Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku

Aku Tahu

BRAK!!!

 

Suara Mas Raka menghantamkan 90lok panas itu ke dinding, membuat percikan api kecil di kayu lapuk yang hampir rubuh.

 

Semua terdiam.

Ibuk menoleh dengan mata membelalak. Tak percaya.

Aku pun terpaku, tubuhku gemetar hebat, jantungku seakan berhenti berdetak.

 

“RAKA!! APA YANG KAMU LAKU?!”

 

Belum sempat Ibuk menyelesaikan makiannya, 90lok panas itu sudah lebih dulu melayang ke wajahnya.

 

SRET!!!

 

Ujung 90lok yang masih menyisakan bara merah menggores pipi keriput Ibuk. Bau daging terbakar langsung memenuhi ruangan sempit itu. Ibuk menjerit histeris.

 

“AAARRGGGHHHH!!! RAKA!!! KAU GILA?!!”

 

Mas Raka  pria yang selama ini kupikir pengecut, boneka dan pengekor ibunya sekarang berdiri di depanku dengan nafas memburu, mata merah menyala penuh amarah.

Tangannya gemetar, tapi bukan karena takut. Karena dendam yang selama ini dia telan mentah-mentah.

 

“DURHAKA KAU!! DURHAKA!!!”

Ibuk meraung, tubuhnya mundur sambil memegangi pipi yang hangus, darah bercucuran di sela-sela jarinya.

 

Mas Raka tidak peduli.

Dia melangkah mendekat. 90lok itu masih di tangannya.

 

“Aku? Durhaka?” desisnya lirih, tapi tajam seperti sembilu.

“Kau dengar baik-baik, Buk!”

Suara Mas Raka bergetar. Matanya berkaca-kaca.

 

“Selama ini, aku hidup kayak mayat! Hidup cuma buat nurutin semua perintah busukmu! Semua kebencianmu! Semua nafsumu! Kau anggap aku apa, hah? 4nj1ng peliharaan? Kaki tangan buat balas dendammu?!”

 

Ibuk terdiam, nafasnya terengah, tubuhnya bersandar ke dinding, darah terus menetes.

 

“Aku bukan anakmu!!!”

Jerit Mas Raka. Suaranya pecah.

 

Aku menahan napas.

 

Ibuk membelalak.

“Apa?!!”

 

“Aku tahu semuanya!”

Bentak Mas Raka.

“Aku dengar waktu kau bicara dengan orang itu, waktu aku pura-pura tidur. Tentang bagaimana sebenarnya aku bukan anak kandungmu. Aku cuma anak dari perempuan yang kau benci, yang pernah kau fitnah. Yang kau bunuh pelan-pelan hidupnya!”

 

Ibuk menggertakkan gigi. Wajahnya makin buas, meski darah masih mengucur.

 

“Kau dengar baik-baik, Raka! Aku membesarkanmu, aku mengangkat derajatmu, aku jadikan kau lelaki terhormat!”

 

“MEMBESARKAN?!!”

Teriak Mas Raka.

 

“Terhormat.” Bibir Mas Raka menyungging.

 

“Apa kau sebut membesarkan kalau tiap malam kau jadikan aku pelampiasan nafsu bejatmu?! Kau racuni pikiranku! Kau jadikan aku alat buat menjatuhkan orang-orang yang kau benci!”

 

Tangannya mengangkat 90lok lagi.

 

“KUBUNUH KAU SEKARANG JUGA!!”

Teriak Mas Raka seperti orang kesetanan.

 

Aku menutup mata, tubuhku lunglai, air mataku jatuh. Antara takut, lega, dan sedih bercampur jadi satu.

 

Ibuk berteriak panik.

“RAKA!!! KAU ANAK SETAN!!!”

 

SRET!!!

 

Mas Raka mengayunkan golok ke tangan Ibuk, mengenai pergelangan tangannya. Golok terlepas dari genggaman Ibuk, jatuh beradu dengan tanah.

 

“JANGAN PANGGIL AKU ANAKMU, DASAR 1BL15 BERWAJAH MANUSIA!!!”

 

Ibuk merangkak mundur, napasnya berat, matanya mulai kehilangan fokus.

Mas Raka maju terus.

 

“Aku sudah cukup, Buk. Aku sudah muak. Malam ini semua selesai! Kau tak akan lagi menyentuh Ayna! Tak akan lagi memperbudak siapa pun!”

 

Ibuk menggeliat, tubuhnya tersandar di sudut ruangan.

 

“Tolong … Raka … anakku … ampun .…”

Suara Ibuk melemah. Tangisnya tumpah, darah di pipinya makin deras.

 

Mas Raka bergetar. Tangannya turun. Matanya mulai berkabut.

Aku tahu, di balik dendam itu, sisa perasaan masih ada. Tapi dia sudah terlalu hancur.

 

Aku berusaha bersuara.

“Mas … cukup. Bawa aku pergi dari sini … tolong .…”

 

Mas Raka menoleh padaku.

Matanya kosong. Tangannya bergetar. Nafasnya ngos-ngosan.

