamu mau jadi banci? Hah?! Gitu aja nggak becus. Kalau nggak berani, sini! Biar aku aja yang nyelesaikan!”
G0lok di tangan Mas Raka bergetar.
Dia menghela napas panjang, lalu menundukkan kepalanya, entah karena menyerah, entah karena putus asa.
Aku kembali berusaha bicara, dengan suara tercekat.
“Mas, tolong … ingat, aku pernah jadi istrimu. Aku pernah tidur di sampingmu. Aku pernah masakin kamu. Kita pernah ketawa bareng. Aku … aku … Mas … tolong .…”
Air mata mengalir makin deras.
Mas Raka mendongak.
Matanya memerah. Ada kabut di sana. Ada luka. Ada dendam. Ada ketakutan. Dan … mungkin secuil rasa iba.
Tapi itu tidak cukup.
Karena dia tetap mengangkat 90lok itu.
Aku pejamkan mata.
Tubuhku lemas. Aku menyerah. Mungkin memang ini akhirnya.
Detik itu juga tiba-tiba ….
BRAK!!!!!