 

Beberapa detik itu hening.

 

*

 

 

Harghhh … hargh .…

 

Napas ku tersengal-sengal. Dadaku naik turun cepat. Tubuhku basah oleh peluh dingin, baju tidurku menempel lengket di kulit. Aku terbangun dengan jantung berdegup kencang, seakan baru saja berlari jauh tanpa henti.

 

Kupandangi sekeliling kamar. Gelap. Sepi. Hanya samar cahaya lampu teras yang menembus dari celah jendela, memantul di dinding.

 

Aku menoleh ke arah jam 03:12 dini hari.

 

Peluh makin deras. Tenggorokanku kering. Tapi bukan itu yang membuatku seperti orang tersengal.

Bukan. Ini … mimpi itu.

 

Wajah Ayna dan Raka berkelebat di benakku.

Mereka berdua saling berpelukan, wajah mereka pucat ketakutan. Bibir mereka komat-kamit meminta tolong, tapi suaranya tak keluar. Hanya isak tangis, hanya mata memohon, seakan sedang disiksa, disekap di tempat gelap.

 

Aku bangkit duduk, memegangi dada yang terasa sesak.

 

“Ya Allah … ada apa ini?” bisikku pelan.

 

Tak kuat menahan kecemasan yang makin menekan, aku sentuh lengan suamiku.

“Pah … Pah … bangun, Pah .…”

Goyangku pelan.

 

Papah mengerang pelan, membuka mata, lalu menatapku sambil mengusap wajah.

“Kenapa, Mah? Masih jam berapa ini?” gumamnya setengah sadar.

 

Aku menahan napas, mencoba menata kata-kata, tapi suaraku bergetar.

“Pah … perasaan Mamah nggak enak banget, Pah. Tadi Mamah mimpi Ayna sama Raka .… wajah mereka ketakutan, Pah. Minta tolong. Mamah ngerasa ada sesuatu yang buruk terjadi.”

 

Papah mengerutkan kening, duduk, matanya mulai fokus.

 

“Ah Mah … itu cuma mimpi. Udah, kita shalat tahajud aja, sekalian doain Ayna biar cepat baikan.”

 

Aku geleng kepala.

“Enggak, Pah … kali ini beda. Mamah gak bisa tenang. Rasanya kayak … kayak dada ini diikat kenceng banget, kayak ada yang narik-narik. Pah … kita ke rumah mertua Ayna aja yuk sekarang. Biar kita lihat langsung.”

 

Papah mendesah berat.

“Tapi Mah, ini udah mau subuh. Nanti malah bikin ribut satu kampung.”

 

“Biarlah, Pah. Mamah gak peduli. Mamah gak akan tenang sebelum lihat keadaan anak kita. Dengerin Mamah, Pah. Tadi di mimpi itu … Ayna manggil-manggil Mamah, Pah. Dia ketakutan banget. Matanya … astagfirullah, Pah. Kaya orang minta tolong sebelum mati.”

 

Papah diam. Wajahnya mulai pucat. Sepertinya kekhawatiranku mulai merayap ke benaknya juga.

 

“Apa jangan-jangan .…”

Papah nggak sanggup melanjutkan kalimatnya.

 

Aku mengangguk.

“Kita harus ke sana sekarang, Pah. Siapin kunci mobil. Bawa senter sama pis4u kecil di mobil, jaga-jaga kalau perlu.”

 

Papah tertegun beberapa detik. Lalu bangkit tanpa banyak kata. Mengambil jaket dan sandal.

 

“Bentar Mah, papah ambil kunci sama senter di rak dapur.”

 

Aku buru-buru ke kamar mandi, membasuh muka. Tapi air dingin pun tak bisa menenangkan degup jantung ini.

 

Ya Allah … semoga anakku baik-baik saja. Kalau pun ada musibah, biar aku yang kena, jangan anakku. Jangan Ayna … bisikku dalam hati.

 

Beberapa menit kemudian, Papah keluar dengan senter, golok kecil, dan jaket lusuh.

 

“Ayo Mah. Bismillah. Kita berangkat.”

 

Kami keluar rumah.

Malam begitu pekat. Udara dingin merayap. Bulan bahkan tertutup mendung. Suara anjing-anjing liar menggonggong bersahutan dari kejauhan, seakan memberi isyarat ada sesuatu yang tak beres.

 

Aku masuk mobil dengan dada makin sesak.

 

Sepanjang perjalanan, aku terus berdoa di dalam hati. Bibir ini komat-kamit membaca ayat kursi, shalawat, segala doa yang aku ingat.

 

“Pah … cepat Pah … jangan pelan-pelan … Mamah takut, Pah.”

Desakku berkali-kali.

 

Papah menekan pedal gas lebih dalam.

 

Aku tahu … perasaan seorang ibu jarang salah. Dan kali ini, firasat itu terasa begitu kuat. Lebih kuat dari biasanya.

 

Ayna … tunggu Mamah ya, Nak. Mamah datang … Mamah nggak akan biarin siapa pun sakitin kamu.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!